Cerita Misteri - Sepasang Mata

ilustrasi: kompasiana.com

Mataku mengerjab beberapa kali. Mencoba menyesuaikan netra dengan terang  cahaya lampu.  Kutengok jam di atas nakas, pukul tiga dini hari. Aku beranjak, ada sesuatu yang meronta ingin segera dituntaskan. Sesegera mungkin kuselesaikan hajat di kamar mandi. Ada yang beda, udara terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. 


Sudah sejak seminggu lalu aku tinggal di rumah nenek. Letaknya nun jauh di pelosok Provinsi Sulawesi Selatan.  Desa kecil bernama Pajekko. Ada yang belum bisa kupahami di sini. Di tengah geliat zaman yang modern  seperti saat ini,  masih ada tempat-tempat yang menjunjung tinggi  hal di luar nalar manusia. Tak boleh ini, tak boleh itu. Jangan begini, jangan begitu. Aku tahu, tradisi perlu dilestarikan. Ia serupa pakaian yang melekat  pada tubuh Ibu Pertiwi. Tradisi unik yang menjadi daya tarik untuk terus dikunjungi.  


**


Dua hari sejak kedatanganku di sana, sejak pagi nyaris seluruh keluarga sibuk menyiapkan berbagai jenis makanan. Kupikir, mungkin ada semacam jamuan makan siang untuk keluarga besar melihat begitu sibuknya mereka di dapur. Mengiris, memotong, merebus, menggoreng.  Aku yang hendak memuaskan dahaga selepas joging berkeliling kampung dibuat terperanga.  Apa memang selalu begitu ketika ada keluarga  yang ‘pulang’ setelah sekian lama? 


Daeng, sampe mana jhi tadi olahraganya?” suara gadis kecil membuyarkan pikiranku.


“Pasar yang ada di ujung jalan desa. Maunya tadi Diana temani kak Melisa joging sekalian kita keliling kampung. Udah terang begini baru bangun,” selorohku.


Diana, sepupu terkecil di keluarga besarku tersenyum malu. Gadis kecil itu sejak kemarin dengan antusias bertanya mengenai kota tempatku menetap. “Cepat mandi. Semuanya sudab disiapkan." Aku menoleh ke asal suara. Puang Lia, adik bungsu ibu menghampiri kami.


“Iyye, Puang. Kita mau kemana?" tanyaku bingung.


“Nanti kamu tau.
Kuulurkan tangan meraih handuk dijemuran.  Tak banyak bertanya lagi kemudian menyelesaikan mandi pagiku yang kesiangan secepat mungkin. Aku sudah siap dengan gamis polos dan jilbab instan, tas kecil tersampir pada pundakku. 


“Let’s go!” kataku antusias. Kepala mereka serempak menoleh ke arahku. Tepatnya meniti penampilanku dari atas sampai ujung kaki. Aku mengernyit, apa aku salah kostum? 


“Ayo berangkat, sudah siang!" Puang Mansur mengintrupsi. Dua mobil sewaan paman membawa kami ke pemakaman yang tak dau dari rumah. Mengunjungi nenek dan kakekku dari ayah. Seorang lelaki yang dituakan oleh keluarga kami memimpin do’a.   Dengan khusyuk tangan menengadah hingga tak tak terasa pipi mulai basah. Ada rindu menggeletar meski tak sekalipun pernah berjumpa mata dengan mereka.  


Mobil kembali melaju membela jalanan  desa.  Sesekali badan harus waspada ketika  ban mobil terperosok dalam lubang yang dalam. Wajah pembangunan yang belum merata. Lelah menyerang, sudah tiga pemakaman yang kami kunjungi. Berharap kali ini mobil membawa kami ke suatu tempat yang nyaman sekadar beristirahat namun lagi-lagi aku harus kecewa. Setelah melewati jalan kota, mobil justru belok masuk jauh ke dalam perkampungan lain. Berjalan pasti dan kemudian perlahan menepi. Dengan bingung aku melangkah turun. Kami berada di antara lebat pepohonan, seperti lembah dengan tebing-tebing tinggi. 
Puang Lia menggamit lenganku. Sementara rombongan keluarga lain berjalan lebih dulu. Aku berdecak kagum pemandangan indah yang  luar biasa. Hamparan pohon hijau sejauh mata memandang.  Kuseka peluh yang mengalir diwajah, sudah tiga puluh menit berjalan namun belum ada titik terang tempat yang dituju. Kemana sebenarnya mereka mengajakku? 


 “Puang, masih jauh yah?” tanyaku pelan. Sedari tadi Puang Lia yang menuntunku, jalan menanjak, turunan curam dan beberapa kali harus melewati pohon tumbang. Matahari sudah berada tempat di atas kepala tapi mereka seperti tak lelah untuk terus berjalan semakin jauh masuk ke dalam hutan.


“Tahan yah, sebentar lagi,” katanya sembari tersenyum. Aku mengangguk berharap yang dikatakan tante memang benar.  Badanku terlalu kaget untuk trip panjang ditambah lagi tadi tak sempat sarapan.  


***
Aku merenggangkan  badan. Menghirup dalam udara pagi yang begitu segar lalu mengembuskannya pelan. Mulai melakukan sedikit pemanasan kemudian bersiap  joging mengelilingi desa.  Suasana memang masih gelap tapi beberapa penduduk sudah mulai melakukan aktivitas.  Beberapa penduduk yang berpapasan denganku menyapa ramah, aku berhenti sejenak  demi menjawab sapaan mereka. Mereka sudah mengenaliku terlebih nyaris tiap hari selepas subuh mendapatiku lari seorang diri.


“Betah tinggal di sini?” tanya ibu sepuh yang sedang menyapu daun mangga di halaman rumahnya.
“Iyye, Puang. Enak tinggal di sini, udaranya sejuk.” jawabku sambil tersenyum. 


“Gak ketemu yang aneh-aneh ‘kan?”  Aku menautkan alis, aneh-aneh  apa? Dia mengulas senyum coba  meluruskan maksudnya yang  justru terdengar  ‘aneh’ di telingaku.  Dengan sopan aku pamit melanjutkan acara lariku yang terhenti.  Setelah dua puluh menit berlari aku mulai berjalan santai, menormalkan kembali detak jantung. 
Perkataan ibu tadi terus terngiang di kepala. Apa ada hubungannya dengan perkataan puang kemarin? 


***
Aku menghela napas panjang setelah penolakan terang-terangan yang kulakuan kemarin, beberapa keluarga mulai menjauh.  Mencibir dan menghadiahkan kalimat menohok.  Berziarah ke makan dan mengirimkan do’a aku tidak masalah. Justru bagus untuk mengingatkan diri, ada kehidupan lain yang menunggu setelah di dunia ini. Hanya saja, untuk ritual sesajen dan memberi makan pada  penunggu perairan itu ... aku takut. Sesuatu dari dalam hatiku menolak. Puang Lia berusaha membujuk, tapi aku enggan melakukannya. 


Aku menatap miris makanan yang meluncur cepat ke dalam air. Sementara kulihat anak-anak  berlomba terjun mencoba peruntungan mereka. Aku memilih duduk, hanya memperhatikan dari jauh bahkan tak peduli dengan tatapan sinis yang dilayangkan padaku. 


Ampuni yaa Allah belum mampu hamba menjelaskan pada mereka, aku membatin pilu. Di perjalanan pulang kuhabiskan dalam diam hanya sesekali menimpali pertanyaan yang diajukan puang Lia. Iya, hanya adik bungsu ibu yang bersedia mengajakku bicara.  Sesampainya di rumah lekas kusambar handuk, perjalanan panjang yang menguras banyak pikiran dan keringat. Setelah sholat isya kuputuskan untuk memejamkan mata. Merebahkan lelah yang menggerayangi tubuh. Belum lagi pernyataan mereka tentang sesuatu yang membekas dalam ingatanku.


“Berdo’a saja tidak terjadi apa-apa.” 


***


Kucoba menghalau dingin dengan menggosok kedua telapak tangan.  Perutku meraung, ah, aku baru ingat karena terlalu lelah bahkan tak terpikir untuk mengisi perut terlebih dulu. Tanganku terulur menuang air dalam gelas, meneguknya pelan. Semoga saja air putih bisa menganjal perutku hingga pagi menjelang.  Tak ingin mengganggu lelap orang dengan keributan di dapur apalagi waktu masih menunjukkan puluk tiga lewat lima belas menit dini hari. Kutandaskan cairan bening dalam gelas. Baru hendak beranjak kembali ke kamar, perasaan tak nyaman meliputiku. 


Aku kembali duduk, menatap sekeliling mencari sesuatu. Kuedarkan pandangan ke segala penjuru. Lalu mataku tertuju pada satu sudut di atas jendela. Pada ruang yang tak tertutup papan. Kutajamkan penglihatan dan seketika tubuhku menegang. 
Di antara pekatnya malam sesuatu berwarna merah mengawasiku. Tubuhku menegang, antara terkejut dan penasaran terus kutatap lekat sudut itu. Tidak salah lagi! Seketika bibirku melafazkan dzikir. Lalu melantunkan ayat kursi dengan suara lantang.


"Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


Aku menatap lurus sudut itu sembari terus mengulang lantunan ayat kursi. Kulihat merahnya semakin terang dan hitam di tengahnya kian melebar. Tapi semakin yakin aku dengan bacaanku. Jika memang 'dia' yang dimaksud oleh keluargaku dan ibu tua itu maka, aku percaya kekuatan Allah jauh lebih besar.

Setiap kali kuulang membaca ayat kursi semakin bertambah keyakinan dalam diriku. Entah berapa lama, hingga kulihat warnanya mulai meredup dan seketika kuteriakkan takbir. "ALLAHU AKBAR!!!" 


Kemudian sepasang mata itu hilang. Seperti ditelan malam. 

 

Notes: 

* Daeng : kakak dalam bahasa bugis

* Puang : tante atau om