Genderuwo di Pohon Gayam

Pixabay.com

Dulu, pohonnya bentuknya besar dan tinggi. Bercabang banyak melebar ke kanan dan ke kiri. Dengan dedauan yang cukup besar dan lebat, begitu pula buahnya. Buahnya berwarna hijau kalau muda dan jika sudah tua berwarna kuning. Berkulit buah keras, menyembunyikan daging buah di dalamnya. Bentuknya lonjong atau bulat mirip dengan jengkol tapi lebih besar. Nah, pohon itu adalah pohon Gayam yang tumbuh di pinggir sawah dan tepat di samping jembatan di kampungku.

Karena sosok besarnya, jika di malam hari tampak mengerikan. Seperti raksasa yang bergerak liar di dalam kegelapan malam. Sangat menakutkan. Apalagi pohon Gayam itu terkenal ada yang menunggunya. Penunggu itu adalah Genderuwo.

 

*

 

Ada yang tahu Genderuwo? Atau ada yang pernah melihat Genderuwo? Hiii… amit-amit deh, jangan sampai!

 

Kata orang yang pernah melihat, Genderuwo itu sebangsa hantu atau siluman yang mempunyai tubuh tinggi besar berwarna hitam legam. Rambutnya panjang menjelai, menambah seram wajahnya yang bermata besar merah menyala, hidung dan mulut besar. Giginya besar dan bertaring seperti sepasang golok panjang. Belum lagi suaranya dan gerengannya yang merontokkan jantung.

 

Gendruwo ini golongan hantu yang iseng dan jahil. Hobinya menakuti orang dengan cara muncul tiba-tiba, atau tertawa besar yang mengerikan. Melempari kerikil, kencing sembarangan dan yang paling mengerikan adalah doi bisa berubah menjadi bentuk makhluk apa saja. Yang paling mengerikan jika ia menyukai seorang wanita dari bangsa manusia. Konon Genderuwo bisa berubah menjadi pacar atau suami wanita itu. Maka terjadi hal yang ngeri-ngeri sedap. Gendruwo yang mesum itu akan menuntaskan hasratnya dengan menggauli wanita itu. Jika berujung apes, ada kabar, wanita itu akan melahirkan anak Genderuwo? Hiiii.

 

Satu lagi, keisengan Genderuwo adalah suka menyembunyikan manusia.

 

Nah, kisah Genderuwo kali ini, ada hubungannya dengan Genderuwo penunggu pohon Gayam atau Genderuwo Gayaman yang menyembunyikan Lik Jono.

 

*

 

Ini sebenarnya adalah kisah nyata yang terjadi dengan saudara tuaku yang bernama Lik Jono. Lik Jono ini adalah saudara yang berasal dari nenek yang berbeda. Nenek Lik Jono adalah adik Nenekku.

 

Waktu itu aku masih SD, dan Lik Jono sudah berusia menjelang dewasa. Kalau usia anak sekolah, sekitar SMA kelas akhirlah. Tapi, Lik Jono kemungkinan sekolahnya SD pun tidak tamat. 

 

Lik Jono kala itu tinggal di rumah Budeku Sup untuk membantu segala keperluan rumah dan usaha peternakan ayam petelurnya yang cukup besar di belakang rumah. Sesekali aku datang juga ke rumah Bude Sup untuk membantu mengambil telur ayam atau memberi pakan untuk sekadar ditukar dengan sepiring nasi dengan lauknya. Itu kebiasanku waktu kecil dulu. Doyan makan. Sehari bisa makan empat sampai lima kali tergantung ke mana aku mau main ke rumah bude dan pakdeku. Hihihihi. Pura-pura main dengan modus untuk minta makan ujungnya.

 

Kembali ke Lik Jono.

 

Waktu itu, habis Magrib Lik Jono hilang. Tidak biasanya ia berkelakuan seperti itu karena seperti kebiasaannya, setelah membantu urusan rumah dan peternakan ayam petelur, ia akan beristirahat di depan rumah. Duduk-duduk menikmati angin sambil beristirahat sebelum tengah malam ia akan tidur. Dan, sukanya tidur di lantai ruang tamu beralas tikar.

Dan, malam itu Lik Jono hilang.

 

Bude Sup dan suaminya jadi heboh tidak menemukan Lik Jono yang biasa gegoleran di ruang tamu.

 

Dicari ke sekitar tetangga tidak ada batang hidungnya juga. Para tetangga tidak ada yang melihat Lik Jono, barangkali ia ke warung beli rokok?

 

Bude Sup mulai tidak enak perasaanya karena ia sangat paham dengan keponakannya yang satu ini. Lik Jono itu keponakan yang aneh karena suka sekali diumpetin Genderuwo. Jangan-jangan… Lik Jono hilang disembunyikan Genderuwo juga kali ini?

 

*

 

Bude Sup berinisiatif cepat, kebetulan aku berada di sana, maka akulah yang kebagian tugas memanggil Pakde Sardi di kampung sebelah yang terkenal sebagai orang pintar. Pakde Sardi adalah kakak Bude Sup yang konon bekas jagoan sakti pada jamannya. Selain sakti, ia juga menguasai ilmu-ilmu yang ada hubungannya dengan alam gaib. Akhirnya aku dan Mas Har, naik sepeda untuk menjemput Pakde Sardi.

 

*

 

Malam itu kabar hilangnya Lik Jono, sudah menyebar sehingga saat kami kembali ke rumah, di depan rumah sudah penuh tetangga yang ingin membantu mencari Lik Jono.

Tanpa menunggu waktu lama, Pakde Sardi segera menuju ke tempat yang dicurigainya. Sawah luas yang berjarak empat ratus meteran dari rumah.

 

*

 

Sawah itu di ujung Selatannya berdiri pohon Gayam itu. Tapi Pakde Sardi membawa langkahnya ke arah pohon Kudo besar yang ada di tengah sawah untuk melakukan ritual pencarian. Ia duduk bersila mengheningkan cipta sambil membakar kemenyan. Aku sebenarnya takut, tapi sangat penasaran. Aku dan Mas Har bertindak seperti asistennya untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk ritual pencarian itu.

 

Pakde Sardi komat-kamit berdoa atau malah membaca mantra. Hasil ritual itu membawanya ke arah pohon Gayam. Tapi di sana ia tidak menemukan Lik Jono dan sang penunggu pohon angker itu.

 

Tetangga yang berkumpul sudah tidak sabar dan penasaran untuk bertindak. Melakukan pencarian dengan membawa aneka alat seperti bambu, kayu, atau besi. Yang biasanya dipakai untuk memukuli pohon, bambu, semak atau saja untuk memancing Genderuwo melepas sanderanya.

 

Benar saja, Pakde Sardi memberi isyarat bahwa Lik Jono memang hilang karena disembunyikan oleh Genderuwo yang sedang kumat isengnya.

 

Mulailah rombongan tetangga itu melakukan pencarian. Semua pepohonan menjadi sasaran ketokan dan gebugan bambu, kayu, besi untuk memancing Genderuwo melepas sanderanya. Setiap jengkal disisir tapi hasilnya nihil. Hampir seluas kampung kami sisir tapi Lik Jono tidak ditemukan juga. Kami hampir putus asa untuk menemukan Lik Jono. 

 

Memang tidak masuk akal, yang menjadi korban iseng Genderuwo. Siapa saja bisa disembunyikan di tempat yang sangat kecil, sempit jika dilihat sepintas tidak mungkin tubuh manusia bisa disembunyikan di tempat itu.

 

Sering korban ditemukan terselip di antara bilah bambu, di bawah batu, di atas kuda-kuda rumah. Terkadang bisa ditemukan di dalam bedug musholla juga. Semua tempat yang secara nalar tidak akan muat oleh besarnya tubuh manusia.

 

Seluas kampung sudah diubek-ubek tapi Lik Jono tidak ditemukan juga, tinggal satu tempat terlewatkan dan Pakde Sardi menuju ke sana.

Tempat yang jaraknya hanya dua puluh langkah dari rumah Bude Sup. Yaitu sepasang pohon Mangga yang besar di rumah tetangga. Ada beberapa pohon mangga tumbuh di halaman tetangga depan rumah itu. Salah duanya adalah pohon Mangga yang berjejer itu.

 

Entah bagaimana caranya Genderuwo beraksi, nyatanya akhirnya Pakde Sardi menemukan Lik Jono sedang tidur pulas melingkar di sela-sela akar pohon Mangga. Padahal sebelumnya tidak terlihat sama sekali keberadaan Lik Jono. Tempat yang sempit dan tidak masuk akal, bukan?

 

Demikianlah akhirnya Lik Jono, ditemukan kembali. Sepertinya Lik Jono perlu diruwat atau dilakukan upacara ritual khusus, supaya tidak menjadi langganan sasaran Genderuwo yang iseng.

 

Tamat.