Kontrakan Berhantu

Pixabay.com

Cerita ini berasal dari kisah nyata yang dialami sendiri oleh istriku sebut saja Sandra.

 

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2009 atau dua belas tahun yang lalu.

 

*

 

Kehidupan ibarat seperti putaran sebuah roda. Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat tepat. 

 

Seperti kata orang bijak untuk menilai segala sesuatu yang selalu berubah di dalam dinamika kehidupan yang terkadang berada di dalam posisi naik atau di saat yang lain berada di posisi bawah. Atau berada dalam sebuah pasang surutnya kehidupan.

 

Kehidupan selalu berputar, selalu berubah, tinggal bagaimana kita menjaga posisi terbaik kita untuk tetap berada di atas atau di dalam posisi yang nyaman? Tapi, kemampuan untuk menjaga posisi terbaik itu tidak semua orang bisa melakukannya. Bisa karena salah mengambil keputusan atau putaran nasib memang tepat berada di bawah. Tidak bisa dihindari!

 

Hal ini pun terjadi di dalam kehidupan kami, sehingga semua kenyaman hidup lenyap begitu saja, hanya meninggalkan sejuta penyesalan saja.

 

*

 

Rasa penyesalan tidak akan selesai jika hanya direnungi saja atau hanya menjadikan hati patah semangat tidak kunjung berhenti. Tidak bisa seperti itu, berhenti dan mati karena semua tahu bahwa kehidupan itu harus tetap berjalan, Life must go on!

 

Kehidupan terus tetap berjalan yang membawa kehidupan kami kembali ke tanah kelahiran di kota J. Semua yang kami miliki sudah raib semua bersama gulungan nasib yang terasa begitu kejam yang akhirnya membawa kami terdampar di sebuah kontrakan yang cukup nyaman sebagai sisa pilihan dari yang ada di dalam tangan kami.

 

Tinggal di kontrakan, yang tidak jauh dari rumah kelahiran. Rumah kelahiran yang sudah pindah tangan kepada orang lain karena dijual.

 

*

 

Mulailah hari-hari berikutnya, kami tinggal di rumah kontrakan milik Ibu Hajjah S yang sudah ditinggal mati oleh suami dan anak-anaknya karena sudah hidup mandiri dengan keluarga masing-masing.

 

Sebuah rumah kontrakan yang sangat layak. Rumah permanen dengan dua kamar besar. Sepertinya ketika aku masuk tidak ada yang aneh, malahan sangat senang melihat hiasan dinding ruang tamu bergambar Kabah yang terbuat dari permadani. Meski terletak agak ke dalam dari jalan cor kampung tapi tidak mengapalah.


 

Satu kamar kecil di depan sebelah kanan yang terlihat jarang ditempati. Kemudian ruang keluarga yang lumayan panjang dengan sebuah kursi goyang jati  berada di sebelah kanan pintu masuk ke ruangan dalam. Di seberangnya adalah kamar utama yang cukup besar. Kemudian berbelok ke sebelah kiri, ada ruang makan yang lumayan luas bersampingan dengan kamar mandi dan dapur. Ada lagi ruang kosong terbuka di belakang sebagai tempat mencuci pakaian atau cuci piring. 

 

Tidak ada yang aneh menurutku, tapi bagi Sandra isteriku yang sebenarnya mempunyai sedikit kelebihan melihat hal yang tidak kasat mata, ada sesuatu yang aneh ketika mulai menempati kontrakan itu.

 

Sayang semua itu peristiwa horor itu diceritakan setelah kami kembali ke ibukota untuk mengadu nasib kembali karena di tempat kelahiranku, semua jalan untuk recovery ekonomi kami tertutup.

 

*

 

Kehidupan baru, mulai lagi dari bawah untuk menyusun serpihan-serpihan luka dan kehancuran ekonomi keluarga.

 

Kerja seadanya, serabutan, bahkan meminta pertolongan keluarga yang ada bisnis dengan bekerja yang jauh dari kenyamanan kerja yang dulu dan jauh juga pendapatan yang bisa dibawa pulang.

 

Aku tidak pernah merasakan atau memperhatikan suasana dan keadaan horor di kontrakan itu. Meskipun aku adalah orang yang penakut karena lebih sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari yang jauh dari cukup.

 

Berangkat dan pulang kerja di sore hari dan kemudian mengisi waktu malam dengan menonton tivi kemudian jika sudah lelah berangkat tidur. 

 

Ternyata hari ke hari yang berlangsung biasa dan wajar bagiku berbeda dengan keadaan isteriku Sandra yang berada di rumah bersama puteri kecilku.

 

Ia sudah mulai merasakan ada yang aneh dengan rumah kontrakan itu. Apalagi ketika dengan tidak biasa si kecil sering menangis tiba-tiba. Baik di siang hari atau malam harinya. 

 

Kata orang tua, kemungkinan si kecil melihat makhluk lain di rumah itu. 

 

Meski keadaan seperti itu, aku masih tetap abai karena isteriku tidak pernah bercerita tentang semua yang dirasakan dan dilihatnya. Jika itu dilakukan, dapat dipastikan aku bisa pingsan berdiri.

 

*

 

Kontrakan Ibu Hj S ternyata banyak hantunya.

 

Dari mulai lorong yang menghubungkan antara ruang keluarga menuju ke dapur dan di dalam kamar mandi, seperti ada sepasang mata yang selalu mengintai dan membuat bulu kuduk isteriku berdiri. Tidak jarang ada bayangan bergerak cepat melintas, dan hilang ketika berbelok di ruangan yang lain.

 

Belum lagi kursi goyang jati itu, sering bergerak sendiri dan lebih horor, isteriku melihat seorang kakek tua yang berwajah pucat duduk memandangnya. Meski tidak mengancam tapi kalau dilihat oleh penampakan seperti itu, kemungkinan aku sudah kabur sambil terkencing-kencing.

 

Yang paling parah, kata isteriku. Yang waktu-waktu tengah malam dan ujung malam dihabiskan dengan sholat tahajud. Muncul seraut wajah dengan rambut panjang awut-awutan, mata yang besar berwarna merah menyala, tepat di depan wajahnya ketika bangun dari sujudnya. Meski tidak melakukan hal yang membahayakan tapi melihat makhluk mengerikan itu berhadap-hadapan muka? Aku tidak bisa membayangkan, betapa mengerikannya!


 

Isteriku tidak menjerit atau bercerita sama sekali, membiarkan aku asyik tidur bersama puteri kecilku.

 

*

 

Teror itu hampir setiap malam selama hampir dua bulan saja tanpa sedikitpun isteriku bercerita atau mengeluhkan teror hantu kontrakan itu.


 

Dibongkar semua teror hantu itu, ketika kami sudah kembali hidup normal dalam Ridla Allah, kembali hidup diperantauan.

 

Kehidupan kembali sesuai doa-doa kami yang tidak putus-putus. 

 

Terima kasih Ya, Rabbi.