Doa Ibu, Dosa Ibu

Ilustrasi oleh squarefrog. Sumber: Pixabay

Aku ingin membunuh ibuku.

Tapi tidak akan kulakukan. Biar ajal saja yang menjemputnya sendiri.

Ini adalah ceritaku, sebagian besarnya adalah tentang ibuku.

Memang sebuah fakta umum bahwa kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita. Dan merupakan sebuah fakta umum pula bahwa menghormati orang tua adalah wajib bagi seorang anak—dan bila ada anak yang menyalahi aturan itu, maka cap "anak durhaka" akan dilontarkan oleh masyarakat.

Namun, itu adalah fakta umum—general. Dan juga ideal. Dalam realitas, selalu ada hal yang khusus di antara sekian hal umum. Selalu ada hal yang lain, yang berada di luar wilayah ideal. Maka itulah coba kusampaikan cerita ini kepada Anda.

Dalam hal selera musik, aku tergolong orang yang old school. Alih-alih menggunakan layanan streaming lagu daring macam Spotify ataupun YouTube Music, aku masih suka menelepon radio untuk meminta diputarkan lagu. Kurasa pengalamannya lebih otentik, lebih intim, ketimbang mendengar suara digital tak bernyawa di ujung server layanan musik web—belum lagi iklannya (kecuali kalau kita membayar mereka tiap bulan).

Lagu Rock You Like A Hurricane oleh Scorpions, band rock asal Jerman yang legendaris, lantas menggaung di ruang dengar kami. Lagu ciptaan Klaus Meine dan Herman Rarebell itu senantiasa menjadi pengingat hubungan keluarga kami yang jauh dari ideal, khususnya antara aku dan ibuku.

"My cat is purring, it scratches my skin. So what is wrong with another sin?"

 

***

 

Aku bungsu dari tiga bersaudara. Usiaku dengan dua kakak-kakakku terpaut sangat jauh, masing-masing 11 tahun dan 10 tahun. Dari cerita kakak perempuanku yang nomor dua, sedari aku kecil ibu tidak pernah menggendongku.

Kurasa sebutan yang paling cocok untuk mendeskripsikan ibuku adalah "Baginda Ratu"—sebab dia sangat otoriter dan lumayan menyukai kemewahan duniawi. Karena posisinya adalah sebagai putri sulung dari keluarganya sekaligus menjadi saudara tua yang disegani bagi sanak-sanak saudaranya, dia merasa harus memimpin dan mengatur segala sesuatunya tanpa kecuali. Termasuk kepada anak-anaknya. Misal Anda menjadi anak dari ibu saya, maka Anda akan merasa terkungkung dan tak punya otonomi. Dia juga manipulatif—dia punya bakat khusus untuk membuat Anda menuruti permintaannya, yang dia olah sedemikian rupa seolah-olah itu adalah permintaan Anda sendiri.

Ayahku pun tidak lebih baik. Singkatnya, dia lemah dan pengecut. Aku masih ingat ketika masih SMP, ketika aku minta diantar ke suatu mall baru untuk menghadiri acara lomba mading antarsekolah, dia sama sekali tidak mau mengantarku masuk. Aku tersesat sendirian di mall asing itu. Aku cukup cemas dan takut waktu itu, sampai aku bertemu temanku di situ dan menuju lokasi lomba bersama-sama.

Lantas, bagaimana orang seperti ayahku bisa menikah dengan orang seperti ibuku? Sebabnya, posisi dan kedudukan—ayahku adalah putra seorang perwira tinggi ABRI Angkatan Darat. Mungkin oleh sebab itu pula, tak pernah ada cinta dalam sekian dekade kehidupan pernikahan mereka. Hanya ada teriakan bising menusuk telinga, yang sumbernya tentu saja dari pertengkaran mereka.

Mereka selalu bertengkar, selalu bicara dalam nada tinggi, dan tak pernah sekamar sejak aku masih kecil sekali—sampai-sampai pernah terbentuk konsep bahwa adalah "normal" apabila ayah dan ibu tidur di kamar terpisah. Meski demikian, sejatinya mereka berdua adalah pasangan yang cocok. Mereka punya kesamaan dalam satu hal—sama-sama memiliki sifat kurang amanah. Ayah suka mengorupsi uang belanja, ibu suka mengambil "jatah" dari dana bendahara lansia.

Sebetulnya keluarga kami hidup mapan, dan hasrat vanity Baginda Ratu dapat tersalurkan. Namun, krismon 1998 mengubah semuanya. Semua harta kekayaan kami habis, sampai kami harus pindah di rumah yang belum selesai dibangun. Segala privilese sebagai keluarga perwira AD tidak sempat saya nikmati.

Begitulah, seketika kehidupan kami meluncur ke bawah. Pertengkaran yang tak habis-habis setiap hari, perlahan tapi pasti mengganggu tumbuh kembangku. Sayangnya, baik kakakku laki-laki nomor satu maupun kakakku perempuan nomor dua sudah memiliki keluarga masing-masing. Mereka jadi tak bisa menemani dan membimbingku.

Aku tumbuh menjadi anak yang suka membaca, dan mempelajari banyak hal secara otodidak—salah satunya adalah bahasa Inggris. Kedua orang tua bisa dibilang abai terhadap perkembangan minat dan bakatku. Karena ketiadaan sosok pembimbing, baik dari orang tua maupun saudara kandung, aku banyak melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait pendidikan. Aku salah memilih jurusan perkuliahan dan akhirnya kuliahku itu pun tidak tamat.

Aku percaya pada konsep keadilan. Bila anak bisa berdosa terhadap orang tua, tentunya orang tua dapat saja berdosa terhadap anak-anaknya. Seperti kata Scorpions, "So what is wrong with another sin?"

Aku sendiri juga memiliki banyak dosa terhadap orang tua. Namun, tak dapat dipungkiri, dosa orang tua turut memiliki andil yang besar dalam hal ini. Mulai dari tidak memerhatikan tumbuh kembangku khususnya dalam hal psikis, tidak memberikan bimbingan, tidak hadir menemani di masa-masa sulit penuh trauma—contoh sederhana: ketika saya dikhitan, ibu saya malah sembunyi ketakutan (justru yang menemani malah kakak perempuan saya). Kemudian, terlalu mengontrol, tak rasional, dan tak bisa diajak bicara dan tukar pendapat—selalu menangnya sendiri dan minta dituruti. Ditambah lagi, dia selalu menggunakan posisinya sebagai ibu agar bisa memenangkan segala macam argumen: surga di telapak kaki ibu, doa ibu selalu mustajab, dan semacamnya. Segala kekacauan itu membuatku meninggalkan rumah orang tuaku dan memilih tinggal di tempat kakakku.

Namun ada satu dosa ibuku yang terbesar: dia menyebabkan kematian kakak perempuanku. Tidak secara langsung memang, tapi tetap saja.

Almarhumah kakak perempuanku sering bercerita, dia hidup seperti boneka di bawah kendali ibu. Karena kakak adalah anak perempuan satu-satunya, dan Baginda Ratu adalah orang yang sangat menjaga citra, maka kakak dipermak—dan dikontrol kehidupannya—seperti (boneka) putri raja yang disiapkan untuk dinikahkan dengan menantu dari keluarga berderajat tinggi. Siapapun pria yang menjadi pacar kakakku langsung diputuskan secara sepihak bila dipandang tidak memenuhi standar Baginda Ratu. Kakakku sempat stres berat dan terpikir untuk mengakhiri hidup. Syukurlah itu tidak dilakukannya.

Pada akhirnya, kakakku dinikahkan dengan seorang dokter pilihan ibuku. Baginda Ratu tentu bangga. Namun, malang bagi kakakku. Oleh sebab kakakku tergolong orang yang tidak suka ribut, kehidupan rumah tangganya tidak nampak memiliki masalah berarti. Dia hanya berusaha mengabdi sebaik mungkin kepada suaminya, tapi siapa yang tahu sebenarnya berapa berat beban hati yang harus ditanggungnya—kurasa tak ada yang sungguh-sungguh memahaminya. Mereka dikaruniai tiga orang anak yang sehat. Kakakku sendiri juga menjadi sosok ibu yang baik terhadap anak-anaknya dan mampu berwirausaha dengan sukses. Aku tinggal di keluarganya selama kurang lebih tiga tahun.

Sebaik bagaimanapun sosok kakakku, sosok dokter yang menjadi suaminya ini sejatinya bukan sosok yang cukup baik. Ia berwatak kasar, tak peduli sopan santun, dan cenderung kampungan—meskipun berpendidikan tinggi sebagai dokter. Entahlah, mungkin karena faktor asal daerahnya atau kebiasaan di keluarganya. Tapi namanya kakakku tetap saja bersikukuh dan yakin bahwa watak suaminya bisa berubah seiring waktu.

Watak kasar dan kejelekan-kejelekan itu kelihatannya kecil saja dan bukan masalah di kehidupan sehari-harinya, namun ini menjadi masalah besar saat kakakku terserang kanker. Dokter itu malah mudah emosi dan kurang telaten dalam merawat kakakku. Bahkan, berdasarkan keterangan anaknya, pernah si dokter sampai membanting piring karena kakakku begitu susah makannya. Yang lebih parah lagi, dokter ini lebih percaya pada takhayul berkedok religius ketimbang keilmuan kedokteran. Alih-alih diberikan penanganan medis, kakakku malah dibawa kepada terapi pengobatan tradisional yang entah kredibel atau tidak.

Hasilnya, tidak sulit ditebak. Setelah sekian bulan, kakakku meninggal dunia. Usianya masih 39 tahun.

Itu adalah tragedi besar dalam keluarga kami. Kakakku meninggal karena sesuatu yang sebetulnya sangat bisa dicegah. Dokter itulah yang secara tak langsung mengakibatkan kematiannya. Namun bila ditarik ke belakang lagi, siapa yang menikahkan kakak dengan dokter itu?

Sudah tentu, ibu.

 

***

 

Di ruang dengar, Rock You Like A Hurricane masih bergaung. Itu lagu kesukaan ibuku, yang ironisnya, kini menjadi lagu kesukaanku juga. Aku menikmati lagu itu dengan cara yang berbeda: sebagai ekspresi amuk redam sekaligus pengingat akan dosa ibu, juga dosa-dosaku sendiri.

Orang bilang doa ibu itu mustajab—mudah dikabulkan. Namun apa kira-kira hal yang selalu ibuku panjatkan dalam doanya, aku tak pernah tahu. Dan aku tak peduli.

Jangan salah, aku masih ingin membunuh ibuku.

Tapi tetap tidak akan kulakukan. Sekali lagi, biar ajal saja yang menjemputnya sendiri.

 

#lagukenangan