Dialog Bisu Teror Badi

Gambar ilustrasi google

"Semakin menyangkal bahwa kita memiliki sisi gelap, semakin besar kekuatan buruk mengendalikan kita.” (Sheryl Lee)

Menangkap pesan moral dari kutipan itu, entah diksi apa yang tepat untuk menamai peristiwa ini. Aku dan teman karibku hampir memiliki sifat dan karakter yang sama. Terkadang keras dan lembut, kuat dan lemahnya sama-sama dominan. Kami terdampak trauma luka tak berdarah yang hampir sama pula. 

Sanggar kreasi seni, kota kelahiran, bulan November 2017. Selepas reuni kecil dan jumpa fans Sigma FM, kami berdua temu kangen dan saling berbagi kisah perjalanan. Kuulur tangan sejangkau rangkulan, pasang telinga bersiap menjadi pendengar yang baik. Ia pun bercerita cukup panjang. Aku merekam kesimpulan, apa alasan di balik reaksi histerisnya saat mendengar lagu yang kuputar tadi.

Tampak sehat dan baik-baik saja, ternyata belum tentu siap meretas sesuatu yang menusuk perih satu kenangan. Karena ada bagian psikis terlemah dari kami. Salah satunya ketika sugesti sebuah lagu atau musik, mau nggak mau akan menyeret kuat ke dalam pikiran dan hati. Menekan emosi, bahkan menyulap bagian paling ekstrem di dalam diri. Kemungkinan terburuknya adalah depresi dan distres akut.

Dengan suara tersekat isak, sesekali kami berkelakar canda. Berupaya melenturkan ketegangan emosi. Ia melanjutkan ceritanya....

Mungkin kini aku hanya bertahan sesuai gerak hati. Teringat pesan guru, "Ketika berada dalam dua tekanan, masuki saja lorong negatif dalam dirimu, di mana justru area ini yang akan mengarahkan ke tengah. Tengah yang datar, tanpa gembira karena pesona hura-hura!"

Terkadang aku diam, tenang. Sesaat tersenyum sangat manis. Sesekali penuh misteri, lalu menyeringai untuk menutupi nyeri. Ketika udara segar menawarkan lega, kuhirup berulangkali, kemudian perlahan membuang kepulan bias sesak di dada. Meskipun sesuatu terus menikam, kehadiran sisi gelap kian merasuki.

Tidak! Ini tak akan lama. Aku harus kuat kembali walau terancam rayuan cemburu berkali-kali. Dan terbukti aku berani melahap satu ketakutan, menembus sekat kegelapan. Saat sesekali singgah di ruang riuh laman maya tempat mereka berbagi tawa. Mataku menonton lagi liarnya kelakar yang tak biasa dari pria dan wanita serupa. 

Aku ingin marah tapi jengah. Mungkin karena rasa iba mengingat situasi dia sedang terkapar sakit dan bimbang. 
Jangan sekarang! Khawatir lidah memanjang. Tahanlah hingga bukti menguatkan serta waktu menjanjikan.
Seperti biasa, aku keluar dari suasana dilema. Lebih baik mundur, berbelok arah dari arus deras yang tak sanggup kulawan. Keriuhan tidak menjanjikan aman dan nyaman untukku yang rentan.

Kupikir lelaki itu sudah berubah dari wujud lamanya, saat datang lagi mengisi kekosongan. Menawarkan manisnya madu yang lebih dari hubungan pacaran. Aku menyambut dengan terheran bahkan kaget. Baiklah, rasa empati bekerja sepenuhnya untuk menemani dia selama sakit. 
Namun hati ini menolak bila dikuasai. Mulutnya jujur akui rasa sayang dan cinta, katanya dari hati, tapi tak sampai ke hati. Terlihat tulus tetapi mengungkit pembicaraan usang. Tampak ingin dikasihani dengan suara merengek lirih. Menyebalkan!

Kerap dia memuji, lantas mencaci dan mencibir. Tercekik emosiku. 
Rupanya dia terus memelas tak berhenti, menebar pesona ingin diakui. Kadang menjilat ludahnya sendiri, menjijikkan!

Timpang bicara lisan dengan tindakan. Dia ingin aku sepertinya, tapi aku ingin tetap sepertiku. Cara menikmati hidup yang berbeda pola, pikir, pandang dan tindakan. Terkesan saling menyerang, saling merasa terancam. Aku heran, dalam kondisi fisik lemah, dia masih saja jumawa.

Kemungkinan alasan dia hadir lagi, karena menganggapku meratapi sedih dengan sepi. Iya, kuakui kalaupun sesekali rindu keakraban, tapi ada penyangkalan. Karena aku tau bagaimana diri ini tidak kesepian ketika sendirian.
Dengan sedikit nada keras dia sering berbicara ayat-ayat sorgawi dan selalu membenarkan alasannya. Aku tak ingin dikuasai sebagian besar diriku. Bukan menepis kebenaran yang hakiki, aku hanya khawatir tertipu pembenaran. Jadi aku harus menelusuri bukti-bukti dengan cara yang mungkin tidak dia pahami, atau tak terduga.

Aku tersenyum melihatnya bangun. Ingin menyapa, tapi rasa enggan mendera. Bukan karena tak peduli, tapi aku tak mau dia tau kalau aku merasa lega. Belum lagi alasan gengsi, prinsip atau apalah namanya. Aku tak ingin terlihat begitu peduli, mengontrol dan ingin menjaganya selama tidur.

(PRET! Bisa gede kepala dia. Over pedenya makin tumbuh subur)

Aku tak mau terlihat mengharap, biarlah dia di sana dengan hati dan pikirannya sendiri. Meski gejolak dada nyaris tak terbendung ingin melihat dan tau apa yang terjadi. 


Kali ini kepalaku terasa berisi. Apa pula yang terjadi di benak ini ketika merasakan hal yang tak terlihat?(berengsek memang mencari tau, kadang terbawa jadi berengsek juga. Begitu random pemicu hoaks, kupastikan tidak tertantang dengan tantangan)

Dia sedang memutar lagu dari band kesukaannya, tergelak menertawakan dirinya sendiri. A Little Peace of Heaven dari Avenged Sevenfold (penulis lirik lagu: Jimmy “The Rev” Sullivan, Zacky Vengeance & M. Shadows) yang beraliran cadas, mungkin seperti nyanyian surga baginya dengan pernyataan lantang..., "Damailah cinta yang disempurnakan oleh kematian!"
Tanpa mau tau apa yang bergemuruh di pusat nadiku, merajam naluriku. 

(dasar kampret bermuka dua!)

Dia terbahak puas di atas ketakutanku. Bukan tentang lagu atau penyanyinya, tapi vidio klip di balik kedalaman pesan liriknya yang multitafsir. Ini membuatku gelisah. Berhasil mengacak jalannya kesadaran, nyaris menyihir bagian paling rawanku.

Kunikmati hingga adegan tragis selesai, tanpa menyangkal keburukan karakterku. Memasuki lorong gelap di mana emosi berkecamuk, kupastikan keseimbangan tetap terjaga. Aku yakin sanggup keluar dari jebakan ilusif, tempat bersarangnya ribuan derita dosa dan kekhilafan manusia. Aku ingin menemukan jawaban dari kepenasaran, apa yang dia mau dengan datang kembali padaku.

Perlahan misteri sedikit terkuak. Kiranya ada masalah yang belum usai, kupercayai ini cara kerja semesta untuk mempertemukan dua orang kembali, agar menyelesaikan urusan tertunda. Mungkin itu sebuah bukti rasa kenyamanan, sebut saja cinta. Mungkin ada secuil dendam luka lama yang berasal dari liarnya kebencian, atau mungkin juga rahasia jahatnya ambisi.

Film mini dokumenter berdurasi delapan menit 31 detik, lagu "A Little Piece of Heaven" cukup memberi jawaban. Tentang bagaimana jiwanya, satu sisi diri menguak kejahatan kecil yang tersembunyi di balik sikap romantis, manja, serta halus perkataannya. Aku tau, tak berhak menghakimi orang lain. Itu urusan dia dan Tuhannya.

Hanya saja, aku merasa gamang untuk menerimanya lagi masuk di kehidupanku. Walaupun ada rasa sayang, takkan kubiarkan dia mencongkel pintu yang nyaris terkunci sebelum dia datang kembali. Kusebut peristiwa ini sebagai wujud tindakan menyelamatkan diri. Kemudian aku harus pergi secara perlahan sebelum dia benar-benar membunuh utuh kebahagiaanku.

Mungkin hingga detik terakhir hubungan, dia tak mengerti kenapa aku sering menghilang. Naluriku merasakan kuat, langkahnya terus mengikuti kemana pun aku sembunyi. Kurasa dia terjerat dalam kubang ambisi cinta abadi dan kematian.

***

#lagukenangan


(seperti dikisahkan teman kecilku, Rina Raihan, Bandung_November 2017)

Catatan kata: 
*Badi (klasik) => pengaruh buruk dari kematian, hal mistis, dll.
=> kelakuan luar biasa (seperti hewan, dsb) sejak lahir.