Komplek Dikepung Hantu

Pixabay.com

Alhamdulillah, akhirnya aku punya rumah juga, meski hanya RSSSS ( Rumah Sederhana Subsidi Susah Selonjor ) kata mereka yang nyinyir. Tapi, semua nyinyiran itu tidak menjadi masalah bagiku. 

 

Rumah di sebuah Komplek yang jauh dari riuhnya ibukota tepatnya di ujung Selatan Bekasi. Nyinyiran sebagian lagi, Komplek perumahan, tempat jin buang anak.

 

Begitulah aku tidak pernah menyangka ternyata nyinyiran terakhir ada benar juga. Tempat jin buang anak?

 

*

 

Komplek perumahan rakyat yang berada di pelosok ujung kampung yang dibangun di atas tegalan dan bekas persawahan yang diurug. Aku tidak pernah menyangka bahwa komplek itu ternyata dikepung oleh cerita dan penampakan hantu yang beraneka rupa. Horror dan mengerikan jika diingat lagi. Coba andai sebelum aku membeli rumah di sana sudah tahu duluan semua cerita horor itu, mungkin aku akan berpikir ulang seribu kali untuk membeli rumah di sana. Karena aku itu orangnya penakut.

 

*

 

Benar juga, setelah akad, serah terima kunci, aku merenovasi rumah sederhana itu. Belum terlihat menyeramkan sih, karena aku hanya menengok setiap pagi atau sore per harinya tapi setelah rumah itu jadi dan aku tinggal di sana. Pengalaman horor itu mulai berlaku!

 

*

 

Aku kerja di Jakarta dan rumahnya di Bekasi. Cukup jauh, hampir dua jam perjalanan, apalagi ketika aku harus pindah kerjaan, Berangkat jam 6 pagi, pulang sampai rumah paling cepat jam 8 malam.

 

Rumah ada di blok paling belakang yang berbatasan dengan perkampungan di sebelah kiri yang bersambung dengan empang dan kandang ayam. Di depan ada tebing perkampungan yang dibatasi dengan kali kecil sebagai batas komplek perumahan. Demikian juga yang ada di belakang rumah berbatasan dengan tebing perkampungan.

 

Satu blok ada sebelas rumah. Rumahku ada di tengah blok, dan rumah yang dihuni baru 4 rumah yang menyebar. Di kiri dan kanan rumahku belum ada yang menempati rumahnya.

 

*

 

Aku orangnya penakut, harus pulang malam tiap hari. Dan ketika tinggal di sana, betapa mengerikan jika harus pulang malam lewat gerbang depan sampai ke rumah di bagian belakang. Dari gerbang masuk, di kiri kanan masih berupa tanah kavling kosong yang ditumbuhi ilalang tinggi di atas satu meteran. Tiang listrik terasa minim sekali, sampai ke bagian tengah komplek yang mulai ada penghuninya. Paling depan adalah Blok A dan dapat dibayangkan lumayan jauhnya kalau rumahku di Blok H paling ujung?

 

Jalan pulang adalah saat yang mendebarkan karena penerangan lampu jalan yang kurang, hanya mengandalkan lampu sepeda motor saja, selalu merinding ketika melirik rumput-rumput ilalang yang bergerak bergoyang. Apalagi ketika tiba-tiba muncul kucing liar atau tikus yang menyeberang jalan. Alamak… jantung seakan berhenti berdetak. Aaaahh!

 

*

 

Awal tinggal di rumah, aku sendiri. Sebagai bujang lapuk. Dua dilema ketakutan yang aku hadapi ketika tinggal sendiri, di komplek yang masih sepi. Tidak salah jika dikatakan sebagai tempat jin buang anak.

 

Ketakutan pertama adalah aku sangat takut ketika berada di jalan menuju pulang. Dan ketakutan kedua sebaliknya, aku takut ketika sudah berada di rumah sendiri. Nah!

 

Suara-suara burung hantu dan serangga malam sangat mengerikan bagiku yang penakut, apalagi kalau sedang hujan. Deru angin, gerak dan suara daun pisang, dedaunan bambu yang ada di belakang dan di depan rumah seperti latar belakang musik horor saja. Apalagi jika sesekali muncul suara salak anjing di kejauhan. Benar-benar horor dan membuat aku meringkuk di atas tempat tidur sendirian. Sudah ketakutan, malah muncul suara ledakan petir di malam gulita penuh deras hujan.

 

Dipaksa dilupakan dengan memaksa tidur, walaupun di dalam tidur selalu dihiasi mimpi-mimpi penuh ketakutan.

 

*

 

Mencari jalan pulang lain, ternyata lebih horor. Harus melewati perkuburan umum dan makam keluarga, pepohonan besar, sekelompok pohon bambu, dan kandang ayam yang jelas akan gelap gulita jika di malam hari. Apalagi, masih ditambah sebuah jembatan kecil sepanjang 5 meter yang cukup menukik ke bawah dan parahnya jalan pintas penghubung komplek dan perkampungan itu berbelok ke kiri. Empang di kanan dan di sebelah kiri kali kecil. 

 

Sudah dapat dibayangkan bukan, keadaan komplek tinggal rumah pertamaku dulu?

 

Dalam lingkungan itulah, akhirnya aku menemukan cerita nyata dari tetangga komplek dan sebagian dari cerita istri dan mertuaku, ketika satu tahun kemudian aku akhirnya menikah. Alhamdulillah.

 

*

 

  • Kuntilanak membonceng motor.

 

Cerita dari salah satu sahabatku. Bahwa adalah salah satu tetangga dari blok lain yang pulang malam, dicegat seorang wanita yang ingin numpang karena searah ke komplek. Karena baik hati, tetangga itu memboncengkan wanita itu melalui jalanan yang kurang penerangan dan di kanan kiri ada ilalang yang bergoyang-goyang. Yang dibonceng diam saja saat diajak ngobrol. Dan sampai ketika mulai masuk ke Blok A sebagai blok terdepan, tetangga baik hati itu, kecelik karena tidak melihat seorangpun yang berada di boncengannya. Lalu, siapa yang mencegat dan membonceng sebelumnya?

 

Dari cerita itu, setiap aku pulang malam dan terpaksa sendirian, sebisa mungkin aku ngacir pulang tidak peduli sama siapapun yang minta tebeng atau sesekali lihat ke boncengan belakang. Hiih!

 

  • Kuntilanak di belakang rumah

 

Ini cerita dari mertuaku yang menengok cucu pertamanya terpaksa pulang cepat di luar rencana karena ketika tengah malam, sepasang mata beliau enggan dipejamkan, gelisah tidak bisa tidur. Eee… malah muncul suara khas hihihihi yang mengerikan itu dari arah tebing belakang rumah. Alhasil mertuaku tidak kerasan lama menginap di rumah karena bukan hanya itu saja penampakan yang menggodanya. Beliau tidak mau cerita kepadaku hanya cerita saja kepada isteriku.

 

  • Kuntilanak melayang di atas jembatan kecil itu.

 

Ini cerita dari tetangga tepat di sebelah rumah yang memang sering pulang tengah malam menjelang pagi. 

Ketika malam itu ia harus pulang dan memilih jalan pintas melalui jembatan kecil yang berbelok patah itu. Ketika motor mulai menukik, dari atas batang pohon bambu yang melintang, muncullah sosok khas serba putih berambut panjang. Melayang turun dari pohon bambu, pas beradu tatap dengan tetangga yang menurunin jembatan. Memang tetanggaku ini sudah putus urat takutnya. Karena pernah melihat Kuntilanak yang mencegat jalannya, ia nekat ditabrak saja. Nah, kali ini, mereka berdua saling tatap dan saling memandang. Alhasil si Kuntilanak ini kalah mental dengan si pemberani, akhirnya terbang melayang pergi.

 

Coba jika aku yang ditemuinya, tidak tahu lagi apa kejadian selanjutnya? Hiihh!

 

  • Korban dari jembatan kecil itu

 

Jembatan yang semula hanya terbuat dari bambu dan ditimbuni tanah, licin dan sangat berbahaya kalau musim hujan. Entah karena kelincinan jembatan, atau bertemu salah satu makhluk itu? Banyak tetangga yang terpaksa terjun bebas ke arah empang atau kali kecil. Itu karena salah perhitungan atau dijahili tidak tahu pasti.

Yang pulang kerja jadi basah kuyub. Yang mau pergi, gagal karena kecemplung empang.

Aku juga mengalami hal yang sama, untung siang hari. Entah salah perhitungan atau apa, motor tidak kuat nanjak dan alhasil motor melorot  bersama aku dan isteriku. Isteriku berhasil loncat dan alhamdulillah aku tidak kecebur empang karena motor malah nyangkut di pepohonan pisang di kiri jembatan.

 

  • Di sisi kanan komplek tidak kalah seram.

 

Ternyata lapangan luas yang biasa kita buat main sepakbola kalau malam keadaanya menyeramkan adalah bekas pepohonan karet yang mempunyai riwayat mengerikan sebagai tempat pembuangan mayat pembunuhan.

 

  • Tepat di depan rumah

 

Tepat di depan rumah yang ada kali kecil itu dulu, katanya pernah menjadi sarang makhluk aneh yang aku lupa makhluk apa itu. Karena saking mengerikan tidak ada orang yang berani lewat kali kecil itu. Entah bagaimana caranya, itu komplek bisa berdiri di sana?

 

  • Sarang hantu

 

Tidak pernah aku sangka ternyata tepat di belakang rumah tetangga sebelah persis di atas pohon nangka besar yang melengkung ke arah komplek dari tebing kampung itu tempat atau sarang hantu. Ini, aku ketahui dari saudara tetangga dua rumah jaraknya yang kedatangan saudara tuanya. Saudara itu ternyata bisa melihat hal yang tidak kasat nyata. 

 

Ia menemukan bahwa di empang dan pohon nangka itu tempat hantu bermacam-macam berkumpul, dan ia berhasil memindahkan saja. Tidak mengusirnya karena takut hantu itu malah balas dendam menyusahkan orang komplek. Entah dipindahkan ke mana aku lupa juga.

 

  • Hantu wanita 

 

Ini luar biasa, karena berada di dalam rumahku. Aku pernah melihatnya tapi dalam keadaan tidur atau istilahnya rep-repan. Tidak menganggu tapi hanya duduk diam menunduk di ujung tempat tidur. 

 

Yang parah malah isteriku, itu terjadi ketika aku sedang tugas luar kota. 

 

Isteriku melihat hal yang sama dan sampai kesurupan juga.

 

Mantap jiwa, horor sekali lingkungan rumah pertamaku. Seakan dikepung oleh hantu dan aneka riwayat misteri yang mengerikan dan menyeramkan.

 

Sampai akhirnya, di depan rumah yang bertebing itu, disulap warga kampung menjadi perkuburan umum. Memang tidak terlihat dari bawah. Tapi kalau dilihat dari atas akan tampak nisan-nisan, gundukan kuburan yang membuat hidupku semakin tidak tenang.

 

Endingnya, rumah aku jual, beberapa kali negosisasi dari peminat datang dan gagal transaksi karena bertanya:

 

"Itu, di atas tebing ada apa ya?"

 

Aku tidak bisa bohong, dan calon pembelinya gagal membeli. Memilih kabur.

 

*

 

Rumah aku jual murah, berserta isinya kepada tetangga kampung yang menjadi langganan servis motorku.

 

Sekarang sudah hampir 13 tahun aku meninggalkan komplek yang dikepung hantu itu. 

 

Entah, masihkah ada cerita lanjutan tentang semua yang aku rasakan dan dengar? 

 

Pastinya yang aku tahu, lingkungan sekitar komplek pernah menjadi lokasi favorit untuk syuting film atau sinetron misteri seperti Siluman Babi Ngepet yang booming di tv swasta kala itu. 

 

Suara ledakan cemetinya terdengar dari rumah, saat mereka mengambil gambar sinetron itu.

 

Wallahualam.