Engkaulah Alasannya

Ilustrasi pixabay


Engkaulah Alasannya

***

Putaran waktu terasa begitu lamban saat jemari menghitung mundur ribuan hari. Ketika selembar kertas usang bertuliskan sebuah nama, tersimpan rapi di tempat terindah. Bila hanya angan yang mampu melayang, jika hanya semilir angin yang mau menyampaikan pesan, rindu tak akan mencari atau menunggu. Hanya ingin membisikkan ...,"Kuingin kau tau alasan aku bertahan."

Sabtu pagi di beranda rumah yang belum lama terisi, gigil membuatku enggan beranjak dari kursi malas. Bahkan sekadar menyeduh teh hangat pun, kaki menolak untuk berdiri.

Berawal dari kegelisahan panjang, kupertaruhkan hati demi satu akad kepada-Nya, untuk siap dalam keadaan tak menyenangkan. Kini aku mulai teriak letih. Entah sudah berapa kali benak berputar, telunjuk mengetuk kening untuk mengingat masa silam. 

Tersirat rangkaian kata penuh makna, dari sebuah artikel di majalah tempo dulu tentang 'cinta kasih tiada batas'. Penulisnya seorang praktisi spiritual.
Belum juga kupahami, isi kepala terdengar riuh, penuh tanda tanya. Apa artinya? Apakah begini atau begitu?

Dada terengah-engah tak karuan, mungkin karena semalaman terjaga. Mungkin juga karena merahnya hati tak lagi murni. Ada sedikit lebam membiru, sisa telapak kasar lelaki pecandu hasrat. Perutku bergejolak, berbaur ambisi juga pendar emosi. 

"Tuhan, kumohon rangkul diriku sebelum angkara menelan kesadaran."

Kutarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik, lalu mulut kering terbuka dengan paksa. Mengeluarkan gumpalan kelabu tak terlihat, mewakili noda dari hati yang hampir mati. Apakah aku lelah?
Ingin menyerah, namun naluri enggan mengalah. Aku ingin bertemu dia, akan kupertanyakan segala arti.

Sayup terdengar alunan irama lembut menusuk kalbu. Entah dari arah mana  mengikuti embusan angin, itu seperti lagu pengharapan....

There goes my heart beating__Cause you are the reason__I'm losing my sleep__Please come back now__And there goes my mind racing__And you are the reason__That I'm still breathing__I'm hopeless now___

Liriknya membelai naluri seakan menyampaikan risalah hati. Kutadahkan dua tangan, menatap biru langit yang menawarkan kedamaian. Bayangan seraut wajah bersahaja, seolah menyuruhku diam dalam harap kepastian. Jangan berlari diliputi ambisi, menelusuri pelan-pelan beserta keyakinan yang sudah tertanam. Atau tunggu saja dia datang setelah mendengar tembang kerinduan. 
Aku hanya tinggal melapalkan ayat-ayat pengharapan, menuliskan syair-syair kesunyian dalam bait puisi demi mengukuhkan kesetiaan.

__Oh, 'cause I need you to see__That you are the reason

Sebaris lirik terakhir lagu itu seperti memanggil, menjanjikan banyak arti, sekaligus juga menjatuhkan badanku dari kursi malas saking hanyut dalam melodi musiknya. Aku terlihat begitu payah! Kuusap wajah beberapa kali, mencoba keluar dari ilusi. Tetap harus menjaga keseimbangan hati dan pikiran, meski tubuh sedang ringkih. Tadi mataku nyaris terbuai lelap, mungkin bermimpi. Bisa jadi sedang memasuki alam imajinasi, atau jangan-jangan rayuan ilusi.

Masih tersisa rinai semalam di pucuk kering dedaunan. Kedua irisku terasa agak berbeda dari biasa, ada letih berlebih sejak kemarin. Rasanya ingin meraup bulir-bulir embun untuk membasuh mata ini. Semoga mentari memberi waktu lebih lama sebelum sinarnya melahap embun.

Pada fase kedua perjalanan hidupku, ketika masa kecil dan masa remaja sudah terlewati meski tak begitu indah. Kini merasa sedang berjalan dengan kaki pincang, seperti merpati dengan sayap-sayap patah. Ingin terbang tinggi meraih asa, namun impian begitu sulit kugapai karena terbelenggu sesuatu yang entah kapan usai. Nuansa pernikahan yang rumit.

Dalam lintasan waktu, aku masih setia dengan caraku menikmati hitam putih kenangan. Tentang apa yang harus kuterima dan kuberi, meski tak cukup satu kekuatan untuk rela.
Ketika sadar bahwa di dunia ini ada hal yang sulit dikendalikan, di antaranya cinta dan jodoh. Intuisi meraba setiap jengkal syaraf naluri, hati dan pikiran meracau, emosi menari bergerak kian kemari.
Ternyata perasaan memang selalu jujur, terungkap dengan lisan, dengan bahasa diam atau dengan cara lain, tetap akan mencari kesesuaian.

Berjalan bersama waktu, kini aku sedang termangu di persimpangan. Dari air yang mengalir, kupelajari arti ketulusan. Dari derasnya riam, belajar arti kejujuran. Aku adalah aku yang ingin tetap seperti diriku. Boleh terikat namun tak mau terkekang.

*

Ruang pengetahuan mengajarkan sebuah pengertian, bahwa niat akan selalu mencari jalannya sendiri. Baik atau buruk, bertindak atau tidak, niat itu sendiri akan menelusuri jalannya.

Aku hanya manusia yang berkeinginan, hanya berbicara kemungkinan, bukan kepastian. Terkadang sanggup dan tak sanggup menerima kenyataan pahit yang paling perih, rela dan tidak rela diperlakukan kurang baik dari manusia lain, semua itu menuntut sejauh mana kemampuan.
Ada kala merelakan apa-apa yang tak sesuai, ada saatnya pula tidak rela melepaskan apa yang kuinginkan. Di situasi ini, bilik emosi benar-benar jadi arena pertarungan.

Perihal asa cinta manusia biasa untuk sosok pria yang kudambakan, apa aku termasuk dalam kewajaran, atau justru ketinggian harapan?
Sungguh. Aku tak mampu menjawabnya, bibir ini kelu, hati dan pikiran masih sulit berdamai.

Yang jelas ingin kuceritakan, kutuliskan dalam catatan, yaitu peristiwa sederhana ini. Di mana hanya diriku yang mengerti dan Maha Pemilik Hati yang boleh menghakimi.
Ketika nyanyian itu merayu ingatan, maka kuikuti intuisi. Saat lirik lagunya menggoda naluri, kunikmati pesona imaji.

Tunggu dulu! Bukankah aku baru sebatas mendengar alunan syahdu? Hanya beberapa lirik yang terekam di benakku, belum tau pasti judul dan siapa penyanyinya. Ah..., sudahi saja! Aku sedang lelah, nanti kucari tau.

*

Beberapa hari berlalu, kesibukan melibatkan tenagaku agar menyelesaikan urusan nyata yang tertunda. Hingga ada satu sore kurasa luang untuk bercengkrama di dunia maya. 

Lagu itu terdengar lagi. Kali ini begitu jelas melintas di laman instagram. Tampil dengan visualisasi yang menggelitik. Sang pelantun lagu ternyata Calum Scott, lelaki Britania dalam album terbaru yang dirilisnya.

Terlepas dari itu, seraya kuputar berulangkali, ada sesuatu yang lebih menarik angan. Jantung berdetak kencang, nyaris badan melonjak dari tempatku bergeming. Pemilik akun IG-nya, profil yang tak asing lagi. Satu nama dalam tiga kata, dia yang kutulis dengan inisial. Punya arti tersendiri di palung terdalam sanubari. 

Masih tak percaya, kutelusuri jejaknya untuk meyakinkan tanda tanyaku. Benarkah dia? Dia-kah yang kucari sekian lamanya. 
Kemudian ada senyum, andai saja cermin tersedia di dekatku, mungkin akan tertawa melihat ekspresi bibir dan mataku. Apalagi kalau mampu menembus relung hati, tentu tampak ada yang melonjak-lonjak tak karuan. Darahku berdesir tak tentu arah mengalir.

Sesaat terdiam, kurapikan posisi badan. Membenahi seisi batiniah semampu mungkin agar redam, tenang. Menyiasati emosi, menyiapkan keberanian untuk menyapa langsung secara personal, nyatanya tak segampang menekan tombol 'follow'. Pertimbangan rasional di kepalaku aktif untuk menghormati privasi orang lain.

Baiklah, kupilih waktu yang tepat untuk memasuki ruang paling intens. Direct messages.

*

Siap dengan niat dan tujuan yang kurasa baik, ingin menjalin silaturahim. Akhirnya meluncur kata permulaan, salam. Lalu respons yang sesuai pun datang tak begitu lama dari waktu aku harus menunggu. Jalinan komunikasi yang baik, tutur kata demi kata tersusun rapi dan mendidik. Ternyata memang tak keliru penilaianku dari awal untuk figur satu ini. Memunculkan rasa aman, menebar ketentraman serta melahirkan kenyamanan. Aku tersipu di sudut paling rawan bagian jasmani dan rohaniku. Mungkin inilah sesuatu yang kurindu.

Seiring kekariban yang tumbuh kian berkembang. Dia banyak memberiku hal baru, wawasan luas yang masih asing bagiku. Dari vidio singkat yang sering dikirim untukku, sebagian besar menampilkan potret dunia dan isinya. Film-film pendek bernilai tindakan tanpa banyak bicara, menunjukkan selera hidupnya.

Semuanya kusimpan di ruang yang sulit terlihat. Bahkan dia sekalipun.
Akan kujadikan bahan perenungan tentang apa-apa yang belum kupahami, serta apa yang pantas kuungkapkan kepadanya. Mungkin lain dari yang lain bagiku, ini rasa yang tak biasa. Aku hanya masih takut akan kehilangan orang yang berharga.

Kukerahkan segenap hati menepis ragu. Sampai suatu malam di ambang pagi, mengungkapkan rasa yang ada. Aku takut jatuh cinta, tapi selalu rindu. Berharap itulah kata-kata yang jujur dan sesuai dengan kegundahan batin selama ini.

Siangnya baru kudapati jawaban. Tanpa ambigu dia menyatakan, tanpa sekat menyibak tabir kekuatan dan kelemahan dari hubungan kami. Makna dari apa yang sudah terjadi dan sedang berjalan. Ternyata kami adalah pasangan, hati dan pikiran saling mengisi seimbang. Itulah kenapa dia hadir ketika aku bimbang, kenapa dia datang justru di saat aku diam menghentikan pencarian.

Menjelaskan tanpa menghakimi, dia menghargai perasaanku dengan sempurna. Hikayat tampil untuk menjawab tanya. Dia meninggalkan tanpa menanggalkan arti diriku, arti dirinya. Dalam konteks belahan jiwa, kami adalah satu yang utuh. Mencintai tanpa harap memiliki adalah wujud dari cinta kasih tiada batas (unconditional love). Sesuai dengan artikel yang ditulisnya dahulu kala.

Kini aku mengerti tanpa beban, tak harus merasa kehilangan walau dia berlalu tanpa ucapan. Dia seperti elang, melayang rendah saat lelah, terbang tinggi mengangkasa sebagai pecinta kebebasan. Dan aku tetap seperti diriku, pecinta diam tanpa kekangan. Penyuka sunyi tanpa kesepian. Karena ruang rinduku terisi lirik dan bait-bait tembang keharmonisan yang menenangkan. Seperti lagu, "You are The Reason".
Lagu ini ditulis oleh Calum Scott, Jon Maguire & Corey Sanders,17 November 2017.

***

#lagukenangan