Saat Maaf Itu Tertunda

Ilustrasi by Pinterest

Entahlah, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tentang kisah yang telah terkubur lama namun masih saja mengganjal di sudut hati. 

Kisah indah tentang masa kanak-kanak. Betapa gembiranya kita menyambut purnama, tiada lebih menyenangkan dari bentuk bulan yang sempurna membuat malam kelam berubah terang kegembiraan pun serta merta terpantul di wajah anak-anak yang sudah bersiap berkumpul di tanah lapang ujung kampung. Menari, mendendangkan lagu-lagu kesukaan dengan bermandikan cahaya bulan. Hal seperti ini sudah tidak pernah aku jumpai lagi. Anak-anak lebih memilih di depan televisi atau asik bermain dengan gadget masing-masing. Tidak lagi tertarik untuk melongok ke luar memandang bulan yang bulat penuh, ranum dan anggun.

Tapi dulu tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain itu, bermain tanpa beban meski segalanya serba terbatas dan seadanya. Menyatu dengan alam menikmati merdunya orkestra makhluk malam.

Kala itu, masih lekat dalam ingatan kami bermain sesuatu yang beda dari biasanya. Boleh dibilang hal baru yang agak menyeramkan. Aku ikut saja meski takut tapi tidak mau dicap penakut lalu dikucilkan. Sebenarnya ini bermula dari  cerita Mbah Kusno tentang permainan Jailangkung yang bikin  penasaran. 

Maka malam itu saat bulan dalam pesona puncaknya aku dan beberapa teman memutuskan untuk mencoba permainan itu. Diam-diam mengambil gayung batok milik simbah yang ditaruh di atas jemblung tanah yang bersebelahan dengan padasan. Membalut gagang gayung yang terbuat dari bilah bambu dengan selendang batik milik Sri gadis manis kakak kelasku. Gayung itu kini terlihat seperti boneka. Dasar penakut, belum apa-apa bulu kuduku sudah meremang dan merinding sekujur tubuh. Wajah semua anak yang duduk di teras gardu ronda terlihat tegang tapi kekeh untuk melanjutkan permainan. Semua duduk melingkar dan saling bergandengan, sesaat kemudian mulai melantunkan tembang Sluku-sluku Batok.

Sluku-sluku batok batoke ela-elo si romo menyang solo leh olehe payung kuto 

 

Tak jentir lolo lobah, yen obah medeni bocah yen urip golekno duit

Lalu hening, fokus dengan boneka batok yang berada di tangamu juga pikiran masing-masing. Dalam keadaan tegang tiba-tiba saja gayung itu terlepas dari genggamanku dan terlempar ke tengah-tengah lingkaran. Entah apa yang sebenarnya terjadi, apa itu hanya guyonanmu untuk menakuti kami atau memang benar-benar reaksi dari permainan tadi. Tapi wajahmu serius, tidak terlihat sedang becanda dan semua itu sudah cukup membuat semua yang berada di situ kaget dan gempar. Tidak ada nyali melanjutkan justru lari tunggang-langgang pulang ke rumah masing-masing termasuk aku yang masih saja gemetaran meski sudah dalam dekapan ibu. 

Untuk beberapa hari aku tidak berani keluar malam, tidak juga berani cerita sama ibu takut malah dimarahi nantinya. Sejak saat itu tidak ada lagi keinginan untuk mencoba permainan baru yang nyleneh. Kami semua kapo. Efeknya tidak berani menyanyikan lagu sluku-sluku batok mendengar saja sudah merinding. Dan lagu itu, mengingatkanku tentangmu, tentang masa kecil kita yang penuh tantangan dan petualangan. Tapi juga ada sebersit kesedihan karena hubungan kita tak lagi mesra setelahnya. Ada sececap getir kenangan antara kita. 

Seiring beranjak remaja, pikiran kita semakin rumit, lebih rumit dari rumus matematika yang membutuhkan waktu dan usaha untuk memecahkannya. Begitu pun dengan sikapmu yang tiba-tiba saja acuh, lalu pelan-pelan menjauh. Tak ada lagi waktu untuk kita berpetualang seperti waktu kemarin. Menyusuri tepi sungai atau bermain gitar menyanyikan lagu apa saja yang kita bisa. Segalanya berubah, kamu menghindar sedangkan aku hanya terpaku memeluk egoku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tanpa penjelasan. Mengendap di dasar hati tak ada keberanian untuk meluahkan atau mempertanyakan. Hingga saat ini seperti fosil yang tetap terkubur di sudut hati.

Aku hanya bisa menatap punggungmu dari jauh, atau mengintip dari balik jendela ketika kau lewat di depan rumahku. Tidak ada nyali untuk menyapamu dan ternyata sudah sangat lama kita tidak saling  bicara. Kalau boleh jujur, aku rindu sekali berbincang denganmu seperti hari-hari lalu. Bermain bersama, mengejar layang-layang atau hanya berdiam menyaksikan kunang-kunang dalam gelap. Apa mungkin kau pun punya keinginan yang sama? Entahlah, kadang pertanyaan bodoh itu mengusik kepalaku begitu saja. 

Aku tahu aku ada salah, tapi bukankah sebagai sahabat seharusnya kamu menegurku baik-baik bukan dengan cara mendiamkanku seperti ini. Asal kamu tahu, perlakuanmu begitu mengiris perasaan kadang membuatku menangis diam-diam. Tapi bisa apa, aku sendiri terlalu gengsi untuk menanyakan langsung kepadamu akan perubahan sikapnmu itu. 

Sampai kita sama-sama menikah, masih saja tak saling bertegur seperti dua orang asing dari dimensi berbeda. Aku lebih memilih menghindar tidak keluar rumah saat tahu kau sedang berkunjung ke rumah kakakmu yang memang berada bersebelahan dengan rumahku.

Tak ingin jika nanti tanpa sengaja bersirobok pandang denganmu lalu melihatmu sengaja membuang muka. Itu terlalu menyakitkan. Sejujurnya aku lebih memilih kamu memarahiku, meluapkan semuanya tentang apapun yang kamu rasakan dan anggap salah lalu setelahnya memaafkanku. Tidak dengan cara seperti ini, sengaja mendiamkanku beribu-ribu hari. 

Entah angin apa yang membawamu ke tempatku suatu pagi. Kamu duduk mematung di atas tunggak pohon randu, persis di seberang halaman. Tatapanmu jauh ke atas bukit lalu menyapu hamparan padi yang sebentar lagi masa panen. Menyisir setiap sudut kampung sejauh matamu memandang, pucuk-pucuk pohon dan menikmati cicit burung pipit yang bermain riang di atas dahan kenari. rasa rindu dan takut kehilangan. Setidaknya itu yang aku lihat saat memperhatikanmu diam-diam.

Sementara aku masih terpaku di depan pintu. Ingin menyapa tapi  sungkan, takut diacuhkan pertanyaanku seperti sebelumnya. Sungguh surprise, tanpa disangka kamu melempar senyum meski terlihat sedikit kaku. Dan aku juga sudah lupa kapan terakhir kali kamu melempar senyum seperti itu. Suasana hati ini terlalu sendu, kamu seperti mengerti dan berusaha mencairkan dengan satu lemparan senyum lagi. Lalu satu pertanyaan apa kabar keluar dari bibirmu. Jantungku melonjak, masih sedikit tidak percaya lalu bening mengalir begitu saja tanpa ijin. Ah...dasar cengeng begini saja nangis, rutukku malu. 
Aku tidak mau terlihat sentimentil di depannya. 

Setelah sekian tahun perang dingin tidak menyangka hari ini kembali ada perbincangan. Meski hanya sesuatu yang ringan dan mengulik lagi cerita saat kita masih berseragam putih merah. Hal-hal lucu yang membuat kita sama-sama tertawa. Huh, aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. 

Meski hanya sekilas, semua ini membuat kita berdua sedikit melupakan apa yang telah lewat. Saat bertahun-tahun saling diam tanpa sebab dan meruncing hingga kemarin. Akhirnya kamu pun pamit dan sempat melempar senyum sebelum berlalu dari teras rumah. Tak terpungkiri ini menyisakan kelegaan buatku. 

Namun, berita kepergianmu yang mendadak pagi ini membuatku terduduk lemas dan bersimpuh diam-diam dalam tangis. Masih belum percaya dengan  kecelakaan yang menimpamu selepas subuh tadi saat baru selesai kerja shift malam dalam perjalanan pulang. Membawamu pergi menghadap pemilikmu yang sesungguhnya. Aku masih tidak percaya, meski sore ini aku ikut mengantarmu ke persinggahan terakhir dan menyaksikan sendiri saat jasadmu dikebumikan. Sejenak masih terpaku di bawah rimbun kamboja. Butir bening pun jatuh lepas tak terkendali lagi menyadarkanku untuk segera beranjak meninggalkan gundukan tanah merah dengan nisan kayu atas namamu. 

 Berhari-hari jasadmu yang terbujur kaku belum bisa lepas dari ingatanku dan ternyata kemarin adalah pertemuan terakhir kita. Senyum itu, ah aku kembali tergugu pilu. Sebenarnya  ada niat bertanya waktu itu, kenapa kamu sangat marah tapi kuurungkan karena takut merusak suasana yang mulai hangat di antara kita. Asal kamu tahu, kamu itu bukan sekedar teman tapi sahabat buatku. 

Beberapa hari setelahnya bayang-bayangmu seperti menghantuiku hingga tidak berani keluar malam. Suatu malam aku seperti melihat sosokmu yang membeku di tunggak randu. Berdiri membelakangi hanya sekelebat mata. Aku hanya terperangah berdiri mematung di ambang pintu. Sebelum akhirnya tangisku pun pecah. 

Resah mengusik jiwa, akan maaf yang tertunda entah mengapa setiap kali bertemu kita enggan saling mengucapkan itu dan lidah selalu saja kelu. Meski kata maaf  berkecamuk dalam dada tapi terpasung ego hingga tak pernah bisa terluahkan. Berharap saja kedatanganmu kemarin hari adalah caramu memaafkanku. Begitupun dengan segala khilafmu telah aku maafkan dan caraku mengingatmu hanya dengan doa-doa, kusisipkan namamu dalam tiap baitnya. Damailah selalu di sisiNya, sahabat. 

Mulai saat itu aku selalu mengingatkan hati untuk tidak pernah menunda kata maaf, atau akan ada sesal-sesal lain yang memenuhi perjalanan hidupku.

#lagukenangan

Khotimah Zaenuddin, Pondok Indah 30 Juli 2021