Tiga Ayu di Sepanjang Jalan Kenangan

tribunnews.com

Sepanjang jalan kenangan

kita selalu bergandeng tangan

Sepanjang jalan kenangan

kau peluk diriku mesra

Tembang lawas ciptaan A. Riyanto yang dilantunkan Tetty Kadi berkumandang di layar TV di kamarku.  

Ah, hanya sebuah lagu, namun lagu ini begitu membekas di hatiku sehingga setiap mendengarnya, tidak terasa beberapa tetes air mata nan hangat mengalir di pipi yang sudah tidak muda lagi ini.

Sejatinya ini bukan kisah diriku, melainkan kisah seorang sahabat lama yang bahkan tidak mau disebutkan jati dirinya. Karena itu namanya pun akan aku samarkan di kisah ini. Apakah teman mau mendengarkan kisah ini? Walau setelah itu bisa saja teman akan sulit tidur dan selalu terbayang-bayang dalam pikiran:

————

Kota Bandar Lampung sekitar pertengahan tahun 1975-an. Dahulu kota ini belum bernama Bandar Lampung melainkan Tanjung Karang Teluk Betung. Nah di kota inilah kebetulan aku bersekolah, tepatnya Sekolah Menengah Pertama alias SMP. 

Sekolahku terletak di kawasan Teluk Betung Utara yang berbukit bukit sementara rumahku terletak di sebelah selatan kota, di dataran rendah tidak jauh dari pantai Teluk Lampung nan indah.  Pada zaman itu aku selalu pulang sekolah dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan raya yang menurun. Sementara kalau pergi sekolah, tentunya lebih nyaman dan cepat naik oplet. Lagi pula ongkosnya hanya 10 Rupiah yang pada masa itu cukup untuk membeli semangkok bakso di kantin sekolah.

Di musim hujan, aku selalu menyiapkan payung lipat di dalam tas sekolah sehingga walaupun hujan tetap bisa pulang berjalan kaki ke rumah yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari sekolah.

Suatu siang ketika aku berjalan kaki pulang dari sekolah, hujan rintik-rintik mulai membasahi jalan.  Aku membuka payung lalu kemudian berjalan perlahan menyusuri jalan yang menurun. Aku juga harus ekstra hati-hati melangkah karena jalanan lumayan licin.

Kakak, boleh aku ikut numpang payungnya,”  tiba-tiba seorang gadis kecil berseragam SMP muncul dan ikut berjalan di sampingku. 

Walau belum kenal, dengan sedikit malu-malu, aku tidak kuasa menolak dan berjalan beriringan bersama gadis kecil tadi. Sepayung berdua sepanjang sekitar satu kilometer menuruni jalan sampai di depan sebuah masjid.  Di sini, gadis itu pamit sambil mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa rumahnya di dalam gang beberapa ratus meter di belakang masjid. 

Aku bahkan belum sempat menanyakan namanya. 

Sejak pertemuan itu, hampir setiap hari ketika pulang sekolah, Ayu, demikian nama gadis yang mengaku satu kelas di bawahku itu, berjalan pulang bersamaku.  Dia selalu menunggu di tempat yang sama, baik hujan maupun tidak kami berdua selalu berjalan bersama menuruni jalan sepanjang sekitar satu kilometer sampai di gang dekat masjid menuju rumahnya.

Anehnya, Ayu selalu menolak bila aku ingin mengantar sampai ke rumahnya dan mampir sejenak.

"Jangan kak! Nanti ayahku marah," jawabnya menolak dengan sedikit manja.

Waktu terus berjalan. Sudah hampir tiga bulan aku dan Ayu selalu  'kencan' selama sekitar 15 menit berjalan santai di sepanjang jalan itu. Sepanjang jalan penuh kenangan yang aku namakan 'Jalan Kenangan' cinta pertamaku. Walau hanya cinta monyet karena kami berdua masih anak SMP.  

Hingga tiba masa ujian akhir SMP dan sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ayu. Mungkin karena waktu pulang ujian tidak bersamaan dengan waktu pulangnya Ayu.

Sampai akhirnya aku sempat bertanya-tanya ke adik kelas di sekolah. Ternyata tidak seorang pun yang mengenal Ayu.

Setelah ujian selesai, rasa penasaran membawaku berkunjung ke gang tempat aku dan Ayu selalu berpisah. Di sana aku bertanya-tanya, barangkali ada yang mengenal  Ayu sambil menjelaskan ciri-cirinya, berkulit sawo matang, manis, wajah oval, rambut dikepang dua dan mempunyai lesung pipit dan bulu mata yang lentik. Tinggi nya sekitar beberapa sentimeter lebih pendek dari tubuhku.

Namun tidak ada seorang pun  yang kenal Ayu. Ketika aku hampir putus asa, ada seorang lelaki berusia sekitar 45 tahun yang mengatakan bahwa dia mempunyai anak perempuan yang bernama Ayu.  Ayu memang pernah bersekolah di SMP yang sama denganku dan sekitar lima tahun yang lalu, Ayu meninggal karena kecelakaan tertabrak truk yang remnya blong ketika pulang sekolah. 

Lelaki itu kemudian menunjukan sebuah pas foto  hitam putih yang ternyata memang foto Ayu. 

Rasa sedih kehilangan Ayu secara perlahan mulai terlupakan dengan berjalannya waktu dan kepindahanku ke pulau Jawa sewaktu SMA.  Tepatnya ke kota Yogya. 

Kali ini aku bersekolah di sebuah SMA swasta di bagian timur kota Yogya sementara tempat tinggalku di kawasan barat kota. Namun dengan adanya sebuah sepeda tua bekas yang kubeli di Pasar Ngasem.  Perjalanan ke seantero kota terasa mudah.

Waktu berjalan cepat, tidak terasa aku sudah duduk di kelas 3.  Suatu siang ketika sedang pulang sekolah sambil mengayuh sepeda dengan cepat di Jalan Solo, tiba-tiba sepedaku menabrak seorang gadis dan kemudian kami berdua terjatuh.

“Maaf Mbak,” kataku sambil membantu gadis itu untuk bangun.

Untungnya, kami berdua tidak terluka dan hanya pakaian kami yang sedikit menjadi kotor.

“Ayu,” kata gadis itu memperkenalkan diri. Aku kemudian menawarkan untuk membonceng dan mengantarnya pulang. Sepeda berjalan perlahan menuju Kota Baru yang termasuk kawasan elite di kota Yogya.  Ayu minta diturunkan di jalan Abu Bakar Ali di dekat gereja Katolik St Antonius Padua. Ayu hanya bilang bahwa rumahnya  di dekat gereja dan tidak mau diantar sampai di depan rumah.

Demikianlah hampir setiap pulang sekolah, Aku selalu 'dihadang' Ayu di Jalan Solo dan kemudian mengantarnya pulang ke Kota Baru.

'L'histoire se répète,' demikian kata orang Perancis. Kisahku dengan Ayu di Yogya ini ternyata mengulangi kisah dengan Ayu kecil tiga tahun lalu di Lampung.   Setelah ujian akhir SMA, Ayu menghilang. Beberapa hari kususuri jalan kenangan dari Jalan Solo hingga Kota Baru dengan sia-sia. Ketika  kuselidiki lebih lanjut, aku hanya menemukan fakta bahwa Ayu sebenarnya telah meninggal lebih 5 tahun lalu  karena kecelakaan tepat di depan gereja.

Walau dua kali mengalami peristiwa tragis ketika  berkenalan dengan gadis bernama Ayu, kehidupan harus terus berjalan. Tamat SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung.  Siapa sangka di kota ini kisah bersama  Ayu yang lain pun terjadi lagi.  Hanya tempatnya yang berbeda yaitu di kawasan dekat kolam renang di Cihampelas.

———-

Sahabat lama itu menghisap sebatang rokok dan menghembuskan asapnya sehingga bergulung-gulung di udara malam.  Sejenak dia mengakhiri  kisahnya.

Lalu dengan siapa kamu menikah, apakah dengan salah satu Ayu juga? Tanyaku penuh selidik.

Kisah Ayu cukup tiga babak, aku mengenal almarhumah istriku, Ajeng di Jakarta ketika aku sudah bekerja.  Biarlah kisah Ayu dan memori lagu Sepanjang Jalan Kenangan menjadi nostalgia masa lalu.” 

Akan tetapi sebelum berpisah denganku, sahabat lama itu kemudian melanjutkan: 

“Seminggu setelah Ajeng meninggal, ketika aku pulang dari kantor mengendarai mobil, tiga Ayu dari masa lampau seakan-akan hidup dan muncul kembali menghantui diriku.  Tidak tahu dari mana, mereka ikut naik di mobilku di sekitar Monas dan kemudian masing-masing mengajak diriku pulang ke Lampung, Yogya dan Bandung.   Ketiganya lenyap ketika mobilku masuk tol di kawasan Semanggi.”

“Hal ini terus terjadi berulang-ulang selama sebulan terakhir sampai sore tadi.”

Sahabatku mengakhiri ceritanya bersamaan dengan habisnya rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Dia mematikan puntung rokok itu di asbak yang ada di atas meja sambil menarik napas panjang. 

Raut wajahnya tampak gelisah. Masa lampau menghantui dirinya. Dia kemudian pamit, memelukku erat-erat seakan-akan kami tidak akan bertemu lagi dan mengucapkan selamat tinggal.

Malam itu, seminggu yang lalu, adalah pertemuanku yang terakhir dengan sahabat lama itu.

Semalam tersebar berita di WA group bahwa Ia telah meninggal karena kecelakaan di tol dalam kota sekitar kawasan Semanggi.

Bekasi, 17 Juli 2021

#lagu kenangan

Seperti dikisahkan seorang sahabat lama seminggu sebelum meninggal di Jakarta.