Cinta Abadi Suster Anna

Perawat www.skalacerita.com

Siang itu, aku akhirnya masuk ke sebuah rumah sakit swasta di kawasan Bintaro. Rencananya sore atau malam nanti baru akan diadakan operasi usus buntu. Operasi ini harus dilakukan setelah diagnose dan pemeriksaan dokter atas keluhan sakit dan nyeri di lambung sebelah kanan yang kurasakan sejak seminggu lalu.

“Bapak tidak usah khawatir, ini hanya operasi kecil dan nanti hanya akan dibius lokal saja,” begitu pesan dokter kemarin ketika pemeriksaan terakhir menjelang operasi.

Operasi sore itu pun berjalan lancar dan aku kemudian harus menginap satu atau dua malam di rumah sakit. Kalau diingat-ingat ini merupakan kali kedua aku harus dirawat di rumah sakit.   Yang pertama sudah cukup lama, yaitu lebih dua puluh tahun lalu. 

Malam itu, aku tergolek  lemah di ranjang rumah sakit. Selang infus masih menempel dengan setia di tangan kiri. Walau sangat lelah, aku mengalami sulit tidur dan sering kali terbangun. Maklum seenak-enaknya di rumah sakit, tentu lebih enak di rumah sendiri.

Sekitar jam 12 malam, aku kembali terbangun dan merasa ada sedikit masalah dengan selang infus. Aku segera memencet bel yang ada di dekat tempat tidur untuk memanggil suster.

Desiran angin dingin sempat terasa berhembus bersamaan dengan datangnya seorang suster berseragam putih.

“Infus ini rupanya sudah mau habis, baik saya ganti,” kata suster itu ramah dan kemudian mempersiapkan infus yang baru.

“Aku berpisah di teras St. Carolus

Air mataku jatuh berlinang

Betapa sedih dan duka hatiku

Selama ini yang merawat sakitku”

Tiba-tiba saja nada dering dari hape pasien di tempat tidur sebelah membawaku ke dalam alam  lamunan. Heran juga tengah malam begini masih ada yang menelpon pasien, kataku dalam hati,

Lirik lagu Berpisah di Teras St Carolus  yang pernah top dilantunkan oleh Lilis Suryani ini begitu berkesan di hati  sehingga secara tidak sadar semua kejadian di masa lalu kembali muncul dalam alam pikiran bak kilas balik sebuah film.

----------------

April1998

Di tengah gejolak politik Indonesia dan kian mahalnya harga-harga, aku yang sedang kuliah pascasarjana mengalami nasib kurang beruntung.  

Suatu malam ketika sedang pulang kuliah  di kawasan Salemba, motor yang aku kendarai  mengalami kecelakaan. Motor itu bertabrakan dengan mikrolet warna biru muda jurusan M 01 Senen-Kampung Melayu 

Akibatnya aku mengalami luka di kaki yang cukup parah dan harus dirawat di sebuah rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari kampus UI tempat aku kuliah.

Sebulan lebih aku dirawat di rumah sakit tersebut dan bersamaan dengan itu aku mengenal seorang perawat bernama Suster Anna yang dengan sangat telaten merawat luka di kakiku.

Hampir setiap hari dia hadir di kamarku dan selain mengganti perban serta merawat luka, Suster Anna juga banyak bercerita dan menghibur diriku.  Penampilannya yang bersahaja dan sederhana serta tutur katanya halus membuat hati terpikat, bahkan sejak pertemuan pertama.

Seiring berjalannya waktu, benih cinta mulai tumbuh antara aku dan Suster Anna. Walau belum tahu dimana rumahnya dan juga belum mengenal siapa orang tuanya, aku bertekad akan segera melamar Suster Anna selepas keluar dari rumah sakit dan segera mungkin mengakhiri masa lajangku. Maklum usiaku saat itu sudah lebih tiga puluh tahunan. Mungkin selama ini aku terlalu pemilih atau terlalu sibuk dengan karir.

Singkatnya aku jatuh cinta pada Suster Anna karena ketelatenannya dalam merawat diriku. Dia bukan hanya merawat sebagaimana kebanyakan suster lain, melainkan merawatku dengan penuh cinta.  Sementara suster Anna juga sering mengatakan bahwa rasa sayangnya padaku akan terus ada bahkan sampai sampai mati pun dia akan tetap mencintai aku. Kalau ditanya alasannya, dia tidak bisa menjelaskan.

"Tidak ada larangan bagi seorang perawat untuk jatuh cinta pada pasien yang gagah dan ganteng seperti Abang," katanya sambil tersenyum manis sekali.

Waktu cepat berlalu, tepat tanggal 10 Mei pagi, aku sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.  Aku merasa senang sekaligus sedih karena harus sementara berpisah dengan Suster Anna.

Suster Anna memberikan selembar kertas bertuliskan alamat rumahnya di kawasan Jakarta Timur dan meminta aku datang dalam beberapa hari ke depan . 

Siang itu, persis seperti lirik lagu, di teras rumah sakit itu kami berpisah. Dalam hatiku penuh harapan akan dapat bertemu kembali dengan Suster Anna dalam beberapa hari ke depan. Suster Anna sendiri memelukku erat-erat seakan-akan kami berdua tidak akan pernah berjumpa lagi.

Namun siapa sangka, kerusuhan Mei pecah pada 13-14 Mei. Jakarta sedang kacau dan situasi menjadi tidak aman.  Rencana untuk mampir ke rumah Suster Anna harus ditunda, baru pada tanggal 17 Mei aku sempat mampir ke rumahnya.  Tujuan utamanya adalah berkenalan dengan orangtuanya dan secara resmi ingin mengatur acara lamaran.

Sore itu aku datang dengan berpakaian serapi mungkin. Aku memperkenalkan diri kepada ayah Suster Anna. Dia memperbolehkan aku memanggilnya Om Handoko.

Namun jawaban Om Handoko membuat aku lemas lunglai.

“Anna pergi tanggal 13 pagi untuk tidak pernah kembali lagi,” demikian Om Handoko memulai cerita.

Suster Anna pamit untuk berkunjung ke rumah salah seorang temannya di kawasan Jakarta Barat pagi itu.  Sejak itu dia menghilang. Dia tidak  pernah kembali ke rumah dan juga tidak pernah muncul di rumah sakit tempat dia bekerja. Mungkin dia menjadi salah satu korban kerusuhan yang tidak dikenal. 

“Ini ada sepucuk surat untukmu,” kata Om Handoko sambil memberikan sepucuk surat dalam amplop warna merah muda.

Bang Hanif,

Ketika Abang sedang membaca surat ini, saya mungkin sudah berada di alam lain.  

Namun seperti janji saya di rumah sakit dulu, saya akan tetap mencintai dan akan terus menjaga Abang.

Salam sayang selalu 

Anna

____________________

“Pak, infusnya sudah selesai saya ganti, bapak istirahat ya!  Semoga cepat sembuh,” suster berseragam putih tadi pamit.

“Maaf suster, siapa namamu?” Tanya saya penasaran sambil memegang tangannya sebelum suster itu pergi.

“Nama saya Anna,” jawab suster  tadi sambil berlalu dan menghilang. 

Desiran angin dingin berembus bersama hilangnya sosok suster Anna.

Bekasi, 21 Juli 2021

#lagukenangan

Seperti yang dikisahkan oleh Hanif di Jakarta