Elisa

Foto: Sumber dari Google

Hari ini rumah kami kedatangan penghuni baru. Mereka adalah sepasang suami istri yang memiliki seorang anak perempuan. Tidak seperti kedua orang tuaku yang menyambut dingin kedatangan mereka, aku malah sangat antusias menyambutnya.

"Hai, siapa namamu?" tanyaku, ramah.

"Namaku Elisa. Nama Kakak, siapa?" Gadis kecil itu bertanya kepadaku.

"Panggil saja, Narin," jawabku.

"Kak Narin, temani aku bermain, yuk," ajaknya.

Aku pun menemaninya bermain. Ternyata Elisa, teman yang sangat menyenangkan. Maskipun baru bertemu, kami seperti sudah lama mengenal. Saat kami sedang asyik bermain, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

"Lisa, kamu sudah tidur?" tanya sang ibu dari luar kamar.

Elisa memandangku dan meletakkan jari telunjuknya ke atas bibir. Gadis kecil itu menyuruhku diam. Tak berapa lama, terdengar langkah menjauh dari kamar Elisa.

Setelah ibunya pergi, Elisa kembali mengajakku bermain. Kami pun bermain hingga larut malam. Karena lelah, aku dan Elisa tertidur. 

Keesokannya, terdengar ibu Elisa mengetuk pintu kamar. 

"Elisa, bangun. Sekarang, sudah siang!" teriak sang ibu, "Elisa ... Elisa!"

Aku yang telah terbangun dari tadi, buru-buru membangunkan Elisa. Ternyata, gadis kecil itu sulit sekali dibangunkan dari tidurnya.

Tak berapa lama, Elisa pun terbangun. Dia menatapku, lalu melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berseragam, Elisa berpamitan kepadaku.

"Aku mau sarapan dulu, lalu pergi ke sekolah. Kak Narin jaga kamarku, ya," pesannya kepadaku.

"Siap, Bos!" seruku yang diiringi tawa kami.

Setelah Elisa pergi ke sekolah. Aku bermaksud menemui kedua orang tuaku yang berada di kamar belakang. Saat  melintasi kamar orang tua Elisa, terdengar percakapan antara mereka yang membuatku terkejut.

"Kita harus segera menjual Elisa ke Bos Besar," ucap laki-laki yang kukira ayah Elisa.

"Sabar dulu. Kita baru beberapa hari pindah ke rumah ini. Jangan sampai Elisa mencurigai kita," balas perempuan yang ternyata hanya ibu asuh Elisa.

"Tapi kita butuh uang, Lucy! Aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk menyewa rumah ini dan menyekolahkan gadis kecil itu," lanjut laki-laki itu, kesal.

"Pokoknya kamu harus bersabar dulu, Alex!" teriak perempuan yang bernama Lucy itu.

Elisa tidak pernah cerita jika dia hanya anak asuh yang baru beberapa hari diadopsi. Semua identitas dipalsukan oleh kedua orang tua asuhnya itu. Elisa dalam bahaya. Aku harus membantunya.

Saat menemui kedua orang tuaku, aku menceritakan semuanya. Ayah dan Ibu tampak biasa saja, mereka tidak terkejut ketika mendengar ceritaku.

"Ibu sudah tahu," ucap ibuku.

"Mengapa Ibu tidak memberitahuku?" tanyaku.

"Biar kamu tahu sendiri," celetuk Ayah.

"Yah, Bu, kita harus menolong Elisa. Kasihan dia, Bu," pintaku.

Ayah dan Ibu hanya diam. Sejak awal, mereka memang tidak menyukai penghuni baru itu tinggal di rumah kami. 

Hingga sore hari, aku belum memberi tahu Elisa, tentang niat jahat kedua orang tua asuhnya itu. Namun, malam ini aku akan menceritakan semuanya kepada gadis kecil itu.

"El, boleh aku bertanya?" ucapku dengan hati-hati.

"Mau tanya apa, Kak?" 

"Mereka bukan orang tua kandungmu, ya?" tanyaku.

"Dari mana Kakak tahu?" 

"Aku mendengar percakapan mereka tadi pagi," jawabku.

Lalu, aku menceritakan semuanya kepada Elisa. Awalnya, dia tak percaya dengan ucapanku. Namun, aku terus menyakinkannya.

"Elisa, buka pintunya. Ayo, kita makan malam," ucap ibu asuh Elisa.

"Sebentar lagi, Bu," jawab Elisa.

"Buruan!" seru perempuan itu.

Elisa menatapku, seperti ingin meminta pendapat. Aku menggeleng. Gadis kecil itu mengerti maksudku. 

"Elisa! Buruan keluar, kamu tidak lapar!" Tiba-tiba terdengar teriakan ayah asuh Elisa dari luar kamar. 

"Atau perlu kudobrak pintu kamar ini?!" serunya lagi.

Elisa tampak ketakutan. Namun, aku menyuruhnya tetap diam. Aku sudah berjanji akan menyelamatkannya.

Laki-laki bernama Alex itu terus memaksa Elisa untuk segera membuka pintu. Karena tidak ada respons dari gadis kecil itu, Alex mencoba mendobrak pintu kamar. Aku pun menyuruh Elisa bersembunyi di dalam lemari. 

"Kak, Kakak juga harus bersembunyi," ucap Elisa lirih.

Aku hanya tersenyum. Ternyata, Elisa tidak tahu jika aku ... sudahlah. Aku akan ikut bersembunyi.

"Elisa! Di mana kamu?!" teriak Alex setelah berhasil mendobrak pintu. "Awas saja jika ketemu!"

Elisa menggenggam jemari dinginku dengan erat. Tiba-tiba, pintu lemari terbuka.

"Rupanya kamu di sini, Bocah Nakal!" teriak Alex sembari menarik tangan Elisa.

"Kak Narin, tolong aku!" jerit Elisa ketakutan.

"Siapa Narin?" tanya Alex kepada Elisa.

"Itu! Memangnya Ayah tak melihatnya? Dia berdiri di sampingmu, Yah," ucap Elisa sembari menunjuk ke arahku.

Aku mengusap mata Alex. Saat dia melihat ke samping, aku menyeringai. Dia tampak terkejut melihatku. 

"Si-siapa kamu?!" tanyanya terbata.

"Lepaskan Elisa! Atau kau berhadapan denganku!" seruku, parau.

Wajah pucat dengan mata yang memutih serta mulut yang membuka lebar, membuat Alex dan Elisa memelotot menatapku. Tangan laki-laki itu seketika melepaskan Elisa. Lalu, dia berlari keluar kamar.

"Ka-Kak Narin ... siapa Kakak sebenarnya?" tanya Elisa dengan raut ketakutan.

"Jangan takut, El. Inilah wujud Kakak yang sebenarnya," jawabku, "tunggu di sini. Masalah belum selesai."

Di luar kamar, Alex berteriak-teriak memanggil istrinya. 

"Lucy, kita harus segera pergi dari rumah ini! A-ada ha-hantu!" serunya panik.

"Sama hantu saja takut! Mana Elisa?!" tanya Lucy.

"Lucy, di-di sampingmu!" Alex menunjuk ke arahku.

"Apaan? Tak ada apa pun. Kamu kenapa, Lex?" Lucy tak mempercayai ucapan Alex.

Aku pun mengusap kedua mata Lucy. Seketika dia terkejut menatapku. Lalu, perempuan itu mundur beberapa langkah.

"Si-siapa kamu?" tanya Lucy, ketakutan.

"Kalian tak perlu tahu siapa aku! Segera pergi dari sini atau kalian akan menyesal!" ancamku.

Tanpa berpikir panjang, Lucy dan Alex buru-buru pergi. Namun, saat pintu dibuka, ternyata sudah ada beberapa orang polisi yang datang untuk menangkap mereka. Siapa yang sudah memanggil polisi kemari? Sesaat aku berpikir, lalu menatap Ayah dan Ibu yang tersenyum ke arahku sembari menunjukkan ponsel. Apa mungkin kedua orang tuaku yang sudah menelepon polisi? 

"Kak Narin, terima kasih, ya," ucap Elisa dengan linangan air mata. "Aku pasti sangat merindukanmu."

"Kau bicara dengan siapa, Nak? Ayo, ikut Bapak ke kantor polisi untuk sedikit memberikan keterangan. Setelah itu, Bapak akan mengantarmu pulang," jelas Pak polisi kepada Elisa. 

Elisa terus menatapku. Aku tak mampu berbicara apa pun, hanya lambaian tangan sebagai tanda perpisahan.

***
Palembang, 27 Juni 2021