Rahasia Kotak Perhiasan

Ilustrasi kotak perhiasan. (Sumber: https://pixabay.com)

Bukannya aku mau mengeluh. Tapi kalau terus menjalani hidup macam ini, siapa pun mungkin tak akan sanggup. Aku harus bangun pagi sekali, pergi bekerja, pulang, dan beristirahat untuk kemudian bangun lagi. Begitu dan begitu terus, selama hampir dua belas jam setiap hari, enam hari setiap minggu.

Jangan tanya tentang hari liburku. Percayalah, satu hari libur dalam seminggu itu, bagiku, bukanlah hari yang menyenangkan. Biasanya di saat itu, tubuhku masih terasa lelah akibat pekerjaan di hari sebelumnya. Dan ketika rasa lelah itu mulai membaik, hari sudah terlanjur malam. Apa yang bisa kulakukan di waktu segitu selain tidur lagi?

Pekerjaanku bukanlah jenis yang bergaji besar; hanya dua setengah juta rupiah. Memang, gaji segitu bisa saja lebih dari cukup bagi "segelintir" orang. Namun bagi orang yang musti mengirim uang untuk membantu biaya hidup nenek dan dua orang adik di kampung, cukup buat makan sehari-hari saja sudah untung rasanya. Belum lagi kalau harus memikirkan cicilan ini-itu setiap bulan. Imbasnya, di akhir bulan aku harus puas dengan makan makanan instan.

Enggan rasanya untuk memberi tahu tentang jenis pekerjaanku yang tak seberapa. Dan kurasa, tak mungkin ada yang bakal penasaran, bukan? Ada yang bilang kalau pekerjaan yang menguras otak itu lebih berat dari yang menguras fisik. Tapi bagaimana dengan pekerjaan yang menguras keduanya? Itulah yang hampir setiap hari kulakukan.

Sebagai kepala gudang—akhirnya kusebut juga jenis pekerjaanku, mencatat keluar masuknya barang itu bukanlah hal yang baru. Namun apa jadinya kalau, yang katanya kepala gudang, juga mengangkat dan menyusun semua barang-barang itu? Belum lagi kalau harus mengecek semuanya dengan super teliti—tak ada barang yang boleh lepas dari catatan.

Bukan hanya itu, aku pun harus memikirkan barang apa lagi yang musti dibeli, memastikan ketersediaan stoknya, hingga mengurus pesanan klien yang bukan sedikit jumlahnya. Hal-hal semacam itulah yang menguras fisik dan pikiranku selama bekerja. Ingin rasanya aku mencari pekerjaan baru. Namun, di zaman serba susah macam sekarang, sangatlah tidak mudah untuk mencarinya. Alhasil, tetap saja aku bertahan di tempat menjenuhkan ini.

Memang, sebuah pekerjaan itu, katanya, haruslah disyukuri. Tapi bukan itu yang jadi masalah sekarang. Bukan. Aku bukannya tidak mau bersyukur. Aku cuma mengeluh, itu saja, dan hanya ada satu hal yang membuatku sampai hampir gila begini. Semua karena satu barang sialan itu. Barang yang tiba-tiba menghilang itu!

Ironisnya, barang yang kumaksud bukanlah yang sehari-hari kuurus. Aku tak tahu isi dari barang yang terlihat seperti kotak perhiasan itu. Bentuknya persegi panjang, berukuran cukup besar—sebesar dua setengah telapak tangan laki-laki dewasa, dan terbuat dari kayu dengan ukiran yang berkesan biasa saja menurutku. Kata bosku, yang ada di dalamnya lebih berharga dari nyawanya sendiri. Dan karenanya, kalau sampai kotak itu tak ditemukan malam ini, nyawakulah yang jadi taruhannya.

Sekarang sudah jam sembilan malam, dan aku tak bisa pulang sebelum kotak itu ditemukan. Lagian, walau bisa pulang pun, manusia mana yang bisa tenang jika nyawanya berada di ujung tanduk? Aku mengingat lagi yang terjadi beberapa waktu ke belakang.

Jam delapan kurang lima menit, aku sudah tiba di toko bangunan tempatku bekerja. Dela, si kasir, menyambutku dengan senyum manisnya seperti biasa. Ah, senyuman itulah yang selalu membuatku sanggup bertahan dengan pekerjaan ini. Tidak, tak ada gunanya aku mengingat hal itu sekarang. Semanis apapun senyuman Dela, takkan dapat lagi aku melihatnya kalau kotak itu belum ditemukan.

Waktu kerjaku dari pagi sampai menjelang sore tadi berjalan dengan normal. Mobil box pengangkut dua kali mengantar stok barang dan pesanan klien. Namun, seperti beberapa hari dalam sebulan, Hilman—bosku—tak kunjung tampak batang hidungnya. Awalnya aku mengira kalau manusia pelit satu itu sedang mengurus hal-hal biasa seputar toko atau semacamnya. Namun siapa sangka, sekitar jam lima sore tadi, wajahnya itu semakin tampak menjengkelkan tatkala dia datang—dengan tergesa-gesa—sambil membawa benda sialan itu.

Masih kuingat jelas yang terjadi setelahnya. Hilman yang terlihat panik menyerahkan kotaknya padaku. Katanya, “Jaga ini sampai aku balik lagi nanti. Jangan sampai hilang. Jangan kasih tahu siapa-siapa. Isinya penting—kau tak perlu tahu, yang jelas lebih penting dari nyawaku. Kalau sampai kotak ini hilang, nyawamu juga akan hilang.” Setelah itu, tanpa aku sempat protes, Hilman sudah pergi entah ke mana.

Aku yang kesal, juga bingung, lantas menyembunyikan kotak itu di ruangannya; di dalam laci meja kerja, lalu mengunci ruangan itu. Menurutku, hanya tempat itulah yang paling aman di toko ini lantaran, setahuku, tak ada pegawai selain aku yang memegang kunci cadangan toko, termasuk kunci ruangan Hilman. Namun sialnya, saat bosku itu kembali, kotaknya sudah tak ada lagi.

Bukan main paniknya aku kala itu, mungkin melebihi paniknya Hilman. Apalagi saat dia, dengan tak berperikemanusiaan, menghunjamku dengan caci maki dan sumpah serapah. Sialan benar orang itu. Kalau dia berada di posisiku, aku yakin, pasti dia akan menaruh kotak itu di tempat yang sama denganku.

Aku lebih merasa sial lagi lantaran, orang yang beranggapan isi kotak itu lebih penting dari nyawanya sendiri, malah tak membantu sama sekali. Tanpa ada rasa tanggung jawab, setelah menjawab panggilan telepon dari istrinya, lagi-lagi Hilman pergi entah ke mana.

Aku setengah duduk di meja kerja Hilman dengan isi kepala yang seakan mau menyembur keluar. Sekeliling ruangan yang luasnya tak begitu besar ini; panjang dan lebarnya seingatku delapan langkah, tampak kacau balau. Lemari-lemari arsip, rak buku, sampai meja kerja, semuanya berantakan. Buku-buku, dokumen dan sebagainya, semua berceceran di hampir seluruh lantai. Namun anehnya, pintu yang jadi satu-satunya jalan masuk ruangan ini sama sekali tak terlihat rusak.

 Aku mendesah, kemudian mendekati jendela yang berdiri sejajar dengan meja kerja; di belakang kursi. Kuamati kosennya dari sudut kiri-bawah, satu per satu sampai di kiri-atas. Tak terlihat apa-apa. Kondisinya baik-baik saja. Sedikit aku menekan keempat kaca-kaca perseginya. Sama saja. Aku mendesah lagi setelah melihat yang ada di balik jendela. Bodohnya aku, mana ada orang yang bisa meraih jendela ini dari luar tanpa bantuan tangga.

Alasannya bukan karena ruangan ini berada di lantai dua. Melainkan karena tanah di halaman belakang—tempat menyimpan stok papan, pasir, dan barang lain berukuran besar—itu memang lebih rendah dari tanah tempat toko ini dibangun. Berarti, dapat dipastikan, satu-satunya cara si pencuri masuk adalah lewat jalan depan. Aku sempat berasumsi kalau Hilman-lah yang sudah mengambilnya karena, sebagai pemilik, dia juga punya kunci ruangan ini. Tapi kapan?

Sambil bersandar pada jendela, aku merenung dan mengingat-ingat lagi beberapa waktu ke belakang. Pasti ada saat tatkala aku tak sadar akan kedatangan Hilman yang, mungkin, dengan diam-diam. Pandanganku tertuju pada pintu, namun beberapa saat, tanpa sadar beralih pada tumpukan dokumen yang berceceran di lantai; tak jauh dari meja kerja. Ada sesuatu di balik kertas itu, benda yang berkilauan, mungkin sejenis perhiasan.

Aku berjongkok, kemudian menyingkap kertasnya. Sebuah gelang—dari emas putih—yang kujumpai. Gelang itu berjenis rantai, pipih, dan punya hiasan kecil berbentuk hati. Kuamati lebih dekat. Sepertinya aku pernah melihat model gelang ini sebelumnya. Tapi tak yakin kapan dan di mana persisnya.

Handel pintu berbunyi, disusul oleh engselnya yang berdecit kecil. Buru-buru aku menyimpan gelang itu di saku belakang celana, lalu berdiri perlahan. Di ambang pintu, Dela bergeming. Aku bisa lihat raut wajahnya yang sedikit cemas, sebelum memaksa tersenyum saat sadar akan keberadaanku.

“Dela?” Sebisa mungkin aku menyembunyikan tampang heran saat menegurnya. “Ada apa?” Mengapa dia ke sini?

“Ah, anu, itu… aku bawa minuman!” Dela menyodorkan kantong plastik. Senyumannya tampak semakin canggung.

Aku mendekat, mengambil sekaleng soda dari kantong itu, lalu membukanya. Setelah menenggaknya, kuletakkan kaleng yang isinya baru berkurang sedikit itu ke atas meja kerja. Aku menatap Dela. “Kamu tak minum?”

“Oh! Iya.” Seperti orang linglung, Dela mulai merogoh kantong plastik yang dia pegang. Sehabis mengambil isinya, dia merenyukkan plastik itu lalu menyimpannya dalam saku.

Kelakuan Dela aneh. Sambil memegang kaleng soda yang belum dibuka, matanya menerawang ke sana-sini seperti sedang mencari sesuatu. Dehamanku sesaat setelahnya membuat dia tertegun.

“Makasih, ya, minumannya.”

Dela mengangguk lalu berkata, “Kalau gitu, aku balik dulu ya,” sebelum beranjak pergi.

Kuteguk lagi minumanku sambil memerhatikan punggung Dela yang perlahan tak lagi terlihat. Perempuan itu membiarkan pintu tetap terbuka. Aku penasaran, dari mana dia tahu kalau aku masih ada di sini? Maksudku, seperti hari-hari biasanya, sore tadi Dela juga pulang lebih dahulu dariku, tepat setelah jam kerja usai. Tidak ada alasan baginya untuk kembali, kecuali kalau dia tahu bahwa aku sedang ada di sini, atau, kalau dia punya semacam keperluan tertentu. Tapi apa? Tak ada yang bisa kutebak.

Aku tak mempedulikan sudah berapa lama waktu berlalu, mungkin lima atau delapan menit, ketika minuman pemberian Dela sudah tak bersisa. Aku pun merenyukkan kalengnya dan melemparnya ke keranjang sampah kecil samping sofa. Bersamaan dengan kaleng yang berhasil masuk ke dalam situ, tiba-tiba aku mengingatnya. Kuambil lagi gelang di saku belakang celana untuk sekadar memperhatikan kembali bentuknya, kali ini dengan jauh lebih teliti. Ah, ternyata benar, aku memang pernah melihat gelang macam ini sebelumnya. Gelang ini pernah kulihat di … aku tertegun. Tunggu sebentar, ini bukannya gelang Dela?

Pikiranku kembali terbang ke masa sekitar satu minggu silam. Di pagi itu, ada yang berbeda dengan Dela. Wajah perempuan itu terlihat amat berseri-seri, semakin menambah kesan manisnya. Aku tak tahu alasan dia begitu, tapi kalau boleh kutebak, itu pasti karena gelang baru yang melingkar di tangannya saat itu.

Aku sudah mengenal Dela selama tiga tahun, dan selama itu, tak pernah satu kali pun aku absen untuk memperhatikan dia, terutama di menit-menit sebelum waktu kerja dimulai. Perempuan itu usianya dua puluh tujuh tahun. Rambutnya legam, lurus, dan dipotong pendek—ujungnya tak begitu jauh di bawah telinga. Kedua matanya—aku tak terlalu bisa mendeskripsikannya—sedikit naik hingga bagian luar mata itu hampir menyentuh alisnya yang tipis. Lekuk bibir atasnya—itu bagian favoritku—tampak seperti siluet burung yang terbang melebarkan sayap dari kejauhan. Dan ketika dia tersenyum, jangan tanya betapa menggodanya bibir itu.

Karena terlalu seringnya aku memperhatikan Dela, bukan hal yang aneh lagi kalau aku tahu pakaian-pakaian yang pernah dia kenakan, termasuk tentang gelang itu. Aku jadi ingat, pagi tadi, jelas sekali kalau Dela masih mengenakan gelangnya. Dan ketika beberapa saat yang lalu dia datang ke sini, gelang itu tak lagi terlihat. Memang, bisa saja kalau dia meninggalkannya di rumah sebelum pergi ke sini. Tapi, percayalah, perempuan itu pasti belum sempat tiba di rumah. Bahkan pakaiannya saja masih sama dengan yang dia pakai untuk bekerja tadi.

Serpihan-serpihan pemikiran itu seakan membentuk sebuah bola kecil yang belum sempurna. Tapi, meski begitu, aku jadi bisa menduga tujuan Dela datang kemari. Dia sedang mencari gelangnya. Dan kalau dilihat lebih jauh ke belakang, berdasarkan pemikiran itu juga bisa dikatakan bahwa Dela adalah si pengambil kotak keparat. Aku tak tahu dengan cara apa dia bisa masuk ke ruangan yang terkunci ini, oleh karenanya, aku pun mengecek meja kasir.

Meja itu berbentuk seperti huruf L dengan satu kursi bulat kecil bersandaran. Ada satu set komputer yang monitornya menduduki tempat penyimpanan uang di atas sisi meja yang pendek. Di bawah tempat penyimpanan itulah keyboard komputernya terletak. Sedangkan CPU-nya berada di bawahnya lagi. Beralih aku mengamati sisi panjang mejanya. Sisi meja yang ini diperuntukkan sebagai tempat menaruh sementara belanjaan pelanggan—biasanya barang-barang kecil—sebelum dibungkus. Karena fungsi itu, aku tidak melihat ada apa-apa di sana.

Aku menggerakkan pandangan sedikit ke bawah. Ada dua lemari kecil di situ. Masing-masing lemarinya memiliki satu laci sorong kecil dan satu laci besar di bawahnya. Tapi sialnya, semua laci itu terkunci dan aku tak tahu di mana letak kuncinya. Kalau sudah begini, waktunya jalan-jalan malam.

Tempat yang kutuju adalah rumah Dela. Tapi aku tak punya niat buat berjumpa langsung dengannya, sama sekali tidak. Oleh karenanya, aku memilih jalan belakang sambil berharap: semoga Dela tidak ada di sana. Harapanku terkabul. Setelah berjalan kaki sekitar dua belas menit—hanya delapan menit kalau tak mengambil jalan memutar—aku mengendap-endap di halaman belakang rumah Dela, menuju salah satu jendela, dan kaget bukan kepalang setelah tahu kalau jendela itu sedikit terbuka.

Aku bisa menciumnya. Ada sesuatu yang sangat tidak beres di sini. Aku memang orang awam di dunia pendobrakan, tapi orang bodoh mana pun pasti bisa tahu setelah melihatnya. Jendela ini jelas-jelas bekas dicongkel oleh semacam besi. Mungkin linggis, atau parang, entahlah, yang jelas, sempat gelagapan aku dibuatnya. Sampai sekarang pun jantungku masih terasa seperti ditarik ke bawah dengan buru-buru. Tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya jawabanku ada di dalam sana. Di dalam rumah yang jendela belakangnya habis dibuka dengan paksa. Alhasil, sambil merutuk dalam hati, aku pun memasukinya.

Di sini gelap, semakin aku melambatkan lagi langkahku seraya sebelah tangan mengabah ke depan. Beberapa kali sudah dengkulku menabrak semacam lemari atau kursi atau meja, aku tak tahu. Rasanya memang cukup sakit, tapi aku masih bersyukur karena bunyinya yang lumayan keras itu masih belum menggagalkan rencanaku. Pernah satu kali tanganku menyentuh sakelar lampu, tapi percayalah, dalam situasi begini menghidupkan lampu adalah hal terakhir yang akan kulakukan. Lebih baik aku tak dapat melihat, kalau itu membuatku juga tak dapat dilihat.

Sepertinya aku sudah melewati area dapur. Tidak bergitu gelap di sini. Dapat kulihat ada cahaya kuning yang remang dan redup dari salah satu ruangan. Tanpa berpikir lagi akan kemungkinan terburuk, aku melangkah pelan menuju sumber cahaya itu. Cahayanya dari dalam kamar dan itu membuatku terbelalak. Ada sosok yang tergeletak di situ, pada lantai tepat di sebelah ranjang. Aku tak bisa tahu itu tubuh siapa lantaran cahaya redup ruangan ini tak mengizinkanku. Tapi dari melihat bentuknya sekilas, aku yakin kalau itu adalah tubuh perempuan. Jangan-jangan … badanku bergidik karena memikirkannya.

Aku berusaha tenang. Bola mataku berputar, mencari keberadaan sumber cahaya remang di sini dan, ketika tahu tempatnya, kudapati lampu tidur sebesar buah kelapa—tangkainya sepanjang kira-kira dua puluhan senti—yang tergeletak di dekat meja kecil samping ranjang. Aku memang butuh penerangan lebih untuk memastikan identitas tubuh yang tergeletak, tapi aku tak sebodoh itu sampai harus mengambil lampu tidurnya. Hal semacam itu pasti akan menghancurkan TKP dan membuatku dalam masalah nanti. Ternyata buku-buku dan film-film misteri yang selama ini kunikmati ada juga gunanya.

Tanpa sedikit pun mengusik lampu tidur yang tampak nyaman itu, aku menggunakan cahaya dari layar ponsel sebagai penerangan tambahan. Cahayanya, meski masih remang, bisa dibilang lebih dari cukup untukku melihat jelas kondisi kamar yang sebagiannya berantakan ini. Aku tak mempedulikan kondisi kamarnya. Tubuh yang telungkup tak berdaya itulah prioritasku.

Dengan tak terlalu gesit aku menyodorkan ponselku tak jauh di atas tubuh itu; dari ujung kaki sampai ujung kepala. Benar itu tubuh perempuan. Kalau tadi jantungku rasanya seperti ditarik ke bawah, maka kali ini, jantung itu terasa seperti dilempar kuat ke atas hingga kembali ke tempatnya semula. Aku tahu itu tubuh siapa. Itu, itu tubuh Dela! Hampir jatuh termundur aku tatkala melihatnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sudah membunuh Dela? Aku menarik dan menahan napas yang tersengal ini cukup lama, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Beberapa kali, sampai gemetar di sekujur badanku tak lagi begitu terasa.

Aku pun pasrah. Kejadian ini bukanlah ranahku untuk menjawabnya. Kulihat tubuh Dela tampak kaku, posisi kakinya ada di dekat meja kecil tempat lampu tidur yang jatuh itu sejatinya berada. Kalau boleh aku berasumsi, dari pengamatan orang awam sepertiku, mungkin Dela sempat memberi sedikit perlawanan hingga membuatnya roboh setelah menyenggol meja kecil samping ranjang dan membuat lampunya jatuh. Itu saja yang bisa kuamati dari lima menitku melihat kondisi kamar bertemankan cahaya seadanya.

Hendak aku meninggalkan tempat ini saat, sekelabat, otakku kepikiran lagi akan tujuanku datang kemari; mencari keberadaan kotak keparat. Aku bergeming, menggali lagi pikiran. Pandanganku menerawangi sekitaran kamar cukup lama, hingga tanpa sadar fokusku tertuju pada tangan kanan Dela. Aku berjongkok, mendekatkan cahayaku ke situ; satu jarinya sepeti sedang menunjuk sesuatu. Kuarahkan cahayaku menuju arah tunjukan itu dan melihat sebuah rak buku.

Tinggi rak dari kayu itu sedikit melebihi tinggiku, mungkin dua jengkal, dan terdiri dari lima baris yang dipenuhi buku-buku; ada lemari di bagian terbawahnya. Dengan teliti aku menyelisik satu per satu baris dari yang paling atas tanpa mempedulikan judul buku-bukunya. Tidak ada yang aneh di situ, semua bukunya tersusun dengan rapi, setidaknya sebelum aku memperhatikan baris keempat.

Kecermatan itu adalah hal yang penting dan sangat diperlukan bagi seorang kepala gudang. Kebiasaanku menghitung dan menyusun barang dengan super teliti membuat mataku awas dalam melihat perbedaan, bahkan yang terkecil sekalipun. Dan aku melihatnya sekarang. Pada baris keempat, di sela-sela dua buku, aku melihat ada lipatan kertas. Sekilas memang lipatan itu tampak menyatu dengan dua buku bersampul putih yang mengapitnya. Tapi, tidak ada istilah sekilas bagi kedua mata ini.

Dengan teramat hati-hati aku mengambil kertas itu tanpa menyentuh buku-buku sekitar. Setelah membuka lipatan kertas itu, aku membacanya. Inilah yang tertulis:

Sejak tadi, aku merasa sedang diikuti seseorang. Aku mungkin berada dalam bahaya. Kalau ada yang membaca pesan ini, aku harap bukan Hilman, berarti aku memang sudah tiada. Aku mohon, bantu aku. Pergilah ke halaman belakang toko bangunan Jaya Kokoh milik Hilman. Aku mengubur satu kotak perhiasan di dekat gundukan pasir putih, di situ ada bukti-bukti yang sudah susah payah aku kumpulkan. Serahkan kotak itu pada Ratnasari, istri Hilman, diam-diam. Perempuan itu tahu apa yang harus dilakukan.

Kau pengecut, Hilman! Aku menyesal sempat mencintai lelaki busuk macam kau. Maafkan aku mbak Ratna. Aku tak berharap yang kulakukan ini akan menghapus dosa-dosaku. Aku sudah tak peduli lagi. Dan Hilman, semoga kita bertemu di neraka!

-Dela Agustina

Tak bisa aku menahan kegusaran dan kegundahan setelah membacanya. Aku memang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Tapi, aku yakin, kotak keparat itulah jawabannya. Hawa terasa semakin sejuk setibanya aku di halaman belakang toko bangunan tempatku bekerja. Aku sangat tahu di mana lokasi kotak yang Dela sebutkan, itu membuatku tak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkannya. Tapi aku tak mau ambil risiko dengan berlama-lama di sini. Untuk itu, secepat kilat aku pun bergerak pulang.

Sampailah aku di rumah. Setelah memastikan situasi sekitaran halaman, aku mengunci pintu depan kemudian mengecek keamanan semua jendela dan mematikan semua lampu. Kupikir, lebih aman terjebak dalam gelap di tempat yang sangat kutahu letak-letaknya. Saat kurasa sudah aman terkendali, sambil membawa pisau dapur—untuk berjaga-jaga—aku mengunci diri dalam kamar, duduk di atas ranjang untuk membuka kotak sialan.

Astaga! Si pelit Hilman benar-benar bajingan beruntung yang sedang sial. Di dalam kotak itu kutemukan beberapa foto Hilman dan perempuan tak kukenal—yang jelas bukan istrinya—sedang berduaan di kamar hotel. Mesra pula. Selain itu, di dalamnya kutemukan juga satu flashdisk. Aku tak bisa mengeceknya lantaran tak punya komputer, tapi tebakanku, isinya pasti tak jauh berbeda dengan foto-foto itu; beberapa video, mungkin? Aku mengernyih. Dela manis yang malang, kalau saja kau memilihku ketimbang keparat pelit itu.

Hari sudah pagi dan aku tak berniat masuk kerja. Ada hal super penting yang harus diselesaikan, hal mendesak yang takkan bisa ditunda. Dengan membawa kotak perhiasan keparat dalam tas selempang cukup besar—kertas pesan Dela juga sudah kumasukkan ke situ—aku berjalan agak cepat. Tapi, sekitar jam delapan lewat lima belas, aku menerima panggilan dari teman kerjaku, si sopir.

Kau di mana, Bro? Lama kali. Masuk kerja apa tidak?”

Aku teringat kalau kunci cadangan toko ada padaku. “Bos tak ada juga?”

Janganlah kau tanya hal yang sudah pasti. Kalau tak buka, aku ngopi aja nih.”

“Ya sudah, kau ngopi sajalah, Bro. Toko sudah mau bangkrut!” Sambil terkekeh, aku mematikan panggilan. Hilman tidak ada di toko. Ke mana perginya dia? Semoga orang pelit satu itu tak ada juga di rumah.

Harapanku terkabul. Setelah kira-kira empat puluhan menit mengamati rumah Hilman, tak terlihat juga batang hidungnya. Yang ada, malah Ratna yang keluar semenit kemudian. Perempuan tiga puluh tahun itu tampak santai namun rapi dengan blus tunik krim dan celana panjang putih. Aku menghampirinya sesaat setelah dia menutup pintu pagar.

“Mbak Ratna.”

“Eh, kamu. Kok di sini?” Ratna terlihat cukup heran akan kedatanganku. “Toko siapa yang buka? Tadi subuh, Mas Hilman buru-buru pergi. Dia bilang kalau tak ke toko hari ini.”

Si pelit itu pasti sibuk mencari kotak keparat. Aku berdeham. “Sebentar, Mbak. Ada yang jauh lebih penting sekarang. Bisa kita masuk dulu?”

Ratna melirik arlojinya. “Tidak lama, kan? Saya sudah ada janji soalnya.”

“Lima menit.”

Di ruang tamu rumahnya, Ratna mempersilakanku duduk lalu berkata, “Mau minum apa?” sambil masih berdiri.

“Tak perlu repot-repot, Mbak.” Sigap aku mengeluarkan kotak perhiasan dari tas. “Mbak tahu ini punya siapa?” Aku menaruh kotaknya di atas meja kopi.

Terlihat olehku air muka Ratna yang seperti tak percaya. Buru-buru dia duduk, mengambil kotak itu, lalu memperhatikan dengan baik keseluruhan sisi luar kotaknya. “Ya ampun, ini kamu ketemu di mana? Saya cari-cari dari semalam tak ketemu.”

Dia mencarinya? Aku jadi ingin tahu. “Saya ketemu itu di toko. Karena tak tahu yang punya, jadi saya bawa ke sini, mungkin saja Mbak tahu. Dan ternyata betulan tahu.”

“Ini memang punya saya. Mas Hilman yang kasih.”

Aku mengiyakan. Ceritanya semakin menarik.

Ratna melanjutkan. “Semalam, pagi-pagi, saya ketemu ini di depan pintu.” Air muka Ratna semringah. “Sudah lama Mas Hilman tidak kasih kejutan kayak gini.”

Aku berpura-pura senang mendengarnya. Tak ingin melihat kesenangan yang sebentar lagi pasti akan runtuh, aku pun pamit pulang. Semoga Ratna benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan.

Besoknya, aku berencana tetap membuka toko, seperti permintaan Ratna sebelum aku pergi dari rumahnya semalam. Tapi, baru saja aku tiba di depan toko—sekitar jam delapan kurang lima belas, tampak dua lelaki asing tengah berdiri di sana. Yang satu mengenakan jaket kulit hitam dan yang lain berkemeja marun lengan pendek. Mereka seperti sedang menunggu seseorang.

“Permisi,” kataku, “ada yang bisa dibantu, Mas? Toko baru saja mau saya buka.” Aku melihat kedua lelaki itu bergantian.

“Kami dari kepolisian,” balas si kemeja marun sambil menunjukkan tanda pengenal.

Aku tertegun sebentar, lalu sekelabat teringat akan sosok Dela yang terbunuh kemarin.

“Tujuan kami ke sini mau memeriksa toko bangunan kepunyaan saudara Hilman. Bisa buka tokonya sekarang?” Si jaket hitam yang bicara.

“Si Bos dari semalam tak datang ke toko, Mas.” Segera aku membuka gembok di pintu depan toko. “Kalau boleh tahu, ada apa, ya, dengan toko ini?” Pintu terbuka. “Silakan masuk dulu, Mas.” 

Setibanya di dalam, si kemeja marun langsung memeriksa berbagai lokasi, sementara yang satunya masih berdiri di sampingku. “Hilman diduga sebagai pelaku kasus kematian Dela Agustina,” kata si jaket kulit. “Karena itu, saya juga butuh keterangan Anda.”

Astaga! Bukan main terkejutnya aku sekarang. Si pelit Hilman benar-benar bajingan yang sedang sial. Aku mendesah. Sepetinya, aku memang perlu pekerjaan baru.[]