Sempat Memiliki

Texas art

Aku terdiam di atas ranjang yang selalu menjadi tempat terindah untuk mengingat dia. Tempat untuk bertemu dengannya dalam mimpi yang indah. Seakan-akan bayangannya tengah duduk di sampingku. Menggenggam erat tangan hingga lupa bahwa dunia masih berputar.

Bulan Desember di tahun 2003, dia mengajakku pergi ke halaman belakang sekolah. Di bawah pohon mangga sebuah kalimat meluncur dari bibirnya. Ada yang menghangat di hati saat aku mendengar kata demi kata yang terlihat sulit dia ungkapkan.

Ingin rasanya tidak percaya bahwa itu nyata. Gayung bersambut, rasaku padanya berbalas. Tidak bisa aku pungkiri namanya telah ada di sudut hati. Sikap santun dan suara merdunya membuat aku menaruh hati saat kami pertama kali berkenalan di ruang perpustakaan yang sepi.

Dari dalam kelas, aku sering memperhatikan dia lewat bersama teman-temannya pergi ke kantin. Terkadang aku sengaja mencuri pandang saat aku duduk di depan kelas. Memperhatikan punggung kukuh yang dia miliki. Semakin lama, aku makin merindukan senyum dan hadirnya.

Tubuhku terpaku saat dia depanku mengungkapkan rasa. Banyak bunga-bunga aku lihat melayang di antara awan di langit. Dunia mendukung rasaku padanya. Aku terima permintaannya untuk menjadi kekasih.

Sepulang sekolah di depan kelas dia berdiri. Membawa kotak cukup besar dalam pelukannya. Hari itu adalah akhir bulan Januari. Aku menghampirinya dengan malu-malu. Beberapa teman masih berada di kelas. Mereka saling berbisik, mendukung juga meragukan.

Pria itu mengulurkan kotak dalam pelukannya padaku. Kotak yang dibungkus dengan kertas dengan corak bunga berwarna biru. Itu pertama kalinya aku mendapatkan kado dari seorang teman special.

Sesampainya di rumah, aku segera membuka kado yang dia berikan. Sebuah boneka kelinci manis dan selembar kertas berisi ucapan serta kata-kata manis.

Tiada henti aku memeluk benda berwarna putih dalam dekapan. Seakan-akan boneka itu adalah dia. Kata-kata dalam tulisan, berulang kali aku baca. Tiada bosan untuk mengulanginya kembali.

Satu tahun menjadi pasangan kekasih, membuat hatiku merasakan debaran jantung yang masih bisa kuingat hingga kini. Dia adalah cinta pertamaku. Pria terbaik yang pernah memberi perhatian sebesar luasnya samudra. Sebuah lagu selalu dia nyanyikan di akhir pekan saat kami menikmati keindahan pantai dengan hamparan ombak yang mengajarkan banyak hal.

Genggaman tangan saat dia mengantar diriku pulang sekolah, adalah sentuhan pertama selain ayahku. Jalan yang kami lalui saat itu seperti bertabur bunga, bisa aku cium wanginya hingga tiap detik terasa menenangkan.

Ingin rasanya aku hentikan waktu, saat untuk terakhir kalinya kami bertatap muka. Saling memberi salam perpisahan oleh sebab akan jarang berjumpa. Hamparan pasir dan air laut yang selalu menyejukkan hatiku menjadi saksi bisu, dia ingkar pada janji. Dia yang pergi jauh demi masa depan untuk sebuah bakti, entah kapan kembali.

Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegah kepergian dia. Semua memang menjadi pilihannya. Harusnya hatiku tidak patah dengan keputusannya. Apa yang dia pilih tiada lagi bisa aku cegah.

Sulit bagiku menerima di awal kepergiannya. Hadirnya telah memberi warna  indah tiba-tiba saja pudar. Duniaku tampak membosankan. Mungkin karena aku tidak sabar. Air mata sering kali menetes dari mata, turun hingga pipiku basah.


Aku kan menghilang dalam gelap malam

lepas ku melayang

Biarlah ku bertanya pada bintang-bintang

Tentang arti kita

 

Suara anak muda di sudut ruangan membuat aku teringat kembali pada dia. Secangkir teh hangat masih setia menemani. Memandangi air jatuh dari langit. Berharap tiada lagi kenangan, terhapus tetes demi tetes air hujan.

Aku kira akan melupakan dia setelah tidak lagi melihat tempat biasanya kami bersama. Tempat kami menghabiskan waktu istirahat,  bercanda dan berbagi senyuman. Namun, mendengar lagu dari band dengan vokalis bernama Ariel itu kembali menghadirkan bayangannya. Lagu yang sama yang menjadi lagu perpisahan kami.
 
Lima tahun berlalu kujalani tanpa dia. Tiada kabar dan salam terkirim apalagi pertemuan. Sejak kepergiannya, tidak pernah aku tahu tentangnya. Semua semakin menjauh.

Hingga saat itu di pantai yang biasa aku kunjungi bersama beberapa teman, kulihat sosok pria dengan rambut panjang hingga pundak. Aku  bertemu dengannya. Sempat mencoba untuk tidak peduli, lelah hati untuk menanti, tetapi ada sesuatu yang menusuk hati. Aku kira dia kembali untuk menepati janji. Nyatanya dia memang kembali, tetapi hanya untuk menyakiti.

Seorang wanita di samping pria itu, menggenggam tangan yang pernah aku rasakan hangatnya. Sesekali mereka saling melempar senyum, lalu tertawa. Tanpa mereka sadari ada hatiku yang terluka bahkan kecewa.

Seharusnya dia tidak pernah meminta aku untuk menunggu. Bila pada akhirnya sakit yang kurasakan saat bertemu. Tidak mudah bagiku untuk menunggu, karena sering kali curiga datang membawa ragu.

Aku mencoba menjaga hati dengan bertahan. Meski rindu kadang menyiksa perasaan. Bahkan harus aku lawan malam yang kesepian sendirian.

Sejak pertemuan itu, aku anggap dia masa lalu. Pria yang hanya membuat diriku menunggu menanam rasa rindu. Tidak akan pernah lagi aku sia-siakan waktu, demi dia yang hanya memberi belenggu.
 
Cukup bagiku menjadikan dia kenangan. Tidak perlu aku pendam hingga melukai perasaan. Dia hanya seseorang yang sempat untuk kumiliki dan menorehkan luka patah hati. Seseorang yang pernah menjadi mimpi yang sempurna, tetapi memberi luka yang akan aku ingat sampai nanti.

 

#lagukenangan