Penantian Tanpa Batas

Ilustrasi, terbunuh sepi

 

Namanya Narsih. Usia 15 tahun dan dinyatakan lulus SMP dengan nilai yang cukup mencengangkan. Dia benar-benar tak percaya. Hari Kamis, di bulan Juni tahun 1985 kebahagiaan Narsih berubah menjadi nestapa. Ketika wali kelas memanggil namanya di urutan ke-20, suasana kelas menjadi riuh. Sungguh di luar dugaan. Biasanya ia berada urutan 3, 4, atau 5. Itu pun masih membuatnya dimarahi oleh ayah dan ibu dan menerima hukuman membersihkan rumah dari depan hingga belakang untuk beberapa hari. Belum lagi, tidak ada jatah uang saku. Narsih yang malang tak berdaya membantah sepatah kata pun. Ia hanya bisa melakukan semua perintah dengan terpaksa. 

Entah mengapa pikiran Narsih akhir-akhir ini tidak bisa fokus ke pelajaran. Dia merasa tertekan dengan keinginan kedua orang tuanya untuk menjadi yang terbaik. Ia merasa tidak mampu meski sudah berusaha sekuat yang dia bisa. 

Dengan ragu Narsih melangkah ke depan kelas, menundukkan kepala dalam-dalam, mendekati Bu Wati yang penuh keheranan. 

"Narsih, kamu kenapa? Ada yang ingin kamu sampaikan?" 

Kalimat lembut itu seolah gelegar petir di telinga Narsih. Ia tetap menunduk sambil memungut buku raport dari tangan lembut guru favoritnya. Berjalan kembali ke bangku, tanpa menjawab pertanyaan itu. Sementara suara siswa di kelas justru membuat dadanya naik turun menahan sesuatu. Dia benamkan wajah pada lipatan tangan di atas bangku. Berharap bel berbunyi dan semua segera berlalu. 

"Baiklah anak-anak. Pengambilan ijazah nanti menunggu pengumuman selanjutnya, ya! Diharapkan bapak ibu kalian semua bisa hadir pada hari itu."

Murid kelas 3A bubar setelah bel berbunyi dan suara serempak salam perpisahan untuk Bu Wati. Narsih berjalan lunglai menuju pintu tanpa menghiraukan panggilan dari Bu Wati. 

Sesampainya di rumah, Narsih tak berani menunjukkan rapot kepada ibunya. Dia hanya murung, berdiam diri dalam kamar. Ayahnya yang seorang ABRI masih bertugas di luar kota. Sedangkan ibu adalah seorang guru SMA. Keduanya selalu menuntut putra-putrinya menjadi yang terbaik. Sejak kecil tertanam paham harus menjadi yang nomor satu. Kedua kakaknya mampu bersaing dalam tekanan tersebut. Beda dengan Narsih. Ia merasa tidak mampu menandingi kedua kakaknya. 

Tiga hari berlalu, Narsih masih tampak tak bersemangat. Ibunya yang teramat sibuk belum sempat menanyakan hasil rapot akhir catur wulannya kali ini. Hingga tiba waktu pengambilan ijazah, Narsih tidak berani memberitahukan ibunya. Ia pergi sendiri ke sekolah, dengan alasan ibunya sibuk. Teman-teman memandang Narsih nanar. Ada juga yang tersenyum sinis, seolah mengejek kekalahannya kali ini. 

Narsih bergegas menuju kamar mandi di sudut sekolah, tepatnya di sisi lapangan basket. Ya, kamar mandi itu jarang sekali dipakai, karena konon beberapa murid mengalami hal ganjil saat mengabaikan tata tertib yang tertera di temboknya. Narsih duduk, menundukkan kepala. Kedua tangannya memeluk lutut kuat-kuat. Dia tergugu dalam kesendirian. Segenap perasaannya tumpah saat itu. Antara malu, marah, kecewa pada diri sendiri dan rasa takut pada ibunya. Narsih masih tenggelam dalam kesedihan. Pundaknya bergerak-gerak menahan perih. 

Malam tiba, Narsih belum juga beranjak dari kamar mandi tersebut. Lampu remang yang menyala menjadi teman satu-satunya. Dia tak ingin pulang. Sementara suara-suara di luar terdengar bersahutan, cukup mencekam. Derit sekumpulan pohon bambu di sisi lapangan basket membuat suasana terasa semakin mengerikan. Belum lagi, Narsih mendengar seolah di luar sedang ramai anak-anak berkejaran, cekikikan wanita, dan sesekali tangis yang mengiris hati. Tubuh Narsih bergetar, keringat membasahi seragam pramuka yang ia kenakan. Hawa dingin menyeruak masuk. Mungkinkah dia akan keluar, sedang dari celah jendela di atas bak mandi, tampak di luar berselimut gulita. Di antara kegelisahan, tiba-tiba terdengar derit kamar mandi yang  terbuka perlahan. Bu Wati muncul di sana. Mata Narsih terbelalak. Bagaimana mungkin? Ia mengunci pintu dari dalam. 

Narsih buru-buru menghapus air mata. Dia terhanyut, lalu menyambut uluran tangan wanita yang selalu membuatnya tenang itu, lalu memeluknya erat. Memumpahkan segala beban hidupnya. Cukup lama, hingga Narsih baru sadar, ternyata tubuh itu tak menghangatkannya, namun justru menimbulkan gigil secara tiba-tiba. Perlahan ia melepaskan diri dan mendapati wajah wanita itu berubah putih. Lingkar matanya hitam, menakutkan. Seringai senyumnya pun membuat Narsih tak berdaya. Ingin berlari, namun selot pintu ternyata masih menutup sempurna. Narsih hanya berdiri kaku di sudut sebelah bak mandi berukuran kecil sambil matanya tak lepas dari tatapan mahkluk menyeramkan di hadapannya. Ya, tatapan itu menembus hingga ke ruang otak. Tangannya menggapai, mencari sesuatu untuk berpegang. Selanjutnya, Narsih tak bisa melakukan apa-apa selain menerima sesuatu dari genggaman sosok wanita itu dengam ketakutan. Lalu menuruti perintahnya hanya lewat tatapan yang tajam. 

Keesokan siang harinya, Narsih mendapati kerumunan warga dan para guru. Pintu kamar mandi porak poranda karena dibuka secara paksa. Petugas polisi pun berdatangan mengamankan lokasi. Sesosok jasad mungil yang terlilit tali diturunkan dari kayu penopang atap kamar mandi. Narsih hanya bisa menitikkan air mata. 

Sejak hari itu Narsih tak pernah pulang. Ia suka bermain dengan anak-anak di sekitar lapangan basket saat malam tiba. Wanita yang datang malam itu masih sering melintas memperhatikannya. Meski takut, Narsih jadi terbiasa. Saat malam Jum'at tiba, Narsih sering menyendiri, duduk di sudut kamar mandi. Menangis hingga malam berganti.  Menyesal tak bisa lagi pulang ke rumah. Entah sampai kapan harus menanti kehadiran keluarga untuk menyempurnakan kematiannya. Berharap kedua orang tua memaafkan keputusannya hari itu. Namun apa daya, mereka sudah pindah entah kemana. Marah, kecewa, dan sangat malu mendapati putrinya menjemput ajal menggunakan seutas tali di sebuah kamar mandi sekolah. 

Narsih kembali bangkit, menyusuri area sekolah dalam gelap. Tidak ada lagi rasa takut. Saat dirasa bosan, ia akan pergi ke jalanan, menumpang beberapa motor yang melintas, lalu kembali ke rumahnya lagi, di sekolah dimana dia mengakhiri hidupnya sendiri. 

*Kisah ini diangkat dari sebuah kisah nyata. 
*Berikut kisahku yang masih berhubungan dengan PTB,

https://www.risalahmisteri.com/detail/1529/someone-behind-me370045#.YME3jrOhhM8.whatsapp