Jagdtag

https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2020/11/pexels-francesco-ungaro-1671324-0b004b0d8b74c96de89dbfc27ae02524_600x400.jpg

Setiap hutan di Bumi ini punya peri pelindung. Wujudnya beragam. Beberapa di antaranya dapat mempelajari dan menggunakan bahasa manusia. Meski dalam sejarah, belum pernah terjadi komunikasi dua arah antara peri dan manusia. Keberadaan mereka ada untuk melindungi manusia, menjaga agar entitas-entitas dari kegelapan hutan tak bisa menembus dunia luar. Terutama ketika hari itu tiba. Jagdtag. 

***

Kedamaian pagi hari di sebuah desa kecil di pinggiran Jerman mendadak pecah ketika penduduk menemukan fenomena aneh di perbatasan hutan. Sejenis lendir berwarna bening kekuningan yang menguarkan aroma menyengat menempel di tanah, membentuk garis lurus tak beraturan di sepanjang perbatasan. Baunya begitu tajam hingga orang-orang hanya melihat dari jarak belasan meter sambil menutup hidung. Bau aneh yang tak pernah mereka cium sebelumnya.

Di antara kerumunan, 4 anak pra-remaja yang hendak pergi ke sekolah ikut menonton. Mereka adalah Reynard, Volney, Karl dan Ludwig.

"Menurutmu lendir apa itu, Karl?" tanya Reynard pada anak tertinggi di antara mereka berempat.

"Jejak siput raksasa?" balasnya bercanda.

"Atau mungkin... ingus Ludwig?" Reynard mencoba menggoda Ludwig—yang memang sering jadi bahan ledekan Reynard dan Karl.

"Hah?! Kau mau ingusku?" Merasa kesal, Ludwig menekan sisi kanan hidungnya, lalu mencoba menembakkan ingus dari lubang kiri hidungnya.

"Yiks!" Reynard bergidik melihat tindakan Ludwig.

"Menjijikan!" Karl menimpali. Sementara Volney, si anak gempal pendiam, hanya terkekeh menyaksikan kelakuan teman-temannya.

"Hei, kalian!" 

Perhatian mereka seketika teralihkan mendengar seruan dari seorang wanita dewasa.

"Berhenti bermain-main dan cepat berangkat," lanjutnya. Nada bicaranya merendah setelah anak-anak itu menoleh.

"Ya, Bu," balas Reynard, diikuti ketiga temannya serempak, "Ya, Nyonya Alison!"

"Omong-omong, kau sudah mengemasi tenda dan berberapa peralatan dapurnya, Volney?" Sambil berlalu dari perbatasan, Reynard kembali membuka obrolan. 

"Belum, akan kulakukan sepulang sekolah nanti."

"Oke. Sepulang sekolah kita siapkan apa yang perlu kita bawa, lalu berangkat pukul lima sore." Volney, Karl dan Ludwig mengangguk menanggapi omongan Reynard.

Tak jauh dari situ, Karl melihat kakek tua mematung menatap lendir aneh yang ada di perbatasan.

"Hei, bukankah itu Tuan Jacob?" Karl menunjuk kakek tua itu. "Kenapa dengannya?"

"Ekspresinya aneh," ucap Reynard, "seperti ketakutan."

"Lupakan itu. Sepertinya kita harus cepat-cepat ke sekolah!" ujar Ludwig sambil menatap jam tangannya.

Mereka pun seketika mulai berlari.

***

Sore harinya, setelah mengemasi barang-barang, Karl dan Volney pergi menjemput Reynard.

"Sebentar, aku akan mengabari ibuku dulu," ucap Reynard pada kedua temannya, kemudian masuk ke dalam untuk menelepon sang ibu.

"Halo."

"Halo, Bu. Kau di mana?"

"Di rumah Jacob."

"Tuan Jacob? Kenapa kau ada di sana? Kenapa dengannya? Tadi pagi dia terlihat aneh."

"Bukan urusanmu, Sayang. Ada apa menelepon?"

"Aku akan berangkat kemah."

"Ah, ya. Ingat, jangan masuk terlalu dalam. Jangan jauh-jauh dari jalur masuk dan—oh, Roswald, Herrick. "

"Heh?"

"Tidak. Sherrif Roswald dan Herrick baru saja datang berkunjung."

"Untuk apa mereka datang ke situ?"

"Sudah Ibu bilang bukan urusanmu."

Reynard mengela napas, kecewa mendengar jawaban sang ibu. "Oke, oke. Dah."

"Dah. Hati-hati di sana."

Mereka bertiga kemudian pergi ke tempat Ludwig untuk menjemputnya. Tapi setelah sampai di rumahnya, ibu Ludwig berkata kalau anak itu sudah pergi dengan membawa sekaleng cat merah.

"Ah, pasti dia ingin mengerjai kita dengan pura-pura mati atau semacamnya. Kita akan mengerjainya balik nanti!" ucap Reynard sambil berlalu menuju hutan.


***

Beberapa waktu sebelumnya, di rumah Jacob, 2 orang sherrif tiba di depan rumahnya.

"—oh, Roswald, Herrick." Alison yang tengah menelepon langsung menyapa keduanya, kemudian kembali berbicara pada si penelepon. Selesai menelepon, Alison memasukkan ponselnya ke saku.

"Reynard?" tanya Roswald, mencoba menebak orang yang baru saja menelepon Alison

"Ya. Dia mau berkemah."

"Jadi, kau mau menjelaskan kenapa memanggil kami ke sini?" Roswald kembali bertanya sembari menyalakan rokok. 

"Sebaiknya kita bahas di dalam." Alison mengajak keduanya masuk. Di dalam, mereka disambut sosok Jacob yang tengah duduk di ruang tamu dengan wajah serius dan juga Hubert, ayah Volney.

"Jacob." Roswald dan Herrick menyapa kakek tua itu.

Alison mencoba menjawab pertanyaan Roswald tadi, "Setelah melihat lendir di perbatasan, Jacob mengunjungi rumah beberapa orang, lalu menyuruh mereka pergi dari desa. Banyak orang yang merasa terganggu, jadi kubawa dia pulang ke rumah. Jacob memintaku untuk memanggil kalian kemari, kata Jacob lendir itu ada hubungannya dengan kejadian 60 tahun lalu."

"Kejadian 60 tahun lalu?"

"60 tahun lalu orang-orang di desa ini menghilang. Hanya 2 orang yang tersisa. Jacob dan Bogart. Bogart telah meninggal 4 tahun lalu. Sebatas itu yang kutahu dari cerita ibuku." Herrick menjawab sepengetahuannya.

"Bukan hilang! Mereka mati dimangsa oleh makhluk itu!" 

"Makhluk itu?" Roswald bingung.

"Monster kupu-kupu penghisap darah."

"Monster kupu-kupu penghisap darah?"

"Ya. Monster itu akan menjebak mangsanya dengan lendir lalu menghisap darahnya. Setelah darahnya habis, lendir itu akan menguap bersama tubuh mangsanya. Kemudian hilang tak berbekas."

Jacob kemudian melempar pandangan ke Alison. "Sudah kubilang jangan biarkan anakmu ke hutan. Berbahaya! Jemput mereka pulang!

"Aku tidak yakin, Jacob. Aku rasa mereka akan aman-aman saja."

"Tidak! Kau harus percaya padaku. Jemput anakmu dan teman-temannya sekarang."

"Tapi—"

"Sekarang!"

"Hei, hei, tenang. Aku tak tahu apakah ini cuma omong kosong atau bukan, tapi aku dan Roswald akan coba mengecek mereka." Herrick mencoba menengahi.

"Percaya padaku. Pergilah dan bawa ini." Jacob mengambil senapan dan menyerahkannya pada Herrick.

***

Sementara itu, Reynard, Karl dan Volney yang telah masuk ke hutan mencari-cari Ludwig. Awalnya mereka pikir Ludwig sedang bersembunyi, berusaha mempermainkan mereka. Namun, setelah cukup lama tak ada tanda-tanda keberadaannya, mereka mulai cemas.

"Ludwig! Ludwig!" Mereka terus memanggil-manggil namanya, sampai kemudian Karl menemukan sekaleng cat merah.

"Reynard, Volney, lihat." Karl menunjukkan kaleng cat yang ia temukan. "Sepertinya dia di dekat sini. Ayo cari lagi."

Benar saja, tak jauh dari situ mereka menemukan Ludwig. Terbujur tak sadarkan diri di bawah pohon, terbungkus lendir bening kekuningan. Lendir yang sama dengan yang ada di perbatasan hutan.

"Ludwig! Ludwig!" Reynard menggoyang-goyangkan tubuh Ludwig dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menutup hidung. Reynard terus mencoba membangunkan Ludwig, tak peduli meski lendir itu kini turut menempel di tangannya.

Perlahan mata Ludwig mulai terbuka. Ia duduk, menutup hidung dan mulut, lalu muntah-muntah.

Setelah menenangkan Ludwig, Reynard mengajukan pertanyaan, "Apa yang terjadi?"

Sambil menahan keinginan untuk muntah, Ludwig menjawab, "Aku bertemu kupu-kupu raksasa. Makhluk itu menyemprotkan lendir ini padaku. Karena tak tahan dengan baunya, sepertinya aku pingsan."

"Hah?" Reynard dan lainnya hanya kebingungan.

"Ya, aku serius! Aku bertemu kupu-kupu raksasa!" Ludwig berusaha meyakinkan teman-temannya.

Mendengar perkataannya, ketiga temannya saling tatap.

"Kalau memang benar, ke mana kupu-kupu itu sekarang?" Reynald kembali bertanya.

"Tidak tahu. Setelah menyemprotku, makhluk itu teralihkan oleh sesuatu dan pergi ke Selatan," jawab Ludwig, lalu muntah lagi. "Ayo kita pulang," lanjutnya.

Reynard, Karl dan Volney kembali saling tatap lalu mengangguk. "Ayo pulang," ucap Reynard. "Kau bisa jalan sendiri?" 

Ludwig mengangguk lalu berdiri ... dan muntah lagi.

Baru beberapa langkah berjalan, mereka dikejutkan oleh suara aneh mirip ceret yang airnya telah mendidih. Segera mereka menoleh ke sumber suara. Di sana sesosok makhluk melata mirip kadal raksasa menatap mereka. Makhluk itu punya 6 kaki. Kepala bulatnya tak punya mulut tapi memiliki 3 belalai yang  cukup panjang. Di punggungnya terdapat lubang-lubang seukuran lubang golf, dari situ suara aneh itu berasal.

"Apa itu?!" Karl terkejut. Pun dengan tiga lainnya.

"Apa pun itu, lari!" Reynard berteriak, mengomandoi teman-temannya untuk kabur.

Makhluk itu mengejar. Satu hal yang tidak mereka sangka, makhluk itu bergerak dengan sangat cepat. Sosok itu telah berada dekat di belakang mereka, lebih tepatnya di belakang Volney yang berlari paling belakang. Makhluk itu menggerakkan 2 belalainya, mencoba melilit kaki Volney. Ia berhasil, Volney tersungkur.

"Volney!" Ketiga temannya berhenti dan mencoba menolong Volney setelah tau apa yang terjadi padanya.

Monster itu menarik kaki si bocah gempal, sementara teman-temannya mencoba menarik tangannya. Energi makhluk itu sangat besar, mereka tak kuasa menahan tarikannya lalu terjungkal bersama-sama. Tubuh Volney tertarik mendekati monster aneh itu, sebelum tiba-tiba seekor kupu-kupu raksasa terbang ke arahnya lalu menyemprotkan lendir ke tubuh Volney. Makhluk mirip kadal raksasa itu kemudian melepaskan ikatan dan mengeluarkan suara seperti menjerit. Sang monster bergerak cepat ke arah kupu-kupu raksasa, berusaha menyerangnya dengan belalai. 

Para bocah-bocah itu melihat perkelahian mereka sebagai kesempatan kabur. Mereka pun berlari. 

Dalam perjalanan, mereka kembali dihadang oleh sesosok monster. Kali ini berbentuk ular raksasa dengan tanduk di kepala. Saat ular itu hendak menyerang, mendadak terdenger suara tembakan.

Keempat anak itu menoleh ke sumber suara. 

Sherrif Roswald dan Herrick! Suara itu berasal dari senapan milik Herrick yang tadi berhasil mengenai tubuh si ular.

"Hei, kalian tak apa? Mahkluk apa itu?"

"Entahlah. Kita harus cepat keluar dari hutan. Ada banyak monster-monster gila di sini!"

Ular raksasa itu ternyata belum mati. Saat hendak pergi, ular itu berniat menyerang lagi. Namun sekali lagi kupu-kupu raksasa datang untuk menyemprotkan lendir kepada mereka sehingga ular itu berhenti menyerang. Mereka bergegas pergi sementara dua monster itu berkelahi.

"Sepertinya kupu-kupu itu mencoba melindungi kita dari monster-monster itu," ucap Reynard sambil berlari-lari kecil.

"Melindungi? Tapi kata Jacob ini merupakan metode mereka menangkap mangsa." Roswald menyanggahnya.

"Dari tadi dia tidak melukai kami."

"Mungkin dia yang disebut peri hutan!" Volney menimpali.

"Jadi, apa maksudmu Jacob berbohong? Tapi untuk apa?"

"Aku tidak bilang begitu. Yang pasti lendir ini melindungi kami dari monster-monster itu."

Mereka berenam terus berlari menembus lebatnya pepohonan untuk keluar dari hutan.

Setelah beberapa saat berlari, langkah mereka terhenti oleh sesuatu. Di bawah pohon, mereka melihat makhluk aneh lain yang terbungkus lendir. Wajah makhluk itu seperti wanita dewasa tapi tubuhnya bagai anak kecil. Telinganya runcing dan terdapat sayap seperti capung di punggungnya. Makhluk itu melihat kami dengan wajah sedih.

"Makhluk apa lagi itu?"

Dari kejauhan, kupu-kupu itu kembali mendekati kelompok Reynald, lalu menyemprotkan lebih banyak lagi lendir yang membuat mereka kesulitan bergerak. 

Kemudian kupu-kupu itu menyedot darah mereka satu per satu.

***

"Aku harap mereka aman." Raut wajah Jacob tampak khawatir. "Makhluk itu sangat berbahaya. Ia sangat mendominasi di hari perburuan. Bahkan peri-peri hutan sering kali kewalahan. Kupu-kupu sialan itu bakal melapisi mangsanya, para manusia, dengan lendir untuk memastikan tidak ada monster lain yang akan mengambilnya. Bahkan makhluk itu sampai menyemprotkan lendirnya di perbatasan hutan agar tak ada monster lain yang berani keluar dari sana."

Alison hanya diam mendengar ocehan Jacob. 

Tak lama, sebuah teriakan dari luar membuat seisi ruangan terkejut. Alison, Jacob dan Hubert bergegas keluar.

"Ya Tuhan!"

Betapa terkejutnya mereka ketika melihat seekor kupu-kupu raksasa melesat cepat menuju desa.

-END-

Note:
Jagdtag = Hari berburu, dalam bahasa Jerman.

#ceritamisteri #setahunrimis