Lirik Rindu untuk Mama

Ilustrasi-google image

Hanyalah dirimu harapanku, hanyalah dirimu pelita hidupku. Sepenggal lirik dalam nada sendu itu kembali terdengar. Bergema di ranah mimpi yang sesaat lagi mesti beranjak pergi. Membawa serta sosok yang sejak enam tahun lalu kerap kurindukan. 

Sosok yang kemudian akan pergi, memendar perlahan kemudian menjauh. Tak bergeming meski hingga tercekat aku memanggil namanya. Tidak akan berbalik meski tangisku kian bergaung. Menyisakan sesak yang melesak dan isak panjang saat aku terjaga.

Dia, seorang perempuan berparas nan cantik. Yang bahkan demi semenit bersamanya, aku rela menukar dengan apa saja. Agar dapat menggenggam tangannya, lalu mendekap erat dan mengecupnya penuh kasih. Seraya membisikkan maaf-maaf-maaf. Untuk segala kealpaan yang terlanjur kubuat. 

Bila kuhitung kembali waktu kebersamaan kami, sebelah jemari tangan  ini saja masihlah banyak bersisa. Singkat, begitu singkat. Namun, malah terisi dengan banyak perdebatan. Tak jarang suaraku meninggi diiringi telunjuk yang menuding. Kedua bola mata ini selalu menghindar tatapnya yang menghiba. Dan dia menerima semua itu dengan menunduk dalam, diam tanpa sepatah kata. 

Kerap menyalahkannya untuk segala hal yang tak kudapatkan atau gagal kulakukan. Menolak dengan ketus untuk sedikit waktu yang dia pinta. Membenamkan diri dalam kesibukan, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak jarang pula kututup sambungan telepon saat dia masih berbicara. Atau bahkan sengaja kutolak ketika berdering. 

"Kenapa lagi  sih, Ma? Perasaan sakit terus. Gak usah sok cari-cari perhatian deh!"

"Mama makan duluan aja, masih rapat ini."

Padahal dia telah menghidangkan masakan kesukaanku. Menunggu hingga tengah malam, sampai tertidur di meja makan. Setelah dua tiga kali menghangatkan lauk agar lebih sedap saat disantap.

"Mama ke mana saja? Dua hari gak pulang ke rumah. Dicari kemana-kemana gak ada. Sampai batal semua pertemuan sama klien!" 

Aku masih ingat, kala itu kuluapkan amarah. Bahkan mengatakan bahwa kehadirannya di sisiku hanya menyusahkan saja. Semua akan lebih baik andai saja kami tetap terpisah. Tanpa sempat menoleh sedikit pun, aku langsung membanting pintu kamar.

"Sarapan dulu, Sayang. Ada nasi goreng ikan teri kesukaan kamu, nih."

"Gak sempat, keburu telat!" 

Hari ini ada  jadwal rapat di luar kota. Aku pergi terburu-buru sekali. Tanpa sempat mencium tangannya. Ada sedikit rasa bersalah namun buru-buru aku tepis. Biar mama tahu bahwa kemarahanku serius.

Sesampainya di Jakarta pun aku tak berkirim kabar apa-apa. Meskipun hati kecil berbisik agar aku menanyakan keadaannya. Sesal, ternyata memang selalu datang terlambat. Andai saja aku tahu sejak sebelumnya,  bahwa saat itu adalah hari terakhir aku bisa menatapnya….

Getaran di ponsel berkali-kali membuyarkan konsentrasi saat presentasi di kantor. Sempat kulirik dan ternyata tertulis Mama. Ada apa lagi!

"...apa? Mama saya sudah gak ada? Maksudnya bagaimana?..." Seluruh sendi seakan luluh, ribuan kunang-kunang menghalangi pandangan. Tubuh merosot jatuh ke lantai. Tangisku pecah seketika.

Berkali-kali meyakinkan diri bahwa semua ini hanya April Mop, meskipun benar-benar terjadi di bulan Maret. Berharap bahwa mama meneleponku lalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Dan saat ini tengah menunggu di meja makan dengan masakan kesukaanku terhidang hangat. Menyambutku dengan cerita-cerita seru yang selalu saja berhasil membuatku tertawa-tawa walau telah dikisahkan berulang kali. Menyanyikan kembali lagu-lagu lawas dengan perangkat karaoke rumahan seadanya meskipun suara kami sama-sama parau. Sampai akhirnya aku hapal betul lirik-lirik lagu Panbers, Koes Plus hingga Edy Silitonga.

Mama, kembalilah padaku, hanyalah dirimu harapanku, oh Mama.

Dia sangat menyukai lagu ini, menyanyikan dengan penuh penghayatan sambil berkaca-kaca. Dan sekarang suaranya kembali terngiang. Membuat air mata ini tak henti berderai. Situasi dan kondisi yang tak menguntungkan membuat aku tak dapat lekas kembali. Sehingga mama dimakamkan tanpa sempat aku melihat jasadnya untuk terakhir kali.

Bagiku, ia masih ada. Hidup. Entah di mana, namun tak pernah lagi dapat kutemui. Menunggu, aku terus menunggu. Kulalui malam-malam tanpa lelap, sebab tak ingin mengulangi mimpi tentang kepergiannya yang menorehkan perih berulang hingga luka ini tak kunjung pulih.  

Sehingga akhirnua timbulkan denyut pada syaraf tepi kepala. Nyeri berkepanjangan, yang membuatku rutin mengkonsumsi Alprazholam Mersi. Tak terhitung lagi jumlah dokter yang kudatangi. Beberapa spesialis syaraf, sampai psikiater. Sehingga pada akhirnya aku melakukan MRI untuk bagian kepala. Hasilnya, tak ada yang salah. Tidak ada satu pun penyakit serius. Mereka bilang aku hanya perlu melepaskan. Melanjutkan hidup. 

Bertahun-tahun terpuruk, tak dapat berpikir jernih. Kepala ini bagai kepompong kosong. Tanpa otak. Tanpa ingatan.

Hanya lirik-lirik lagu mama yang berulang kali kugumamkan. "Mama, oh Mama apalah artinya hidup tanpa kasih sayang."

Sampai pada satu masa, seseorang bercerita bahwa salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika wajah dan suara dari orang yang kita sayang dan telah meninggal menghilang dari ingatan dan kita tak mampu mengingatnya sekeras apapun kita berusaha (Alexander Tian).

Sekumpulan kalimat itu seperti listrik ribuan volt yang mengembalikan kesadaranku. Betapa beruntungnya diriku. Yang masih dapat dengan jelas menggambarkan raut wajah berhias senyum milik mama. Bahkan suaranya seakan kerap terdengar dengan lembut memanggil namaku. 

Biarlah aku hidup bersama kenangan, biarlah dia tetap muncul dalam mimpi kemudian menghilang. Biarlah segala kerinduan ini kugantikan dengan doa.

Mama, oh Mama betapa nistanya hidup tanpa Mama.

Lagu lawas dari Edi Silitonga itu kuputar berulang. Sambil mengenang saat di mana aku dan mama menyanyikan lagu ini bersama-sama. Sambil tertawa lepas, tanpa kesedihan. 

Tujuh tahun setelah kepergianmu[Awg]

#lagukenangan