Sekar Ageng Kusumastuti

Ilustrasi : Foto Tembang

Pandemi Covid-19 memaksaku pulang kembali ke desa, tepatnya ke rumak kakek dan nenekku. Baru setengah tahun aku masuk kuliah, boleh dibilang pas lagi sayang-sayangnya harus kutinggalkan, bahkan lingkungan kampus belum sempat aku jelajahi seluruhnya. Keadaan memaksaku untuk belajar dari rumah, bahagia dan sedih bercampur jadi satu.

Tumpukkan kardus berisi barang-barang yang kubawa dari tempat kost masih belum sempat kubereskan. Hari ini ujian semester berakhir, waktunya membereskan dan membongkar isi kardus. Mulai dari membuka kardus besar berisi buku-buku dan berbagai laporan tugas.

Aku menata satu persatu dalam rak buku sesuai dengan ukurannya. Secarik kertas berwarna putih terjatuh ke lantai, kertas kecil yang terlipat rapi menarik perhatianku. Kertas itu terselip di buku catatan tugas kuliahku. Kertas ini rasanya tak asing, pikirku.

Kuambil kertas itu dan kubuka perlahan dengan dada berdebar. Tampak berderet tulisan dalam aksara jawa dan latin di sana. Deg, jantungku memompa lebih cepat saat aku mengenali tulisan tangan tersebut. Kubaca perlahan baris demi baris.

Dhuh kulup putra ningwang

Sireku wus wanci 

Pisah lan jeneng ingwang

Ywa kulineng ardi

Becik sira neng praja

Suwiteng narpati

Nanging ta wekas ingwang

Ywa pegat teteki

Syair lagu tersebut ditulis oleh kakek untukku. Aku baru ingat, beliau memberikan kertas itu saat aku berpamitan berangkat kuliah. Aku pernah mendengarnya bersenandung, lagu tersebut dulu pernah dipopulerkan oleh Lokananta Record. Zaman ketika rekaman lagu masih menggunakan pita kaset katanya. Aku belum pernah mendengarnya, gegas kuambil gawai dan kucari di channel youtube. Suara gending mulai terdengar, syair lagu mulai dinyanyikan.

Pandanganku kini sedikit buram, terhalang butiran air yang mengambang. Makna yang begitu dalam tersurat dalam syair tersebut membuat napasku sedikit sesak. Kembali aku membaca dan mencoba memahami makna di dalamnya, sembari mendengarkan lagunya di gawaiku.

Wahai anakku

Sudah tiba saatnya engkau berpisah denganku

Jangan terbiasa di gunung (dusun)

Lebih baik pergi ke kota

Mengabdi pada sang pemimpin (berbakti pada negara)

Namun pesanku

Jangan lupa pada sang pencipta (beribadah)

Seperti itu kira-kira pesan yang kubaca dari tulisan tersebut, karena pengetahuanku terbatas dalam memahami bahasa jawa. Pikiranku melayang kembali teringat masa kecilku dulu sekitar 13 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

Hampir setiap hari kakek yang kupanggil dengan sebutan eyang mengajariku aksara jawa, petung jawa, pranata mangsa, kalender jawa, yang tentu saja aku belum mampu memahaminya. Beliau terus mengajariku siang dan malam, dengan papan tulis besar terpasang di dinding ruang tengah. Kami selalu belajar banyak hal di sana mulai dari pelajaran dasar, sampai cerita sejarah.

Aku sangat dekat dengan eyang, hampir setiap minggu pagi kami berjalan kaki mencari udara segar kemudian berkunjung ke tempat saudara-saudara. Aku merasa sangat senang karena memiliki banyak saudara yang begitu ramah menerima kedatangan kami.

Sore hari setelah aku pulang mengaji biasanya kami duduk di depan papan tulis, sekedar menghafal aksara jawa menyanyikan tembang macapat, sampai sekarang aku masih hafal tentang guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra. Entah kenapa aku begitu tertarik dengan semua itu, aktif bertanya dan rasa ingin tahu membuat eyang sangat antusias mengajariku.

Saat ini aku merasakan hasil dari apa yang aku pelajari, saat ini aku mampu membaca dan menulis aksara jawa dengan mudah. Mungkin hanya itu yang paling nyata membekas dalam ingatanku, karena tentu ada dalam pelajaran bahasa jawa di sekolah.

Tanganku gemetar ketika butiran air yang mengambang tak dapat lagi ditahan oleh kelopak mata, cairan bening itu meluncur deras membasahi pipi. Mungkin ini tulisan terakhir yang mampu ditulis, mungkin ini pesan terakhir yang dititipkan padaku. Tulisan beliau tak serapi dan sebagus dulu, pasti beliau sangat kesulitan saat membuat tulisan itu.

Kembali kulipat kertas, kemudian kusimpan rapi. Hingga hari ini aku masih bisa duduk bersama eyang, untuk sekedar mengobrol dan tertawa. Aku masih ingat dengan jelas, dia dulu begitu kuat dan gagah, begitu semangat dan pantang menyerah. Aku sangat kagum dengan kepintarannya, hal itu menjadikanku bersemangat untuk menggapai cita-cita.

Kini tubuhnya terbaring lemah tak berdaya, tangannya selalu gemetar saat memegang sesuatu, dan kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Aku tak bisa lagi memintanya mengajariku sesuatu yang ingin kupelajari sekarang.

Mungkin hikmah di balik pandemi ini adalah membuatku kembali dekat dengannya, setelah selama 6 tahun aku jarang berkumpul karena bersekolah di kota. Aku hanya bisa melakukan tugasku sebagai cucu, saat beliau membutuhkan bantuanku.

“Abi, aku mau keluar dan berjemur,” seru eyang dari kamar membuyarkan lamunan.

“Nggih Yang,” sahutku sambil bergegas menemuinya.
Segera aku membantunya naik ke atas kursi roda, mendorong menuju halaman rumah untuk berjemur. Kubawakan air minum dan makanan kecil ke teras rumah, menemaninya berjemur sambil memotong kuku. Sesekali kami tertawa dengan obrolan yang lucu.

Aku akan selalu mengingat pesanmu, semoga cita-citaku dapat tercapai. Semangat yang pernah kau ajarkan padaku, akan selalu menjadi semangatku. Ilmu yang kau berikan padaku akan selalu kuingat, kuterapkan dan kelak kuajarkan pada anak cucu. Tetap sehat dan semangat eyang, terima kasih.

 

Purbalingga, 1 Agustus 2021

Seperti diceritakan oleh Abi (nama samaran)

#lagukenangan