Desir Angin, Gemuruh, Langkah Kaki

Ilustrasi

Bukan, ini bukan salahku. Sama sekali bukan. Kuharap akan ada orang yang percaya setelah melihatnya. Dia bukan manusia. Aku berani sumpah kalau dia bukan manusia! Tapi kurasa, ada juga orang yang takkan percaya walau sudah melihatnya.

Kini aku terkurung di sini. Tak berdaya. Menunggu nyawa yang akan diambil untuk selamanya. Entah kapan, di mana, dengan cara apa, aku tak berani mengira. Tidak juga dengan orang-orang itu. Mereka yang mati sebelum aku.

Aku meringkuk di sudut kiri, meneteskan air mata bertemankan cahaya seadanya. Di ruang sempit nan asing yang entah berada di mana. Bermandikan pikiran yang tak henti-hentinya mengenang perlakuan keji dia pada mereka.

Pengap di sini, menyesakkan. Aku berkeringat. Airnya mengucur dari pelipis, menuju tangan yang bergetar. Aku takut, gelisah. Tapi jantungku malah berdetak lemah.

Sesekali aku terbatuk. Panas rasanya. Seperti ada api yang melahap dan menjalar di kerongkongan. Api yang mungkin akan menyebarkan panasnya ke sekujur badan. Dan jika beruntung, akan dilahap juga nyawa ini sebelum dia sempat merenggutnya.

Sudah kubilang ini bukan salahku. Aku sama sekali tak tahu siapa dia, dari mana datangnya, tujuannya, semuanya. Aku tak ingat sudah berapa waktu berlalu. Sejak tengkukku dipukul, dibuat pingsan. Sejak tubuhku diangkut, dibawa ke sini, ke tempat muram ini.

Aku bukan siapa-siapa. Hanya gadis yang mendambakan kehidupan bahagia. Aku juga bukan orang berada. Yang tak punya barang berharga, bahkan lagi orang tua. Selama ini kuhidup dengan jerih payahku sendiri. Merangkak dari bawah di kota kecil ini. Bergerilya ke sana sini demi impian yang tak lagi berarti. Karena sekarang, hidupku sudah tak lama lagi.

Berdecitnya pintu membuat detak jantungku cepat lagi. Semakin aku mendekap erat kedua lutut ini. Wajahku tertunduk, mataku terpejam, tak sudi menatap lagi wajah kusam tak beradabnya. Meski begitu aku tahu, benda berat nan tajam itu seperti menyalak garang di tangannya.

Papan-papan penopang tempat ini juga berdecit tatkala kakinya melangkah. Aku menengadah. Terkejut ketika kapak kayu itu menghunjam, bersarang dalam di salah satu papan tak jauh dariku.

Gigi-gigi kekuningan menyala dalam remang, penuh akan nafsu. “Sekarang giliranmu.” Suara beratnya mendobrak masuk telinga, menyusup hingga ke otak. Dicabutnya kembali benda besar perenggut nyawa itu.

Aku gelagapan. Tubuhku mengeras bagaikan pohon tua tak berdaun. Jemari kasarnya menerkam buas lenganku. Satu tarikan saja. Sekali itu saja akar pohon tua pun tercabut dari tanahnya. Aku berdiri, sempoyongan. Lemas bukan main.

Diseretnya aku meninggalkan satu-satunya sumber cahaya. Tak tahu ke mana, jauh sekali, sampai tak ada apa-apa lagi selain gelapnya malam. Aku merenung. Betapa menyedihkannya nasibku. Bahkan bulan pun enggan melihat saat-saat terakhirku di dunia.

Jatuh aku tersungkur. Tak bisa lagi kurasakan sakit pada badan lemas ini. Aroma tanah dan rerumputan begitu menyengat, bercampur aroma darah. Kepalaku terbentur. Keras. Telingaku berdengung. Gaduh.

Suara-suara teredam bergumul jadi satu. Desir angin, gemuruh, langkah kaki, sayup-sayup terdengar. Desir angin, langkah kaki, semakin jelas terdengar. Langkah kaki, suaranya mendekat. Gemuruh, langkah kaki, dia semakin dekat. Desir angin, gemuruh, salakan. Tunggu. Aku mendengar anjing yang menyalak!

Sudah dekat. Salakannya semakin jelas. Ada langkah kaki lain, berderap, lebih dari satu. Langkahnya cepat, mereka berlari. Pandanganku tak lagi buram. Terlihat dua petugas, satu laki-laki, anjing, tapi tidak orang itu.

“Kamu enggak apa-apa, kan?” Suara laki-laki. Aku mengenalnya, tak akrab, hanya satu perumahan. Dia mengelus pundakku.

 “Andre?” Aku lemas, tapi sudah agak tenang. Aku terhuyung, lalu jatuh pingsan.

Guncangan kecil menyadarkanku. Duduk aku berselimut jaket asing dalam mobil yang sedang melaju, membawaku pulang. Kuharap benar-benar pulang.

“Andre?”

Sekilas dia menoleh. “Mia, kamu sudah baikan?”

Aku mengangguk. “Makasih banyak, ya, Ndre. Kalau enggak ada kamu, aku, aku….” Air mataku berlinang. Suara yang keluar pelan sekali, tak sanggup kulanjutkan. Kuharap dia mendengar, juga mengerti.

Dia melirikku sebentar, lalu tersenyum. Dia mengerti. “Aku bersyukur bisa datang tepat waktu. Tapi sayang, orang itu sudah enggak ada sebelum kami sampai.”

Aku diam, penasaran bagaimana Andre tahu yang kualami. Beruntung dia paham tanpa perlu aku bersuara.

“Aku lihat semuanya. Saat tiba-tiba kamu dipukul, diseret ke dalam mobil van, lalu dibawa pergi. Setelah itu aku buru-buru menelepon polisi. Syukurlah semuanya baik-baik aja sekarang.” Andre megambil air mineral di boks konsol tengah. Dia menyodorkannya padaku. “Ini, diminum dulu. Sebaiknya kamu istirahat.”

Isi botolnya penuh. Aku membukanya. Ada yang aneh, tutup botolnya sudah tak tersegel. Sempat aku curiga. Enggan rasanya aku meneguk air itu. Tapi tubuhku berkata lain, aku dehidrasi. Aku sangat butuh minum.

Setengah botol habis kuteguk. Tubuhku seperti hidup kembali. Kupandangi kilatan cahaya lampu jalan, jejeran ruko, rumah-rumah. Masih sepi, tapi tak sunyi. Beragam serangga berteriak, bersahut-sahutan. Ada juga tetesan hujan. Satu per satu jatuh menimpa kaca depan mobil, lalu terhempas karena lajunya.

Sebentar lagi, sebentar lagi aku benar-benar aman. Setelah nanti berbelok kanan, akan tiba aku di jalan tempatku tinggal. Tapi, untuk yang kedua kali, hal tak terduga melahapku lagi. Mobil ini megambil jalan lurus.

“Andre? Kita mau ke mana?” 

Aku mulai panik, melihat ke sana-sini, ke tempat yang jauh dari tujuanku. Aku juga mulai pitam. Mataku berat sekali, hanya setengah terbuka. Rasanya, sebentar lagi aku akan hilang kesadaran.

“Andre?”

Tak terdengar jawaban. Dia tampak fokus, atau tak peduli. Tapi aku harus pergi. Karena mulai tercium olehku bau bahaya di sini. Kurogoh sabuk pengaman. Macet! Tak bisa dibuka, keras sekali.

“Andre! Kita mau ke mana? Please, jawab aku!”

Suasana semakin gawat. Mobil semakin kencang. Hujan semakin deras. Gemuruh bergema di mana-mana. Lalu mobil sedikit melambat, masuk ke jalan tak beraspal, dan Andre masih terdiam.

“Andre!”

Aku menangis lagi. Sedu sedanku lemah, tapi air matanya mengalir deras. Kepalaku, tidak, sekujur badanku terasa semakin berat. Mobil berguncang, laci dasbor terbuka paksa. Di dalamnya kulihat sekotak pil tidur, sebelum akhirnya aku mulai tertidur.

Desir angin dan gemuruh menyambut terjaganya aku. Asing di sini, berbeda dengan yang tadi. Aku terbaring berselimut hawa dingin. Tangan dan kakiku terikat. Mulutku tersumpal kain berlapis selotip. Aku menggeliat, gelagapan, diiringi empasan jendela kayu pada dinding beton akibat embusan angin.

Di sudut sana berdiri laki-laki. Aku tahu dia. Tidak salah lagi, dia Andre, dan dia mulai mendekat. Aku mengerang, menggeliat, pasrah. Dari matanya, kutahu, dia bukan lagi Andre yang kukenal.

Andre berhenti di tengah ruangan, bergeming menatapku, menyeringai. Masih terdengar jelas desir angin, gemuruh, dan tiba-tiba, ada langkah kaki. Siapa? Siapa itu?! Jangan bilang, jangan bilang itu dia!

Desir angin semakin bising. Gemuruh bergema semakin angkuh. Dan langkah kaki, dia sudah semakin dekat. Pintu terbuka, perlahan tanpa decitan, disertai bayangan hitam. Aku terbelalak. Bayangan itu menjelma jadi ketakutan terbesarku. Takut akan sosoknya yang bukan manusia. 

Gigi-gigi kekuningan menyala lagi dalam remang, masih penuh akan nafsu. Suara beratnya kembali menyusup dalam otak, masih dengan satu kalimat, “Sekarang giliranmu.”[]