Mantra dalam Pesawat

Ilustrasi-google image

Impianku untuk berkelana ke luar negeri menjadi kenyataan. Setelah berbagai drama tentang lamar-melamar di beberapa perusahaan penyalur Tenaga Kerja Indonesia. Beberapa kali penolakan visa. Dan berbagai kejadian yang hampir menggagalkan keberangkatanku.

 

Selamat tinggal Bandung, batinku, mungkin baru tahun depan akan kembali. Perjalanan menuju bandara internasional Soetta menggunakan mobil seakan hanya memakan waktu sekejap. Berbagai obrolan seru diiringi ledakan tawa bersama sahabat-sahabatku yang turut mengantar dalam mobil menjadi pengisi bosan yang tepat.

 

Namun, salah satu obrolan yang membuat kami bergeming terlontar dari Arya, rupanya akhir-akhir ini dia rajin sekali membaca kisah misteri dan cerita horor.

 

"Jangan kamu pikir kalau roh-roh hanya bersemayam di tempat-tempat seram seperti bangunan tua atau kuburan, bahkan di tengah hingar bingar tanpa disadari, mereka berbaur bersama kita. Apa yang tak terlihat, bukan berarti tak ada, indera lain dalam tubuh tetap dapat merasakan keberadaan berbagai makhluk tak kasat mata."

 

Kami berempat termangu, berspekulasi dengan pikiran masing masing. Untuk mencairkan suasana aku menanggapi celotehan Arya dengan tawa lalu segera mengalihkan pembicaraan. Sampai tibalah waktu bagi kami untuk berpisah, peluk erat mereka seakan tak ingin melepasku pergi.

 

Lain lagi dengan Arya, dia menyelipkan secarik kertas ke dalam genggamanku, "Barangkali kamu ingin membuktikan," bisiknya sambil menyeringai.

 

Aku berkumpul bersama calon kru lain di terminal dua, penerbangan internasional. Lalu terbang tanpa transit menuju Sydney, Australia menggunakan salah satu maskapai nasional. Ruang kabin terbilang luas untuk ukuran pesawat kelas ekonomi, penerbangan pertama yang cukup nyaman dan eksklusif bagiku.

 

Bahkan, aku sangat menikmati 'pertunjukan' dari pramugari yang sedang memberikan pengarahan tentang aturan-aturan selama panerbangan dan pada saat keadaan darurat. Baru dua jam berlalu, rasa jenuh mulai mengusik, sedangkan akhir perjalanan menuju Sidney masih lima jam ke depan. 

 

Aku mengintip langit yang tak lagi berwarna biru, tertutup hamparan awan bergumpalan laksana permadani yang sepertinya akan terasa sangat empuk saat dibuat alas tidur. Mungkin juga membuatku memantul ke sana kemari saat berlompatan. Atau kugigit sedikit demi sedikit lalu dikunyah seperti gula-gula kapas.

 

Tanpa sengaja aku merogoh saku jaket bagian kanan, lalu mengeluarkan secarik kertas yang diberikan Arya. Ternyata isinya adalah kalimat-kalimat yang tersusun dalam beberapa bait. Bahasa yang tak begitu kupahami, semacam mantra pemanggil makhluk halus.

 

Berniat hanya iseng, aku perlahan membaca kata demi kata yang tertulis. Benar, kan. Tak terjadi apa-apa sama sekali. Diusik rasa penasaran aku membaca untuk kedua kali, lalu ke tiga kali. Seraya mencoba fokus dan membayangkan sosok-sosok seram yang beberapa kali muncul di film horor.

 

Tiba tiba saja masker oksigen terbuka, bergelantungan di hadapanku. Tentu saja aku kaget, sebab tak merasa sudah menariknya atau menekan tombol apapun.

 

"I'm sorry, miss, masker oksigen hanya digunakan pada saat darurat saja," pramugari berseragam ungu muda itu memperingatkanku sambil membetulkan letak masker.

 

Berkali-kali aku meminta maaf dan menjelaskan bahwa itu bukan suatu kesengajaan. Belum lagi selesai berbicara, bagasi di atas tempat duduk terbuka, disusul tas yang berjatuhan. Beberapa penumpang dibuat ricuh, begitupun para pramugari.

 

Aku tak berani menduga-duga, tak mungkin itu semua terjadi hanya karena mantra yang tadi dilafalkan. Di toilet, aku membasuh wajah kemudian mengeringkan dengan tisu. Namun sesuatu yang entah apa, memaksa kedua mataku untuk menatap cermin. Ah, tak ada apa-apa.

 

Sedetik kemudian air keran tiba-tiba menyembur tepat pada wajahku. Membuat seluruh pakaian basah seperti habis direndam. kenakan basah. Aku lalu berlari tergopoh, hendak mengambil baju ganti. Kemudian membuat laporan tentang kran yang rusak. 

 

Namun, petugas malah mengomel. Menuduhku mengarang cerita tentang kerusakan di toilet. Tak ingin membuat keributan, aku memilih untuk kembali duduk dan mencoba merapatkan kedua kelopak mata.

 

Namun, belum sampai terlelap napas berubah sesak. Seperti sedang tercekik. Ingin menjerit tapi tak dapat mengeluarkan suara. Tubuhku turut terasa kaku. Meski aku sudah membelalakkan kedua mata. Tak kulihat apapun tetapi rasanya tubuh ini tengah ditindih sesuatu yang sangat berat.

 

Beberapa kali kilatan sinar menyilaukan bola mata. Garis-garisnya saling berpotongan acak. Tak lama kemudian membentuk sebuah portal yang terbuka lebar. Betapa ingin aku mengatupkan pandangan namun tak mampu. 

 

Mau tak mau berbagai makhluk yang tak pernah ada di film horor mana pun itu aku pelototi satu persatu. Mereka seakan hendak menghadiri jamuan untuk berpesta pora. Mengacak-acak seisi pesawat tanpa terlihat oleh siapa pun. Mengacaukan sistem navigasi yang kini membuat pesawat mengalami turbulensi. 

 

Suara pilot terdengar, ia memberikan arahan kepada seluruh penumpang untuk tetap tenang. Pramugari berseru memberi peringatan untuk memastikan sabuk pengaman terpasang dengan benar. Meskipun sambil berpegangan agar tak terjatuh. Ia benar-benar mendahulukan keselamatan penumpang.

 

Beberapa kali aku mencoba menarik sabuk pengaman yang  kaitannya terlepas sejak tadi. Tubuhku kian terasa kaku, tak dapat digerakkan meskipun hanya seruas jari. Para pramugari berkali-kali menyuruhku memasang sabuk pengaman. Sampai akhirnya mereka benar benar marah. Menuduh aku sebagai pembuat onar dan sudah bertindak membahayakan penumpang lain.

 

Apapun yang terjadi, aku hanya bisa diam. Dengan mulut terbekap dan mata terbelalak. Menyaksikan semua tragedi yang terjadi, menunggu akhir dari penerbangan kali ini.

 

Arya! Mengapa dia hanya memberikan mantra untuk memanggil, namun tidak disertai  cara untuk mengusir para makhluk astaral itu.

[Awg]