Senandung Pengantar Sepotong Kisah

Ilustrasi by Wallpaperbetter.com

Iringan piano pada pembukaan lagu itu menari-nari di udara. Mereka menyapa halus daun telinga, menyelinap masuk, melewati celah-celah rasa lalu merambat hingga ke ruang hati.

Daku kini menangis
Dikau kini telah pergi
Memberi seribu duka
...

Mereka berebut mengetuk pintu ingatan, mencoba mengingatkanku pada sepotong kisah tentangnya. Warna indah suara pelantunnya menyusuri lorong panjang, menyibak tirai kenangan, membuat anganku terburai. Setiap kata mempunyai jiwanya sendiri dalam mencuatkan makna. 

Butiran bening bak embun pagi turut hadir melalui sudut-sudut mata, melengkapi kesenyapan. Aku sudah lama menyukai lagu itu lalu kehadiran dan kepergiannya membuatku mengalami hal yang serupa. Kami senasib. Namun semenjak kepergiannya, lagu itu lebih memiliki nyawa, seperti tiket yang membawaku berkeliling di atas rel kereta memori, didekap kerinduan, disuguhi kenangan yang telah lama berderet rapi dalam ingatan.

Masih terlekat jelas dalam benak ini. Hari Selasa malam pada tanggal 28 Oktober 2014, aku pulang dari Delta sehabis mengajari belajar Nafi. Rokku mengembang diterpa angin. Jemariku tak henti memilin-milin ujung jilbab berwarna hitam. Aku berjalan seorang diri di jembatan. Lengang, aku menyeberang.

Rumah Pak Haji Narlan sepi, kupandangi pagar merah hati itu lalu tersenyum sendiri. Warung Teteh sudah tutup, aku jadi teringat belum juga mengisi pulsa lagi karena nomor ponsel yang kutulis di kertas raib entah ke mana. Sebelum belok gang, mataku menangkap pagar hijau di rumah Pak Haji Narlan yang satunya lagi. Oh, iya ya, sudah lama aku tidak melihat Mas Anto, di mana dia sekarang? Apa mungkin pulang kampung, ya? pikirku.

Aku belok gang. Di depan rumah Bu Imam, ada beberapa orang duduk di kursi teras. Mataku memicing. Mas Anto? Benarkah itu Mas Anto? Tapi kan dia tidak pernah ngobrol di tempat ini?

Aku mengucap permisi sambil membungkuk ketika melewati orang-orang itu. Sampai di rumah Bulik Pani, aku melangkah menuju dapur untuk makan.

Terdengar suara Mama Novi datang membeli kerupuk.

"Mak'e tahu nggak kalau Anto meninggal?"

Bulik Pani memang lebih sering dipanggil 'Mak'e' oleh para tetangga.

"Anto adikmu apa Anto siapa?"

"Anto anak buahnya Pak Haji Narlan."

"Innalillahi!! Meninggal kenapa?!!"

Piring yang kutengkurapkan jatuh ke rak paling bawah karena licin. Apa aku tidak salah dengar? Tukang kue pancong meninggal Bulik Pani sampai histeris?

Indah dan Kamal memanggilku. Iya, Ndah, maaf aku berisik, desisku saat itu.

"Masih bujangan, baik, umurnya sebentar," kata Bulik Pani.

Masih bujangan? Adiknya Mama Novi kan sudah berumah tangga? Jadi Anto siapa yang dimaksud?

"Dia lagi di kampung, Mak'e. Boncengan sama teman, dia yang meninggal, temannya kritis."

Perlahan aku mengerti. Telingaku baru saja bermasalah. Bukan tukang kue pancong, tetapi Mas Anto, ia telah tiada, sudah pergi jauh, desisku getir di dapur sendirian. Aku ingin menangis seolah tak percaya, tetapi tak ada air mata yang hadir. Hanya bibirku saja yang bergetar hebat, hendak mengutarakan sesuatu tapi tak mampu. Entah mengapa.

Indah kembali memanggilku. Aku meraih cerek, mengisinya dengan air lalu kuletakkan di atas kompor. Secepat ini ia pergi lalu siapa orang tadi? Jilbab ini, kenapa aku memilih warna ini? batinku terus saja berceloteh.

Kuhirup napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan. Aku melangkah ke ruang tamu, memasang wajah seperti biasa seolah tidak mengetahui apa yang baru saja kudengar. Kupandangi layar TV untuk menghindari pembicaraan.

"Mbak, Anto meninggal!" kata Indah antusias memberitahuku.

"Anto siapa?" tanyaku dengan lidah kelu.

"Anto anak buahnya Pak Haji."

"Kok meninggal?" tanyaku polos, padahal di dalam sana hatiku sudah menjerit-jerit ingin menumpahkan tangis.

"Tabrakan di kampungnya."

"Turut berduka cita, ya, Put," kata Bulik Pani yang baru saja datang.

"Bulik bisa saja." Aku bingung harus bereaksi bagaimana.

Pantaskah diri ini merasa ikut kehilangan? Semasa ia hidup aku melewatkannya sementara ia berusaha mengejarku yang abai. Perempuan macam apa aku ini.

Rupanya Bulik Pani ikut keluar bersama Mama Novi untuk ke rumah Pak Haji Narlan, ia ingin mengetahui kronologi yang sebenarnya. Kata Bulik Pani, Mas Anto sempat melambaikan tangan saat hendak pulang ke kampung halaman. Mbak Ulva--anak Pak Haji Narlan, juga terheran-heran melihat kaus warna hitam yang dikenakan Mas Anto. Tidak biasanya ia memakai kaus warna itu. Om Pepi yang juga anak buah Pak Haji Narlan, sempat dikirimi pesan oleh Mas Anto, ia meminta dijemput di terminal. Ternyata itu hanya gurauan, ia masih berada di kampungnya. Senin tiada kabar lalu Selasa senja ia berpulang. Lukanya hanya di bagian rahang saja. Setelah meminta segelas air, ia memilih pergi.

Teman-teman Indah yang berdatangan ikut mendengar apa yang terjadi. Ketika Mbak Sulis--sepupu Indah, baru saja datang dan diberitahu mengenai kepergian Mas Anto, ia pun kaget.

"Serius, Ndah? Sumpah demi apa?"

"Demi Allah, Mbak."

"Hayo lho, Mbak Aput. Lagian minta nomor nggak dikasih, jadi mati kan, tuh," kata Kamal setengah meledekku.

Aku hanya menarik sudut bibirku satu senti mendengar perkataan Kamal, masih saja bingung harus bereaksi apa. Paklik Paiman--suami Bulik Pani datang.

"Sam," Bulik Pani memang memanggil suaminya dengan panggilan 'Mas' tetapi dibaca dari belakang, "Anto anak buahnya Pak Haji Narlan meninggal."

"Meninggal? Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Lha terus Aput gimana?" tanya Paklik Paiman sambil menunjuk ke arahku.

"Ah, Paklik, jangan begitu."

"Lagian minta nomor nggak dikasih, Pak. Nanti malam didatangin ya, Pak, ya," Kamal kembali meledekku.

"Hayo lho, Put."

Semua yang ada di ruangan itu bersorak ke arahku. Tiada air mata, tak ada senyum yang terkembang, aku pun bingung dengan keadaanku sendiri.

Menjelang tidur. Indah memakai headshet lalu terpejam. Mbak Sulis yang sudah bersiap tidur tiba-tiba mengubah posisinya menjadi miring menatap ke arahku. Aku bersandar pada dinding sambil memandang lekat pada ponsel. Dalam benakku terngiang satu postingan yang kutulis sejak pagi.

"Put, gimana perasaan kamu?" tanya Mbak Sulis.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan isi hatiku yang berkecamuk. Pertama, nomor ponsel yang kutulis di kertas untuk membeli pulsa tiba-tiba raib entah ke mana. Kedua, ketika hendak mandi aku membawa jilbab ganti berwarna hijau muda, lalu selesai dari itu memilih menggantinya dengan warna hitam. Ketiga, aku melihatnya duduk di kursi depan rumah Bu Imam. Keempat, selepas salat maghrib, rasanya ingin sekali kumembaca Surat Yasin, padahal biasanya pada malam Jum'at saja aku membacanya. Kelima, jauh-jauh hari aku menerka akan ada peristiwa apa di hari Sumpah Pemuda tahun 2014. Tahun 2013, saat hari Sumpah Pemuda, Mas Anto meminta berkenalan. Mengapa tanggal dan bulannya bisa sama?

"Mungkin sudah jalannya, Put." Mbak Sulis mengelus pundakku lalu kembali ke posisi semula bersiap untuk tidur.

Aku memandangi langit-langit kamar. Indah dan Mbak Sulis sudah terbuai dalam mimpi. Aku menoleh ke jendela, tiba-tiba aku teringat mimpi yang diceritakan Indah beberapa bulan lalu. Dalam mimpinya, Indah diminta membuka jendela oleh seorang pocong. Ia membuka jendela, pocong itu meminta tolong kepada Indah agar menyampaikan padaku bahwa pocong itu menyukaiku. Lihat apa yang terjadi, orang yang menyukaiku meninggal, sudah terbungkus menjadi pocong. Inikah maksud dari mimpi yang diceritakan Indah itu? Aku tertunduk menatap lekat pada ponsel, terbayang postingan itu lagi. Akan ada apa di hari Sumpah Pemuda tahun ini ya? Aku dihantui tulisanku sendiri.

Malam menyedihkan itu menyeret benakku pada kenangan satu tahun bersama Mas Anto.

Pertengahan September 2013. Malam itu aku mendatangi acara tasyakuran kehamilan Bulik Nanik. Saat membaca doa, aku merasa ada yang memperhatikan, aku pun menoleh. Dan benar saja, sepasang mata itu sedang memperhatikanku. Mengapa orang itu melihatku terus, ya? Jangan-jangan akan ada kisah lanjutan setelah ini, gumamku saat itu.

Tebakanku benar. Tanggal 22 September 2013, sehari sebelum usiaku genap 18 tahun, aku dan Indah mondar-mandir mengajak bermain Khalisah--anak Bulik Jum. Ketika mondar-mandir itulah aku menemukan wajah yang tak asing. Wajah yang pernah kutemui di malam pada acara Bulik Nanik. Ia sedang mengecat pagar rumah Pak Haji Narlan sehingga warnanya berubah menjadi merah hati. Ini kan orang yang waktu itu, gumamku dalam hati. Orang itu memanggil Indah lalu berbincang sejenak. Seketika Indah tergelak, entah apa yang terjadi.

Sampai di rumah, Indah mengatakan bahwa Mas Anto meminta nomor ponselku. Hanya saja Indah enggan memberi, ia menantang Mas Anto agar datang ke rumah dan meminta nomor padaku sendiri. Ia tergelak karena Mas Anto mengatakan tidak berani.

Tanggal 23 September 2013, usiaku genap 18 tahun. Ketika pagi baru saja menggeliat dari lelapnya, aku sudah dibuat penasaran oleh Bulik Pani. Ia mengatakan bahwa aku mendapat salam. Aku mencoba menebak-nebak. Dan benar, orang yang memberi salam adalah anak buah Pak Haji Narlan. Tuh kan benar, ada kisah lanjutan, pikirku saat itu.

Tanggal 26 September, hari Kamis biasa diadakan acara membaca Yasin bersama di Masjid Darul Hikmah. Setiap itu pula Bu Haji Narlan selalu memberikan makanan pada para jamaah yang hadir. Ketika aku mengepel teras, kulihat Mas Anto sedang memanggul kardus berisi makanan, ia berjalan dari arah barat.

"Tumben lewat kene, Mas," kata Bulik Pani.

Mas Anto hanya terkekeh sambil mencuri pandang ke arahku secepat kilat. Ia mempercepat langkahnya. Tidak biasanya ia lewat gang sini, biasanya lewat depan warung Teteh lalu lurus ke timur untuk sampai di masjid.

Semenjak hari itu, sering kuterima laporan dari Rafi--anak ketiga Bulik Pani, bahwa aku mendapat salam dari Mas Anto. Dan Kamal mendapat bagian meminta nomor ponselku. Aku yang masih baru di perantauan, belum bisa percaya pada orang baru apalagi memberikan nomor ponsel.

Tanggal 28 Oktober 2013. Saat aku sedang membungkus kerupuk, Mas Anto datang meminjam motor pada Bulik Pani. Tidak biasanya, batinku. Rupanya Mas Anto hendak membantu membangun rumah lantai dua milik Mak Wasni. Ketika istirahat, Mas Anto duduk di teras Bulik Pani. Ia membuang puntung rokoknya. Waduh, kok merokok, ya? Aku membatin tidak suka. Mas Anto berbincang dengan temannya yang sudah setengah baya. Sepertinya mereka sedang membicarakanku, pikirku. Benar saja, tak lama Mas Anto memanggilku.

"Cewek, boleh kenalan?" Mas Anto bertanya.

Aku menoleh ke dalam barangkali Mbak Sulis baru saja turun dari atas. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Baru kusadari ia sedang mengajakku berkenalan. Karena merasa kikuk, aku hanya tersenyum tipis. Mas Anto berlanjut tanya dari mana daerah asalku.

Sejak itu Mas Anto pulang ke Kebumen. Lalu Mei 2014, pada suatu pagi ketika aku sedang mencuci piring, kudengar Bulik Pani tengah kedatangan tamu. 

"Lama tidak kelihatan. Baru datang dari kampung, ya? Oleh-olehnya mana?" tanya Bulik Pani.

"Baru datang langsung ke sini aku, Mak'e. Pak Haji minta supaya ke Jakarta cepat, kan mau ada acara pernikahannya Mbak Ulva."

Siapa tamunya? Seperti suara Mas Anto. Aku keluar membuang sampah dan mendapati seseorang berambut gondrong memegang pagar rumah Bulik Pani lalu berjalan lurus ke timur. Siapa itu? Bagai mendengar suara hatiku, seseorang itu menoleh sambil tersenyum.

Hingga pada hari Jum'at, ketika di masjid, Mas Anto memberi uang pada Akbar--adikku yang paling bungsu. Akbar pun berada di pangkuan Mas Anto sepanjang khotbah berlangsung. Aku mengetahui itu dari Rafi yang memberi laporan sepulang jum'atan.

Menjelang puasa, Mas Anto menitip salam padaku melalui Rafi dan doa agar aku sehat selalu. Bertepatan dengan sakit yang tengah hadir aku merasa doa itu datang di saat yang tepat. Aku sakit hampir satu bulan sampai menjelang lebaran. Dengan tertatih aku pulang kampung bersama keluargaku. Seusai lebaran, aku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta, tetapi entah mengapa akhirnya hatiku tergerak. Seperti ada yang memanggilku untuk datang ke sana lagi.

Tanggal 22 September 2014, sehari sebelum usiaku genap 19 tahun. Aku berpapasan dengan Mas Anto di jalan. Bagai dejavu, aku mengenal adegan itu. Pertemuan di depan pagar berwarna merah hati, hanya tahunnya saja yang sudah berganti.

Akhir September 2014, aku selalu menerka-nerka akan ada peristiwa apa di bulan Oktober nanti.

Tanggal 3 Oktober. Ketika hendak menyeberang ke Jembatan Kali Sunter, Mas Anto memintaku agar berhati-hati.

Tanggal 4 Oktober. Aku melihat Mas Anto tersenyum dengan wajahnya yang berseri-seri. Senyum itu tak diarahkan padaku.

Sejak 4 Oktober sampai malam menyedihkan itu, aku tak pernah lagi berjumpa dengan Mas Anto. Mas Anto benar-benar pulang ke kampung halaman, untuk selama-lamanya. Aku teringat wajahnya yang tersenyum berseri-seri, mungkinkah itu diarahkan pada malaikat maut yang hendak menjemput? Sampai jam menunjukkan pukul dua pagi, mata ini belum juga ingin terpejam. Belum sempat kuberitahu nomor ponselku, mengapa ia sudah terburu-buru pergi? Bagaimana aku memberikan nomor itu? Dada terasa sesak, mataku panas ingin menumpahkan tangis tapi tiada satu pun air mata menetes. Kemanakah sesalku harus kualamatkan? Aku ingin menangis tapi mengapa sulit sekali?

Lara aku kehilangan dikau ... Selamanya takkan melihat hadirmu seperti dulu ...
Aku kehilangan ...

Butiran bening ini semakin deras mengalir beriringan dengan lagu Christina yang sebentar lagi akan selesai dilantunkan, bersiap untuk kuputar lagi. Anganku kembali terempas lebih jauh lagi.

Pagi setelah malam menyedihkan itu, aku terus berkeinginan agar dapat menangis. Bulik Pani tidak ikut membungkus kerupuk karena mengurus keperluan ini dan itu. Slamet menggoreng kerupuk di belakang. Mbak Sulis masuk shift pagi, Indah kuliah, Rafi dan Kamal sekolah, sedangkan Paklik kerja di Pasar Pecah Kulit.

Aku membungkus kerupuk seorang diri. Aku menyukai kesendirian itu. Tanganku bergerak cepat memasukkan kerupuk ke dalam plastik sebagai upaya mengusir kesedihan. Hingga tanpa terasa mataku tak hanya menggenang saja, tetapi pipiku sudah basah sampai membasahi rok merah hati yang kukenakan. Aku tersengguk-sengguk seorang diri. Waktu bagai memahami, lama kubiarkan bulir air mata itu menetes dan tak kunjung mengusapnya. Aku pun tak mengerti mengapa sederas itu air mataku mengalir.

Bulik Pani datang. Ia berbisik padaku bahwa setengah jam yang lalu Mas Anto baru saja dikebumikan. Setengah jam yang lalu? Inikah sebab air mataku sederas itu?

Mas Anto hanya mampu membawa namaku sampai ujung usianya. Betapa aku telah menjadi orang yang kikir akan nomor ponsel. Aku kembali tersedu-sedan.

Daku tulus berkata
Ucap terima kasih
Segala pengorbanan cinta ...

Lagu Christina mendekati penghujungnya. Kereta memori melambat, aku kembali menatap lekat  kenangan yang berderet rapi, memeluknya untuk menambah daya jiwa. Ku melipat rindu simpan dalam saku hati. Membawanya ke dunia tempat di mana aku kembali memijakkan kaki.

Kereta memori berjalan sendirian. Aku melangkah maju menyambut realita.

Tiada kata indah selain kuucap terima kasih selamanya atas segala doa yang telah teruntai darinya. Kini kau telah tiada. Tak mampu lagi kujangkau. Maafkan atas segala sikapku.

Tersenyumlah, aku melanjutkan hidupku. Tersenyumlah, kau bersama bidadari-bidadari syurga.

#lagukenangan

Sragen
Senin, 19 Juli 2021

(Aptstn)