Elegi Bulan Bintang

Gambar ilustrasi: Pixabay

Sebait doa melangit di kebisuan malam. Terlihat ufuk Selatan agak redup terbalut awan kelabu, mungkin pertanda hujan akan datang. Namun, ada setitik terang di antara bentangan hitam, semakin mengecil hingga akhirnya hillang tertelan kabut kelam. Bila di atas sana tersemat pesan kehilangan, itulah ayat rinduku pada malam-malam berikutnya.

Lain di sini, bumantara di atas tempatku berpijak saat ini tampak riang dengan kerlip gemintang. Aku membuat garis khayal, membentuk sketsa yang indah merona. Mulai dari satu titik bintang ke bintang-bintang lain yang berdekatan. Berakhir di titik yang sama, aku berhasil melukis angkasa malam. Begitu sempurna keindahan yang terlewatkan pandangan. 

Ingatan mengunggah kembali kilas balik kenangan. Apa yang harus dan tidak harus kuredam, ketika dihadapkan pada emosi sedih yang melampaui batasan?
Kesiapan, tentu masih dipertanyakan.
Hingga rindu meradang, tunggulah tiba kerelaan! Saat inilah aku dalam kesanggupan. Sebuah tanggung jawab yang tak pantas kusebut sepele, sebab satu tuntutan bila pena hitam putih telah tersirat lalu tersurat.

Ketika risau berhamburan mengharap kedamaian, kutitipkan satu asa kepada awan yang tertiup angin, agar menyampaikan nada-nada rinduku teruntuk dia. Katakan padanya bahwa aku tak pernah benar-benar pergi meninggalkan. Tembang malamku selalu menemani, mata hatiku senantiasa mengawasi dari balik tirai rahasia. Berharap dia baik-baik saja dan tidak terlihat tangis kekalahan.

Pernah ingin kulupakan semua tentang dirinya, namun kini tergugah kembali. Sempat lama kuredam jemari yang terbiasa menari di atas kanvas keheningan. Kita pernah bersama di satu masa, ketika musim rintik begitu lebat, hingga gelora melampaui derasnya hujan. Selarik puisi terakhirnya, menarik naluriku menelusuri jejak-jejak tertinggal di lorong hampa antara bumi dan langit. Lorong keraguan.

Hingga suatu hari kudapati potret kesedihan, tersenyum letih menahan perihnya sakit. Dia terluka karena asmara terpendam, terpanah busur yang dilesatkan dengan bara gelora secara tergesa-gesa. Hingga harapan terburai berantakan dari ambisi yang tak terbantahkan.

Dia seperti deras hujan. Menyiram bumi dari kelabu debu berhamburan, aku menyukai itu. Namun bila derasnya disertai pekikan petir, sambaran kilat yang bergemuruh riuh, aku sembunyi di balik selimut malam. Aku tak bersahabat dengan ambisi gelap, aku tak mau bersama dalam gelegar kericuhan. Kupilih menghilang seirama waktu tak ditentukan.

Lidah ini kelu untuk berucap bahwa aku menyayanginya sejak dulu, dari awal bertemu. Rasa sayang yang mungkin membuatnya tergores perih, luka karena keangkuhan, penolakanku untuk merangkulnya saat itu. Sekarang hati ini tersayat sembilu bersama rinai air mata. Mengingat Ia telah tiada.
Kini ada rintihan sesal, ingin kurengkuh, kupeluk dia namun yang teraba hanya sosok bayangan hampa.
Kutambatkan do'a bersama maaf atas salahku, kudekap sedihnya dalam lirik sendu untuk mengiring perjalanan menuju istana terakhirnya. Maafkan aku, maafkan lalaiku.

Kusayangi dia dengan cara yang kurang menyenangkan, tapi sejujurnya itu hanya lidah yang pahit. Kenyataannya tak sekeras kata-kata, aku memperhatikan dari sudut diam. Andai dia mengerti bagaimana kesungguhanku, tentu tak akan tertambat kekecewaan. Aku hanya berharap dia mencari pengganti, karena ketidaksanggupan dayaku memenuhi keinginannya saat itu.

Aku tak pernah sanggup mendengar ratapan, itu bukan penolakan. Tetapi agar dia tak berlebihan dengan keluhan. Tenanglah, bersabarlah dengan senyuman. Jangan berteriak selama masa tak begitu menyenangkan. Percayalah, aku mengerti pesan terdalam, lebih kupahami isyarat senyap pengharapan. 

*

Keesokan petang, kupandangi lagi langit sore di ambang malam... dan hujan senja menyudahi kelabu hamparan awan. Berharap gerimis tidak kelamaan, agar aku bisa melihat bentuk paling terang di antara ribuan bintang malam. Biarkan raganya tertanam di bumi kedamaian, namun jiwanya melayang hingga ketinggian batas juang meraih kemenangan. Di angkasa tak berawan, aku menanti dengan uluran tangan siap menggenggam harapannya untuk bersinar. Di sanalah abadi kesetiaan, di mana rembulan dan bintang berdampingan, bersama selama malam masih berlangsung.

Jauh dari ujung Utara sini, aku ingin dia mendengar nyanyian kecil. Tembang elegi yang cukup lama tidak kunyanyikan bersama petikan gitar kesayangan. Lama terkubur dalam kenangan usang bersama kesedihan sang pemiliknya, Gaby "Tinggal Kenangan", 2007. Sebuah lagu tanpa judul yang masih menyimpan misteri hingga kini. Seperti juga dirinya, gadis remaja yang sedang bersinar kemudian meredup karena bilur abu-abu atas tekanan cinta diam dan cita-cita yang belum kesampaian.

Kepergian yang menyiratkan garis kelabu, mungkin ada urusan belum sempat tersingkap, atau sekadar pesan sederhana sebagai alamat kesaksian hidup. Hingga saat terakhir dia (almarhumah) hadir mengingatkan pesan kenangan padaku, masih tetap satu misteri belum terjawab. 

Andai kini aku adalah rembulan, ingin merangkulnya dari gigil sunyi. Sinarku mungkin tak sehangat mentari seperti pria yang didambakannya. Namun mata teduh dan anggun sang Bulan, akan mendekapnya dengan kelembutan seorang Ibu kepada anak perempuan. Meski dia bukan putri yang terlahirkan dari rahimku, namun pernah begitu dekat dalam satu arena derap langkah perjuangan. Saat itu terpaksa kulepas satu bintang untuk kejora yang lain, demi menyelamatkan persaingan tak karuan. Kubiarkan dia bergejolak bersama yang lain dengan cara yang sesuai keinginannya. 

Hingga detik terakhir, tiba di titik ujung pencapaian, terdengar kabar kelelahan. Ia terkulai lemas di antara gelimang hasrat dan juga ujian sakit dari-Nya. Tuhan Maha Mengetahui yang terbaik untuknya, orang-orang tersayang cukup mengagumi semangat juangnya. 
Dan aku, tertancap perih atas waktu yang tertunda di belakang panggung drama kehidupan. Kuharap peristiwa ini tidak melahirkan sesal berkepanjangan, semoga Tuhan memberi ruang untuk saling memaafkan atas kekeliruan yang pernah terjadi.

Kusemogakan dia tak lagi merintih, kuingin dia tersenyum dan bahagia di tempat terindah pembaringan abadi. Kurayu bidadari malam, kupinjam suara lembutnya, kutempati ruang cahaya purnama untuk melukis langit Selatan. Agar dia tergugah dari redupnya lalu bersinar terang di antara gegap gempita kejora. Kupanggil dia, Bintang.

Ingin kulupakan... semua tentang dirimu... namun tak lagi-kan... seperti dirimu oh bintangku.

***

Misteri Lagu Kenangan - Jakarta, 25 Juli 2021 (tiga bulan setelah kepergiannya).