Memori Sendu Bengawan Sore

Ilustrasi

Sanadyan kaya ngapa manungsa, mung bisa ngreka lan njangka
(Sehebat apa pun manusia, hanya bisa  berencana)
Gusti kang paring idi lan pesthi, kita sak derma nglampahi
(Tuhan yang menentukan, kita sekadar menjalankan)

--

Bengawan Sore milik maestro Jawa-Manthou's- mengalun sendu melalui pengeras suara bus yang kutumpangi. Seketika mataku memejam, meresapi tiap bait tembang itu. Melemparku pada kenangan tentang lelaki tua yang pernah menggantikan figur ayah sekaligus ibu.

Lagu kesukaannya ini dulu sering melantun melalui sebuah radio tua. Setiap hari, setiap waktu, radio itu menemani aktifitas beliau . Aku sampai terlalu hapal liriknya. Manthou's adalah ikon seniman pada zamannya. Hingga kini sudah tiada, lagu-lagunya tetap setia dinikmati karena dipopulerkan seniman lain. Namun tetap saja, pelantun aslinya lebih berkesan.

Tentang lelaki tua--Simbah, begitu aku memanggilnya--yang  konon beliau ayah dari orang tuaku.  Aku masih bayi ketika dipungut dan dirawat olehnya. Simbah tidak hidup sebatang kara. Beliau punya keluarga. Istri, anak, cucu dan kehidupan yang normal. Tetapi denganku, Simbah seolah punya kehidupan sendiri. Beliau sendiri yang merawatku tanpa melibatkan siapa pun.

Di sana, ada pasangan muda yang sebenarnya pantas untuk menjadi figur ayah dan ibu. Tapi mereka sudah cukup dengan anak perempuan bermata coklat yang usianya hanya selisih dua tahun denganku. Aku sering menatap wanita itu dengan hati terluka. Seorang wanita dengan keluarga yang utuh dan anaknya yang cantik terawat. Namun sayang, aku tidak memiliki tempat di antara mereka.

"Untuk apa Bapak pungut anak tak berguna itu? Nambahin beban keluarga aja. Kita ini bukan keluarga yang bergelimang harta. Buat makan sehari-hari aja susah." gerutunya sambil menyuapkan bakso ke mulut sang anak.

Simbah hanya diam sedangkan aku ikut menikmati bakso itu meski hanya uapnya saja yang diantar angin ke hidungku. Aku tak pernah berani minta dibelikan seperti anak perempuan itu yang bisa menyantap kapan saja dia minta. Simbah mungkin punya uang, tapi itu hanya untuk dana darurat jika penyakitnya kambuh.

"Aturan dulu hanyutkan saja dia di Bengawan. Kali aja ada orang nggak punya anak yang nemuin." tambahnya lagi. Tak hanya si wanita muda, anak perempuan itu juga hobi menyakitiku. Melempar, memukul, mengejek, lalu setelah itu dia menangis seolah aku yang telah mengganggunya.

"Mbah, salahku apa to? " tanyaku pelan.

"Salah apa?!" jawabnya dengan nada datar, antara balik bertanya dan menyangkal pertanyaanku.

Aku tidak memiliki hubungan hangat dengan orang selain Simbah, bahkan di rumah ini. Beliau yang memenuhi kebutuhan dasar dan menyiapkan keperluan ketika aku mulai masuk sekolah.

Dengan tabungannya yang tak seberapa itu, Simbah pernah mengajakku ke Taman Jurug--kebun binatang ikon kota ini--sebagai hadiah karena aku rangking satu di sekolah. Di tempat itu, pertama kalinya aku melihat binatang bernama gajah secara nyata.

Di tepi sungai Bengawan juga aku pernah menemani Simbah  menerbangkan burung dara peliharaan beliau. Aku selalu mengagumi unggas yang cerdas itu. Sejauh apa pun dia terbang, tak pernah lupa jalan pulang. Tidak seperti orang tuaku. Mungkin mereka lupa jalan pulang.

"Nanti kamu juga akan terbang tinggi seperti dara ini." kata Simbah.

"Tapi aku nggak punya sayap." Aku masih terlalu polos saat itu. Tak pernah terpikir bahwa yang dimaksud Simbah,  suatu hari nanti aku akan pergi untuk menggapai cita-citaku.

"Belajarlah yang rajin, nanti kamu akan jadi orang yang sukses. Kamu akan jadi dokter terbaik!" ucapnya penuh semangat. Aku tertawa gembira mendengarnya. Meskipun pada akhirnya aku tak jadi dokter, namun setidaknya Simbah memiliki doa yang sangat baik dan harapan yang mulia untukku.

"Mimpi aja!"  cibir perempuan itu ketika mendengar Simbah lagi-lagi mengucapkannya di rumah. Cukup membuat mentalku terpelanting. Sejak itu aku tumbuh menjadi seorang yang rendah diri dan takut pada masa depan. Tapi roda kehidupan terus bergulir, hari berganti tanpa bisa dihentikan.

"Kamu sudah besar, sudah waktunya pergi dari rumah. Di kota, ada banyak uang. Nanti kamu bisa membeli apa pun yang kamu inginkan. Baju, sepatu, tas, apa saja!" katanya saat mengantarku ke pintu masuk stasiun.

"Mbah nanti mau kubelikan apa?"

"Minyak angin. Kalau uangmu sedang banyak, boleh membelikan mbah susu segar yang ada di Jalan Juanda itu."

"Nanti kita akan membelinya. Kita akan beli makanan yang enak-enak."

"Kalau  Bulik Safitri, mau kamu belikan apa?"

Aku terdiam.
Kalau pun iya, apa dia mau?

"Ayo, nanti ketinggalan sepur!" Simbah membuyarkan lamunanku.

***

Bus sudah sampai di terminal jam 01.00 dini hari. Aku memutuskan untuk  menuju penginapan yang sudah kupesan secara online. Solo adalah kota yang tak pernah tidur. Beberapa sudut jalan tidak pernah sepi.  Biasanya, warung susu segar dan hik buka hingga hampir jam 3 pagi.

Aku tak mengira akan kembali setelah sekian lama. Di kota lain, aku telah menemukan hidup yang sempurna. Suami yang mencintai dan anak-anak lucu yang mulai tumbuh besar.

Dulu, pertama kali menginjakkan kaki di kota itu, aku adalah orang yang tidak memiliki kepercayaan diri. Hanya dengan modal nekat dan mengikuti arahan teman-teman yang merantau lebih dulu, akhirnya aku mendapat pekerjaan. Meskipun Simbah berulang kali mendoakan agar menjadi dokter, nyatanya aku harus tertatih-tatih kerja serabutan di perantauan. Yang penting dapat uang untuk memenuhi kebutuhan dan membantu Simbah yang mulai tidak punya penghasilan.
Aku memang tidak menjadi dokter namun aku yang merawatnya ketika sakit hingga beliau tutup usia.

Hidupku mulai membaik semenjak pertemuan dengan pria yang kini menjadi suamiku. Dengan kasih sayangnya, kepercayaan diri dan kekuatan berangsur tumbuh. Lama sekali aku melupakan Solo dan Sungai Bengawan. Tak ada lagi alasan untuk datang, sebab pangkal kehidupanku di tempat itu sudah tidak ada. Namun, sebuah undangan seminar membuatku harus kembali.

Gedung pertemuan ada di sekitaran kampung halaman masa kecilku. Kini kawasan itu sudah lebih tertata dan modern. Aku menyempatkan diri mengunjungi taman publik yang dibangun di tepi sungai Bengawan. Dulu, di sepanjang sungai ada banyak pedagang kaki lima. Kini sudah dibangun pagar tinggi  dengan taman yang ditata dengan sangat apik dan dirawat oleh petugas kebersihan. Saat aku datang, mereka sedang beristirahat di bawah pohon rindang sambil menyalakan pemutar musik. Lagi-lagi, Bengawan Sore mendayu sendu di telingaku, menghadirkan kembali sosok lelaki berjasa  yang telah berpulang bertahun-tahun lalu, dalam ingatanku. Bias jingga keemasan cahaya senja jatuh di atas air sungai juga air mataku.

Ning pinggiring Bengawan wayah sore, tansaya kelingan ...
(Di tepi sungai Bengawan kala senja, semakin terbayang ...)

 

 

(Seperti dituturkan oleh Wahyuni di  Solo.)

Note:
*) sepur = kereta api
 

#catatankelam
#lagukenangan