Hanya Rindu

Pinterest

Engkaulah napasku

Yang menjaga di dalam hidupku

Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik

 

Sembari memejamkan mata, kuresapi alunan musik yang kuputar melalui aplikasi You*ube. Lagu yang diciptakan oleh Herman dan Yudhi berjudul 'Ayah' yang dinyanyikan oleh Seventeen, mengalun merdu memasuki indra pendengaran. Alunan lagu itu benar-benar serupa sayatan sembilu yang menghujam dada. Sakit, perih dan rindu ingin temu berkecamuk menjadi satu.

Lagu itu mengingatkanku pada sosok cinta pertamaku. Ya, dia ayahku. Dia cinta pertama sekaligus patah hati pertamaku. Dia membuatku patah hati karena telah meninggalkanku selama-lamanya.

 

Aku hanya memanggilmu ayah

Disaat kukehilangan arah

Aku hanya mengingatmu ayah

Jika aku t'lah jauh darimu

 

Ayah ... rasanya tak lengkap hidupku tampamu, walaupun masih ada ibu. Tapi tetap saja, tanpa hadirmu hidup ini terasa sepi dan sunyi, Ayah. Aku rindu.

Kemarin aku tak sengaja melihat seorang anak kecil yang tampak bahagia tengah bermain bersama ayahnya. Anak itu sangat bahagia, sampai aku tak bisa berhenti menatap. Lalu, setelah puas menatap mereka, tiba-tiba aku merasa kasihan pada diriku sendiri. Seumur hidup, aku tak pernah merasakan lagi kasih sayang seorang ayah.

Ayah tau? Setiap melihat seorang anak bermain dengan ayahnya, disitu pula rasa iri kutimbul. Aku iri Ayah, iri pada mereka yang bisa merasakan belaian lembut dan kasih sayang dari seorang ayah. Aku iri pada teman-temanku yang seringkali menceritakan tentang ayahnya. Sedangkan aku? Dari kecil aku sudah ditinggal olehmu. Bukan, bukan bermaksud aku ingin menyalahkanmu Ayah, hanya saja aku rindu.

Rindu ingin melihat wajahmu, memelukmu dan bermanja padamu. Tolong Ayah, datanglah pada mimpiku, walau hanya mimpi  setidaknya aku bisa melepas rindu yang terus menyeruak ini.

Apa Ayah sudah lelah menghadapi dunia yang kejam ini? Sehingga Ayah memilih pergi menemui Tuhan? Aku tau Ayah, dunia ini memang kejam, tapi tidak bisakah Ayah bertahan sebentar, sampai Ayah bisa melihatku tumbuh menjadi gadis yang sukses? Apa Ayah tidak mau melihat putri kecilmu ini?

Sudah terhitung belasan tahun Ayah pergi, tapi aku masih saja merengek perihal akan kepergianmu. Katakan saja aku cengeng, Ayah. Iya, aku secengeng itu, serapuh itu dan sehancur itu setelah kepergian Ayah. Hal apapun yang melibatkan tentang ayah, aku selalu teringat padamu. Lalu, menangis tanpa suara di sudut kamar adalah pilihanku satu-satunya.

 

Kau tak pernah lelah

Sebagai penopang dalam hidupku

Kau berikan aku semua yang terindah

 

Sesak. Tak dipungkiri. Alunan lagu itu benar-benar membuatku mengingatkan pada ayah. Membuatku tak bisa berhenti mengingat kenangan masa kecilku yang singkat bersamanya. Sesingkat itu, hingga aku sering lupa bagaimana rupa wajah ayah?

Aku lemah Ayah, lemah tak bisa menahan air mata ini kala mengingatmu. Aku menangis, menangis mengingat detik-detik kepergianmu. Mengingat betapa pedihnya, saat malam itu Ayah menghembuskan napas terakhir. Saat itu pula aku masih kecil dan tak mengerti apa-apa. Andai aku mengerti Ayah, mungkin air mataku habis hanya untuk menangisi kepergianmu.

Namun, percayalah Ayah, aku sudah ikhlas dan percaya bahwa Ayah sudah bahagia di sana. Akan aku usahakan tidak akan merengek perihal kepergian Ayah lagi, dan aku akan selalu titipkan rinduku lewat doa. Semoga Ayah senang, ya!

Lihatlah Ayah, untuk kesekian kalinya aku merakit aksara tentangmu. Tentang aku mengeluh pada Tuhan atas kepergianmu dan buku inilah saksi bisu bahwa aku benar-benar merindukanmu, Ayah.

 

Aku hanya memanggilmu ayah

Disaat kukehilangan arah

 

Tuhan ... tolong dengarkan, saat ini aku sedang berbicara melalui tulisan yang aku tulis lewat buku ini.

Saat ini, aku hanya ingin bertanya. Apa Kau bosan melihatku selalu mengeluh? Aku minta maaf tentang hal itu. Bahkan saat ini, didetik ini, aku sedang mengeluh. Aku tahu, aku paham. Mengeluh tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Namun, aku bodoh. Aku mengetahuinya, tapi aku sering mengulanginya.

Tuhan ... sedang apa dia di sana? Aku merindukannya. Ya, walau kutahu aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Tuhan ... apa dia sering bercerita pada-Mu tentang aku putri kecilnya yang dia rawat dengan kasih sayangnya yang tulus sebelum dia Kau ajak pulang? Aku harap, iya.

Tuhan ... apa dia tahu, setelah dia tiada aku begitu hancur dan rapuh? Apa dia tahu, aku sering menangis saat merindukannya?

Tuhan ... apa Kau tahu, aku sering mengeluh akan hal ini? Mengeluh mengapa secepatnya dia Kau ajak pulang. Aku tidak menyalahkan-Mu, hanya saja aku yang terlalu lemah menghadapinya.

Terima kasih Tuhan, karena telah dipertemukan dengan sosok bak pahlawan itu. Jelas aku sangat bahagia waktu itu. Walau akhirnya, aku sering mengeluh karena dia tidak ada lagi di dunia ini.

Maafkan aku Tuhan. Aku sering mengeluh, padahal aku tidak tahu seindah apa yang sedang Kau rencanakan untukku.

Tuhan ... terima kasih, karena selalu ada. Maafkan aku yang sering kali mengabaikan-Mu.

 

•Ayah putri kecilmu sudah besar•

DiaryNhall, 30 Juli 2021.

 

Aku hanya mengingatmu Ayah

Jika aku t'lah jauh darimu

 

I love you, Daddy.

 

#lagukenangan