Tertawa Sebelum Mati

depositephotos

Tidak akan ada yang percaya ketika kukatakan ini; bahwa Bram adalah lelaki yang hanya diciptakan untukku. Lelaki yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupku. Soulmate-ku.

Tapi sekali lagi, siapa yang akan percaya?

Tidak juga Ibu. 

Ibu pasti marah besar jika sampai mendengar ini. Bisa-bisa aku dianggapnya sebagai gadis lancang yang tidak tahu diri. Yang belum cukup umur tapi sudah berani membicarakan sosok laki-laki.

Tapi aku tetap ingin mengatakannya. Bahwa Bram memang benar adalah soulmate-ku. Aku sangat percaya dan meyakini akan hal itu.

Bisikan-bisikan bahwa Bram merupakan laki-laki satu-satunya dalam kehidupanku, yang dikirim untukku, sudah berulang kali kudengar. Bisikan itu terkadang datang melalui mimpi, terkadang muncul saat aku masih terjaga. Juga saat aku duduk melamun seorang diri di dalam kamarku yang gelap.

Seperti malam ini. Saat aku sedang meringkuk menikmati dingin di atas tempat tidurku.

"Hidupkan lampunya, Diana! Kamar gelap tidak baik bagi kesehatan psikologismu," teguran keras Ibu tidak mampu membuatku beranjak dari geming. Aku tetap diam tak bergerak.

Bukan hanya sekali ini Ibu menegurku. Sudah berulang kali. Hampir setiap malam. Dan aku, bisa dipastikan selalu saja membangkang.

Dan, kepala batuku itu akhirnya membuat hati Ibu kehilangan kesabaran. Tangannya yang kurus menarik saklar lampu yang berjuntai dengan kasar. Lalu, lap! Lampu kamar pun menyala. 

Aku menutup wajahku dengan bantal.

"Matikan lagi lampunya, Bu! Aku tidak tahan melihat cahaya itu. Mataku terasa pedih dan sakit!" aku berseru memohon. Tapi aku tahu Ibu tidak akan menggubrisku. 

Dalam keadaan seperti ini aku berharap Bram datang. Menolongku. Menenangkan kepanikanku.

Memang. Dia akhirnya datang. Memasuki kamarku dengan langkah perlahan. Tentu saja itu dilakukannya setelah beberapa menit Ibu pergi.

Klik!

Lampu kembali padam. Aku segera melempar bantalku. Menarik napas lega.

"Kau baik-baik saja kan, Diana? Aku sungguh mengkhawatirkanmu," Bram berjalan mendekat. Lalu tangannya yang kekar menyentuh pundakku.

Kalian dengar? Bram mengkhawatirkanku! Jadi tidak ada alasan bagiku, bukan,  untuk tidak mempercayai bahwa dia memang benar-benar lelaki sejatiku?

Aku tersipu ketika tangan kekar Bram beralih menyentuh kedua pipiku. Tangan itu terasa hangat. Membuat darah di sekujur tubuhku mengalir dengan cepat. 

"Kapan kau akan menikahiku, Bram?" aku bertanya lirih. 

"Nanti, jika kau sudah menjadi perempuan dewasa, Diana." 

Dalam gelap aku bisa melihat senyum Bram. Senyum yang amat memikat.

Aku terdiam.

Dan, dalam diam aku sempat berpikir. Andai ada mantra sihir yang mampu mengubah wujudku-dalam hitungan detik, menjadikanku perempuan dewasa seketika agar Bram bisa segera menikahiku.

Oh, tapi itu tidak mungkin! Itu hanya sebuah angan konyol yang akan menjadi bahan tertawaan semua orang.

Suara langkah di luar kamar membuat Bram berdiri lalu beranjak meninggalkan kamarku. 

"Kau melakukannya lagi, Bram?" terdengar Ibu menegur Bram.

"Aku kasihan padanya, Emily. Dia phobia cahaya," Bram membelaku.

"Ia akan terus begitu, Bram. Jika kita tidak melatihnya menghadapi situasi terang, selamanya dia akan tetap menjadi gadis penakut."

"Kukira ia tidak akan bisa sembuh, Emily. Kecuali..."

"Kecuali apa?" 

"Kecuali kelak jika ia sudah menikah."

***

Seharian ini aku menghabiskan waktu di dalam kamar. Dan seharian pula tidak terlihat Ibu mendatangi kamarku. Dan itu membuatku senang. Dengan begitu aku bebas menikmati kesendirianku.

Ketika Bram datang menengokku, dengan bangga aku menunjukkan sesuatu padanya.

"Lihat, Bram! Aku tidak takut cahaya lagi," aku menyambut Bram dengan senyum paling manis.

"Itu bagus, Diana." Bram membalas senyumku. 

"Kau tidak bertanya mengapa aku berubah menjadi gadis pemberani seperti ini?" aku menatap Bram dengan pandang tak berkedip.

"Ya. Kenapa, Diana?" Bram seperti baru menyadari sesuatu. Hidungnya kembang kempis.

Aku menunjuk api di sudut kamar. Api yang tengah menyala berkobar-kobar.

"Diana, jangan katakan kau telah ..." Bram menatapku gugup.

"Ya, Bram. Kau benar. Aku baru saja membakar perempuan itu. Perempuan yang kupanggil Ibu dan telah merebutmu dariku," aku berjalan mendekati Bram. Berharap ia senang mendengar kabar baik ini.

Tapi aku keliru. Bram mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Lalu, dor! Dor!

Dua kali tembakan mampir di keningku. Aku roboh.

Bram berjongkok. Menyentuh kedua pipiku.

Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat berbisik di telinga Bram. "Aku boleh mati berkali-kali. Tapi aku pasti akan hidup lagi dalam bentuk jasad yang lain. Kita akan bertemu lagi, Bram. Ingat, kau sudah ditakdirkan menjadi soul-mate-ku."

Dan aku pun mati tertawa.

 

****

Lilik Fatimah Azzahra