Ketika Setia Ternoda

Ilustrasi/ketika/photo:doc.pri

Ketika Setia Ternoda 

Kobaran kecil masih menyala, asap mengepul tipis dari serpihan yang tersisa. Aku mengerjap berulang, menghapus jejak asap yang membuat mataku perih, dengan sisa tenaga aku menimbun puing-puing yang tersisa dengan kayu yang telah menjadi arang dan abu,  memastikan semuanya terbakar agar tak mengeluarkan aroma amis darah.

*

"Aku akan menunggu sampai kau siap," ujarku waktu itu, setahun yang lalu.

"Ta... tapi, aku belum tahu kapan aku akan siap," jawabmu menunduk.

"Tak apa, aku akan tetap menunggu, karena cuma kau yang aku cintai."

"Benarkah? Aku janji akan setia," ucapmu dengan mata berbinar, meraih jemari tanganku, lalu seperti biasa mengecupnya lembut.

Ada nyeri yang mengiris, saat mengingat bagaimana aku berusaha keras mempertahankanmu kala itu. Hati ini terlanjur terpatri hingga teramat yakin, bahwa tidak ada seorangpun yang sanggup membuatku berpaling darimu. Engkau--lelaki yang kucintai meski terbentang jarak yang memisahkan. 

Matahari mulai merangkak pelan di batas cakrawala, senja  yang bersiap menggantikan tugasnya menatapku iba. Ronanya seperti memastikan bahwa ada seorang perempuan yang hatinya tengah merindu dalam diam.

"Tinggalkan dia yang tak pasti, masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari Tunjung." Tiara membujukku.

"Kalau benar dia mencintaimu, dia tak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama," ujarnya lagi. 

Aku bergeming, kata-kata Tiara ada benarnya, sejauh ini lelakiku belum memberi kabar kapan dia akan datang untuk menghalalkanku, tapi mengalihkan perasaan cinta tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku mencintai lelakiku, meski aku tak tahu apakah saat ini dia masih menyimpan rasa yang sama setelah sekian lama terpisah oleh jarak.

"Kau harus melanjutkan hidupmu, masa depanmu bukan menunggu sesuatu yang tak pasti." Tiara kembali membujukku.

"Lalu bagaimana harus kubilang pada Tunjung? Dia akan menganggapku perempuan tidak setia yang mempermainkan perasaannya," kataku mencoba bertahan.

"Kau kan bisa beralasan terlalu lama menunggu." Tiara menghentikan ucapannya. "Lagipula siapa yang bisa menjamin kalau dia masih setia padamu?"

Aku menunduk, mengais pasir dengan ujung sepatuku. Sekali lagi Tiara benar. Hampir setahun lelakiku meninggalkan kota kami, pergi ke ibukota untuk mengejar mimpinya. Ya... mimpi menjadi seorang photographer ternama sesuai keahliannya. Bahkan aku selalu mendukung cita-citanya sejak kami masih di bangku sekolah. Lalu bersama kami memandang langit, melukiskan mimpi dan harapan yang dititipkan pada kerlip bintang.

Sejak kepergiannya, komunikasi kami hanya terbatas lewat aplikasi hijau, itupun kadang harus terhambat kesibukan. Kalau bukan aku yang sibuk dengan berbagai seminar, justru dia  sibuk dengan jadwal pemotretan yang mengharuskan dia berada jauh dari rumah selama berhari-hari. Jujur aku sering cemburu ketika lelakiku memasang status di media sosial tentang kegiatannya, dengan dikelilingi model-model cantik menawan, rasanya tak sebanding denganku yang cuma perempuan biasa yang tak pandai berdandan.

Namun, aku selalu yakin, cinta yang hanya menjadi bahan perbincanganku dengan Sang Pemilik Hati ini akan menemukan jalan pada saatnya nanti. Aku yakin kekuatan doa tulusku akan menang mengalahkan halangan sebanyak apapun. 

"Kau masih ingin bertahan?" Kata-kata Tiara membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, menaikkan alis sambil menggeleng ragu.

"Entah."

"Sebaiknya kau tanyakan keseriusannya pada hubungan kalian. Tak baik menggantung suatu hubungan."

"Aku masih ingin bertahan," sanggahku akhirnya, menatap mata bulat Tiara.

"Aku akan menunggu, memberinya kesempatan sedikit lagi."

"Jika itu maumu." Tiara mengangkat bahu, menatapku serius. 

"Tapi pikirkan juga masa depanmu! Usiamu tak lagi muda, jangan sia-siakan untuk cinta yang tak ada ujungnya."

Perempuan bermata bulat itu berdiri, menepuk bahuku sebelum melangkah keluar. Senja beranjak pergi,  malam hadir menggantikan, menghamparkan gelap yang membungkus rindu, atau rasa yang entah apa namanya.

*

Kugeser satu demi satu gambar yang terpampang di layar ponselku. Lelakiku sedang 
berpose bersama wanita, aku tahu itu salah satu modelnya, tapi dari sorot mata yang tersirat, intuisiku mengatakan wanita itu menyimpan rasa terhadap lelakiku. Dada ini terasa panas, sakit yang menggigit atas nama cemburu. Aku membuang napas pendek, mencoba paham, itu adalah bagian dari profesinya, aku percaya lelakiku setia. 

Namun, setahun aku menunggunya, atas nama kesetiaan aku menutup mata. Ada lelaki mapan hadir menawarkan janji setia sebagai mahar cinta, aku menolak. Aku masih menunggu  lelakiku, tak peduli cerca dan ejekan yang menyinyiri kebodohanku, menunggu pembuktian janji setia yang tak kunjung berwujud.

"Sampai kapan kamu mau menunggu?" Tiara kembali mempertanyakan sikapku yang tak sedikitpun berubah.

"Apa kamu sudah pernah menanyakan padanya?" 

"Dia masih minta waktu sedikit lagi," jawabku lirih, menyembunyikan bimbang yang mulai sering mengulik.

"Dan kamu percaya dia masih setia?" selidik Tiara menatap tajam ke arah manik mataku. "Photo-photo dan status itu... tidakkah kamu merasa curiga sedikitpun bahwa dia telah mendua? Dia laki-laki, Ning. Makhluk yang paling tak bisa menahan sepinya, sekalipun cintanya masih ada untukmu, tapi hatinya tak bisa bohong, dia pasti lebih memilih yang selalu ada di dekatnya."

Aku menunduk, mencerna kalimat Tiara, sebenarnya hati ini sudah ingin menyerah, komunikasi yang tak lagi intens, dan photo-photonya bersama wanita-wanita model, cukup mewakili kenyataan tanpa harus menjelaskan.
Namun, entah aku yang bodoh atau apa, tetap yakin bahwa satu saat Allah akan menyatukan kami.

"Ning." Tiara menyentuh bahuku lembut, tiba-tiba dada ini terasa sesak, air mata mendesak keluar meski kutahan. Perempuan berhati lembut itu meraih kepalaku, menyandarkan di bahunya, hingga aku tak lagi dapat menahan bendungan air mataku.

"Kawan-kawan kita, semua sudah menikah, punya anak dan hidup bahagia. Lalu bagaimana denganmu? Kamu cantik, pintar, dan baik. Tapi sayang kamu bodoh dalam bercinta. Berapa kali kamu disakiti? Berapa kali kamu salah memilih lelaki? Berapa kali kamu salah menjatuhkan rasa cintamu pada mereka yang hanya memanfaatkanmu?"

Tiara membelai rambutku yang makin larut dalam isak. "Kamu perempuan cantik yang baik,  justru menunggu lelaki yang entah hatinya untuk siapa," ujarnya lembut. 

"Pikirkan, itu, Kemuning! Percayalah, Tunjung tak sebaik yang kau sangka. Pikirkan hidupmu, masa depanmu, kamu berhak bahagia," bisiknya lembut. Aku mengangkat kepala, menyusut kasar butiran air yang tak henti mengalir, menatap tajam hingga kedua pasang netra kami bertemu.

"Sebelum aku mengambil keputusan, aku ingin membuktikan bahwa ucapanmu itu benar."

"Apa rencanamu?" 

"Aku akan ke ibukota," jawabku tandas. Tiara hanya mengangkat bahu, mengembuskan napas berat.

"Jika itu keputusanmu, dan menurutmu itu yang terbaik. Aku hanya ingin kamu bahagia, tapi tolong jangan gunakan kekuatan pikiranmu jika kamu menemukan hal yang membuatmu sakit hati!" Sekali lagi Tiara menepuk bahuku lalu membalikkan badan dan pergi meninggalkanku berteman risau.

*

Tak sulit menemukan tempat lelakiku berada, sebuah studio photo dengan plang nama yang cukup terkenal dapat aku temukan dalam sekejap. Dari kejauhan, aku melihat ke dalam, tampaknya ada event pemotretan, bisa terlihat jelas lelakiku sedang sibuk dengan kameranya, bergerak ke kiri dan ke kanan, mengambil sudut yang tepat agar menghasilkan gambar terbaik.

Satu jam aku berdiri mengamati, akhirnya kegiatan memotret selesai, aku berniat masuk dan memberi kejutan pada lelakiku. Namun, baru tiga langkah kaki ini menjejak, mataku melihat pemandangan yang membuat hatiku perih. Seorang wanita bertubuh semampai merangkul manja bahu lelakiku, suaranya yang mendesah menggoda iman lelaki yang alim sekalipun. Dadaku berdesir, menyaksikan lelakiku mendaratkan ciuman di pipi wanita itu, gerak tubuhnya yang genit menggamit lengan lelakiku menuju pintu keluar.

Hati ini seperti ditikam pisau, perih tak terkatakan, sakit, marah, kecewa, dan benci bercampur jadi satu. Kakiku gemetar, dan air mata tak lagi bisa kubendung. Menyesali kebodohanku, yang terlalu menaruh harapan tinggi pada kata setia. Kemarahan dan kecewa yang membuncah, membuat dada serasa mau meledak, pikiran absurd tak bisa kukendalikan manakala tak sengaja mata ini melihat seekor kucing yang mati tertabrak mobil bersimbah darah. 

"Tunjung Haryanto, jika aku tak bisa memilikimu, maka tak seorangpun boleh memilikimu!" Aku seperti kesetanan, semuanya diluar kendali, kuambil photo lelakiku yang masih rapi di dompet, kuusapkan pada darah kucing yang tak bernyawa, geramku memuncak,  membayangkan lelakiku berjalan menuju ke arahku. 

Seperti sebuah magnet yang terpancarkan dari pikiran, lelaki berwajah tampan itu berjalan menuju ke tempatku meringkuk di balik pohon, napas pun mulai tersengal karena kemarahan yang merayap menuju puncak, sekali sentak photo yang telah terlumuri darah itu kurobek, bersamaan dengan itu, terdengar suara dentuman keras beradu dengan teriakan. Aku menunduk, menutup kedua telinga, tak ingin mendengar apapun. 

Selang beberapa detik kemudian, orang berkerumun dan memperbincangkan seorang photographer yang tertabrak mobil dan meninggal seketika dengan tubuh hancur bersimbah darah. Aku berdiri, melangkah menerobos kerumunan, memastikan korban tabrakan itu adalah lelakiku. Entah, apa yang ada dalam pikiranku, aku cuma menatap datar tanpa ekspresi. Sakit, karena bagaimanapun aku masih mencintainya, tapi puas karena akhirnya tak ada lagi yang bisa memiliki cintanya.

Aku meninggalkan kerumunan, mengambil bangkai kucing yang darahnya hampir mengering, dengan potongan ranting kering kubuat lubang untuk menguburnya. Ranting-ranting yang kutemukan di sekitar lokasi, kukumpulkan, lalu membakarnya. Photo yang telah berkeping, kutebarkan dalam kobaran api, lalu ku menepukkan kedua tangan yang terpecik darah. 

Dengan gontai aku melangkah, sayup terdengar nada keheranan orang-orang yang mengerumuni jasad lelakiku, darah itu mengering seiring tubuhnya yang menghitam seperti terbakar.

Sidoarjo, 07 Oktober 2020
Tari Abdullah