Yang Kunanti Tak Pernah Kembali

Pinterest.com

'Bulan Desember yang kunantikan

Hanyalah harap hampa

Mengusik mimpi-mimpi

Senyumku pergi lagi

Ingin kuteriak hatiku melara

Kalau memang begini maumu

'Tuk apa semua kata

Kau titip di hatiku

 

Yang kupegang hanya kata

Bukan janji-janji indah

Yang membuat aku lupa diri

Tatapanku kian jauh

Kuharapkan bayanganmu

Tapi tiada kunjung jua

 

Ingin kuteriak hatiku melara

Kalau memang begini maumu

'Tuk apa semua kata

Kau titip di hatiku

 

Yang kupegang hanya kata

Bukan janji-janji indah

Yang membuat aku lupa diri

Tatapanku kian jauh

Kuharapkan bayanganmu

Tapi tiada kunjung jua

 

Yang kupegang hanya kata

Bukan janji-janji indah

Yang membuat aku lupa diri

Tatapanku kian jauh

Kuharapkan bayanganmu

Tapi tiada kunjung jua'

 

Entah sudah berapa masa tembang kenangan ini menjadi obat penawar luka. Hari-hari yang kulalui terasa berjalan di antara gelap berselimut halimun sepi. Menunggu harapan semu, berhias ilusi tentang rindu, namun akhir yang begitu pilu menjegal kalbu. 

 

*

 

Kau dan aku adalah tunas di ladang yang sama. Tumbuh dari satu rumpun antara juta-juta keelokan suku bangsa di pertiwi nan indah. Kalimantan Barat adalah bumi kita, tempat dilahirkan dan rimba menjadi saksi kita sebagai anak Borneo yang bersahaja. Dunia kanak-kanak nan gembira, berlari di lapangan terbuka, mengejar layang-layang yang putus talinya. Sesekali noda lumpur kita terjang, demi mengemas tawa kemenangan, tatkala gundu di tangan meluah dan jatuh bergelindingan. Kita unggul dalam memperdaya teman sebaya, menguras kepemilikan mereka.

 

Aku ibarat sekuntum bunga lili liar yang tumbuh di jalan. Ada banyak kembang lain sebagai kawan sebaya. Tetapi kaulah satu-satunya kumbang yang hinggap dan selalu menemani ketika runtuh hujan dan panas matahari menggerayangi badan. Tawa kita lepas bercengkrama dengan tanah, melompati dahan-dahan rambutan juga mangga milik paman. Hari-hari dihabiskan dalam balutan kegembiraan selayaknya anak-anak kampung dekil, berlomba merebut permainan, mencoba jadi pemenang di setiap perjumpaan. 

 

Saat peluh membasahi wajah, bersama matahari yang kian condong ke barat. Aku mengemas langkah turun ke sungai berair coklat, diikuti gelak banyolan mu mengekor langkah. Kita lompati batang-batang rumah terapung yang marak berjejer di tepi arus kampung, bersenda gurau, berenang seperti ikan-ikan yang berebut umpan. Lalu kumandang adzan maghrib menjadi cambuk yang membangunkan lengah. Bahwa sudah waktunya aku dan kau sudahi semua tawa dan kembali ke rumah.

 

Itu masa-masa terindah kita hingga jelang remaja. Bersekolah, bermain, tertawa bahkan menangis pun kau selalu ada. Menjadi pelita tatkala dunia kecilku diamuk ayah-bunda. Sebab kenakalanku sebagai bunga liar sudah terlampau bikin resah. Tapi kau siap menjadi tameng saat rotan kemarahan ayah menari-nari di sekujur tungkai kakiku. Kau juga berani mencegah bunda menjambak untaian mahkota panjangku, kala beliau terlalu lama menunggu aku pulang dari warung. Bumbu dapur tak kunjung datang, karena aku asik nonton kartun.

 

*

 

Setelah tamat sekolah menengah atas, adalah waktu kita untuk berpisah. Di sinilah duka lara merebak hingga kau-aku tatkan pernah bersua untuk jangka waktu teramat lama. Aku menghabiskan malam memandangi bintang dan bulan, dibalut kenangan tentang cerita asmara yang tumbuh tanpa tuan. Ya … aku mengumpamakan kau pangeran, sedangkan aku bagimu hanyalah adik kesayangan. Kita memang seumuran namun kau lebih tua dalam bilangan bulan.

 

Masa-masa nan indah bersama menumbuhkan akar-akar cinta yang subur berkembang dalam dada. Namun tak sempat terutara karena aku anggap kau juga merasakan hal yang sama. Tapi apa daya, jika semuanya ternyata salah. Sejak kau pergi ke Ibu Kota Jakarta menempuh jenjang kuliah, bunga lili liarmu ini terganti mawar merona yang berbeda. Kau jatuh cinta padanya dan melupa bahwa aku mengharapkan kisah  bermuara menjadi sebuah takhta Kita

 

Aku terkulai lemas dengan air mata, tatkala sepucuk undangan merah tiba. Dengan jemari gemetar aku membukanya, sungguh kejutan yang sangat mencengangkan netra juga jiwa. Tertera namamu di sana dengan seseorang yang tak pernah aku kenal sebelumya. Kau akan menikah, aku tersedak lara. Betapa kecewa bergema di antero dunia, tempatku berpijak seolah-olah dilanda gempa. Tubuhku limbung didera nestapa dan penyesalan tak terungkap, bahwa aku sangat-sangat mencinta, namun kau tak pernah menyadarinya.

 

Aku hidup dalam kepahitan. Kenangan tentang perpisahan dan janji-janji yang pernah kau ucapkan, kembali terngiang menjadi godam yang meluluhlantakkan perasaan. Bukankah kau pernah bilang, bahwa suatu saat akan pulang dan menemui aku untuk berbagi pengalaman. Desember adalah bulan yang kau janjikan, tetapi mengapa harus pahit kenyataan bahwa kau telah melupakan semua yang pernah diucapkan? 

 

Kau bahkan bersumpah, tatkan pernah melangkah ke pelaminan sebelum aku yang menjadi pilihan atau memberi persetujuan. Mengapa kau tidak ingat tentang apa yang kau ucapkan? Mengapa? Secepat itukah rasa berpindah kepemilikan, atau aku memang hanya seperti adik kesayangan? Bahkan seorang adik pun berhak diberi kesempatan untuk berpendapat atas kakaknya yang ingin mempersunting belahan jiwa. Tapi kau tidak! 

 

Entah sengaja melupakan aku, atau memang ingin membunuh janji yang pernah terucapkan. Aku menelan pahit sepahit-pahitnya kenyataan. Hingga saat ini kau masih ada dalam hati dan ingatan, tetapi aku telah menjadi lili liar yang layu di antara belukar kesedihan. Hanya tersisa lirik lagu kenangan Yang Kunanti milik Inka Christie sebagai perwakilan, betapa aku masih berharap dalam kehampaan. Semoga kau bahagia bersamanya hingga akhir masa. Biarlah aku menjadi sejarah seperti penggalan kisah yang tertera indah di lagu usang terpopuler ciptaan Irwan S Samosir di tahun 1995. 

 


#kisahcintapertamaku

#lagukenangan