Ada Saatnya Hujan Mereda

Ilustrasi by Pinterest

Hujan telah reda. Gemuruh petir sudah menepi dan kini berganti dengan cahaya keemasan yang indah terlukis di batas senja. 

Aku selalu menyukai senja.  Senja dengan nuansa jingga di garis cakrawala. Semilir angin, secangkir kopi, cukup menyempurnakan sisa hariku. Berselonjor kaki, menikmati waktu santai di beranda setelah seharian penat bergelut dengan tanggung jawab. Sayup suara merdu Mbak Waljinah melantunkan langgam Jawa 'Mbok Ojo Lamis' dari pengeras suara tetangga yang sedang hajatan. Lagu itu sedikit mengusik hati, tentang masa yang telah lalu.  Tergali kembali satu getir kenangan tanpa sengaja menguak lepuh goresan luka yang telah berpuluh tahun terkubur dan mulai mengering. 

Masih lekat di kepala.  Kala itu mendung sudah menggantung sejak pagi. Rumah sederhana yang biasa ceria itu berganti muram, sesuram benakku yang berkubang gundah. Sungguh, kalau boleh jujur enggan sekali untuk menyeret kaki ini melangkah pergi. Jemari kecil menggenggam erat berusaha menahanku.

Binar bola mata itu menatap tanpa kedip. membuat hati seperti diremas, serasa tercabik cakar-cakar besi yang berusaha meruntuhkan. Tekad yang perlahan kubangun itu kini luluh lantak. Wajah tak berdosa anak-anak memaksaku untuk bertahan tapi puluhan sembilu seperti menyayat hatiku pelan-pelan.

Andai saja bibir mungil itu bisa bicara pasti akan memohon agar aku tetap tinggal, tetap memeluknya dengan penuh kasih sayang. Bibir mereka tak bersuara tapi dengan jelas bola mata itu bicara menyiratkan keberatan, setidaknya itu yang bisa kurasakan.

Biarlah ia menyusu dulu sepuasnya. Kubelai bawah kepalanya sedangkan mata bening itu masih saja lekat melumat wajahku yang sudah basah oleh bulir bening yang tak berhenti jatuh dari kelopak mataku yang sembab. Aku tidak lagi bisa membendungnya, tak lagi bisa berpura-pura kuat atau menganggap keadaan baik-baik saja. Hatiku terasa kian rapuh.

Tapi keadaan memaksaku untuk tetap kuat.  Untuk terus bertahan, karena memang aku tidak punya banyak pilihan. Tidak bisa juga lari menghindari kenyataan. Tetap harus menatap ke depan demi buah hati. Meski kalau boleh jujur aku menjalaninya hanya dengan setengah hati.

Meninggalkan bocah sembilan tahun dan bayi yang belum juga genap empat puluh hari itu sungguh berat. Keputusan yang tidak mudah dan aku merasa seperti seorang ibu yang kejam. Tega pergi saat mereka masih bergantung dan sangat membutuhkan. 

Jangan tanya lagi bagaimana perasanku. Akan tetapi itu satu-satunya jalan keluar yang ada, mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih mencukupi karena seseorang yang aku harapkan tidak juga menepati janji untuk menyelesaikan segudang tanggungjawab yang tercecer dan begitu saja ia tinggalkan.

Aku seperti mati kutu, hanya bisa menurut dan mengiyakan apa maumu atas berbagai kekacauan yang kau lakukan di belakangku. Ingin sekali berteriak, menyangkal pada semua bahwa sesungguhnya ini bukan mauku, bukan keinginanku tapi lidah kelu begitu juga tidak ada yang mau mendengar atau membantuku. Hati seperti mati rasa karenamu, karena ingkarmu. Aku pun terjerembab dalam ketidakpastian ini sendirian.

Jejak luka itu tak akan pernah terhapus walau musim gugur telah berganti semi. Meski hujan telah mereda dan kini cuaca terik. Namun tetap saja pahatan luka itu tak akan pernah pulih.  Meski, selama ini aku sudah berusaha sekuat tenaga berdamai dengan keadaan. Lalu kita sampai di persimpangan dan aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendiri. Lepas dari ikatanmu.

Tapi setiap kali aku mendengar langgam ini.

Aku iki prasasat lara tan antuk jampi
Mbok ojo mung lamis, janjine banjur kikis
OKeh tulodo kang remen cidro uripe rekoso

Dari dulu, entah sudah berapa ratus janji yang dengan mudahnya kau ingkari. Menyisakan penderitaan untukku, untukmu juga mengorbankan kebahagiaan anak-anak. Karena berbagai pengkhianatanmu yang akhirnya membuat kisah kita berujung nestapa. Bertubi-tubi kau menenggelamkanku dalam kubang sengsara. Aku tak bisa apa-apa, meronta pun tak mampu. Selain dengan berat hati melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kumau kau memaksa dan menjeratku dengan kata-kata 'hanya kamu yang bisa menyelamatkan kita', lalu meyakinkan bahwa hanya aku yang bisa membebaskan kita dari masalah.  Seperti boneka milikmu yang bisa kapan saja kau mainkan. Layaknya robot yang harus melakukan apapun kemauan tuannya. 

Aku terjebak, seperti saat itu. Siang merambah sore nan basah. semesta seperti menyambut langkahku. Petir menggelegar, air seperti tumpah begitu saja saat kaki melangkah ke terminal bus antar kota. Berkali kukerjapkan kelopak mata yang berat dan basah oleh tempias hujan juga airmata. Hati masih terasa seperti tersayat belati saat terakhir kali menatap kedua buah hati sebelum memutuskan keluar menembus hujan. 

Sepanjang perjalanan, bening yang jatuh tak kunjung reda sedang wajah mungil itu tak lepas dari kelopak mata, mengikuti langkahku yang terseok di bawah hujan. Entah bagaimana nanti. Apakah akan mencariku dan rasa putus asa mereka luapkan dengan tangis. Maafkan aku, Ibu. Aku yang selalu saja merepotkanmu. Benar-benar ngilu, tapi aku memaksakan diri tetap pergi dengan membawa seonggok kehampaan. Berserah dengan skenario Tuhanku.

Gelisah merejamku di sepanjang perjalanan. Sementara deru roda bus beradu dengan aspal jalanan menembus malam.  Melintasi kota demi kota dan terlewati satu persatu tanpa aku hiraukan. Di tengah malam kedua belah dadaku terasa kencang dan pegal.  Perlahan air susu meringsek menembus pakaianku. Memang ini waktunya si kecil menyusu, tapi kini aku di sini berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari bayiku.

Bagaimana keadaan dia sekarang? Menangiskah ia mencariku? Bergumpal kekhawatiran menyeruak dalam lamunan. Ampuni aku, ya Allah, gumamku lirih.  Dada ini seperti tertindih berton-ton beban, sesak. 

Ibu seperti apa aku? Tanya batinku perih. Tega sekali meninggalkan bayi yang masih begitu membutuhkan belai kasih sayang dan memaksa menyapihnya padahal ia masih sangat membutuhkan asi untuk pertumbuhan.

Ingin sekali menjerit, protes dengan keadaan ini tapi pada siapa? Aku pun hanya bisa memohon dan mengelus dada, meredakan gemuruh di dalamnya. Allah, tolong genggam erat hatiku, pintaku dalam isak tertahan. Tidak enak hati jika sampai pecah dan mengusik penumpang lain dan memaksa mereka bertanya, ada apa denganku. 

Semalaman tak sedikit pun bisa memicingkan mata. Hati benar-benar tertinggal di rumah, walaupun raga berada di sini di dalam bus yang akan membawaku dalam kekosongan. 

Jam tiga dini hari  bus sampai di tujuan. Sebuah terminal yang berada di sudut kota Tangerang. Tempat yang akan memberikan kita harapan, itu katamu. Tapi tidak bagiku, ini adalah sebuah awal kenestapaan. Tempat yang merenggut waktu dan kebahagiaanku bersama anak-anak. 

Kau sudah menungguku di sana dan tak berapa lama kita tiba di sebuah rumah petak tempat kau dan rekan-rekan mengontrak selama ini.  Dan aku pun harus berbagi atap dengan mereka. Pria-pria dewasa dengan hanya berbatas kelambu. Demi Tuhan! Kehidupan macam apa ini? Pertanyaan itu seperti ombak yang berulang-ulang menghantam dinding isi kepalaku. Tak ingin tinggal tapi harus ke mana? Sedang katamu  untuk mengontrak sendiri kau pun tidak mampu.   Kembali lagi ke rumah itu jelas tidak mungkin, nanti jawaban apa yang harus aku berikan ketika para rentenir itu datang menagih. Sementara tak ada sepeser  uang pun bisa untuk mengembalikan pinjaman-pinjaman itu. 

Aku hanya bisa terduduk lunglai sembari kedua tangan memeluk lutut dan membenamkan tangis. Meluapkan amarah yang lahir dari sebongkah kekecewaan. Kau hanya membisu dengan wajah tanpa dosa dan terus terang aku sudah begitu muak dengan semua ini. Andai saja kau setia dan tak tergiur dengan perempuan itu.  Memilih menjalani kehidupan kita seadanya. Mungkin keadaan tak sekacau saat ini, tak perlu menyeretku dan anak-anak dalam penderitaan yang entah sampai kapan berlalu. 

Dengan keadaan yang  morat-marit begini saja kau masih sempat-sempatnya menangis patah hati merasa dikhianati perempuanmu dan tersadar kalau dia hanya memanfaatkan keluguanmu untuk kepentingannya. Merasa terkhianati, lalu bagaimana denganku? Nyatanya kau tidak lebih baik dan membuat cintaku terkikis lara tanpa sisa.  Beratus janji kau ingkari dan ternyata itu semua hanya pemanis bibir. Malangnya aku selalu percaya dan berulang kali pula berujung kecewa, oh dasar lamis

Terpaksa aku pun memutuskan tinggal dan saat itu juga berhasil mendapatkan pekerjaan berkat bantuan salah satu teman. Menjadi buruh di sebuah pabrik garmen dan sejak saat itu kau menggantungkan segalanya di bahuku dan bealasan gajimu tak pernah dibayar. Namun kau tidak enak jika harus berhenti.  Lalu kau menjadikanku tulang punggung bukan lagi tulang rusuk yang seharusnya kau cukupi dan lindungi. Menyedihkan sekali. 

Hari pertama masuk kerja sudah disuguhi dengan peristiwa yang mengerikan. Seorang karyawati dari PT yang berlokasi di sebrang pabrik mengalami kecelakaan. Motor dan tubuhnya terlindas truk kontainer dan meninggal seketika itu juga dengan isi kepala terburai di aspal. Suasana siang itu pun heboh tapi malamnya saat aku mulai kerja shift malam untuk pertama kali pabrik terasa sangat mencekam mungkin efek dari kejadian siang tadi, setidaknya itu yang dirasakan oleh penakut sepertiku. 

Malam itu kemeja cepat sekali basah oleh air susu yang merembes tanpa ampun membuatku risih dan malu. Untung saja malam jadi tidak begitu banyak yang memperhatikan. Ingin keluar tapi tidak berani, sementara aku anak baru dan belum banyak kenal karyawan lain jadi sungkan jika minta tolong ditemani. Berusaha membesarkan nyali dan memutuskan pergi ke belakang sendiri, tapi jujur perasaan ini sangat was-was. Belum apa-apa telapak tangan sudah keringetan. 

Dari kejauhan koridor nampak suram dan itu jalan satu-satunya menuju toilet. Setengah nekat aku melangkah. Mata pun lurus menatap ke arah ujung koridor yang terlihat lebih gelap dan lengang. Berhenti sebentar dan menengok ke belakang, berharap akan ada orang datang dengan niat yang sama. Tapi nihil, tidak ada sama sekali. sekelebat bayang pun tidak. Setelah setarikan nafas aku kembali melanjutkan langkah dengan cepat melewati lorong sempit di samping gudang.

Di dalam kamar mandi tak juga kutemui barang satu orang pun. Deretan kamar kecil begitu senyap dan dingin. Menegakkan bulu kuduk dan membuat keringat dingin kian membanjir. Suara tetes-tetes air yang jatuh di bak mandi  menjadikan suasana kian menyeramkan. Sialnya lagi, mendadak pikiran terlempar ke kejadian kemarin siang. Kecelakaan yang merenggut gadis itu. Sontak saja kini seluruh bulu di sekujur tubuh meremang dan tengkuk pun semakin menebal. 

Dengan kilat aku membersihkan diri dan berganti pakaian lalu segera menyimpan baju kotor ke dalam tas segera bersiap keluar. Menahan nafas sebentar untuk mengurai ketegangan. Entah mengapa selama aku di kamar mandi tidak ada satu orang pun yang datang, andai saja ada tentu akan meredakan sedikit tensi ketakutanku.

"Duaaarr..! Baru saja bermaksud keluar dan tangan menyentuh handle tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara hentakan pintu dari arah depan. Anehnya dari tadi aku tidak mendengar satu langkah kaki pun, lalu siapa itu, pikirku penuh tanda tanya. Anginkah? Entahlah aku tidak mau menuruti pikiranku yang kian ngelantur. 

Belum juga sempat membuka pintu, kembali gebrakan pintu yang kedua kalinya membuatku terlonjak. Tapi aku tetap harus keluar dan tanpa pikir panjang secepatnya membuka pintu dan kabur dari tempat ini Sedikit pun tidak berani  memeriksa asal arah suara. Fokus memacu langkah seribu untuk secepatnya menyusuri lorong temaram dan langsung ke koridor. Meski kusadari langkah kaki terasa begitu berat dan nafas terengah-engah, aku tidak berniat untuk berhenti. 

Ughh... hampir saja tubuh terpental ke belakang saat menabrak tubuh tegap dan keras. Darah berdesir, mata terpejam sedang jantung serasa tanggal begitu saja dari rongga dada. 

"Mbak, kalau jalan liat-liat dong! Jangan merem dan main tabrak aja kayak dikejar setan," seloroh Pak Satpam mungkin geli melihat wajahku yang pias dan ketakutan. 

"Ma...maaf, Pak."

Suaraku terbata, masih berusaha menenangkan detak jantung yang terlonjak liar. Dengan lunglai aku meneruskan langkah, masuk ke tempat kerjaku di bagian bartex. Duduk sambil mengatur nafas yang tersengal, sedang jemari masih gemetaran saat kembali berkutat dengan tumpukan celana yang sudah menggunung untuk diberi label dan pasang kancing yang tak juga habis sampai pagi.

Hari-hari berikutnya terasa menegangkan dan banyak cerita tentang kejadian ganjil di seputar pabrik yang bagiku sangat menyeramkan. Tentang penampakan sosok gadis bergaun hijau hingga karyawati yang sedih karena patah hati tiba-tiba kesurupan dan semua ini sangat melelahkan hati karena selalu merasa was-was. Tapi sedikit terhibur dengan banyaknya teman baru yang mulai akrab dan sangat baik kepadaku. Hari-hari terus berlanjut dan seberat apapun itu mau tidak mau harus tetap dijalani.

Namun, kesedihanku tidak berhenti sampai di situ. Tahun demi tahun masih harus berkompromi dengan penderitaan yang berulang-ulang dan permasalahan datang silih berganti seakan tak pernah usai. Sayangnya, itu semua tidak lantas membuatmu berubah dan belajar tapi justru ajang mengulang berbagai kesalahan yang sama. 


Aku tidak pernah menuntut kemewahan, hanya ingin rumah tangga bersahaja yang penuh cinta dan saling menjaga tapi tidak denganmu kau dan keakuanmu.  Lebih memilih petualangan semu dari cinta satu ke cinta lainnya dan pada akhirnya menghancurkan apa yang sudah kita bina berpuluh tahun lalu.

Yang paling mengenaskan dari semua itu, tidak sedikit pun terbersit rasa berdosa di matamu.  Yang ada hanya jumawa. Aku sadar, siapalah aku hanya gadis kampung tak berpendidikan dan bukan dari keluarga berada yang tentunya tidak pantas perasaan dan kepercayaannya untuk kau jaga. Aku sadar sesadar sadarnya.

 Namun ada kalanya jiwa raga merasa sungguh lelah. Berulang kali tenggelam dalam kubangan yang sama. Hingga batas waktu aku benar-benar terbangun dari mimpi buruk ini. Susah payah berusaha mengais keberanian untuk bangkit dan menyudahi semuanya.

Tak perlu lagi berharap dan kecewa oleh janji-janji yang dengan mudahnya kau ingkari tanpa rasa bersalah. Saat pengkhianatan itu menjadi hal yang lumrah buatmu tapi sebaliknya, menyisakan trauma mendalam bagi jiwaku yang rapuh. 

Ini hanya sepenggal dari kisah getir sebuah perjalanan panjang. Pada akhirnya cinta pun mengering, mengelupas dan menghilang  tertiup oleh angin musim kemarau. Tak perlu ada penyesalan ketika pilihan telah diambil. Saat hati sudah tertutup jangan harap akan terbuka dengan alasan apa pun. 

Kini seakan jiwaku lepas, bebas seperti dendelion yang terbang ke mana arah angin membawa dan akan ada saatnya ia jatuh dan tumbuh. Saat ini aku tidak lagi terbebani oleh hal-hal yang tak kusuka namun dulu terpaksa harus dilakukan karenamu. Bagiku, tidak mengapa letih raga tapi jiwa tenang dan bahagia. Itu semua membuat hidup kini lebih berwarna. Hujan pun  mereda dan senja hadir bersama jingganya. Memupus perih, membalut luka.

Khotimah Zaenuddin, Pondok Indah 27 Juli 2021

#lagukenangan