Pupuh Dhandanggula di Malam Purnama

Foto: Bulan Purnama(pinterest.com)

Cahaya bulan penuh, berpendar. Malam ini purnama benar-benar  menawan. Langit terang tanpa kelebat awan. Gemintang berkedip malu-malu seperti gadis hendak mendapat pinangan.

Di tepi jalan, masih ada beberapa orang menjaga api unggun kecil. Hampir setiap rumah di kampungku membuat api unggun kecil lima hari terakhir. Katanya sebagai salah satu cara untuk mengusir marabahaya. Pageblug ini bukan main-main. Berita kematian sejak pagi hingga malam, setiap hari, memang cukup membuat gelisah. Apa lagi bertebaran kabar tentang isu lampor mencari mangsa. Meskipun tidak terbukti, bahwa lampor itu meneror warga.  

Ana kidung, rumeksa ing wengi

(Ada kidung permohonan di tengah malam)

Teguh hayu luputa ing lelara

(Yang menjadikan kuat dan selamat dari segala penyakit)

Luputa bilahi kabeh ….

(Terhindar dari segala bencana ….)

 

Sayup-sayup kudengar alunan pupuh Dhandanggula dari dalam rumah. Hatiku larut kembali pada kenangan dua puluh tahun silam. Dulu setiap purnama, bapak selalu mengajakku dan ibu bergabung dalam komunitas Padang Bulan. Di sana, semua yang hadir membaca kitab kemudian  dilagukan dengan pupuh macapat. Termasuk Bapak yang begitu syahdu mengalunkan larik-larik penuh makna. Bahkan doa.

Seminggu setelah purnama, Bapak merasakan tubuhnya meriang. Obat pereda nyeri yang kubeli dari warung, tidak mampu mengurangi demamnya. Wajahnya pucat. Bibirnya memutih kertas. Segala upaya telah ibu lakukan. Mulai mengompres dengan air hangat, membalurkankan minyak kelapa dan lumatan bawang merah di dada bapak, tapi semua nihil. Bapak pingsan.

Dalam kondisi panik, ada serombongan tamu ke rumah. Salah satunya menyarankan agar bapak dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil mereka. Di saat bersamaan, datang nenekku diiringi paman. Tergopoh-gopoh perempuan tua itu menghampiri ranjang. Dengan ujung kain batiknya, simbah mengusap wajah bapak tiga kali sambil merapal doa. Aku dan ibu menangis tersedu. Kami tak ingin kehilangan lagi setelah setahun lalu adik bapak wafat tanpa sakit.

Mata bapak pelan-pelan terbuka. Napasnya naik turun stabil. Tanganku erat menggenggam jemarinya. Simbah yang masih duduk sejajar dengan kepalanya, mengusap rambut bapak lembut.

Ndak usah nangis. Saya tidak apa-apa,” katanya dengan suara lemah, “Ngger cah ayu lan kowe kabeh sing ana kene, aja wedi. Sejatine aku iki dudu Kusuma ….-Duhai anak cantik dan kalian semua yang ada di sini, jangan takut. Sebenarnya aku ini bukan Kusuma ….”

Di kamar itu kami semua saling pandang. Suara bapak mulai tegas dan lantang. Bicaranya teratur dan lancar. Sama sekali tidak menggambarkan orang yang sedang kelelahan setelah pingsan.

Dalam racaunya, bapak mengatakan akan terjadi bencana besar sambung-menyambung. Setelah gempa akan ada banjir dan longsor, disusul meletusnya gunung-gunung berapi di berbagai daerah. Tak hanya itu, akan datang pula pageblug tak hanya di desa. Tapi seluruh tempat akan terimbas. Banyak orang sakit sepele kemudian  meninggal tiba-tiba. Tengkukku meremang. Terbersit di kepalaku, bapak sedang mencandai kami. Bapak juga menyebutkan sederet angka tanggal, bulan, tahun, bahkan hari lengkap dengan pasarannya, “titenana bakal ana kedadeyan apa marang Kusuma. –perhatikan  apa yang akan terjadi pada Kusuma di tanggal itu.

Jemarinya yang kugenggam masih dingin meskipun bicaranya berapi-api. Ibu membalurkan minyak kayu putih di sekujur telapak kaki bapak yang juga dingin seperti orang mati. Sebelum pingsan kembali, bapak mengatakan supaya memperkuat dzikir, memohon perlindungan pada yang Mahahidup, berhenti memfitnah, jangan bosan untuk berbuat baik. Kami semua tertegun mendengarnya.

Simbah lagi-lagi mengusap wajah bapak tiga kali dengan ujung kain batik yang dipakainya. Kurasakan tangan bapak mulai hangat. Bibirnya perlahan memerah. Matanya kembali terbuka. Dengan napas tersengal, bapak berusaha bangun dan meminta minum. Ia kelelahan seperti baru datang dari bepergian.

***

Tiga tahun berselang, terjadi bencana gempa dan banjir bandang di Nabire Papua. Sebulan setelahnya, Aceh dihantam tsunami yang merenggut banyak nyawa. Kuhampiri bapak yang sedang asyik membaca buku di ruang tamu.

“Nyuwun duka-Maaf-, Pak. Apa Bapak ingat apa saja yang Panjenengan sampaikan waktu sakit tiga tahun lalu?”

Tangan tuanya menutup buku lantas tersenyum teduh, “kamu ini bicara apa, Nduk? Lha waktu itu Bapak ngomong apa?”

Mataku tak berkedip menatap bapak yang nampak serius tidak merasa menyampaikan apa pun.

“Kira-kira, setelah ini ada kejadian apa, Pak?”

“Bapak ini bukan Tuhan. Ya ndak tahu akan terjadi apa. Sudah sana lanjutkan mengajimu!” katanya seraya pergi ke kamar. Lantas, siapa yang meracau saat bapak sakit dulu?

 

Ana kidung, rumeksa ing wengi

(Ada kidung doa permohonan di tengah malam)

Teguh hayu luputa ing lelara

(Yang menjadikan kuat dan selamat dari segala penyakit)

Luputa bilahi kabeh

(Terhindar dari semua bencana)

Jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani

(Jin dan setan tidak ada yang mendekat, ilmu sihir tidak ada yang datang)

….

Sayup-sayup kudengar suara bapak melantunkan pupuh Dhandanggula ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga. Doa dalam tembang itu menerobos gendang telinga. Mengalir dalam darah, kemudian di hati bermuara.  

Tahun-tahun berikutnya, memang terjadi serentetan bencana. Gunung meletus bergantian seperti antri unjuk suara. Hingga tiba di tahun 2015, bapak mengembuskan napas terakhir. Ia berpulang saat tidur di samping ibu. Aku terguncang begitu tahu lelaki cinta pertamaku itu harus pergi tanpa pernah  kembali.

“Apakah hari ini Jum’at Wage, Bu?” tanya seorang pelayat yang hadir sesaat sebelum bapak dikebumikan.

Darahku berdesir. Kulihat kalender di dinding, Jum’at Wage 15 Mei 2015. Persis sederet angka yang pernah bapak ucapkan saat sakit tahun 2001 lalu.

***

Aku bersedekap menahan dingin. Kemarau sudah benar-benar bertamu. Rembulan penuh masih cantik melayari langit. Di dalam rumah masih kudengar sayup-sayup ibu melantunkan tembang.

“Innalillahi wainnailaihi rajiuun, telah pulang ke rahmatullah atas nama ….”

Kutegakkan telinga saat suara dari corong masjid menyebutkan sebuah nama. Hari ini, sudah empat orang pulang ke pangkuan-Nya.

***

#lagu_kenangan

SW2K, Alaskembang 270721

 

Pageblug: pandemi

Pupuh: bait syair

Wage: salah satu pasaran di kalender Jawa