Imelda Anakku

anak detik.com

Manila Agustus 2015

Child you don't know
You'll never know how far they'd go
To give you all their love can give
To see you through and God it's true
They'd die for you if they must, to see you here


Lantunan lagu yang dengan nada yang sangat familier menggema di lobi salah satu hotel di pusat kota Manila yang terletak di Ortigas Avenue.  Perlu beberapa saat bagiku untuk mengingat judul lagu ini. 

Bagaimana mungkin aku melupakan lagu yang sangat populer di tahun 1980-an ini. Lagu yang dalam lirik aslinya berbahasa Tagalog berjudul ‘Anak’ yang pertama kali dipopulerkan oleh Freddy Aguillar.

Lagu ini membawa lamunanku terbang melayang ke Hong Kong.

=========================

Agustus 1986

 ‘Anak’ , demikian kata yang aku tuliskan pada selembar kertas putih yang dibagikan oleh pramuria di ‘Flying Machine’ bar yang terletak di lantai 14 ‘Regal Airport Hotel’. Secara rutin, aku dan beberapa kolega memang sering menghabiskan malam di bar ini sambil sekedar mendengarkan life music dan menikmati pemandangan pesawat yang tinggal landas dan mendarat di Bandara Kai Tak yang sibuk.

Karena mengetahui bahwa grup band di bar ini merupakan grup dari Filipina, aku sengaja meminta lagu berbahasa Tagalog yang memang lumayan top pada saat itu.  Tidak lama kemudian lagu ini dinyanyikan oleh biduanita berwajah cantik dengan sangat sendu dan melankolis. Lagunya terasa sangat menyayat hati walau aku tidak mengerti makna lagu ini dalam bahasa Tagalog. Namun aku hafal teks lagu versi Bahasa Inggrisnya.

Penampilan penyanyi ini sangat memesona, sehingga aku tetap duduk sampai grup band ini selesai bernyanyi dan minta diri. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.  Dan akhirnya ketika penyanyi itu bersiap-siap meninggalkan bar, aku sempatkan berkenalan dengannya.

“Imelda,” demikian secara singkat gadis itu memperkenalkan namanya. Nama yang mengingatkankuu akan nama Ibu negara Filipina yang terkenal dengan julukan ‘Kupu-kupu Besi’,  lmelda Marcos.

Sejak malam itu, aku jadi lebih sering mampir menghabiskan malam di Flying Machine. Dan secara perlahan, aku berhasil berkenalan lebih dekat dengan Imelda.  Dia tinggal bersama beberapa teman diaspora Filipina di sebuah flat tidak jauh dari Kowloon City. Namun dia sendiri tidak pernah mengizinkanku untuk berkunjung ke tempat tinggalnya.

Setiap kali kami berjumpa atau kencan,  biasanya dia yang selalu datang ke hotel dan kemudian kami pergi ke tempat-tempat yang penuh kenangan di seantero Hong Kong. Baik Tsim Sha Tsui East dengan pantainya yang menarik di sepanjang Victoria Harbour, hingga pulau-pulau nan sepi yang disebut  Outlying Islands telah kami kunjungi bersama. 

Tidak terasa tiga bulan berlalu dengan cepat.   Menjelang November dan Desember, cuaca Hong Kong mulai sedikit dingin.  Dan di udara yang sejuk di kawasan The Peak kami berdua menghabiskan senja hingga malam sebagai senja dan malam perpisahan.  Esok, aku harus kembali ke tanah air dan belum tahu kapan akan kembali lagi ke Hong Kong.  Sementara Imelda akan melanjutkan kisah hidupnya, melantunkan lagu-lagu nan merdu menghibur pengunjung di Flying Machine.

Kisahku bersama Imelda terus berlanjut dalam kunjungan berikut ke Hong Kong di tahun 1987 hingga 1988. Kala itu, dalam jangka waktu yang bervariasi antara satu minggu hingga tiga bulan, aku sering kali bertugas di Hong Kong. Hotel di seberang Bandara Kai Tak itulah yang menjadi rumahku.

Akhir 1988.  Telah lebih dua tahun aku berkenalan dengan Imelda dan kali ini aku datang lagi ke Hong Kong dalam waktu sekitar satu minggu.  Rencana nya setelah itu aku akan cuti sekitar seminggu untuk berkunjung ke Manila. Aku akan mengajak Imelda sekaligus mampir ke rumah orang tuanya. Aku bertekad akan melamarnya.

Namun bertapa kagetnya ketika aku datang ke Flying Machine, aku mendapat berita dari teman--temannya bahwa Imelda sudah kembali ke Filipina dua minggu lalu.

Imelda menghilang begitu saja. Tanpa pesan dan kesan.

Sepanjang perjalanan pulang dengan pesawat Cathay Pacific dari Hongkong ke Jakarta via Singapura itu, aku merasa bahwa setengah jiwaku tertinggal di Hong Kong, di Kowloon City.  Namun aku sendiri belum mengetahui banyak tentang Imelda. Kecuali bahwa dia berusia sekitar 25 tahun.  Berasal dari kawasan Quiapo dan rumahnya tidak begitu jauh dari Masjid Emas Manila dan juga stasiun LTR Carriedo.  Imelda juga bercerita bahwa stasiun LRT ini belum lama diresmikan yaitu sekitar setahun lalu ada Mei 1985.   Hanya itu yang aku ingat walau aku sendiri belum pernah berkunjung ke Manila.

Hanya selembar foto polaroid yang aku miliki sebagai kenangan bersama Imelda. Selembar  foto yang diambil ketika kami berwisata ke Ocean Park dan menonton pertunjukan lumba-lumba.  Seorang gadis tukang foto mengabadikan momen indah ketika aku memeluk Imelda dengan mesra. Ada dua lembar foto yang harus kutebus dengan selembar  uang 50 Dollar Hong Kong.  Foto yang selembar lagi kuberikan kepada Imelda.

 

-------------------------------------------------------------------------

Nang isilang ka sa mundong ito
Laking tuwa ng magulang mo
At ang kamay nila ang iyong ilaw
At ang nanay at tatay mo'y
Di malaman ang gagawin

Lantunan lagu Anak dalam bahasa Tagalog kembali membahana dan membangunkan aku dari kenangan lama.  Kalau tadi versi bahasa Inggris yang dilantunkan, kini versi bahasa aslinya terasa lebih menyayat hati.  Aku ingat versi inilah yang pertama kali dinyanyikan oleh Imelda di Hong Kong dulu.

Tanpa terasa aku kemudian berdiri mendekat dan memperhatikan penyanyinya. Seorang perempuan muda yang sepintas wajahnya aku kenal. Usianya mungkin sekitar 25 tahun.

Betapa terkejut diriku ketika selesai menyanyi dia memperkenalkan dirinya sebagai Imelda.  Tanpa ragu kemudian aku mendekat dan memperkenalkan diriku. Aku bertanya siapakah dirinya dan apakah dia juga mengenal Imelda yang pernah bekerja di Hong Kong lebih 26 tahun lalu. 

Aku kemudian mengeluarkan foto polaroid yang selalu menemaniku selama ini.

‘Sir, Is your name Kevin?“ tanya gadis itu dalam bahasa Inggris dengan logat Filipina yang medok.

“Yes Imelda, How could you know my name?“

Gadis itu kemudian memelukku sambil menangis seraya memanggilku:

 “Tatay."

Sejenak aku terdiam dalam haru. Kubiarkan dia menangis di pelukkanku. Setelah itu aku mengajaknya duduk di café dan memesan minuman. Barulah kemudian gadis itu melanjutkan kisahnya.

“Imelda in this picture is  my mother.” Kata gadis itu lagi sambil menunjuk ke foto Imelda yang kutunjukkan kepadanya.

Dia bercerita bahwa Imelda yang kukenal sudah meninggal 3 tahun yang lalu.  Kemudian gadis itu juga memberikan sepucuk surat kepadaku. Surat yang ditulis di Hong Kong namun terbawa pulang ke Manila. Surat yang disimpan hingga lebih 26 tahun.

Gadis itu juga berkata bahwa sang ibu berpesan agar dirinya selalu menyanyikan lagu ‘Anak’.   Menurut ibunya lagu itu lah nanti yang akan mempertemukan dirinya dengan sang ayah.

Aku membuka surat itu:

Kevin Sayang,

Sudah dua bulan sejak kunjunganmu terakhir ke Hong Kong. Aku selalu setia menunggu kedatanganmu lagi.  Sudah dua tahun lebih hubungan kita sejak pertama kali kita berkenalan selepas aku melantunkan lagu Anak, 

Aku ingat engkau berjanji akan datang lagi ke Hong Kong  dan kemudian bersamaku ke Manila untuk bertemu dengan orang tuaku.  Namun sebelum itu, aku juga ingin membuat sebuah pengakuan yang mungkin akan membuatmu membatalkan rencana itu.

Sebenarnya ketika aku datang ke Hongkong pada awal 1985 dan mulai bekerja sebagai penyanyi, aku sudah mempunyai seorang anak berusia dua tahun yang harus kutinggal di Manila.  Anak itu kumiliki dari mantan kekasihku, yang tidak perlu kau ketahui namanya. Dia meninggalkanku ketika aku hamil. Tapi aku bertekad untuk membesarkan anak itu walaupun tanpa ayah. 

Itu adalah pengakuan dan aib yang selama ini aku sembunyikan dari dirimu. Semoga setelah mengetahui hal ini, engkau masih tetap mencintaiku.

Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu engkau ketahui. Minggu kemarin, aku baru tahu bahwa dalam rahimku juga kini sudah ada calon anak kita.

Kalau engkau tetap mencintaiku, datanglah ke Manila.

Mahalna Mahal Kita, Aku cinta padamu

Kowloon City, Desember 1988

“Anakku,” kupeluk Imelda erat-erat.

Bekasi, 30 Juli 2021

Mahalna Mahal kita:  Aku cinta padamu

Tatay :  Ayah

Seperti dikisahkan oleh Kevin di Jakarta

#Lagukenangan