RT Baru

Ilustrasi by Merdeka.com

Ia berselancar agar cepat sampai tujuan. Bersiap tiarap, memangku tangan, lalu menumpukan dagu di atasnya dengan perasaan bahagia penuh cinta di dekat kelopak mata. Kakinya bermain di udara, sesekali disilangkan jika bosan.

"Geser sedikit, Red," kata Plate.

Red, Plasma, Plate dan White berjajar di dekat kelopak mata. Keluarga mereka menirukan di tempatnya masing-masing.

***

Senja baru saja menenggelamkan pesonanya di ujung barat. Kumandang azan menghiasi langit biru bersemburat keabuan. Burung-burung walet saling menyalip menuju sangkarnya. Rahar mengangguk tersenyum ketika berpapasan dengan Pak Kemis di depan pagar rumahnya. Mereka berjalan beriringan menuju masjid. Red dan yang lainnya bahagia sekali melihat itu. Ada hawa sejuk tersendiri yang dirasakan bersama teman-temannya di sana.

Sehari-harinya Rahar rajin salat dan mengaji, tetapi belakangan ini ia jarang ke masjid karena pulang larut dari rapat di rumah Pak Dir--orang pertama yang merekomendasikannya agar menjadi RT. Akibatnya ia sering telat bangun pagi. Sekalinya Rahar ke masjid lagi, mereka girang sekali.

Warga sepakat dengan usulan Pak Dir. Warga sudah muak dengan Pak Prasenohadi. RT itu sudah lama mengobral janji tetapi banyak yang tak terealisasi. Setiap mengusulkan warga siapa saja yang layak mendapatkan bantuan, golongan menengah ke bawah hanya bisa gigit jari. Dana pembangunan jalan bantuan dari Pak Kuncoro--calon DPR, yang dulu diumumkan saat acara tujuh belasan Dusun Gunung Poklek dengan himbauan agar mencoblosnya ketika pilkada digelar, jumlahnya tidak sesuai dengan apa yang dulu disampaikan. Pak Kadus yang ikut mengetahui sangat menyayangkan hal itu. Pak Kadus pun mengucapkan turut berduka cita atas kelakuan RT itu kepada warga yang saat itu tengah memanen padi. Kebencian warga pada Pak Prasenohadi pun semakin menjadi-jadi.

Malam ini adalah malam pemilihan RT. Kabarnya akan dihadiri Pak Kadus. Warga pun antusias mempersiapkan segalanya agar sempurna.

Rahar adalah pemuda yang ulet. Sejak kecil ia terbiasa membantu pekerjaan ayahnya. Ia sering ikut ayahnya mengikuti kegiatan rapat dusun. Mendengarkan dengan patuh di samping ayahnya dan tidak banyak merengek atau pun usil. Dari situ ia belajar bagaimana cara menjadi warga dan mengikuti organisasi dengan baik. Rahar juga anak yang suka membantu kegiatan kerja bakti dusun. Saat anak muda yang lain hanya merokok dan bermalas-malasan duduk di bawah pohon rindang, Rahar dengan sigap membantu apa saja.

Rahar pulang dari masjid setelah salat isya. Ia lanjut mengaji di kamarnya. Red terpejam menikmati setiap ayat yang dilantunkan Rahar.

"Kenapa rasanya berbeda? Seperti ada hawa panas dari arah lain," kata Red.

Ayahnya mengetuk kamar, Rahar segera berdoa lalu bangkit dari tempat duduknya. Red mendadak cemas.

***

Di depan rumah Pak Prasenohadi, mobil terparkir rapi. Pak Dir, Pak Kemis dan Pak Gun menyalami warga yang berdatangan.

Setelah pembukaan, warga langsung menulis dalam kertas sigaret nama calon RT yang dipilih. Ada tiga nama calon. Nomor satu, Prasenohadi. Nomor dua, Sujatmiko. Nomor tiga, Rahardiyanto.

Setelah seluruh kertas suara warga dikumpulkan dalam sebuah toples, acara berikutnya adalah makan-makan. Malam pemilihan RT itu seluruh konsumsi ditanggung oleh Pak Kadus. Anaknya yang kedua baru saja membuka rumah makan, ia sengaja berbagi kepada para warga dusun. Pak Kadus memberikan kardus putih itu pada tiga calon RT sambil menyalami. Raut wajah Pak Prasenohadi menegang.

Red gelisah di dalam sana. Ia mengkhawatirkan hal besar tetapi entah apa, mondar-mandir sampai beberapa kali bertabrakan dengan Plate.

"Kamu kenapa, Red?"

"Apa kamu tidak merasa aneh?"

Plate melihat ke sekitar. "Aku merasa akan terjadi hal besar, Red."

Rahar menerima kardus putih itu. Ujung kardusnya ada goresan tinta hitam sedikit. Mencurigakan sekali, pikir Red. Saking gugupnya karena baru sekali menjadi calon RT, Rahar langsung membuka kardus dengan buru-buru.

"Baca doa dulu, Rahar!!" Red berteriak.

"Hati-hati, Rahar!!" Plate ikut cemas.

Pak Sujatmiko menepuk pundak Rahar. "Tidak perlu tegang, Har. Kalah menang itu biasa. Saya sudah berkali-kali kalah masih bahagia. Kamu juga, ya."

Rahar mengangguk tersenyum lalu menyendok nasi di hadapannya.

"Rahar!! Kenapa tidak baca doa?" Red menyayangkan hal itu.

"Bagaimana ini, Red?"

Perlahan hawa panas itu datang lagi. Semakin lama semakin panas. Raut wajah Rahar seperti tak menghiraukan perubahan suhu tubuh di dalamnya. Ia tampak menahan karena sedang berada di dekat banyak orang.


***


Malam semakin larut. Rahar tidak mulas atau pun mencret. Ia hanya buang air kecil berkali-kali karena sejak pulang dari pemilihan RT, sudah satu teko air ia habiskan.

"Plasma, White, lihat, dinding arteri mulai menggelap. Ada apa ini?" Red melihat langit-langit juga menggelap.

"Aku rasa Rahar sudah salah makan, tapi bukan racun."

Rahar bersiap tidur. Namun tiba-tiba Red dan yang lainnya terguncang. Mata Red memicing. Sebuah jarum berkarat berada di dalam lutut Rahar. Rahar masih terpejam tetapi mulutnya mengaduh.

Red mendekati jarum itu. "Innalillahi!! Ini jarum berkarat!!"

Teman-temannya yang berada di dekat lutut, mendadak lunglai. Wujud mereka meredup. Perlahan jarum itu menghilang. Red mengedarkan pandangan lalu melihat ke lutut lagi. Ia mengamati lutut itu lekat-lekat. Sebuah jarum berkarat datang lagi secepat kilat menghujam lutut Rahar. Red berlari tunggang langgang agar tidak terkena jarum itu. Namun apes tubuhnya malah disambar bola api dari atas sana. Plasma, Plate dan White mencoba memisahkan tubuh Red dari api itu.

"Rahar!! Minta pertolongan Allah, Rahar!!"

"Cepat, Rahar!! Kamu tidak boleh lemah!!"

Tangan Rahar memegangi perut dan lutut, matanya mengerjap mencoba mencari di mana tasbih berada. Baru saja menginjakkan kakinya ke tanah, Rahar langsung ambruk. Ia mengesot menuju ranjang kayu tempat salat, menyibak sajadah lalu meraih tasbih itu.

"Laailahailallah ... Allahulaila ...." Rahar mengucap dengan terbata-bata.

Di sana, Red mencoba melepaskan diri dari jeratan bola api. Plasma, Plate dan White saling bergandengan menarik tubuh Red. Tubuh Rahar kembali terguncang saat sebilah mata pisau menghujam tempurung kepalanya. Dari berbagai arah bermunculan telur beraroma busuk yang sangat menyengat hidung. Muncul paku besar-besar yang berkarat dengan jumlah banyak.

"Bagaimana ini? Kita dikepung!!"

Red lemah tak berdaya. White pun mulai lemas.

Plasma menendangi udara. "Kita tidak boleh lemah!! Ayo bangun!!"

"Serangan itu begitu dahsyat, Plasma. Kami benar-benar tidak kuat. Lihat Rahar, dia diserang tanpa ampun, kita sudah tidak berfungsi lagi," Plate lunglai di kaki Plasma.

"Aku pun tidak kuat. Tapi kita akan kuat jika terus bersama membangun kekuatan."

"Ini pasti ulah Prasenohadi, dia memang RT yang licik. Apa kalian tidak lihat wajahnya tadi menegang?" tanya White.

"Ada satu orang lagi yang patut dicurigai." Red berbicara suaranya ditelan udara.

"Siapa? Apa Pak Sujatmiko?"

Red terkapar. Rahar kembali terguncang saat menyan berdatangan mengepulkan asap.

"Awas!!" Plasma menarik Plate.

Plasma memandangi benda itu. Seperti jarum tetapi ukurannya panjang sekali. Bau karatnya menusuk hidung. Kawat bendrat.

"Yaa Allah, lindungilah Rahar ...."

Rahar berdzikir sebisa mungkin. Tangan kirinya ia gunakan untuk bantal. Tangan kanannya memegang tasbih. Ia tak peduli lagi di mana ia tengah terkapar.

Red tersadar. Ia mengedarkan pandangan. Seluruh temannya meredup tak bertenaga. Paku berkarat berseliweran di hadapannya. Kawat berkarat malang melintang di sana sini. Red bangkit, ia berselancar. Kondisi dalam tubuh Rahar sudah morat-marit. Red terus berselancar sampai ia terpental
ketika melihat dengan jelas jarum itu menghujam Rahar dari berbagai sisi. Di lutut, perut, dada dan kaki. Di pundak dan kepala, mata pisau tertancap berkali-kali.

Sunyi menjadi saksi betapa Rahar begitu tersayat.

***

Wahyudi menangis mendapati anaknya terkulai lemas di tanah dekat ranjang kayu tempat salat. Awalnya ia hendak bertanya mengapa Rahar tak kunjung bangun untuk salat subuh, tetapi malah dibuat syok melihat apa yang terjadi. Setelah Wahyudi membaringkan Rahar di tempat tidur, dengan pendangan masih mengabur, tangan Rahar bergerak isyarat ingin menjalankan salat subuh.

Wahyudi mengambil ember berisi air lalu membasuh anggota wudhu Rahar. Ia pun menyimpan seribu keheranan dengan apa yang tengah menimpa anaknya.

Ia menunggu Rahar yang salat dengan gerakan teramat lemah.

"Assalamu'alaikum."

Wahyudi membuka pintu. "Wa'alaikumsalam. Prasenohadi? Ada apa pagi-pagi datang ke sini?"

"Yud, apa Rahar sakit?"

"Dari mana kamu tahu kalau Rahar sakit?"

"Biarkan aku masuk ya, Yud. Ini kesempatanku untuk menjelaskan semuanya." Pak Prasenohadi memelas.

Wahyudi mempersilakan teman sejak kecilnya itu masuk ke kamar Rahar. Sampai di kamar, Pak Prasenohadi langsung menangisi keadaan Rahar.

"Lihat, Red. Prasenohadi berlagak baik. Dia pasti cuma akting." Amarah White menggebu-gebu.

"Aku rasa Prasenohadi tidak bersalah," kata Red.

White menatap tajam Red. Mereka adu mulut hingga saling dorong. Plasma melerai mereka. Ia meletakan jarinya di depan mulut.

Pak Prasenohadi meratapi nasib Rahar.

"Kau masih muda tapi sudah diperlakukan seperti ini. Betapa biadabnya orang itu."

Kening Wahyudi berkerut. "Apa maksudmu, Pras?"

Pak Prasenohadi mengingatkan Wahyudi pada peristiwa ketika ia jatuh sakit setelah terpilih menjadi RT. Saat itu ia lemah tak berdaya dan muntah darah berhari-hari.

"Bukankah apa yang menimpa Rahar sama dengan yang terjadi padaku dulu? Bahkan Rahar lebih parah, membuka mata saja ia tak mampu. Ada orang yang tidak menginginkan Rahar menjadi RT. Jika Rahar jadi RT, orang itu merasa terancam posisinya."

Ingin sekali White menendang muka Prasenohadi. Seorang musuh tengah berkamuflase menjadi malaikat.

Wahyudi bingung sendiri. Setengah hati ia percaya perkataan Pak Prasenohadi, sisa dari setengahnya ia terlanjur menganggap bahwa teman sejak kecilnya itu bukanlah pemimpin yang baik.

Terdengar suara ketukan pintu. Wahyudi keluar kamar, Pak Prasenohadi membisikkan sesuatu di telinga Rahar. Rahar ternganga.

Rupanya Pak Kadus datang membawa bubur ayam. Ia tersenyum pada Pak Prasenohadi saat bersimpangan di pintu. Wajah Pak Prasenohadi datar. Pak Prasenohadi pamit pulang. Pak Kadus mengelus-elus punggung tangan Rahar. Wahyudi menyampaikan apa yang disampaikan Pak Prasenohadi.

"Jangan terlalu percaya pada perkataan mantan RT itu. Dialah orang yang tidak suka jika Rahar terpilih, posisinya terancam karena dia tidak bisa lagi memakan uang rakyat jika lengser."

Rahar semakin ternganga. Ia pun dilanda kebingungan. Benarkah Pak Prasenohadi dalang dibalik sakit yang menimpanya?

***

Setiap Wahyudi pergi ke peternakan di tegalan, Pak Prasenohadi datang menemui Rahar. Ia memandikan Rahar dengan air daun bidara setiap pagi dan sore. Tak lupa ia menanam bidara di depan rumah. Pak Prasenohadi mengajak Rahar berdzikir dan mengaji sebanyak mungkin. Rahar semakin bimbang dengan sikap Pak Prasenohadi. Sampai satu ketika Rahar merasa mulas yang teramat sangat. Ia menjerit mengeluarkan paku berkarat, kawat, telur busuk, kemenyan dan yang lainnya. Ia lunglai seketika.

Kejadian itu diketahui Wahyudi yang baru pulang dari peternakan. Ia pun menghajar Pak Prasenohadi habis-habisan.

***

Seorang laki paruh baya memainkan asap yang mengepul dari mulutnya. Di hadapannya sejumlah telur busuk dan mawar berada di satu tempayan. Di sebelahnya ada tungku yang mengepul menebarkan wangi kemenyan. Laki-laki tua di hadapannya memegang boneka. Di tangan kanannya memegang jarum.

"Aku tidak butuh warga yang pintar seperti anak itu. Aku hanya butuh warga yang nurut."

Mereka tertawa bersama.

"Ini bayaranmu."

Laki-laki tua itu menerima amplop cokelat dengan sangat gembira.

"Kau memang licik, Aryadanu. Agar kau lebih senang menikmati jabatanmu kutambahi lagi siksaan untuk anak itu."

Laki-laki tua itu menghujamkan jarum berkali-kali pada kepala boneka itu. Namun tidak berhasil. Ia terus mencobanya.

***

Red, Plasma, Plate dan White berselancar dengan penuh bahagia menikmati ayat-ayat suci yang dilantunkan Rahar.

Wahyudi baru saja pulang dari rumah Pak Kadus. "Keadaan Pak Kadus masih sama, tubuhnya kaku dan matanya terus melotot."

Yaa Allah ... aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan makhluk-Mu ... Rahar mengulang-ulang doa itu.

Ia kembali menekuri setiap kata yang diucapkan Pak Prasenohadi. Pak Praenohadi sebenarnya adalah orang yang jujur, tetapi Pak Kadus selalu menghasut warga. Data yang disusun oleh Pak Prasenohadi dimanipulasi oleh Pak Kadus. Karena hasutan Pak Kadus pula, Pak Kuncoro mau menitipkan dana bantuan jalan itu. Pak Kadus tidak mau jika posisinya terancam karena kehadiran RT baru yang cerdas seperti Rahar.

Rahar menggeleng-geleng heran. Warga Dusun Gunung Rejo menemukan Pak Kadus dalam keadaan mata melotot dengan kaki tertekuk kaku, mulutnya menganga menampakkan lidah yang menjulur keluar, tetapi jantungnya masih berdenyut walau pelan. Sedangkan Mbah Karso mati mengenaskan dengan jarum tertancap ke batok kepalanya sendiri. Keadaan di dalam gubuk sudah tidak karuan. Pak Kadus pun dibawa pulang.

Rahar mengingat malam itu. Ya, ia lupa membaca doa makan. Betapa ia menyadari dengan mudahnya sihir itu masuk ke tubuhnya ketika lupa mengucap doa makan. Terbukti ketika ia hendak memakan bubur pemberian Pak Kadus pagi itu, sebelum menyantapnya ia sengaja membaca ayat kursi sebanyak tujuh kali dalam hati. Bubur yang ditangan Wahyudi pun jatuh ke tanah dengan sendirinya, padahal sudah dipegang erat.

Red dan teman-temannya berselancar penuh kebahagiaan.

"Ayo, Rahar, ngaji lagi."

Rahar mencari ayat terakhir yang tadi dibacanya. Ketemu. Surat Yunus ayat 81.

...Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan ...

Selesai

Sragen,
Rabu, 14 Juli 2021

(Aptstn)