Rumah Sakit Angker Bekas Gedung TKW

Gambar hanya ilustrasi-sumber dari google image

Perempuan berseragam biru itu menghela napas panjang. Bulir-bulir keringat sampai membasahi rambutnya yang disanggul rapi. Ia lalu menenteng alat-alat kebersihan keluar ruangan bernomor 13 di lantai lima ini. 

Sudah beberapa pekan rumah sakit darurat ini beroperasi. Sebuah gedung yang dulunya adalah asrama pelatihan Tenaga Kerja Wanita. Bertahun-tahun dibiarkan kosong, tetapi dengan beberapa perbaikan ringan, bangunannya tampak seperti baru lagi  Bahkan jejak-jejak api yang sempat membakar sayap gedung sebelah kiri tertutup sempurna.

"Sudah rapi semua," ucapnya pada diri sendiri. Dia kemudian melirik jam yang melingkari pergelangan tangan. Pukul lima sore, sudah waktunya pulang. Langkahnya dipercepat tak mau lagi menengok kiri kanan. Apalagi ke belakang.

Seorang gadis belia yang sejak tadi mematung di depan pintu lalu melangkahkan kaki ke dalam. Kepalanya dianggukkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Namun tak dihiraukan, seperti biasa. Padahal seingatnya, perempuan itu adalah petugas yang ramah.

Beberapa hari ini rambut panjang ikalnya belum disisir. Kusut, menghias parasnya yang pucat pasi. Langkahnya gontai, pertanda sakitnya belum lagi pulih. Ia lalu menghenyakkan diri ke atas ranjang. 

Awalnya Areena senang mendapat tempat tidur di dekat jendela. Setiap malam ia dapat menatap bulan dan bintang. Melihat gedung-gedung yang berjajar juga lalu lalang kendaraan. Untuk mengusir kejenuhan. Hanya saja sejak kejadian tempo hari ia tak berani lagi berlama-lama berdiri di depan jendela. 

Kedua matanya menangkap sesosok tubuh yang tiba-tiba terjun. Jatuh dalam gerak lambat. Wajah dengan sorot mata redup dan mulut menganga lebar terlihat jelas, seakan berteriak meminta tolong. 

Areena hanya dapat terpaku, ia menceritakan kejadian ini pada perawat juga petugas kebersihan. Tapi mereka bilang tak terjadi apa-apa. Karena itu, ia lebih sering bersembunyi di balik selimut. 

Terutama akhir-akhir ini, saat cahaya matahari menerobos masuk ruangan. Ia lebih suka menutup gorden jendela, meskipun petugas selalu membukanya kembali. Mereka mungkin kerepotan dengan tingkah Areena yang kerap bercerita tentang berbagai kejadian aneh.

Berbeda dengan penghuni ranjang di sebelahnya, yang lebih banyak diam. Tak pernah membuka tirai pembatas. Sama sekali tak mau berbasa-basi, meskipun berulang ditanya apa yang ia rasakan saat terdengar merintih sepanjang malam. Tubuhnya tetap memunggungi Areena, tak mau menoleh sedikit pun.

Areena mencoba berbaik hati memanggilkan suster, tetapi mereka lebih sering mengabaikan. Terutama saat ia melaporkan bau gosong yang sering tiba-tiba tercium. Membuatnya memeriksa kamar pasien satu persatu. 

Sampai pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. Gadis itu mencoba mengintip, tampak seseorang tengah duduk di atas ranjang. Kepalanya menunduk dalam. Didorong rasa penasaran Areena pun masuk. Lampu ruangan berkedip diiringi suara gesekan kabel, terlihat percikan listrik di sekitarnya. 

Sosok itu mengangkat kepala perlahan, menampakkan wajah yang hampir sebagian besarnya terbakar. Lalu berteriak histeris, dalam satu kedipan mata, tiba-tiba api melalap ruangan. Areena melonjak, degup jantung nya tak beraturan. Sekilat gerak ia berlari keluar. Memanggil bantuan, mencari petugas yang entah sedang berada di mana. 

Napasnya masih terengah-engah saat ia memutuskan untuk kembali bersembunyi dalam selimut di atas ranjang. Suara rintihan pasien di sebelahnya membuat ia tak dapat memejamkan mata. Areena menyeret tirai pembatas dengan kesal, entah sudah ke berapa kali ia bertanya baik-baik. Sekarang darahnya mulai naik, tak rela waktu istirahatnya kembali terganggu.

Senyap. Suara itu terhenti, sama sekali tak terdengar lagi. Areena kembali berbaring di atas ranjang, seiring lelap yang baru saja akan hinggap. Aroma menusuk tiba-tiba menguar. Anyir, seperti bau telur busuk. Lambungnya Langsung merasa mual, disusul denyut saraf tepi kepala yang membuatnya nyeri.

Areena melompat, menggoyangkan tubuh pasien yang selalu memunggunginya. Namun sosok itu terbujur kaku, warna kulitnya memerah. Mengelupas di beberapa bagian. Seketika isi lambungnya terdorong hendak keluar. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. 

Napasnya tersengal, nyeri di ulu hati tak lagi dapat tertahan. Jemarinya mencoba meraih bel yang menjuntai. Mencari pertolongan.

Seingat Areena, itulah terakhir kali dokter memeriksa keadaannya.  Napasnya kian tersendat, meski telah dibantu selang oksigen. Raut cemas tergurat pada paras dokter tampan yang selama ini memeriksanya. Beberapa orang perawat tampak sibuk, mereka panik mendengar seruan dokter yang memerintahkan untuk bertindak cepat.

Setelah itu ia tak ingat lagi. Pun tidak menghitung seberapa lama tak sadarkan diri. Hingga beberapa saat lalu dapat terbangun. Menunggu, kapan sebenarnya diperbolehkan pulang. Sebab namanya tak juga dipanggil oleh perawat.

Petugas wanita berpakaian putih-putih mengantar pasien menuju ruang kamboja di lantai lima. Kamar nomor 13 di sayap kiri gedung.

“Ini satu-satunya kamar terbaik di lantai lima,” suster menjelaskan, “ada jendela besar yang membuat cahaya matahari masuk dengan leluasa,” ia kemudian membuka gorden lebar-lebar.

Gadis muda di belakangnya cuma mengangguk seraya menebarkan pandangan. Ia merasa tak merasakan gejala apapun tetapi dinyatakan positif dan dirujuk untuk dirawat di sini. 

Malam kian larut tetapi kedua kelopak mata Alya tak jua terpejam. Tubuhnya menggigil merasakan hawa dingin yang tak biasa. Padahal suhu pendingin ruangan sudah dinaikkan. 

Suara rel gorden jendela yang ditarik membuatnya bersembunyi di balik selimut. Ia tak berani membayangkan malam-malam seperti apa yang akan dilewatkannya selama di sini. Mengingat dia adalah satu-satunya pasien di ruangan kamboja.

Membayangkan kembali berita-berita yang dia lihat di internet. Gedung tua yang menyimpan misteri tentang berbagai kejadian mengenaskan. Di mana pernah dijadikan tempat bunuh diri. Seorang korban kebakaran. Serta mayat yang sudah membusuk.

Dan beberapa hari lalu tepat di tengah ruangan ini, seorang pasien mati gantung diri diduga karena depresi.

[Awg]

#ceritamisteri

#setahunrimis