Lathi - Pengakuan Nastiti

Foto: Pinterest

Lathi
Pengakuan Nastiti

_______________

Di penghujung malam menjelang dini hari, sebelum kantuk memasuki ruang mimpi, kurebahkan badan dengan sepasang kaki bermanja pada posisi agak tinggi. Rasanya tak ada kelelahan menikmati rangkaian melodi musik penghantar keheningan.

Setelah gawai cukup aman dari low battery, kuputar ulang lagu yang sejak pertama kali mendengarnya, langsung merinding dan jatuh hati. Menyita perhatian, kagum pada karya anak negeri. Mereka berhasil memadukan modernitas musik catchy dengan ornamen tradisional yang kental. Kolaborasi Weird Genius dan Sara Fajira.

Sepenggal lirik langgam jawa dibawakan dengan cengkok ala sinden, jadi daya tarik tersendiri....

'Kowe ra iso mlayu saka kesalahan... ajining diri ana ing lathi' 

(kamu tidak bisa lari dari kesalahan... harga diri seseorang ada pada lidahnya/ perkataannya)

Penggambaran tentang kisah cinta penuh pengorbanan dan terbalut ego, menjadi realita yang menyakitkan. Ketika suatu hubungan berakhir, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai. Namun, berhenti saling menyakiti, dan lidah menjadi kunci kehormatan diri. 

Semakin hanyut meresapi kata-kata bijak, kian masuk ke palung terdalam, makin terbentang pintu gerbang kenangan. Ingatan kepada seseorang yang tak lekang tergerus laju waktu, tak punah tergilas putaran zaman, masih membekas di jurnal perjalanan kelam. Kurang lebih lima tahun yang lalu, aku dihadapkan pada urusan tak biasa. Mengundang rasa simpati yang lebih dari biasa. 

Terlibat tak sengaja dengan konflik asmara segitiga temanku, berjarak tak jauh usia dan tempat tinggal. Kesaksian mata, lisan dan tindakan kurang terpuji, mau nggak mau berlangsung di depanku. Kecemburuan, praduga pun tudingan melesatkan kata-kata beracun. Saling menyerang, saling mengibarkan bendera perang. Kecaman kasar disertai ancaman halus, mengundang aroma mistis terasa mencekam. Menyulut gairah para penghuni kegelapan. Mungkin istilah yang pantas, 'cinta adalah anugerah sekaligus kutukan'. Mereka terjebak dalam jeratan cinta yang menguasi.  

Menjalani hubungan tidak sehat, kesengsaraan lahir dan batin, cukup lama dari sebelum dekat denganku. Semoga pada akhirnya, ia menyadari bahwa hubungan itu bukanlah sesuatu yang layak diperjuangkan.
 
Aku memanggilnya, Teteh. Seorang wanita yang awalnya tersenyum saat dicintai sesosok lelaki dambaan, lama kelamaan hal itu membuatnya merasa terkekang rantai. Kekangan tanpa ikatan negara secara resmi, mencintai dengan tulusnya pengorbanan materi dan perhatian, tiada berbalas kesetiaan. 

Ia kerap kali menangis padaku, menutupi sedihnya di mata yang lain dengan tawa lantang. Aku melihat ketangguhannya dalam dilema. Terkadang tampak menyerah kepada waktu, entah siapa yang akan meminang terlebih dulu, jodoh atau kematian. Kata-kata pasrah itu sering diucapkannya saat berbagi rasa denganku.

Ada sesuatu yang membuatku risih, ujaran kasar, bahasa kotornya saat emosi meledak. Seakan-akan lahar hitam dari mulutnya meluap kemana-mana. Lebih parah lagi, ia sering menyumpahi, mengutuk. Berdiri timpang kepala sama hitam, menghakimi siapapun yang menyakiti dirinya. Terutama pada sosok wanita yang menjadi madunya, yang ternyata dinikahi secara sah. Sedangkan ia hanya berstatus nikah siri, tuntutannya belum juga terpenuhi.

(dasar wanita jalang! Pasti memakai mantra pelet. Sumpah, mereka bakal sengsara sampai mati)

Nada getir dari gemetar bibirnya tercekik sesak amarah. Sejadi-jadinya kobaran emosi liar di kepala seakan membakar rambut pirangnya. Dua bola matanya memerah, gigi-gigi gemeretuk, lidah licin menjilati murka yang membuncah.

Miris, ngilu empedu menontonnya. Ia kalah telak di babak kedua kisah asmaranya masih dengan lelaki yang sama. Terpental, jatuh tersungkur masuk kubang hitam bernoda. Genangan dosa seolah hidup merupa cakar-cakar tajam, menuntut balik pengorbanan yang terungkit.

Seseorang yang sudah berbuat salah, tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayang itu. Ia seperti kalap, menghadapi bagian yang lebih gelap dari buku hitamnya ketika ancaman berbahaya muncul. Dikejar kekuatan yang tidak akan berhenti menjatuhkannya, ia harus berurusan dengan sejarah masa kelam. Ditambah lagi hubungan rusak yang pernah dialaminya jauh sebelum mengenalku.

**

Suatu sore, teteh tampak berjalan gontai, lesu, menuju warung terdekat. Kuawasi dia dari balik tirai kaca depan, tanpa beranjak dari kursi. Sesaat kemudian, dia mengarah ke rumahku masih dengan menyeret langkah, sesekali tangan mengelus perut dan lehernya.

Karena terbiasa tak perlu ketuk pintu, apalagi izin resmi tuan rumah, ia tau aku ada di dalam dengan seabrek kitab dan suguhan favorit. Setoples kacang goreng dan teh manis, begitulah aku hampir setiap dia datang. Melahap bacaan dan camilan.

Tanpa bicara, ia menjatuhkan badan ke kursi tepat di sampingku duduk sedari siang. Aku pun tak mau banyak berceloteh seperti biasa, karena tau dia sedang sakit. Sakit yang langka, bahkan baru kali ini kutemui. Bagi sebagian orang atau pihak keluarganya mungkin itu terbilang sakit biasa. Mungkin juga karena ini bukan yang pertama kalinya. Aku hanya mendapat gambaran dari orang-orang tertentu mengenai penyakitnya. Secara medis, katanya tak ada indikasi penyakit berat. Kondisi fisik lainnya pun tidak begitu mengkhawatirkan.

Kusuguhkan segelas air putih, menyodorkan toples kacang, sambil melirik matanya yang kosong tampak sayu. Ia menolak halus dengan tangan, mimiknya meringis kelu melihat kacang di mulutku. Kurasa dia kesulitan membuka bibirnya yang terkatup rapat dari tadi. Seperti menahan sesuatu yang nyaris keluar, tapi ditelan pun lebih susah. Tersedak, nyangkut di tenggorokan. Mungkin semacam pahitnya asam lambung yang menggumpal.

Teteh tetap belum bicara, malah mondar-mandir ke kamar mandi sambil membekap mulutnya. Seperti wanita yang sedang mengidam, mual, perih, muntah kosong. Aku nggak paham apa sakitnya. Hingga hampir setengah jam kami bergeming.

Terlihat di sudut matanya ada genangan bening, ia mengusap dengan ujung jari. Lalu mengambil pulpen dan kertas kosong dari meja. Kubiarkan ia menulis agak lama, agar tercurah isi hatinya. Tak tega aku menyaksikan ini, luntur egoku saat melihat dia murka. Kemudian ia pamit pulang dengan gerakan isyarat tangan, setelah menyerahkan kertas. Sepatah dua kata kupersilakan ia pulang seraya mengusap pundaknya.

"Tambahkan kesabaran teteh!" lirihku.

Perlahan kubaca tulisan tangannya. Kupikir hati ini cukup tegar menahan tangis, tapi nyatanya aku cengeng. Kurasa tak mau peduli lagi dengan kecongkakan dan kekasaran ujar, sekalipun dia teman atau bahkan saudara. Namun, ternyata aku harus belajar lagi menyelam ke dasar relung hati orang lain, untuk memahami apa yang tidak kulihat di permukaan. Penderitaan Teteh begitu kompleks, tidak mudah menjadi dirinya sebagai wanita, Ibu dari empat anak, juga sebagai insan biasa yang terpilih menerima kekuatan di luar kendalinya. Sesuatu yang ia tidak ketahui sebelumnya, jika nenek moyangnya sudah memilih dia sebagai penerus, atau penerima terakhir ilmu keturunan leluhur mereka.

saciduh metu saucap nyata

Aku pernah mendengar hal ini dari beberapa obrolan para tetua kampung. Bahwa apapun yang dikatakan dari mulutnya akan terjadi nyata. Aku menelan ludah, mungkinkah itu julukan si pahit lidah?

Dari tulisan teteh dalam bahasa sunda, ia banyak
mengungkap apa yang dirasakannya sejak terlibat asmara pelik dengan lelaki cinta pertamanya. Seperti ingin menjadikannya cinta yang terakhir sepanjang hayat. Mereka pernah membuat nazar berdua pada saat sebelum menikah dulu. Kemudian bercerai tanpa tau ada janin di rahimnya, lalu bersatu lagi sebelum suasana runyam pernikahan menjadi prahara terkait perselingkuhan. 

Tekanan lebih beratnya muncul dari dalam diri, serta dari pihak keluarga, benaknya dipenuhi konflik. Bagaimana ia berjuang sendirian mengendalikan kekuatan buruk dari luar juga dari emosinya sendiri.
Sudah lama ia memintaku mencatat kisah hidupnya, itulah kenapa ia berani jujur dan detail bercerita apapun padaku. Kiranya ia berharap akan terkenang dan abadi dalam coretan tanganku. Termasuk lukisan sketsa wajahnya yang sudah kubuat sebulan lalu.

Dari sekian banyak curahan hati Teh Nastiti, aku tak berani memastikan apalagi menghakimi. Biarlah orang bijak yang menilai. Aku hanya menampung sebagai pendengar yang setia, lalu semampunya menuliskan dalam bentuk prosais sesuai ceritanya selama ini. Kubuat monolog tentang kepasrahan teteh, sakitnya teteh, dan sisi lain dirinya....

Seandainya maut adalah tempat terakhir untuk menemukan kedamaian, kini hidupku masih terhimpit di tengah pertarungan fana dan begitu terasing. Mengapa pedih dari luka lama masih terasa menggerogoti hati dan perasaanku? Amarah dan kecewaku terasa membakar habis ketentraman yang seharusnya mewujud.
Jika maut adalah tempat abadi untuk merasakan ketenangan, kini ragaku masih tergeletak gelisah di antara hampa ruang.  Di mana ada seseorang yang terlihat seperti diri sendiri. Sesuatu yang lebih misterius dan gelap, dengan seringainya berkata-kata....

Mengapa kau takut pada dirimu sendiri?
Aku tinggal di dalam dirimu. Akulah yang akan merusakmu! Aku berasal dari semua kebencian yang kaumiliki. Dengan kekuatan gelapmu, segera aku akan membunuhmu!
Jika bagian dariku membunuhku, berarti kau ikut mati? Kau benar, tapi kau masih bodoh!
    
Sekarang aku mulai khawatir, dia memiliki kendali atas tubuhku. Dia bilang dari mana asalnya. Pertanyaanku malah membuat kesal sosok itu. Sekarang dia menyeringai lagi dan terkekeh. Tangannya seakan-akan keluar dari dalam perut dan merogoh kerongkanganku. Tubuhku merasa pusing, seolah kehilangan banyak darah. Dia berkata lagi..., kau akan melihatku menjadi apa, tapi terlebih dulu lihatlah, apa diriku sekarang?!

Sesuatu yang ditunjukkannya sangat mengerikan, hingga aku tak pernah memberi tahu siapapun. Dia semacam binatang cacat dengan empat mata dan telinga besar seperti tanduk. Dia terlihat  membusuk tapi tetap hidup. Masih di dalam mulutku, dia melekat di tubir lidahku. Menyuruhku bersumpah atas apapun yang menyakitiku. Dia akan menunggu aku terbunuh tajamnya lidahku sendiri.

***

Lathi ... 
tak pernah menginginkan sakit seperti ini, mengubah diriku begitu dingin dan tidak berperasaan... tapi satu hal harus kautau,
'kamu tidak bisa lari dari kesalahan ... harga diri seseorang ada pada lidahnya'.

_____________________