3 Wonder Women dari Jepara

Pixabay.com

3 Wonder Women Asal Jepara

Jepara adalah kota kecil yang ada di ujung utara Jawa Tengah. Terkenal sebagi penghasil kerajinan ukir kayu jati atau mebel yang terkenal ke seluruh dunia.

Bicara tentang Jepara kurang asyik dan nikmat jika tidak menjelajah jauh ke masa silam untuk mengetahui dan mengenal asal usul dari Kota Jepara.

Asal muasal nama kota Jepara dikenal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara. Asal perkataan ini yang kemudian menjadi Jepara.

Jepara sendiri mempunyai arti sebuah tempat pemukiman para pedagangan yang berniaga ke berbagai daerah.

Setelah mengenal asal usul nama Jepara, selanjutnya, mari mengenal cikal bakal tokoh-tokoh pentingnya.

Ada 3 wanita perkasa yang menjadi tokoh panutan, pembangkit semangat, selalu menyadarkan bahwa nenek moyang rakyat Jepara bukanlah orang sembarangan.

*

 

1. Ratu Shima

Ratu Shima penguasa Kerajaan Kalingga yang bertakhta sejak 674 hingga 695 Masehi itu konon sudah terkenal di berbagai penjuru, hingga ke luar Jepara, luar pulau, bahkan sampai ke negeri-negeri lain yang jauh.

Seorang pengelana dari Tionghoa yang bernama I Tsing pernah mendarat di sebuah bandar kecil di Utara pulau Jawa yang ia yakini sebagai negeri Holing, atau Kaling, atau kerajaan Kalingga. Atau disebut Japa atau Jawa. Kalingga dipimpin oleh raja wanita cantik, pemberani, tegas dan kaya raya yang bernama Ratu Shima. Kerajaan Kalingga diyakini berada di lokasi Keling, kawasan di sebelah Utara Timur Laut dari Kota Jepara.


Ratu yang sangat tegas, sampai-sampai akan menghukum mati putera mahkotanya sendiri karena tanpa sengaja menendang kantung emas yang sengaja diletakan Ta-Shih raja dari Timur Tengah ini datang ke Kalingga untuk menguji kejujuran rakyat Kalingga setelah berbulan-bulan tidak ada yang mengambil.

Ratu Shima semula menjatuhkan hukuman mati terhadap putra terkasihnya itu. Namun, para pejabat dan keluarga istana meminta keringanan kepada sang ratu agar sang pangeran diampuni kesalahannya.

Menurut Ratu Shima hukum harus tetap ditegakkan, kaki yang salah. Kaki pulalah yang dihukum. Pangeran Narayana akhirnya dihukum potong kaki.


Ratu Shima adalah isteri pangeran Kalingga yang bernama Kartikeyasinga, yang kemudian menjadi raja di Kalingga sejak tahun 648 M.

Setelah Kartikeyasinga wafat pada 674 M, Ratu Shima melanjutkan peran suaminya sebagai penguasa Kalingga.

Sebelum Ratu Shima wafat pada 695 M, wilayah Kalingga dibagi dua untuk kedua anaknya, yakni Parwati dan Narayana. Parwati, yang diperistri Rahyang Mandiminyak dari Kerajaan Sunda-Galuh, menguasai Kalingga utara. Sedangkan bagian selatan diserahkan kepada Narayana.

Parwati nantinya punya cucu bernama Sanjaya, yang menikah dengan Dewi Sudiwara yang tidak lain adalah cucu dari Narayana.

Perkawinan antar cicit Ratu Shima ini dikaruniai anak laki-laki bernama Rakai Panangkaran, lahir pada 717 M. Rakai Panangkaran inilah yang kelak menurunkan raja-raja besar di Jawa.

   

Kalingga pada era Ratu Shima merupakan kerajaan terbesar di Jawa.


2. Ratu Kalinyamat

Sejarah berlanjut...
Jepara baru dikenal pada abad ke-XV sebagai bandar perdagangan kecil yang berpenghuni kurang lebih 100 orang saja dan dipimpin oleh Ario Timur daerah dibawa kekuasaan pemerintahan Demak.

Kepemimpinan Ario Timur dilanjutkan oleh puteranya yaitu Pati Unus yang merubah Jepara sebagai kota niaga. Jepara akhirnya berubah sebagai jalur mata rantai perniagaan dan perdagangan Nusantara.

Dari masa Pati Unus, penguasa Jepara ini sudah terkenal kegigihannya melawan penguasa yang telah menduduki Malaka yaitu bangsa Portugis.

Kegigihannya melawan bangsa Portugis akan dilanjutkan oleh para penguasa Jepara selanjutnya.

Pati Unus wafat dilanjutkan oleh iparnya yang bernama Falatehan.

Hingga jaman Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono, sebagai wilayah kekuasaan Demak, Jepara diserahkan kepada anak dan mantunya yaitu Dewi Retno Kencono dan Pangeran Hadirin suaminya.

*

Setelah Sultan Trenggono tewas dalam ekspedisi ke Panarukan terjadilah geger perebutan kekuasan negeri Demak.

Yang merupakan mata rantai pembunuhan dan balas dendam yang melibatkan anak turun dari cikal bakal kesultanan Demak sendiri.

Karena persaingan perebutan kekuasaan antara Sunan Prawoto dengan Pangeran Seda Lepen ayahnda Arya Penangsang. Intrik politik dan pembunuhan yang melibatkan suami Dewi Retno Kencono. Yang akhirnya tewas terbunuh oleh suruhan Arya Penangsang.

Dewi Retno Kencono, berduka dan meminta bantuan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya. Dan bersumpah tidak akan berpakaian dengan melakukan tapa telanjang, sampai ia berhasil menjadikan kepala Arya Penangsang sebagai keset kaki dan darahnya untuk keramas.

*

Arya Penangsang tewas oleh utusan Raja Demak, Danang Sutawijaya.
Dan kematian Arya Penangsang ini, sesuai sumpahnya Dewi Retno Kencono, bersedia turun dari pertapaan. kemudian kembali meneruskan pemerintahan Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.

Dipimpin oleh ratu yang tegas dan berwibawa. Jepara berkembang menjadi bandar niaga utama di Pulau Jawa.
Ratu Kalinyamat mempunyai jiwa patriotisme dan berani melawan penjajahan Portugis yang menguasai Malaka.

Dua kali ia mengirimkan pasukannya untuk mengusir penjajah Portugis.

Serangan pertama ia mengirimkan armada 40 buah kapal dan 5000 tentara.

Serangan kedua ia mengirimkan armada perang yang lebij besar 300 kapal termasuk 80 kapal jung yang besar dari 15.000 prajurit pilihan.

Walaupun kedua serangan itu tidak mampu membebaskan Malaka dari penjajahan Portugis, namun keberaniannya ini berhasil membuat takut bangsa Portugis.

Oleh bangsa Portugis, Ratu Kalinyamat lebih dikenal sebagai

RAINHA DE JEPARA ' SENORITA DE RICA '

Raja Jepara, seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.

 

3. RA Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879.

Raden Adjeng Kartini putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat bupati dengan Ibunda M.A Ngasirah. Puteri ke 5 dari 11 bersaudara telah mengenyam pendidikan Barat sehingga membentuk pemikiran dan wawasan lebih maju. Sayang karena dijodohkan dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat di usia 12 tahun harus dipingit.

Batas pingitan tidak membuat hasratnya untuk mengejar mimpinya berhenti. Kartini belajar sendiri dan giat menulis. Salah satu teman korespodensinya adalah Rosa Abendanon dari Belanda yang selalu mendukungnya.

Kartini sangat tertarik dengan kemajuan pemikiran perempuan Eropa. Ia mempunyai cita-cita memajukan perempuan pribumi.

Buku yang terkenal dari Kartini yang mewakili cita-cita dan pemikiran tentang emansipasi wanita, agar memperoleh kebebasan, kebebasan menuntut ilmu, otonomi dan persamaan hukum.
Kartini juga menulis tentang Ketuhanan, Kebijaksanaan, Keindahan, Kemanusiaan dan Cinta tanah air.

Buku itu adalah Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Atau sesuai terjemahan dari Balai pustaka: " Habis Gelap Terbutlah Terang" Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.


Berkat kegigihannya Kartini untuk memperjuangkan persamaan hak wanita atau emasipasi wanita, mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Demikian, 3 Wanita Perkasa atau Wonder Women dari Jepara. Wanita yang hebat di jamannya.


Selamat Malam

Jagat Alit