Ayah

Pixabay

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Tiap mendengar lagu atau apapun yang mengenai perjuangan seorang Ayah, membuatku terbayang wajah lelahnya. Tangan semakin berkerut ditapaki beban menafkahi keluarga.

Pengorbanan waktu, peluh, dan kepala seolah dibenturkan tiada henti demi anak-anak dan istri. Ayah adalah alasan mengapa aku ingin terus bersekolah. Berharap, jalan pendidikan dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Selalu kubayangkan, ayah duduk bersantai tanpa tunduk memijit kening lagi karena memikirkan, "besok, kita makan apa? Tinggal dimana?"

Aku lahir di sebuah perumahan salah satu perkebunan karet. Ayahku bekerja sebagai karyawan di kebun. Beliau pun mendirikan bengkel kecil untuk sampingan. Hingga aku menginjak usia belasan tahun, beliau masih saja berusaha menambah alat pencaharian, membeli mobil truck.

Kami, serumah bersama nenek, kakek, bibi, beserta ibu dan kedua saudara laki-lakiku. Hanya ayah yang bekerja di beberapa masa, lalu dibantu oleh kakakku.

Beberapa kali merasakan kelaparan, tetapi tak ada yang lebih tersiksa daripada ayah. Beliau tetap bekerja pagi hingga malam dengan perut kadang kosong. 

Saat aku berusia tujuh belas tahun, ayah jatuh sakit. Ibu mencoba melarangnya untuk tak bekerja, tetapi ayah tak mendengar karena kebutuhan hari-hari dan tanggungan lain harus dipenuhi. 

Hari demi hari, ia masih bekerja. Tiga bulan, ia mulai sangat lemah, terus menggigil dan tubuhnya kurus. 

Lebih tiga bulan, aku merasakan sesak tiap melihatnya hingga berusaha menjauh. Tak ada senyuman manis dari ayah saat pulang sekolah. Ia terus berbaring di kamar.

Sore itu, aku dibangunkan nenek, "bangun, Nak. Bapakmu ingin dibawa ke Rumah Sakit. Ia tak kuat menahan sesaknya."

Kubuka mata lebar-lebar. Duduk bersandar di bahu ranjang. Jantungku tak berdamai, terus memukul dada. 

Ketika kulihat ayah terlentang melipat tangan, aku berusaha menahan tangis. Mata sayunya itu tak kuasa aku menatap. Kembali aku menjaga jarak, seperti ada batu yang terhempas di tengah dadaku. Sakit sekali. Serasa ada tali mencekik tenggorokan.

Mobil datang menjemput ayah, beberapa pria mengangkat tubuh kurus ayah yang tampak tersisa tulang. Aku tak ikut karena harus sekolah. Tersisa bibi saudari ibu dan suaminya beserta nenek. 

Saat aku masuk ke toilet untuk membasuh wajah, terdengar suara wanita menangis. Buru-buru keluar dan bertanya, "siapa yang menangis?"

Bibi dan paman mengernyit heran, mereka saling menatap. "Ah, kau salah dengar, Nak," ucap pamanku dengan santai.

Terdengar jelas suara tangisan itu, tetapi aku hanya diam dan masuk ke kamar. Menutup pintu rapat. Duduk di sudut ruang dekat lemari. Kupeluk lutut erat-erat dan menangis.

Kuraih gawai dan mengetik, "Bapak dan Mamaku masuk rumah sakit." 

Aku mengirim pesan pada gadis di dunia maya. Kenal di media sosial.

"Sabar, Anty." Aku hanya membacanya. Entah, aku tak mengingat banyak percakapan kami.

Setelah sedikit lega, aku keluar kamar dan tidur di dekat nenek, ibunya mama.

Kupejamkan mata. Tak lama, bibi yang mengantar orangtuaku di Rumah Sakit, ia mengatakan, "Kakak sekamar dengan Mamanya Anty."

Bibi, istri sudara ayah membicarakannya pada Nenek. Aku hanya di kamar mendengar sekilas.

Tak dapat tidur. Aku bersiap ke sekolah menaiki angkot. Di perjalanan, bayangan wajah ayah terngiang-ngiang. 

Uluh hatiku terasa sakit, hingga pulang sekolah. Aku tak bisa makan beberapa suap. Hambar, mengalahkan pahit lidah saat sedang demam.

Aku dibawa hendak ke Rumah Sakit karena bibi bilang, "Bapakmu akan di-operasi. Kamu minta izin tidak hadir sekolah dulu untuk beberapa hari."

Di perjalan ke Rumah Sakit, terasa sangat jauh. Aku memandangi tepi laut. Berharap, usai operasi, ayah kembali sehat dan tak perlu bekerja berat. Kelas 3 SMA, setelah lulus, aku ingin bekerja saja membantu ayah.

Tiba di sana, aku menunduk. Takut melihat banyak orang sakit atau terluka. Terlebih aroma di Rumah Sakit membuat mual. 

Saat memasuki ruangan, kulihat ibu memakai selang infus. Aku melewati tirai hijau, tampak ayah begitu sesak. Orang-orang menangis. Aku bingung. 

"Dimana kami akan tinggal ..." lirih ibu menangis dipeluk saudarinya.

"Anakku sudah mau mati," ujar nenek, mertua ayah histeris, tetapi orang menenangkannya.

Sementara aku, duduk di ranjang pasien kosong. Entah, aku merasa, waktu itu adalah mimpi. Sebagian ingatan terhapus.

Di dalam mobil ambulance, aku terdiam di dekat ayah. Kakakku yang memangkunya.

"Bapak!" teriak kakakku menangis mencium kepala ayah yang ditutupi kain.

Kulantungkan nama Tuhan dalam hati. "Ini mimpi," berulang kali aku berpikir seperti itu.

Tiba di rumah, banyak orang di depan dan di dalam rumah. Aku turun dari mobil paling akhir. Berjalan pelan, masih meyakinkan diri. Bertanya, ini mimpi atau nyata?

Bibi keluar menghampiriku. "Keponakanku ..." ujarnya menangis memeluk.

Aku hanya diam. Dibawa ke dekat ayah. Namun, aku memilih jauh, duduk di dekat jendela. Tetangga bergantian mengusap kepalaku. Sementara kakak, ibu dan lainnya histeris.

Kepalaku sakit. Diberi sela, aku mendekati ayah dan mencium keningnya. Orang-orang semakin menangis melihatku.

Teman-teman kecilku tampak menjatuhkan air mata melihat diriku.

Aku berbaring di dekat nenek, ibunya mama. Ia memijit kepalaku. Kutatapi rak baju milik ayah, "ini mimpi, saat aku membuka mata. Bapak berdiri menyuruhku bangun dan berangkat sekolah seperti biasa."

Suara tangisan nenek menggelegar. Aku terbangun dan melihat ayah masih terbungkus kain putih. Hancur sekali. Tuhan benar-benar mengambil ayahku seperti merenggut adik perempuan yang kuidam-idamkan.

"Bagaimana aku bisa hidup tanpa Bapak?"

Hingga ayah dimakamkan. Hingga kematian ayah yang keenam tahun, aku masih tak percaya ini nyata. Berulang kali aku terjatuh sakit karena depresi. Berulang kali aku berusaha mengakhiri hidup tak sanggup memikul beban. Ketakutan akan ibu yang meninggalkanku seperti lainnya. Berpadu, melemahkan tubuh. 

Detik ini, aku pun tak bisa membedakan nyata dan mimpi. Berbagai bayangan menjerat.

Judul lagu : Titip Rindu Buat Ayah

Pencipta : Ebiet G. Ade

#lagukenangan

Sumber gambar : Pixabay