Shukoibucks Coffe di Gunung Salak

Pixabay

Gunung Salak, Pendakian Tak Berujung

iapa yang tidak kenal Gunung Salak jika tinggal di antara Sukabumi dan Bogor Jawa Barat.

Gunung yang penampakan fisik terlihat indah dan mempesona ternyata menyimpan cerita mistis yang menguar dari para pendaki yang telah pernah ke sana. Gunung yang tidak terlalu tinggi letaknya hanya 2211 meter dari permukaan laut.

Seperti kisah di bawah ini.

Tiga sahabat ini bukan kali pertama melakukan pendakian. Anto, Eko dan Bari. Kecintaan mereka pada kisah petualangan dan kecintaan kepada alam. Membuat mereka menyalurkan passionmereka itu untuk bergabung dengan komunitas pecinta alam di kota mereka.

*

Berbagai pengalaman pendakian dari berbagai gunung yang telah mereka " taklukan ", membuat mereka semakin keranjingan untuk selalu melakukan pendakian-pendakian lain.

Seperti kali ini, ketiga sahabat melakukan pendakian ke Gunung Salak yang terkenal angker.

*

"Bari... ke gunung lainlah, jangan ke sana!" bujuk Eko sekali lagi. Bukan apa-apa sebenarnya bagi Eko. Gunung, apa pun baginya adalah sama. Tempat yang menantang yang pasti membangkitan hasrat petualangannya. Namun kali ini, entah mengapa perasaan segan membuatnya membujuk Bari sebagai usaha terakhir menggagalkan pendakian ke Gunung Salak.

"Ah... Ko. Kamu tumben berprilaku aneh seperti ini. Tidak biasanya? Anto saja langsung setuju, ketika aku sampaikan niat mendaki ke sana.

Ko, ini bukan kali pertama kita mendaki ke sana, bukan?" suara Bari menyakinkannya.

Ia memang bukan kali pertama mereka mendaki ke Gunung Salak, kalau tidak salah dua kali, ke tiga jika besok Sabtu mereka jadi mendaki.

Eko sebenarnya segan, karena memandang persahabatannya dengan mereka, terpaksa ia berangkat juga ke Gunung Salak.

Ide ini muncul gegara Bari ingin melihat sendiri lokasi Pesawat Sukhoi Superjet-100 yang jatuh dan hilang di sana.

*

Pendakian tiga sahabat ini semula berjalan lancar. Trek pendakian yang tidak terlalu sulit membuat perjalanan terasa cepat. Puncak Manik adalah tujuan pendakian selain itu Bari akan meneruskan niatnya mencari lokasi menghilangnya pesawat Sukhoi.

Langit di atas biru jernih. Angin pun bertiup sejuk, membuat pendakian menjadi asyik dengan pesona alam Gunung Salak yang memang terkenal indah.

Namun, entah mengapa cuaca yang semula normal berubah drastis ketika langkah-langkah kaki mereka mendekati Puncak Manik.

Angin yang sepoi semula, berubah drastis dan datang berhembus sangat kencang.

Tidak ada tanda sebelumnya tiba-tiba kabut tebal turun memayung.

"Anto, Bari... jangan lanjutkan perjalanan. Kita berhenti di pohon besar ini dan tunggu sampai angin besar dan kabut ini hilang!" teriak Eko mengingatkan karena keadaan alam yang berubah drastis ini sangat membahayakan.

Eko, melihat Bari dan Anto yang berjalan di depannya segera menghentikan langkah dan mengikuti apa yang dilakukannya. Berlindung di tempat aman, sambil menunggu keadaan cuaca berubah.

Eko sudah tidak mampu melihat jarak sekitar dua meter dari arahnya berdiri. Kabut sangat tebal, dan ia hanya mampu melihat bayang-bayang kedua temannya saja.

Dicobanya senter yang selalu stand by di gantung di les celananya. Namun, entah mengapa, senter itu tidak berfungsi dan mati.

"Ko, kamu agak bergeser kemari. Aku dan Bari ada di sini. Merapatlah, jangan terpencar!" teriakan Anto mencoba melawan deru suara angin.

*

Setelah angin besar bertiup menderu, suaranya bagai lolongan makhluk dari dunia lain, tiba-tiba cuaca ekstrim kembali berubah.

Masih berkabut tebal ditambahi lagi hujan deras seakan tercurah dari langit.

Suara hujan tak kalah mengerikan dengan suara angin sebelumnya. Butiran airnya yang jatuh berbondong-bondong, menimbulkan suara pantulan yang mengedikkan hati. Memantul di atas dedaunan, memantul di atas bebatuan, memantul bebas di seluruh permukaan Gunung Salak.

Anto, Bari dan Eko, dengan cepat mengantisipasi perubahan alam itu dengan memakai jas hujan secepatnya.

*

Pemandangan putih berkabut dan deru hujan yang terjadi tanpa tanda membuat ketiga sahabat itu bergetar hatinya.

Apalagi ketika hujan setelah setengah jam itu pun mereda tinggal sisa rinia, terdengar jeritan melengking suara wanita tua kemudian disusul suara musik Sunda yang mengalun menyusup di antara rinai gerimis dan selimut pekat kabut.

Yang membuat Eko terlonjak terkejut ketika ia mendengar suara teriakan Bari.

"Eko... Anto... tolongggg!"

Suara teriakan Bari yang menyayat panjang kemudian terasa terdengar menjauh dibawa angin dan kemudian hilang sirap, bersama dengan sirapnya suara musik Sunda itu.

Mata Eko terbelalak, melihat langit kembali cerah membiru, kabut lenyap tanpa bekas. Bekas hujan yang deras beberapa jam pun, lenyap tanpa bekas setetes pun.

Eko dan Anto saling pandang melihat kejadian itu.

Setelah sadar, mereka berteriak spontan bersama.

"Bariiii.... Mana Bariii.. ?"

Langit cerah, udara sejuk, pemandangan indah Gunung Salak sangat mempesona, tidak ada sedikit pun bekas ada " badai angin dan badai hujan " sebelumnya.

Dan... tidak ada bekas pula keberadaan Bari, sahabat mereka.

*

Sudah seminggu, keberadaan Bari yang hilang, belum juga ditemukan. Semua tim penyelamat sudah dikerahkan, dari Ranger setempat, para pendaki, badan SAR, bahkan usaha melalui pencarian " orang pintar ", hasilnya nihil.

Bari seakan hilang dan menguap begitu saja. Tidak ada tanda, tidak ada jasad jika memang Bari telah tewas.

Semua usaha pencarian tidak menemukan hasil. Hingga akhirnya usaha pencarian dihentikan, dan Bari sahabat mereka dinyatakan tewas tak berkubur.

*

Setahun telah berlalu. Anto dan Eko, masih berusaha mencari jejak keberadaan Bari yang mereka yakini masih hidup. Berkali-kali mereka melakukan pendakian ke Gunung Salak kembali, siapa tahu ada tanda, atau jejak atau apa pun yang mengarah kepada keberadaan Bari.

*

Sementara itu di tempat lain...

Bari sedang asyik menyesap kopi latte yang masih mengepulkan asap, sambil matanya yang tajam memandang terpesona kepada pelayan coffe shop yang berwajah cantik, terampil meracik kopi yang luar biasa nikmat ini.

Ia juga melihat beberapa laki-laki asing, asyik duduk bercengkerama menyesap kopi di meja-meja yang penuh suara tawa dan sendau gurau pengunjung.

Shukoibucks Coffe adalah tempat hang out yang terkenal di daerah itu.

Coffe shop modifikasi dari pesawat Shukoi Superjet-100 yang besar, berdiri di antara rerimbunan pepohonan dan lebatnya hutan sepanjang Gunung Salak yang tidak mampu ditembusi oleh mata orang biasa.

Dan, Bari dengan selebar wajah pucat tersenyum dari balik kaca coffe shop, Shukoibucks.

Tamat.