Benarkah Tuyul Ada?

Tuyul (sumber: minews.com)+

Indramayu, sebuah kota di Jawa Barat yang cukup terkenal selain Bandung dan Cirebon. Indramayu selain terkenal sebagai kota mangga juga terkenal dengan berasnya yang terkenal pulen. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah desa tempat kami harus melakukan Kuliah Kerja Nyata yang kulihat sawah-sawah menghijau di kiri kanan jalan kecil yang menghubungkan jalan raya Pantura dengan pemukiman penduduk.

Aku turun dari bis Jakarta-Cirebon, lalu melanjutkan dengan jalan kaki menuju desa yang kami tuju. Karena berjalan bersama teman-teman, perjalanan yang cukup jauh tak terasa melelahkan karena kami berjalan sambil bercerita dan berkelakar.

Setiba di desa tujuan, kami langsung menemui pak Kuwu, sebutan Kepala Desa disana. Langsung dilakukan pembagian tempat tinggal dan kebetulan aku mendapat tempat di rumah pak dan bu Broto. Pak dan bu Broto bukan termasuk orang kaya di desa itu, karena pak Broto hanyalah buruh tani untuk sawah yang dimiliki orang Jakarta. Oleh karena itu, bu Broto masih bekerja membuka warung makan di depan rumahnya. Meski makanan yang dijualnya sederhana, seperti ikan goreng dan karedok, namun warungnya cukup ramai, karena masakannya terkenal enak. Apalagi saat kedatangan mahasiswa KKN, warungnya makin bertambah ramai.

Karena kesibukan program KKN, aku jarang berbincang dengan pak maupun bu Broto. Baru menjelang berakhirnya program KKN, bu Broto sempat curhat padaku, saat aku sedang makan siang di warungnya.

"Nak Zai, sudah hampir selesai ya, terima kasih dengan program KKN yang memperbaiki sanitasi di desa ini, sehingga kami bisa mandi dengan air bersih," ujarnya.

"Sama-sama, bu Broto," jawabku sopan.

"Nak Zai, ibu mau curhat sedikit, tapi nak Zai jangan tersinggung ya," lanjut bu Broto.

"Mangga, 1), bu." jawabku.

"Begini nak Zai, ibu selalu bersyukur warung ibu selalu ramai, tapi yang ibu heran, uang hasil jualan di warung selalu saja ada yang hilang, uniknya tidak hilang semua, tetapi hilang sebagian. Ini bukannya ibu curiga dengan nak Zai dan teman-teman,".ceritanya.

"Dan ibu yakin, pak Broto maupun Aris anak kami tidak mungkin yang mengambilnya. Karena sudah terbiasa pasti mereka akan minta dan tidak berani mengambil sendiri, meski mereka memerlukan uang," sambungnya.

"Jadi, menurut perkiraan bu Broto siapa kira-kira yang mengambil?" tanyaku.

"Perasaan ibu sih ini perbuatan tuyul yang konon dipelihara oleh seseorang. Tuyul adalah mahluk gaib berbentuk anak kecil dengan kepala gundul yang gemar mencuri uang lalu memberikan pada orang yang memeliharanya," jelasnya.

"Disini memang kabarnya ada warga yang memelihara tuyul dan bahkan ada yang menuduh ibu  mempunyai aji pesugihan karena warung ibu selalu ramai".

"Wah, aku koq tidak percaya ada tuyul, bu Broto," jawabku.

Ditengah curhat yang disampaikan bu Broto, aku mendengar sebuah lagu anak-anak Jawa Tengah melalui radio yang terdapat di warung itu. Agak aneh terdengar lagu Jawa Tengah di Jawa Barat. Bunyinya: "Gundul gundul pacul gembelengan. Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan. Wakul gelimpang segone dadi sak ratan. Wakul gelimpang segone dadi sak ratan".

"Begini bu Broto, bila ibu yakin pencurian uang itu dilakukan oleh tuyul, aku pernah membaca di internet ada penangkalnya. Coba bu Broto ikat uang yang diterima dengan karet, lalu pada peti uang letakkan kaca dan kelereng agar tuyul dapat mainan baru sehingga lupa dengan tugasnya untuk mencuri uang," saranku.

 "Juga jangan bolong sholatnya bu Broto."

"Baiklah nak Zai, akan ibu lakukan. Terima kasih ya," sahut bu Broto.

Saat ini aku sedang di dalam bis Cirebon-Jakarta yang melaju kencang di jalan raya Pantura, karena saat itu belum ada jalan tol Cipularang.

Karena teman-teman sudah pada tertidur, aku iseng mencari lagu di hpku dan terlihat lagu "Gundul Gundul Pacul", lalu aku memainkannya. Pikiranku langsung melayang ke warung bu Broto, apakah saranku berhasil mengelabui tuyul sehingga uang bu Broto terselamatkan. Aku tidak tahu hasilnya, karena sejak curhat bu Broto dulu, aku selalu lupa menanyakannya. Tadi saja saat mau pulang, aku hanya berpamitan saja, tapi lupa menanyakan nasib si tuyul.

"Gundul gundul pacul gembelengan. Nyunggi nyunggi walul kul gembelengan. Wakul gelimpang segone dadi sak ratan. Wakul gelimpang segone dadi sak ratan."

#lagukenangan

Terjemahan:

1) mangga = silakan