Saat Terakhir

Pixabay.com

Aku mengenalmu secara tidak sengaja. Tidak pernah muncul di dalam pikiran dan hatiku ketika itu, Sinta namamu akan menjadi bagian pengisi hatiku yang selama ini telah membeku. 

 

Kegagalan cinta yang selalu berulang menjadikanku "males" menjalin hubungan yang lebih dekat dengan gadis-gadis lain yang muncul belakangan di dalam kehidupanku.

 

Hatiku masih luka akibat penghianatan terakhir dari seorang gadis yang benar-benar kucintai. Sayang cinta murni milikku dibayar dengan tuba yang beracun.

Aku jatuh bergelimang luka dan penyesalan, hati tertoreh tajamnya sembilu lewat cinta palsunya.

 

Luka lama sudah sembuh walau masih terkenang mengguris tak pernah hilang.

Muncullah kamu, Sinta gadis yang kuharap menjadi labuhan cintaku yang terakhir.

 

*

"Maaf, siapa namamu?"

 

Dalam segan tanpa berharap akan lanjutan kisah yang lebih mendalam. Sedikit dingin, aku bertanya siapa namamu?

 

"Sinta, Mas."

Jawabmu pendek dengan suara lembut yang mengejutkan aku. Suaramu memantul mengisi ruang kosong mati yang selama ini berjelaga gulita.

 

"Aku, Jagat. Panggil saja, Pak Jagat."

 

Timpalku lebih berkesan formal dan cenderung kaku. 

 

Tapi balasan ucapanku ternyata tidak mengurangi sedikitpun kelembutan suaramu bahkan kelembutan hatimu karena aku lagi-lagi terkejut melihat binar mata dan senyummu yang terkembang manis tanpa cela.

 

*

 

Hubungan antara atasan dan bawahan ternyata membuat kita sering bertemu. 

Aku sudah berusaha mengusir bayangan perkenalan pertama yang membuatku seketika jatuh cinta padamu tapi hampir tiga bulan lamanya perasaan itu sengaja aku ingkari. 

 

Semakin diingkari, perasaan itu malah semakin merajalela tidak terbendung. Melihat kelembutan suara dan hatimu meski aku menemukan bahwa kamu terlihat begitu rapuh. Sehingga tanpa sadar hasrat untuk melindungi dan menjagamu mengalahkan sekuat apapun hati ini mengingkari keberadaanmu dan cinta yang menyala seketika saat pertama bertemu.

 

Aku sebenarnya hanya butuh waktu sejam saja untuk mencintaimu tapi karena kenangan luka lama membuatku mati-matian menisbikan perasaan cinta yang meruah rasa.

 

Sampai akhirnya, aku tak kuasa memendam dan menolak lagi hasrat cinta yang menggelora meski kali pertama tanpa kuduga, kamu menolak cintaku. 

 

"Jangan, Mas. Nanti Mas Jagat akan menyesal."

 

Kalimat penolakan yang membuatku seperti orang gila, karena aku tahu kamu sebenarnya mempunyai perasaan yang sama. Tapi, entah mengapa kamu malah berusaha menepis uluran kasihku.

 

Penolakanmu tidak membuatku patah arang. Meski kamu menolak perasaanku tapi keberadaanmu masih terus ada didekatmu tanpa ada hasrat untuk jauh menghindar. Aku merasakan bahwa aku masih tetap mempunyai kesempatan untuk mendapatkan cintamu.

 

Sampai akhirnya kamupun menyerah dan menerima cintamu walau dengan ungkapan kalimat yang sama seperti waktu itu.

 

"Aku juga sebenarnya mencintai mas Jagat tapi aku tidak ingin membuat mas Jagat sedih dan menyesal."

 

Kata tang bersayap penuh arti tapi karena aku sudah dilambungkan oleh perasaan cinta dan bahagia karena penerimaan cinta darimu, aku jadi abai akan segala sesuatunya.

 

Aku lupa bahwa pernah aku menemukanmu terlihat begitu rapuh, sehingga aku ingin menjaga dan melindunginya.

 

*

 

Benar saja, apa sudah kamu lepas sebagai sinyal halus tapi karena kebodohan dan kemabukpayanganku aku tidak menyadarinya. Sehinga…

 

Cinta asmara begitu penuh pesona

Waktu terasa bergulir begitu cepat

Menandai pagi, siang, senja kembali ke malam

Kemesraan yang hangat penuh mentari

Membuat hati ini di dalam indahnya musim semi, begitu melenakan

Begitu menjerat pikat

Lalu, tanpa ada pesan tanpa ada gelagat

Tak pernah sedetikpun aku pernah membayangkan jatuhnya saat perpisahan

Tak pernah sedikitpun aku pernah memikirkan datangnya saat terakhir

Yang mencampakkanku dalam hening kesendirian

Menjeratkan dalam gelap rasa kesepian

Ingat! Tak sekalipun

 

Semua hanya buraian kata hilang makna.

 

Aku tak pernah

Tak terpikir olehku

Tak sedikitpun ku bayangkan

Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

 

Semua hanya luruhan diksi hilang arti

 

Begitu sulit kubayangkan

Begitu sakit ku rasakan

Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

 

Aku terjebak disini, menyesali setiap mili detik saat terakhir

Adamu di sisiku meluap purna

Adamu di sisiku melayang sirna

Kau pergi secepat itu, membawa cinta milikku, tak akan pernah kembali

 

Airmata begitu habis meleleh perih

Menyadari kepergianmu bukanlah sekedar mimpi

Taburan mawar putih di atas tanah merah

Dan wewangian mawar yang mengabutkan rasaku

Ini pertanda.

 

Sinta ternyata kamu benar rapuh seperti pertama kulihat dulu. Ada pertanda tapi aku kurang bijak dan terlalu buta karena asmara cinta.

 

Akhirnya kanker laknat membuat petaka di kehidupanku yang penuh warna. Merebut Sinta dari pelukan dan cintaku.

 

Di bawah batu nisan kini

Berbaringmu dalam diam dan kesepian

Kau tlah sandarkan

Kasih sayang kamu begitu dalam sungguh.

 

Hingga pemilik rasa kasih nan Abadi memilihmu dan membawamu pergi

Cinta yang kumiliki tak mampu menghibur luka ini

Aku tak sanggup melupakanmu, sungguh

Ini terjadi karna aku sangat mencintaimu

Di saat terakhir sudah hilang kata-kata

Di saat terakhir hilang sudah asa harap

Inilah saat terakhirku melihat kamu

Dalam balut warna mawar yang meranum segar

Jatuhlah air mataku dihelai kelopakmu

Setegar apapun aku, akhirnya menangis pilu kehilanganmu

Kekasih Tuhan mencintaimu lebih sangat

Membunuh rasa hasrat untuk memilikimu walau hanya sesaat

Batin menjerit, bibir kelu membatu

Hanya doa dan kepedihan , dalam bait-bait bisu tak mampu hati perih, ucapkan

Selamat jalan kepadamu kekasih

 

Cintamu begitu memutih mawar

Asmaramu begitu merona dadu mawar

Melihatmua adalah sebuah takdir, hingga hanya butuh sesaat saja,

Butuh satu jam saja kutelah bisa mencintaimu 

Aku, kamu, cinta adalah ikatan yang nyata yang mematri kuat di hati.

Bagaimana aku bisa melupakanmu

Dengan begitu indah cinta yang kau miliki

Begitu tulus setia kau jaga

Hingga, terpaksa sudah melupakanmu

Adalah kesanggupan yang tak berani ku akui

Sebulan, setahun atau seumur hidupku, aku mungkin tak akan bisa melupakanmu

kamu

kamu

di hatiku

 

Ada getir

Ada perih

Ada luruh

 

Semangatku hilang terbang!

 

Saat terakhir melihatmu

Saat terakhir kebahagian mengisi hatiku?

 

Aku kembali terpuruk sendiri dalam asmara luka!


 

#lagukenangan

Lagu: Saat Terakhir: Setia Band