Makan Siang Kebahagiaan

Cover by Gita FU/Canva

 

Lik Surip mampir ke rumah pagi ini, seperti kebiasaannya sehari-hari. Ia muncul di ambang pintu  antara ruang tamu dan ruang tengah. "Mbah putri ke mana, Ta?" sapanya. 

Aku mendongak dari adonan yang tengah kukocok dengan pengocok listrik. "Di belakang sama Mas Anto dan bocahan, Lik," sahutku. Lik Surip segera ke dapur mendapati ibunya yang tengah menggoreng tempe. Ibu dan anak tersebut lalu terlibat obrolan, ditimpali oleh suamiku. 

Beberapa jenak kemudian Lik Surip duduk melantai di ruang tamu. Itu kebiasaannya, sebelum lanjut mengobrol dengan kami. Kudengar ibu mertua tengah mengaduk segelas kopi untuk Lik Surip. Sesungguhnya panggilan 'ibu mertua' tidaklah tepat. Karena sejatinya beliau adalah embah putri atau nenek suamiku. Namun berhubung suami telah dirawat semenjak bayi oleh nenek dan kakeknya tersebut, ia terbiasa memanggil dengan sebutan ibu dan bapak. Aku sebagai istri, mau tak mau terbawa kebiasaan suamiku. 

Kemudian Lik Surip menembang sebuah lagu. Suaranya empuk, aku amat menikmatinya.  Kali ini ia membawakan tembang yang terdengar familiar di kupingku. Meskipun  tak tahu apa judulnya, aku tahu ini adalah lagu Sunda. Cengkoknya yang khas berhasil dibawakan oleh paman suamiku ini secara luwes. 

Ah, pikiranku jadi mengembara bersama alunan tembang ini. 

Tahun 2001, aku melakukan perjalanan ke Bandung bersama embah kakung. Kami berangkat dari Purbalingga sejak pagi, menumpang mobil travel Pamitran. Kala itu genap dua tahun aku lulus dari SMU. Sedangkan embah kakung berusia 63 tahun, seorang pensiunan kepala stasiun KA yang masih  energik dan gagah, dengan rambut perak yang selalu tersisir rapi. 

Kami tak banyak bercakap-cakap di dalam mobil. Sesungguhnya kukira pikiran kami tertuju pada perkara yang sama: ayahku. Mau dikatakan apa lagi?  Ayahku kala itu memang pelakon drama keluarga yang menguras emosi. Tapi kami sama-sama tahu, tak mungkin mengabaikan ayahku. Demi dialah  perjalanan ini terwujud. 

Tengah hari mobil travel sampai di Ciamis. Sopir mengatakan bahwa kami akan rehat di kota ini, tepatnya di salah satu rumah makan rekanan perusahaan travel. Aku segera meluruskan punggung yang kaku.  Embah kakung mempersiapkan tas slempang beliau. 

Begitu sampai, semua penumpang dan sopir turun. Rumah makan khas Sunda menyambut kami dengan ramah. Area makan terbilang luas, dilengkapi fasilitas mushola, kamar mandi, dan toilet. Alunan lagu berbahasa Sunda tidak ketinggalan menyemarakkan suasana. Aku dan embah kakung memutuskan memesan makanan. 

Kami memilih duduk di meja dekat pintu masuk. Tak lama pelayan datang. Menu di rumah makan ini adalah nasi timbel. Satu bakul nasi untuk dua orang, dilengkapi berbagai macam lauk pauk lengkap dengan sambal dan lalapan. Untuk minumannya tersedia teh hangat. Makanan yang disajikan terlalu banyak untuk ukuran dua orang. Tetapi kami tak perlu khawatir, karena nantinya yang dibayar hanya yang kami makan saja. 

Embah kakung mengamati semua jenis lauk di meja. Ada dendeng daging sapi, ayam goreng, ikan goreng, telur, tahu, dan tempe. Kesemuanya dihidangkan terpisah dalam piring-piring kecil. "Ayo, Git. Sing dimaem sing iwak bae. Tahu tempe ora usah, wis biasa iki nang umah," saran embah, dengan mata berbinar jenaka.

Aku tergelak mendengarnya. Embah kakung menyuruhku memakan semua lauk kecuali tahu dan tempe yang sudah sehari-hari kami jumpai di rumah. Tentu saja aku mengangguk penuh sukacita. Siapa yang mampu menolak makanan lezat? Kami segera menyantap hidangan. Berkali-kali embah memuji rasa masakan. Aku turut larut dalam keriangan bersantap. 

Tanpa terasa lauk di meja kami nyaris tandas, menyisakan tahu dan tempe goreng belaka. Embah terlihat puas. Saat membayar tagihan, totalnya adalah lima puluh ribu rupiah. Aku mengamati reaksi beliau kala menghitung uang. 

"Ora apa-apalah. Sekali-sekali ya, Git?" embah berkomentar  sembari meringis. Aku menyengir lebar, paham betul embah jarang melakukan hal ini. Embah kakung yang kukenal selama ini adalah sosok hemat dan bersahaja. Tindakannya memesan makanan di rumah makan begini adalah di luar kebiasaan beliau. Mendadak aku merasa terharu, sebab berpikir jangan-jangan embah melakukan hal ini demi menyenangkan diriku. 

 Beberapa saat kemudian pak sopir memanggil penumpangnya untuk kembali ke mobil travel. Kami siap melanjutkan perjalanan yang terjeda. 

Kaso pondok kaso panjang
Kaso ngaroyom ka jalan
Najan sono najan heman
Teu sae ngobrol di jalan

Kaso pondok kaso panjang
Kaso ngaroyom ka jalan
Sono mondok sono nganjang
Sono patepang di jalan

Lamunanku terputus. "Lik, ini judul lagunya apa, sih?" tanyaku penasaran. Lik Surip terdiam sebentar. 

"Sorban Palid. Lagunya Nining Meida. Kenapa, Ta?" 

"Ooh, nggak apa-apa, Lik. Cuma penasaran. Lanjut lagi, Lik," pintaku. Dan Lik Surip menuruti permintaanku. Ia kembali menembang dari awal. 

Akhirnya setelah berlalu belasan tahun, kini aku tahu judul lagu Sunda ini; lagu penanda kenangan perjalananku dan embah kakung. Di antara sekian lintasan memori, bagiku momen di rumah makan itu adalah momen favorit. Kapan pun aku rindu beliau, wajah embah kakung yang sedang bersantap dengan bahagia akan kembali terbayang. (*)

Cilacap, 310721

Keterangan:

 Judul lagu: Sorban Palid
Penyanyi   : Nining Meida

#lagukenangan