Pancen

Sumber gambar: Palanjana's Blog

Hari ini suasana rumah tampak agak ramai dari biasanya. Sanak saudara sedang berkumpul untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya perempuan yang melahirkanku. Kesedihanku setelah kepergian ibu sedikit terobati dengan kehadiran mereka. 

Ya, empat puluh hari berlalu. Namun mataku masih sering sembab saat mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu. Sudah dua puluh tiga tahun kami bersama-sama. Dan rasanya aku belum sempat membuatnya bahagia. Kepergiannya terlalu cepat dan tiba-tiba. 

"Gin, ini kamu anter dulu nasinya ke rumah Bu Tari!" perintah salah satu bulikku. 

Aku tersadar dari lamunan. Lalu beranjak mengantarkan nasi beserta lauk pauknya yang sudah ditaruh dalam rantang susun tiga ke rumah tetangga sebelah. 

*****

Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Aku bersama ayah pergi ke makam ibu untuk berziarah. Di sana aku kembali merasakan kesedihan. Rasanya masih tidak percaya ibu pergi secepat ini. Aku pun mengajak ayah untuk segera beranjak dari sana. Tak sanggup bagiku untuk berlama-lama melihat tempat peristirahatan terakhir ibu. 

Saat tiba di rumah aku segera mencuci kaki, lalu bergabung bersama keluarga untuk menata nasi berkat. Tiba-tiba bude Narti, kakak sulung ibu memanggilku.

"Gin tolong ambilkan piring tiga dan gelas dua ya!"

"Buat apa, Bude?" tanyaku.

"Ini lho mau aku buat nata pancen. Biar nanti bisa ditaruh kamar ibumu," jelas bude Narti.

Sebenarnya aku ingin menolak permintaan kakak perempuan ibu itu. Tapi dia adalah orang yang dianggap paling tua dan dihormati dalam keluarga. Permintaannya tak akan bisa ditolak. Bisa-bisa aku diceramahi dari A sampai Z. Dan pastinya malah akan menimbulkan perdebatan. 

Aku pun membawakan piring dan gelas yang diminta oleh bude Narti. Perempuan berusia lima puluh tahunan itu dengan cekatan menata nasi, lauk pauk, dan kue dalam piring yang berbeda. Lalu mengisi gelas dengan teh hangat, sedangkan gelas lainnya diisi dengan bunga tujuh rupa yang direndam air. Piring-piring dan gelas tersebut kemudian diletakkan di atas meja kecil dalam kamar ibu. Tak lupa sebuah ublik kecil juga dinyalakan.

*****

Acara pengajian berjalan lancar. Hampir semua tetangga yang diundang datang. Aku merasa senang karena banyak yang mendoakan ibu. Setelah acara selesai, seluruh sanak keluarga berpamitan pulang. Suasana rumah menjadi sepi, cuma ada aku dan ayah. 
Ayah terlihat sangat lelah, aku memintanya untuk tidur lebih dulu. Ayah pun kemudian merebahkan diri di atas karpet.

"Kenapa nggak tidur di kamar, Yah?"

"Di kamar gerah, Gin. Biar aku tidur di sini dulu, nanti kalo hawanya sudah agak dingin baru pindah ke kamar," jelas ayah. 

Aku hanya diam. Lalu mulai membersihkan dapur. Membereskan beberapa baskom makanan yang masih tersisa, dan memasukkannya dalam kulkas. Setelah itu aku masuk ke kamar ibu. Sejenak kupandangi pancen yang ditata oleh bude Narti. Lalu mematikan ublik kecil di antara makanan itu. 

Entah mengapa aku merasa terganggu jika makanan yang dibuat untuk pancen itu ada di kamar ibu. Akhirnya aku membawa piring-piring dan gelas berisi pancen itu ke meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur dan kamar mandi. Setelah itu aku mematikan lampu di seluruh ruangan. Kecuali ruang tamu tempat ayah merebahkan diri. 

Aku masuk ke kamar. Mungkin karena lelah, aku merasakan kantuk yang luar biasa. Aku pun tertidur pulas. Namun beberapa jam kemudian aku terbangun karena ingin buang air kecil. Rasanya seperti tidak bisa ditahan. Mau tak mau aku harus bangun dan ke kamar mandi. 

Aku keluar dari kamar. Belum sempat menyalakan lampu, aku seperti mendengar suara berisik dari meja makan. Tengkukku tiba-tiba merinding. Aku mengerjap-ngerjapkan mata untuk melihat dengan lebih jelas pemandangan yang ada di meja makan. Ada sedikit cahaya yang tersorot dari lampu ruang tamu. Ya, aku menatap dengan jelas beberapa makhluk dengan wujud mengerikan mengelilingi meja sambil berebut makanan yang ada di sana. 

Salah satu dari mereka tiba-tiba menatapku dengan tajam, seolah marah. Matanya menyala merah begitu mengerikan. Namun setelah itu berebut makanan lagi dengan yang lain. Meja makan terlihat jadi sangat berantakan dan menjijikkan.

Aku berusaha mengucap ayat kursi, namun lidah terasa kelu. Keringat dingin membanjiri dahi. Ingin rasanya berteriak memanggil ayah, namun tak sanggup. Pada akhirnya pandanganku menjadi gelap. Tubuhku limbung.

*****

Aku meraih ponsel dan melihat jam. Sudah pukul enam lewat tujuh menit. Aku mencoba mengingat-ingat dengan apa yang terjadi semalam. Ya, apa yang terlihat kemarin malam masih melekat dalam ingatan. Tapi mengapa sekarang aku bisa ada di kamar. 

Aku bergegas keluar menuju ke ruang makan. Ingin memastikan apa yang terjadi dengan pancen untuk ibu. Namun aku hanya bisa melongo heran. Makanan-makanan di atas piring itu masih utuh. Begitu juga dengan teh dan bunga tujuh rupa. 

Surabaya, 02 Juni 2021

#ceritamisteri

#setahunrimis

Pancen: Semacam sesaji dalam budaya Jawa, berupa makanan dan minuman yang dipersembahkan untuk orang yang sudah meninggal.

Ublik: Lampu tempel yang bersumbu dengan bahan bakar minyak.