Sesal

Pinterest

Sore ini, sembari bersandar di dinding kamar, kulihat jendela berkeringat. Padahal cuaca tidak panas. Sebaliknya, ia sedang bersedih. Senja saja merajuk sebab gerimis mengambil tempatnya.

Dingin. Itulah yang kurasakan. Bahkan pohon anggur di halaman rumah, tangkainya sembab dan menggigil. Pun daun-daun yang berembun. Sementara bambu tua yang biasa dipakai jemuran, basah kuyup.

Perhatianku teralihkan saat benda pipih mengetuk kesunyian dengan suaranya. Tidak seperti lagu sebelumnya. Kali ini lambat dan sendu. Tempo itu menari di antara kecipak air, aroma petrichor, dan napas angin yang berbisik.

"Lembut kukenang kasihmu ibu, di dalam hati kukini menanggung rindu ...." Aku termagu. Akan tetapi, hanya beberapa detik saja. Setelahnya menggeleng dan dengan cepat menutup jendela kayu, juga gorden merah itu.

Sebentar lagi, saat hujan reda dan malam mulai terjaga. Lapangan di sebelah pasti ramai dengan permainan tenis meja. Suara bola pingpong dipukul, tawa, dan obrolan orang-orang mematroli bulan yang mengantuk. Tidak jarang gadis sebayaku menonton, mengkoneksikan wifi, atau bersenda gurau dengan temannya.

Sementara aku yang tidak terlalu menyukai keramaian, memilih mengurung diri. Berdiam di kamar temaram, memutar kembali lagu dari Rafly Kande. Lagu yang menjadi soundtrack film Hafalan Salat Delisa.

Sesak melesak meraup dada. Bukan saja mengingat seorang anak korban tsunami di Aceh tahun 2004. Melainkan nenek. Ada keterkaitan antara lagu tadi, film yang diadopsi dari novel karya Tereliye, dan ibu dari ayahku itu. Seperti pytagoras yang setiap sudutnya terikat satu sama lain. Begitu juga kisah ini.

Jangan salah paham dulu. Nenek sama sekali bukan korban tsunami. Namun, kisahku dan wanita tua ini mengingatkan pada filmnya. Itulah mengapa saat mendengar lagu berjudul ibu, aku jadi mengingatnya.

Aneh. Mungkin kebanyakan orang akan teringat pada ibunya. Namun, tidak denganku. Bukan karena tidak menyayangi orang tua. Hanya saja dalam beberapa situasi, sebuah lagu memiliki maknanya sendiri.

Pada nadanya, sarat rindu itu tersirat, menggebu dalam tabu. Bersama waktu, masa lalu singgah bertalu-talu.

"Ya, buru kadieu. Kumaha bacaan salat kamari téh?" tanya wanita renta itu di suatu hari. Tidak lain adalah nenek, sosok yang selalu memberikanku dua lembar uang lima ribuan setelah membantunya di warung.

Dulu waktu masih kecil, nenek selalu minta diajarkan bacaan solat. Entah itu bacaan kunut, doa iftitah, dan lainnya. Wanita tua itu sering lupa, mungkin faktor usia. Namun, ibu pernah bercerita. Katanya sewaktu kecil, sepuh dulu tidak sempat mengaji. Lebih tepatnya waktu tidak memihak mereka.

Di masa penjajahan kerap kali mereka harus tinggal di lorong gelap, di bawah galian tanah sebagai perlindungan. Bahkan tempatku tinggal dulunya pemakaman satu lubang. Tempat di mana semua darah menyatu dalam timbunan yang sama. Itulah mengapa nama kampungku Cibeureum, artinya air merah. Namun, itu cerita mulut ke mulut. Belum dipastikan kebenarannya.

"Ya, hayu atuh mulai," ucap nenek setelah menggelarkan sajadah.

Masih kuingat jelas. Meski bukan memori daun pisang. Namun, kejadian lucu membuatku tersenyum tiba-tiba. Selalu ada hal menggelitik jika bersama nenek. Seperti siang itu.

Tidak jarang nenek memintaku menjadi imam dan wanita sepuh itu sebagai makmum. Namun, berakhir dengan omelannya karena bacaanku kelewat tartil. Ah, lebih tepatnya sangat lambat. Ia selalu bilang punggungnya mudah sakit dan tidak bisa berdiri terlalu lama.

"Ya, salat téh tong lami teuing, sok nyeri cangkeng ené mah," keluhnya sembari memijat-mijat kaki yang kubalas dengan cengiran tak berdosa. Maklum saat itu aku bocah kecil, mungkin baru berusia sebelas tahun.

Hanya saja dulu, aku tidak bisa menyadari satu hal. Di balik matanya, ada tatapan kekosongan dan penyesalan. Sebuah sorot sendu yang selalu menghiasi wajah keriputnya. Bahkan ketika pertama kalinya ia meminta sesuatu padaku.

Sesuatu yang menjadi penyesalan seumur hidup, yang sampai saat ini terus menghantuiku.

Kurang lebih empat tahun lalu. Waktu itu nenek dari ibuku sakit parah. Penyakit gula basah membuat jari-jari kakinya membusuk dan habis. Namun, di detik ketika mengembuskan napas terakhir, aku dan kedua cucu lainnya mengajikan yaasin. Sementara ibuku dan saudara lainnya terus mengucapkan kalimat takbir di telinga nenek.

Setelah wafatnya, nenek dari ayahku itu berkata. "Ya, lamun engke ges waktuna uih, ene hoyong ciga kitu."

Pemintaan yang sampai hari ini hanya akan menjadi mimpi untuknya. Tentang cucu yang tidak bisa berbakti.

Kenyataannya, tidak semua hal yang diinginkan terjadi. Pun dengan maut, tidak semua bisa dituntut. Apalagi dinegosiasi. Sesaat setelah dilahirkan, manusia telah memilih jalannya masing-masing. Begitu juga nenek.

Hari di mana nenek resmi dilamar kematian, aku berada di pusat kota. Menjalankan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama tigan bulan sebagai tugas akhir kenaikan kelas. Lebih menyakitkan lagi, tidak ada yang memberitahuku. Jika bukan temanku yang mengucapkan bela sungkawa.

Malam itu, aku menangis. Hari di mana nenek berpulang ke rumah baru, aku tidak bisa mengantarnya. Rasa sesak, sesal, semua bercampur satu. Tidak hanya terlambat. Bahkan aku gagal menuruti keinginannya yang mungkin adalah wasiat.

Lebih lagi, aku tidak bisa melihat nenek untuk terakhir kalinya.

"Sudah magrib, Téh." Suara ibu menyadarkanku bersamaan dengan kumandang azan. Hujan sudah reda dan langit mulai gelap. Aku segera bangkit dan menjalankan kewajiban.

Setelahnya. Di sinilah aku sekarang. Duduk dengan bantal di atas paha, air dalam gelas, dan sesuatu di tangan. Berada di sebuah ruangan di mana roh-roh itu berdesakkan. Menunggu bagiannya.

Sampai hari ini. Penyesalan itu kubayar cicil, setiap malam jumat. Meski tidak bisa melunasi keinginan nenek. Namun, sebagai tanda sayang. Setidaknya aku bisa memberi rantang untuknya pulang.

"Tsumma khususon ila ruhi ...."

Cianjur, 01 Agustus 2021

...

Catatan kaki :
1. Ya, buru kadieu. Kumaha bacaan salat kamari téh? : Ya, cepat ke sini. Gimana bacaan salat yang kemarin itu?

2. Ya, hayu atuh mulai : Ya, ayo mulai.

3. Ya, salat téh tong lami teuing, sok nyeri cangkeng ené mah : Ya, kalau salat itu jangan lama-lama. Nenek sakit pinggangnya.

4. Ya, lamun engke ges waktuna uih, ene hoyong ciga kitu : Ya, jika nanti pulang (tiada), nenek juga mau seperti itu.

5. Teh : Kakak.

...

#lagukenangan