Mawar Darah dari Toko Bunga Ivanova

Sumber: Pixabay, oleh nama pengguna Free-Photos

Sudah sering sekali Haris mengunjungi Unit Transfusi Darah di dekat kawasan Embong Ploso. Ia mengisi formulir donor, mengantre untuk periksa kesehatan, periksa tekanan darah dan golongan darah—semua itu prosedur rutin yang sudah sangat dihafalnya. Ketika Haris akhirnya berbaring di ruang medis dan jarum besar menusuk nadi di tangannya, ia justru gembira. Sesekali ia mengobrol basa- basi dengan ners wanita yang menjaganya—nampak sesekali sang ners tersenyum canggung—sambil menunggu kantong darahnya penuh. Setelah proses donor selesai, Haris mengucapkan salam perpisahan kepada sang ners wanita—yang masih tersenyum canggung. Kemudian Haris menuju kantin untuk beristirahat sejenak, menyantap makanan dan mengonsumsi vitamin yang diberikan petugas untuk memulihkan stamina dan darahnya.

Ini kesekian puluh kalinya Haris mendonorkan darahnya. Tiap dua bulan sekali, tentunya— tidak mungkin orang bisa donor darah terus setiap hari. Ia merasa, memang ia tidak selalu punya uang tapi ia selalu punya darah untuk disumbangkan. Setidaknya, itulah yang bisa ia bantu untuk sesama. Ia cukup senang dengan hal itu.

Hari itu Minggu yang cerah. Mentari siang yang terik nan sejuk menerangi sepanjang jalan Embong Ploso. Haris melihat ada satu toko bunga baru di depan UTD—terakhir kali ia datang donor darah, toko bunga itu belum ada. Seketika, Haris teringat pada Sekar, kekasihnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Sesekali bolehlah memberinya bunga, pikir Haris, supaya ia senang hatinya dan lekas sembuh.

Bel otomatis berbunyi saat pintu toko bunga Ivanova didorong terbuka. Ucapan selamat datang dengan logat asing menyapa telinga Haris. Seorang wanita Eropa bermata biru menyambutnya dari balik konter. Rambutnya pirang keperakan, bergelombang, dan terurai sebahu. Kulitnya putih pucat dan sekilas nampak lumrah untuk ukuran orang Eropa, namun bila diperhatikan lebih saksama, kulitnya terlalu putih—seperti pualam, tidak seperti  manusia.

Haris kaget melihat seorang wanita bule di hadapannya. Spontan ia menjawab sapaannya tadi dengan bahasa Inggris kacau yang terbata-bata.

“Tenang, saya bisa Bahasa Indonesia. Kami sekeluarga sudah lama tinggal di Indonesia.” jawab si wanita penjual bunga, dengan logat yang cukup alami meski masih terdengar asing.

“Oh, syukurlah kalau begitu.” ujar Haris lega. Setidaknya, situasi canggung ini jadi tak perlu berlangsung terlalu lama.

“Anda mau cari bunga apa?”

“Eh, apa saja boleh. Yang penting romantis.”

“Kalau begitu, saya rasa mawar merah cocok. Untuk pacar?”

Haris tersipu malu. Lagi-lagi dia merasa canggung, dan otaknya mencari cara apapun untuk membuyarkan kecanggungan itu.

“Ivanova ini apakah nama Anda?”

“Benar! Mama saya pernah berkata kalau nama saya sangat indah. Jadi saya putuskan memberi nama pada toko bunga saya. Nama lengkap saya Ivanka Ivanova. Anda sendiri?”

“Saya Haris. Tadi saya habis donor darah di UTD depan sini. Begitu saya lihat ada toko bunga baru, saya langsung mampir ke sini.”

Setelah mengobrol kecil, Ivanka pamit sejenak untuk mengambilkan mawar di kebun belakang. Dari tempatnya berdiri, Haris menengok kebun itu—sebuah halaman belakang sederhana yang dipenuhi belukar mawar merah. Ivanka kembali dengan membawa beberapa tangkai mawar dan dengan tangkas mengemasnya menjadi buket kecil. Sambil bekerja, ia bercerita:

“Ini mawar dari Bulgaria, kampung halaman keluarga saya. Ini bukan mawar biasa. Namanya ‘kurvava roza’ atau ‘mawar berdarah.’ Banyak cerita kenapa namanya bisa seperti itu. Konon mawar ini tumbuh di medan perang, di antara ratusan mayat ksatria, menyerap darah mereka seperti tanaman biasa menyerap air. Konon katanya pula, jenazah-jenazah para ksatria itu kemudian bangkit kembali sebagai makhluk penghisap darah.”

“Maksud Anda vampir?” ujar Haris tak percaya. Ivanka mengangguk.

“Maka itu, kami punya prosesi pemakaman yang teliti. Kadang di bagian jantung jenazah ditusuk dengan pasak, itu supaya mereka tidak bangun lagi sebagai vampir.”

Haris tercengang mendengar semua cerita itu, lantas dengan naifnya bertanya, “Apa semua kisah itu ada benarnya, ya?”

“Itu cuma dongeng.” tukas Ivanka sambil tersenyum humoris.

Ia menyerahkan buket mawar itu pada Haris. Tentu ia tak lupa membayarnya. Mawar itu warnanya begitu merah—sebuah keindahan yang sekaligus memiliki nuansa kengerian di dalamnya.

“Terima kasih. Semoga pacar Anda jadi makin cinta.”

Entah sudah berapa kali Haris tersipu malu. Ia lanjut berkata, “Terima kasih, senang bisa mengobrol. Bunganya indah. Mungkin kapan-kapan saya akan mampir ke sini lagi.”

Haris menghirup mawar itu dalam-dalam. Terasa wangi yang menyenangkan dan menenangkan, seperti perasaan ketika ia duduk berdua saja di samping Sekar. Itu membuat Haris makin bersemangat untuk segera menjenguk Sekar di rumah sakit.

Warna merah mawar itu nampak semakin cerah diterpa sinar matahari.

 

***

 

Sekar terbaring tenang di ranjang rumah sakit ketika Haris sekonyong-konyong muncul di sampingnya, membawa sebuket kecil mawar merah yang indah.

“Semoga lekas sembuh, Sayangku.” ucap Haris mesra.

“Ih, bisa aja kamu. Kok tumben romantis gini, sih?” jawab Sekar riang.

Dua sejoli itu saling bertukar kabar, saling bicara dan mendengarkan isi hati masing-masing, dan saling melepas rindu.

“Mawarnya beli di mana tadi?”

“Ada toko bunga baru di depan UTD. Aku beli di sana.”

“Aneh, padahal setahuku sekarang ini belum musimnya mawar.”

“Oh ya? Aneh juga, ya. Padahal mawarnya segar-segar. Mungkin ini memang bukan jenis mawar biasa. Kata penjualnya, ini mawar dari Bulgaria dan sangat istimewa.”

Haris menempatkan mawar-mawar itu ke dalam sebuah vas kecil di sana. Sebelum Sekar sempat bicara lagi, Haris sudah mendahului—dengan nada setengah menggombal: “Mawar istimewa untuk wanita istimewa bernama Sekar.”

Sekar tertawa kecil. Ia senang diperlakukan romantis. Di sisi lain, ia ingin menampar pipi Haris keras-keras saking gemasnya.

Sebelum berpamitan, Haris memberi kecupan di kening Sekar beserta doa semoga lekas sembuh paling tulus yang bisa dia panjatkan. Hari yang indah, yang mereka harap akan datang lagi.

Mereka bergembira hingga tak menyadari bahwa, setetes demi setetes, air di vas mawar itu berubah merah.

 

***

 

Kira-kira sebulan telah berlalu. Dunia berjalan seperti biasa. Namun kesibukan kerja Haris justru meningkat jauh lebih banyak. Amran sedang cuti dan Si Bos melimpahkan semua tugas Amran kepada Haris. Haris benci ini, tapi dia bisa apa? Pekerjaan tambahan itu amat menyita waktunya.

Sekian pekan lewat begitu saja tanpa kesan. Pekerjaannya tuntas. Haris bergegas menuju rumah sakit. Di sana Sekar menunggu, terbaring pulas di ranjangnya. Saat Haris mendekatinya, ia terkejut—wajah Sekar telah berubah putih pucat seolah nyaris mati.

Haris hendak memanggil dokter dan meminta bantuan. Namun, saat ia memalingkan muka, bau anyir darah seketika memenuhi ruangan itu—menyiksa indra penciumannya yang tak pernah mencium bau sepekat ittu. Kepalanya mendadak pusing luar biasa. Penglihatannya menjadi kabur. Persepsinya atas realitas seketika buyar. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya dan ia pun ambruk.

Ia sekilas menengok ke arah mawar itu—yang nampak berubah mengerikan. Vasnya membanjir oleh darah merah pekat yang tertumpah membasahi lantai. Akar dan cabangnya menjadi sulur-sulur berduri yang terus tumbuh memanjang, menjalar, dan merayap menyusuri lantai.

Sebelum Haris sempat berteriak, sulur-sulur berduri itu telah melilit tubuhnya erat seperti tentakel yang langsung bergerak cepat mencengkeram mangsanya hingga lemas. Kelopak-kelopak mawar setan itu tumbuh menjadi bentukan rongga serupa mulut yang dipenuhi gigi-gigi tajam. Haris hanya bisa memejamkan mata—ia ketakutan! Kemudian ia merasakan tusukan pada nadi di tangannya, terasa darahnya disedot keluar.

Rasanya seperti donor darah yang rutin ia lakukan dua bulan sekali di UTD. Namun, ini sama sekali bukan donor darah.

Ini kematian.

 

***

 

Pada suatu Sabtu, seorang pria masuk ke toko bunga Ivanova. Bel otomatis berbunyi. Ivanka Ivanova segera menyambutnya.

“Permisi, saya mau beli sebuket mawar. Apa toko ini menyediakan?”

“Tentu! Tentu saja!” ujar Ivanka.

“Oke, saya beli sebuket ya! Tolong buatkan buket yang cantik. Harga tak masalah!”

 Setelah menyiapkannya dengan rapi, Ivanka menyambung, “Untuk siapakah bunga ini? Pacar Anda?”

Pria itu mengangguk. Terselip senyum mantap di wajahnya yang turut membuat Ivanka gembira pula. Buket mawar merah itu segera berpindah tangan.

“Semoga pacar Anda jadi makin cinta!” seru Ivanka sembari mengantar pelanggannya keluar toko.

Ivanka menghela nafas lega. Ia senang melihat pelanggan yang puas. Masih dalam suasana riang, ia melangkah ke kebun belakangnya. Melihat mawar-mawar merahnya yang indah membuatnya gembira. Mawar yang bisa abadi selama ada darah.

Ivanka menghirup salah satu mawar itu dalam-dalam. Terasa siraman energi yang membuat dirinya merasa segar, seperti pengelana di padang pasir yang menemukan oasis dan meneguk kesegaran airnya.

Ivanka Ivanova tersenyum. Ada taring tajam yang nampak di balik senyumannya itu.

 

***

 

#lintasgenre