Pantai Kenangan

Sumber dari Google

Masih terukir indah dalam ingatanku, saat bertemu dengannya tiga tahun yang lalu. Ya, di pantai itu, Pantai Parangtritis. Tempat yang tepat untuk aku berteriak bebas. Melampiaskan semua kemarahan dan kekecewaanku akibat putus cinta.

Hari itu untuk kesekian kalinya, aku mengunjungi Pantai Paris (Parangtritis). Sore hari adalah waktu yang selalu kupilih. Selain karena suasana yang mulai teduh, aku juga bisa menikmati indahnya matahari terbenam.

Selama perjalanan, kuputar lagu yang terekam di flashdisk. Terdengar alunan musik dari berbagai genre. Salah satunya lagu "Bubuy Bulan" yang diciptakan oleh Benny Chorda, penyanyi tahun 50-an. Aku pun ikut menyanyikan lagu tersebut sembari tetap fokus mengemudikan mobilku.

/Bubuy bulan Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe panon poe disasate
Unggal bulan unggal bulan abdi teang
Unggal poe unggal poe oge hade

Situ Ciburuy laukna hese dipancing
Nyeredet hate ningali ngemplang caina

Duh eta sahanu ngalangkung unggal enjing
Nyeredet hate ningali sorot socana/

/Bubuy bulan Bubuy bulan menyangrai bintang
Matahari matahari disasate
Setiap bulan setiap bulan temui aku
Setiap hari setiap hari juga baik

Danau Ciburuy ikannya susah dipancing
Bergetar hati melihat airnya jernih

Duh itu siapa yang berjalan setiap pagi
Bergetar hati melihat sorot matanya/

Lagu yang menceritakan tentang kesedihan seseorang yang ditinggalkan kekasihnya. Sungguh, lagu yang sangat cocok dengan suasana hatiku saat itu.

Tak terasa, aku sudah tiba di tujuan. Segera kuparkirkan mobil di tempat yang tersedia.

Setelah melepaskan alas kaki, aku berjalan di atas butiran pasir menuju ke tepian pantai. Kupandangi air yang terhampar luas di hadapanku. Tiba-tiba gemuruh ombak datang menyapu tepian. Suara derunya terdengar begitu indah di telingaku. Bersamaan datangnya ombak, kuluapkan perasaan.

"Akuuu benciii diaaa!"

"Akuuu benciii!"

"Bawalah rasa ini menjauuuh!"

"Jangan sisakan untukkuuu!"

"Bawa juga rindu ini! Bawaaa!"

Aku terus berteriak tanpa peduli apa pun. Berulang-ulang hingga aku merasa lega.

"Berteriaklah lagi! Lebih kuat!" Seruan seseorang membuatku terkejut.

"Kenapa berhenti? Hanya segitu?" tanyanya sembari tertawa.

Entah, sejak kapan, laki-laki tampan itu berdiri di dekatku. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya.

"Kenalkan, namaku Medio. Maaf atas kelancanganku. Ini untuk kesekian kalinya kamu berteriak di pantai ini. Begitu susahkah kamu melupakannya?" Laki-laki itu terus bertanya tanpa peduli perasaanku.

"Apa pedulimu? Memang kamu itu siapa?!" seruku ketus, pertanda bahwa aku tidak menyukainya.

"Maaf, sudah mencampuri urusanmu. Siapa tahu kau ingin berbagi. Aku siap mendengarnya meskipun bukan siapa-siapa." Dia berkata sembari menatap hamparan pasir di pantai.

***

Sejak pertemuan dengannya hari itu, aku makin sering ke pantai. Kami bercerita tentang banyak hal. Anehnya, dia tidak pernah bertanya di mana rumahku. Aku pun begitu. Kami hanya berjanji untuk saling berjumpa di pantai ini.

Sebenarnya, Pantai Parangtritis ramai pengunjung, tetapi ada satu sudut pantai yang cukup sepi membuatku leluasa meneriakkan isi hati.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai melupakan mantan kekasihku. Semua karena nasihat Medio. Kata-kata bijak yang keluar dari mulutnya sanggup membuatku lupa.

"Jangan buang waktumu hanya untuk laki-laki yang belum tentu mengingatmu. Nikmati hidupmu, jalan masih panjang, jangan lakukan hal yang sia-sia." Medio selalu mengingatkanku, setiap kami bertemu.

"Ya, aku akan ingat itu. Terima kasih," ucapku padanya sore itu.

"Rinda, jika suatu saat kau tak menemukanku di pantai ini, jangan lagi lakukan hal yang sama, ya, berubahlah. Jangan hanya karena nasihatku. Janji?" Kata-katanya tentu saja membuatku heran.

"Memangnya kamu mau ke mana? Kok, tiba-tiba ngomong begitu?" tanyaku sembari menatap wajahnya.

Dia memandangku, lama. Ehm, mata itu. Mata yang mengingatkanku kepada seseorang. Ya, seseorang yang namanya telah terukir indah di hatiku. Namun, ukiran indah itu kini telah hancur berkeping-keping, semenjak dia pergi meninggalkanku tanpa jejak.

Sejak saat itu, aku membenci laki-laki itu. Apa aku tak pantas bahagia? Mengapa orang tuanya tidak merestui hubungan kami hanya karena berbeda suku? Dia yang pergi tanpa kabar bukanlah laki-laki yang sanggup berjuang. Kepergiannya sudah menunjukkan bahwa aku tak pantas diperjuangkan.

Meskipun sudah kubuang jauh, semua kenangan itu sulit untuk kulupakan. Namun, sejak ada Medio, sedikit demi sedikit lembaran kenangan itu hilang terbawa embusan angin.

"Hei, Rin, apa lagi yang kamu pikirkan? Jangan bilang kalo kamu kembali mikirin dia," ucap Medio sembari menepuk bahuku.

Aku terkejut saat tangan Medio menyentuh bahuku. Bayangan masa lalu itu langsung terbang menjauh dari pikiranku.

"Ah, tidak ... lupakanlah."

"Ingat pesanku tadi!" seru Medio, "masa depanmu masih panjang. Banyak hal yang bisa kamu lakukan. Laki-laki bukan hanya dia. Dia tak pantas untukmu. Tuhan akan memberimu jodoh yang jauh lebih baik. Ingat itu!"

Setelah menasihatiku, Medio berbalik arah dan berjalan meninggalkanku.

"Mediooo! Jawab pertanyaanku, kamu mau ke mana?!" teriakku sebelum dia menjauh.

"Pokoknya harus janjiii!" serunya tanpa menoleh ke arahku.

Entah, kenapa aku hanya terdiam? Tak terpikir untuk mengejarnya. Sudut pantai yang tadi sepi, mulai terasa ramai. Kupandangi orang-orang di sekitar, mereka tampak aneh menatapku.

***

Keesokan harinya, aku kembali mengunjungi pantai itu. Kudatangi lokasi di mana biasanya kami bertemu. Kenapa begitu ramai? Tempatnya tampak asing bagiku. Ke mana sudut pantai yang sepi itu? Aku terus mencari, berlari ke sana kemari. Setelah berulang kali mencari, tak kudapati sudut itu. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Medio, aku rindu.

Aku teringat tiga hari yang lalu, sempat mengambil foto Medio secara diam-diam di salah satu sudut pantai. Tempat itu pasti bisa kutemukan setelah melihat fotonya. Segera kuambil ponsel dari tas dan membuka galerinya. Namun, tak kutemukan apa pun di sana. Hanya ada dua foto berwarna hitam, tanpa Medio dan sudut pantai itu. Aku terpaku.

***

Palembang, 1 Agustus 2021

#lagukenangan