Sepenggal Sesal dalam Irama Bangbung Hideung

ilustrasi diambil dari google image

Sepenggal kisah ini kualami sebelum tahun tujuh puluhan. Saat beberapa daerah di Kota Bandung masih ramai mementaskan kesenian tradisional Ketuk Tilu sebagai hiburan. Terutama ketika menggelar acara resepsi pernikahan. Juga perhelatan agung lain. Alunan gamelan degung dimainkan para nayaga, mengiringi kawih sunda yang dilantunkan pesinden. Bersamaan dengan liuk tubuh penari jaipong yang luwes. Menggoda ratusan pasang mata hingga tak sempat berkedip. 

Grup degung paling sohor kala itu adalah Lingkung Seni Sunda Gentra Pangasih. Yang paling sering ditanggap untuk pentas di acara besar terutama daerah Sukagalih, wilayah Bandung Tengah. Mereka memiliki pesinden dengan suara emas, juga penari jaipong yang terkenal dengan kelincahan gerakannya. Dua bintang panggung yang sangat dinantikan penonton. Apalagi saat membawakan lagu Bangbung Hideung pada acara puncak. 

...Bangbung hideung. Bara-bara teuing diri. Leuheung bari dianggo ka Suka Galih. Situ pinuh balong jero. Bebendon sareung bebendu unggal ti salira ju…ag. Awiiii teh pangajul buah. Lantaran ti kitu. Sora bedil luhur mega paripaos. Teu paya lepat saeutik. Diri abdi kagamparan…

Keselarasan irama lagu ini sanggup menggetarkan jiwa. Bahkan memiliki daya magis kuat yang konon mampu mengundang makhluk gaib. Untuk merasuk ke dalam tubuh para penonton. Mereka bergerak lincah tanpa lelah, turut terhanyut dalam ketukan suara kendang.  Seolah terhipnotis dan tak hendak berhenti menari sepanjang malam hingga pagi.

Termasuk diriku, salah satu pecinta kesenian tradisional sunda ini. Aku kerap menunjukkan kemampuan berlaga jurus-jurus Kendang Penca di beberapa lagu. Namaku terkenal di antara para sinden dan penari. Sebab bukan hanya dalam hal menari, tetapi dalam hal saweran berlembar-lembar rupiah tak sayang aku keluarkan.

"...Eeee, Banondari, nu geulis kawanti wanti. Nu endah na malih warna puputon kembang kadaton. Jungjunan, lamun teu…kauntun tipung, katambang beas laksana kapiduriat. Matak paeh ngabale bangke. Matak edan leuleuweungan…." Suara nyaring melengking milik Dewi Ratih--pesinden unggulan milik grup Gentra Pangasih--mulai berkumandang. Seolah memanggil para penggemarnya untuk mengitari panggung.

Bukan hanya parasnya laksana bidadari, cantik tiada terlukis. Membuat siapapun tergila-gila. Aku pun sempat bertekuk lutut hendak menyerahkan segala yang kumiliki di bawah kakinya. Namun, sayang sekali. Demi meneruskan garis keturunan ningrat keluarga, aku hanya sanggup memendam hasrat. Tak bisa menikahi gadis pujaanku itu.

Jangan pikir setelah menikahi perempuan yang menurut ayahku sederajat dengan kami, aku berhenti mendatangi panggung pentas Dewi Ratih. Tanpa sepengetahuan istriku, aku masih sering menghujani pesinden pujaanku dan para penari jaipongan dengan saweran. 

Beberapa kali memang aku sempat ketahuan oleh Atikah, istriku. Kendi air  sekonyong-konyong melayang di hadapanku saat aku membuka pintu depan perlahan. Tetapi dalam sekilat gerak kutangkis sampai pecah berkeping-keping. Namun kejadian semacam itu tak juga membuatku jera. Yang bahkan saat di rumah pun masih saja kuputar berulang-ulang lagu rekaman Bangbung Hideung di tape recorder. Ber-kendang penca sambil menimang bayi kami yang baru terlahir beberapa minggu.

"Gandeng atuh, Kang. Bukannya tidur si Neng nya juga malah gogoakan!" Sebegitu kesalnya, sampai-sampai istriku menarik pita kaset hingga kusut. Sempat aku ingin memberikan nama Dewi Ratih pada anak perempuan kami. Tapi tentu saja ditolak mentah-mentah oleh istriku. 

Kala jenuh menyergap, selalu saja terbayang suasana meriah panggung pementasan Ketuk Tilu. Terutama paras jelita milik Dewi Ratih juga goyangan jaipong Nining Demplon sang penari. Dorongan rindu yang begitu menggebu, membuatku melakukan segala cara untuk diam-diam mendatangi pementasan degung milik Gentra Pangasih.

Sampai pada suatu tragedi yang bukan saja membuat aku berhenti menikmati Ketuk Tilu. Namun, menyesal sepanjang hidup, sekaligus dihantui sosok perempuan pemilik suara emas itu. Dihantui dengan maksud yang sebenarnya.  

Malam itu, aku mengendap-endap keluar rumah. Membawa serta lembaran puluhan ribu yang tersimpan di balik jok motor. Bekal saweran nanti. Tempat persembunyian teraman yang tidak diketahui Atikah. Sebagian uang itu, kubelikan seuntai kalung emas sebagai hadiah untuk penyanyi idolaku. 

Desas desus menyebutkan bahwa sang penembang telah melakukan ritual khusus agar pentas kali ini berjalan sukses. Tentu saja dalam hal meraup banyak keuntungan. Para penonton yang terbius akan melempar dengan mudah rupiah demi rupiah yang mereka miliki. 

Bangbung Hideung kembali membahana. Suasana yang lain dari biasanya mulai terasa. Hawa dingin sempat membuat gigil. Kemudian raga milikku seakan diambil alih oleh sesuatu yang menyusupi raga. Hentakan kaki dan gerakan tangan memainkan  berbagai jurus. Diiringi gemuruh tepukan dan sorak. Aku memaksa naik ke atas panggung, menarik selendang milik Nining, penari ketuk tilu yang tengah menunjukkan kepiawaiannya. 

Sudah hampir tujuh putaran lagu namun kami masih belum terlihat lelah. Saling melempar lirik dan senyum. Masih sempat kulihat tatap tajam Ratih yang tak lepas dari kami. Aku tahu dia telah terbakar api cemburu. Hal ini membuatku senang. 

Di putaran terakhir, aku menyerahkan selendang milik Nining. Untuk kemudian bersimpuh di hadapan Ratih. Mempersembahkan segala yang kupunya. Bergantian, Nining yang sekarang mendelik dengan sinis. Lalu memalingkan wajah dan turun dari panggung dengan langkah menghentak.

Ratih menuntunku masuk ke dalam ruang rias. Ia duduk dengan anggun di hadapan cermin rias. Membiarkan saja saat aku membantu melepaskan tusuk konde dari sanggulnya. Sebelum kuuraikan rambutnya, jemariku mengaitkan kalung di lehernya yang jenjang. Membuat parasnya merona, beriring suara yang mengalun manja. 

Malam itu berlalu begitu cepat diiringi rintik hujan yang membuat hawa kian dingin. Sebelum kokok ayam jantan menggema, aku telah sampai di rumah. Untunglah Atikah dan bayi kecilnya masih tertidur lelap. Aku lalu mandi dan merebahkan badan di bale ruang tengah.

"Kang Rahmat, geus apal can? Semalam setelah pentas selesai, Nining ditemukan sudah tewas di kamar riasnya," Kang Nana berseru sambil tergopoh mendekatiku.

Jantungku seakan melompat dari tempatnya berada. Entah kenapa kekhawatiran seketika menyergap. Menurut kabar, keadaan mayatnya sungguh mengenaskan. Beberapa tusukan benda tajam ditemukan di tubuhnya. Tusuk konde milik Ratih si pesinden ditemukan dalam genggaman. 

Terdorong rasa penasaran aku buru-buru mendatangi tempat kejadian. Benar saja, sudah banyak petugas keamanan di sana. Dewi Ratih bersimpuh sambil menelungkupkan wajah di tangan. Menangis sesenggukan. Demi melihatku, ia berjalan dengan kedua lututnya. Memohon agar aku mengatakan bahwa kami bersama semalaman. 

Jauh di lubuk hati tentu saja aku sangat ingin menjadi saksi ketidak bersalahannya. Namun, terbayang wajah Atikah dan bayi mungil kami. Nama baik keluarga Karta Direja yang bakal tercemar gara-gara pengakuanku. Maka aku hanya diam, melihat kekasih hatiku diseret paksa. Kecantikannya memudar, bersamaan dengan wajahnya yang berubah kusut masai. Rambut terurai tak beraturan. Perempuan itu masih saja berteriak-teriak nyaring. Ia memanggil namaku berkali-kali. Kedua matanya menatapku nanar. Memohon untuk diselamatkan. 

Namun aku tetap bungkam. Berbalik arah menuju rumah. Membawa bayang wajahnya yang membuatku tak henti merasa gelisah sepanjang hari dan malam. Tak sampai tiga hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa Ratih menemui ajalnya. Ia bunuh diri, sesaat setelah masuk sel tahanan. Sesak menyekap dada, namun aku bersikap seolah semua baik-baik saja. Meskipun Atikah berulang kali menanyakan keadaanku yang seringkali tak nyambung saat diajak berbicara.

...Aya ucap, paribasa. Sarung bantal mungguh cipruk seep saputangan hiji. Ceurik balas ku nalangsa, abdi nalang…sa. Nguping hujan tengah weungi di imah keueung sorangan. Nguping hujan tengah weungi di imah keueung sorangan… diimah keueung sorangan…

Iya, aku menangis diam-diam. Air mataku tanpa terasa membasahi bantal. Sesal dan kehilangan bercampur jadi satu. Terutama saat tiba-tiba suara melengking Ratih terngiang di tengah malam. Tak hilang walaupun kututup kedua telinga. Wajah secantik bidadari miliknya berubah pucat pasi, menatapku penuh benci. Tak hilang saat aku mengatupkan kelopak mata. Sebab jelas, ia muncul saat kedua mataku terbuka. Menuntunku di gelap malam berhias hujan. Untuk mengikuti langkahnya.

Nyangigir asa gigireun, nangkarak asa luhureun. Nyangigir asa gigireun, nangkarak asa luhureun. Aduh alah iyeung… asa luhureun..

Potongan-potongan lirik lagu Bangbung Hideung berputar ulang di kepalaku. Saat aku memiringkan badan, sosok Ratih menjelma di sisiku. Ketika aku berbaring telentang wajahnya muncul di hadapanku. Membuatku merasa gontai kala berdiri, bahkan terguling ketika duduk. Juga terseok-seok saat berjalan.

Jung nangtung asa lanjung, gek duk diuk asa tiguling. Leumpang asa da nga..long..ke..wang.

Sekarang, setengah abad berlalu sudah. Namun, paras dan suara milik Dewi Ratih masih lekat dalam ingatan. Terutama saat lagu Bangbung Hideung kembali dilantunkan. Dibawakan oleh penyanyi masa kini, di acara televisi, di channel youtube. Membuatku ingin menutup telinga namun sekaligus mendengarkan irama lagu ini.

Diceritakan pada penulis oleh Rahmat di Bandung [Awg]

#lagukenangan