Ndes Gondes

Pixabay.com

Siapa yang tak kenal sama Gondes. Preman dari Tanah Sereal yang sangat ditakuti. Entah sudah berapa lembar nyawa melayang di tangannya. Hanya dia yang tahu. Bukannya preman atau penjahat yang tak tersentuh,  Gondes sudah kenyang masuk keluar penjara.

Seakan ia mempunyai kepribadian ganda saja. Di luar ganas dan keji seperti jelmaan iblis sendiri.

Kalau sudah tertangkap dan dibui, 1000 derajat perubahannya. Bagaikan malaikat layaknya ketaatannya.

Tapi di dalam hati siapa yang tahu?

Gondes sudah tidak pernah turun tangan sendiri, kegiatan sehari-hari, operasionalnya ditangani oleh anak buah preman yang lusinan banyaknya.
Rutinitas, seperti jatah reman pasar, tukang parkir, dan jasa keamanan tipa-tipu.

Gondes mengurusi masalah yang lebih berat dan mempunyai resiko tinggi. Antara hidup mati, dan  nyawa sebagai taruhnya.

Kehidupannya yang keras dijalani dari kecil, membuat dia belajar melakukan segala cara untuk sekedar bertahan hidup.
Dari kebutuhan saja berubah menjadi kenikmatan dan ketagihan menjerat hidupnya.

Lembah hitam adalah tempat berkubangnya. Segala kejahatan, dan judi prostitusi adalah sisi terkelam hidupnya.

Namun semenjak ia mengenal Intan Maharani, hidupnya menjadi gelisah.

Gadis cantik berhijab yang mengajar ngaji di Musholla kecil tak jauh dari tempat mangkal Gondes.
Si Cantik yang menyempatkan diri mengajar  setelah seharian bekerja di Percetakan.

*

Gondes dengan jantan menyatakan cintanya kepada Intan si Bidadari.
Intan tidaklah terkejut, karena ia menyakini cinta milik siapa saja. Cinta juga datang untuk siapa saja.

"Abang, berhak menyatakan cinta. Dan meminta Intan menjadi istri Abang. Boleh saja, Bang.
Intan hanya minta satu syarat sebagai tanda kesungguhan Abang.
Tinggalkan masa lalu dan masa sekarang Abang. Hiduplah dijalan Allah," jawab Intan sederhana, lugas, tegas dan tidak bisa ditawar.

*

Gondes bertekad merubah hidupnya. Ia hampir tidak percaya Intan menerima cintanya.
Ia akan berubah, tapi setelah urusan yang satu ini, janjinya.

*

Sepertiga malam yang sepi menggantung. Dikejutkan oleh suara tembakan.

"Dooor... Door...Door... Auhh," tembakan menyalak dan suara keluhan terdengar.

Intan habis saja selesai  sholat Tahajud. Diaturnya mukena dan salatlah, kemudian berdoa.



Saat khusyuk berdoa, mohon untuk diberi ketetapan hati atas pilihannya. Bermohon kepada Allah dan kembali bersujud, memohon Ridla-Nya.

 

Masih dalam berdialog dengan Allah, sosok tubuh jatuh di samping duduknya bersimpuh.

Sosok yang semula tidak dikenali, karena wajahnya tertekuk dan tangannya yang kanan membekap dadanya yang berlumuran darah.

Ditengadahkan wajah sosok itu. Wajahnya yang pucat pias, dengan mata berputar menahan sakit, terbata bisiknya.

"Intan, maafkan, aku"
 

Pagi yang melayang dingin sepi,
Mengabutkan perasaan yang nyeri
Allah menjawab doanya.

 


Selamat Siang

Jagat Alit