Gadis Bergaun Putih di Dalam Gerbong Kereta

https://kumparan.com/dukun-millennial/mitos-hantu-bangsi-kuntilanak-khas-kalimantan-1uVl71uPnbx

Dingin menerpa tubuh hingga menusuk tulang-tulang persendian.  Angin yang semakin kencang seakan membawaku terbang dalam lelahnya pandangan mata. Masuk ke lorong jalan yang sepi, hanya terdengar bunyi sepatuku. Langkah demi langkah seakan membangunkan suasana malam selasa yang sangat berbeda. Dereten toko-toko biasanya di siang hari ramai, kini berganti dengan suasana sisi malam mencekam. Berat kaki memasuki stasiun  Jakarta kota. Jika saja, tadi aku tidak terlambat menemui klien mungkin   sudah sampai rumah. Belum lagi amanat ibu, untuk mampir kerumah paman. Kupercepat langkah kaki, mengisi saldo tiket kereta api yang sudah habis. Rangkaian gerbong berada di deretan ujung. Beberapa petugas  sedang berjaga terlihat begitu ngantuk  dan lelah. Aku berlari kearah gerbong khusus laki-laki, mencari tempat duduk, berharap bisa tidur sampai stasiun akhir. Deretan kursi terisi hampir penuh, sebagian saja yang kosong. Kusandarkan punggungku di kursi.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa numpang tidur juga di kereta,” gumamku sambil merekatkan jaket, menghangatkan tubuhku.

Pukul 22.55 WIB kereta mulai melaju dengan perlahan. Rasa lelah seharian membuatku terlelap tidur. Tidak sadar sudah melewati beberapa stasiun, kereta berhenti di stasiun Kalibata. Meskipun mataku sedikit terpejam, tetapi pintu otomatis kereta yang terbuka bisa aku rasakan. Bahkan, penciumanku terganggu dengan semerbak bunga melati yang begitu menyengat di hidung. Perlahan aku membuka mata, seorang gadis bergaun putih masuk beberapa detik sebelum pintu kereta ditutup. Dia, berjalan ke deretan ujung kursi   berlawanan arah denganku dalam satu gerbong. Poninya terurai, sehingga menutupi sebagian wajahnya yang lesu.  Rambut disanggul menggunakan sirkam berwarna emas, terselip di antara gulungan rambutnya. Gaunnya  terurai panjang hampir menutupi lantai, bertabur seperti tanah yang baru digali. Kehadirannya, seolah-olah tidak diketahui oleh siapa pun. Dia, duduk dengan tenang dan mulutnya terus membungkam. Wajahnya putih pucat sedikit biru. Sesekali aku menoleh kearah gadis itu. Bulu kudukku berdiri, ada sesuatu yang terjadi dengan sosok gadis bergaun putih itu.

Cukup lama kereta sampai tujuan di stasiun akhir. Rasa kantuk berubah menjadi perasaan yang tidak karuan. Ingin terus menatap gadis itu dan sulit kupalingkan. Kereta terus melaju dengan cepat, mataku menjalar sekeliling.  Merasa asing di dalam gerbong kereta itu. Berulang-ulang aku pejamkan mata agar kereta cepat sampai, tetap saja sulit. Pukul 00.31 WIB kereta tujuan akhir di stasiun Bogor sudah sampai. Sekelebat gadis itu turun dari kereta,  menembus kaca jendela seperti bayangan, matanya bertatapan langsung denganku. Berwarna hitam  menyala, bulat dan dalam. Sekejap hilang dari pandangan. Aku bergegas turun  mengejarnya, tetapi raib entah kemana. Sepanjang jalan menuju pintu keluar aku masih berharap menemukan gadis itu.

“Orang atau bukan sih?” gerutuku.

 

***

 

“Kenapa hari ini aku begitu aneh?” batinku dalam hati.  Satu persatu kuturuni anak tangga JPO dan membayangkan sudah bisa langsung tidur di kasur yang empuk.

“Mas … !” seseorang memanggil dari sebrang jalan. Aku mendadak berlari menyebrang, mengejar gadis yang ada di dalam gerbong kereta tadi. Secepat kilat aku hampir tersambar mobil sedan yang melaju dengan kencang. Tersungkur  kearah trotoar, tubuhku gemetar, napasku terengah-engah. Hampir nyawaku melayang, bayangan gadis itu terus mengikuti.

“Mas, tidak apa-apa?” tanya bapak penjual kopi yang menolongku, saat itu sedang bergegas siap-siap pulang.

“Tidak apa-apa Pak, badan saya sedikit terbanting karena menghindar. Tadi, saya bukan masih di tangga?” Aku berusaha bangkit di bopong olehnya meski sedikit heran.

Sesaat aku beristirahat menenangkan diri. Segelas air mineral disodorkannya, membasahi kerongkongan ku yang kering. Kejadian aneh, ku ceritakan kepada bapak penjual kopi yang menolong. Sambil mengumpulkan tenaga dan selonjorkan kaki, mendengarkan ceritanya.

“Oh, gadis bergaun putih dahulu adalah gadis yang kabur dari rumah disaat pesta pernikahannya, Mas. Perjodohan paksa oleh orang tuanya. Sedangkan dia mencintai laki-laki lain.  Orang tuanya tidak setuju, karena pacarnya berasal dari kalangan orang biasa. Akhirnya gadis itu menghabisi dirinya sendiri, ketika malam di dalam gerbong kereta. Jangan bengong makanya, Mas!” jawab bapak penjual kopi.

“Aku yakin, dia makhluk pengganggu, bukan gadis itu,” bisik ku sambil menahan sakit.

 

#ceritamisteri #setahunrimis

Sumber gambar :

https://kumparan.com/dukun-millennial/mitos-hantu-bangsi-kuntilanak-khas-kalimantan-1uVl71uPnbx