Lukisan Kematian

Ilustrasi (Foto oleh Daian Gan dari Pexels)

Semua orang pasti tahu kalau nada itu tak dapat terpisahkan dari musik. Tapi dia berbeda. Bagi gadis yang terlahir sebagai Nada, lukisanlah yang tak dapat terpisahkan darinya. Ketertarikan Nada terhadap lukis-melukis mulai terlihat sejak ia berumur tiga tahun.

Waktu itu, ketika rumahnya sedang ada pengecatan, Nada yang penasaran dengan ember cat tanpa tutup, memasukkan sebagian lengannya ke dalam. Dia kegirangan lantaran tangannya berubah jadi biru. Tidak sampai di situ, dia juga menempelkan telapak tangan penuh catnya itu pada dinding. Alhasil, hampir sebagian dinding rumah penuh akan telapak tangan mungilnya.

Meski begitu, minat Nada akan seni tak mendapatkan dukungan secara penuh. Papanya memang mendukung, atau lebih tepatnya, dia tak ingin mengekang putri semata wayangnya. Tapi mamanya, perempuan itu hanya mau Nada menjadi seorang dokter, seperti dirinya.

“SMA Pelita?” Nada mengernyit tak percaya. Kata temannya, sekolah itu terkenal dengan peraturannya yang super ketat. Takkan sanggup baginya untuk bertahan tiga tahun di tempat menakutkan itu. “Tapi, Ma….” Nada mengubah air mukanya jadi memelas. Cara itu selalu ampuh untuk membuat iba orang tuanya, terutama papa. Namun tidak untuk kali ini.

“Enggak ada tapi-tapian.” Mamanya bersikeras. “Kamu enggak ingat? Nilai-nilaimu di SMP anjlok semua gara-gara hobi enggak jelasmu itu.”

“Papa….” Wajah memelas itu beralih pada sang papa.

“Sayang.” Suara papanya penuh ketegasan. “Ini demi kebaikan kamu. Kalau nilaimu jelek lagi kayak di SMP, nanti kamu sendiri yang susah.” Melihat Nada yang semakin gundah, dia mendekatkan wajah ke telinga anaknya, lalu berbisik, “Di sana ada pelukis hebat, teman papa. Dia mengajar seni sekaligus pembimbing ekskul. Kamu bisa belajar banyak dari dia.”

Mama Nada berdeham. “Ingat, ya, sayang. Enggak ada lukis-lukisan sebelum nilai kamu bagus lagi!”

Hari pertama sekolah tiba. Dengan tak bersemangat Nada melangkahkan kakinya, melewati gerbang menuju gedung megah bernuansa jingga. Ramai di situ. Siswa-siswi berwarna seragam sama dengan gedung sekolah berlalu-lalang di sekelilingnya. Nada tak pernah suka dengan situasi macam itu. Keramaian baginya adalah musuh penghilang konsentrasi.

Sudah jadi kebiasaan bagi Nada, sejak SMP, untuk berkunjung ke toilet ketika sampai di sekolah. Yang dia lakukan di sana hanyalah mencuci tangan sambil memandang cermin. Dari situ tampak gadis lima belas tahun berwajah oval. Rambutnya panjang, lurus dan hitam; ada jepitan rambut kecil di sisi kirinya. Tampangnya berkesan jutek dengan binar mata yang tajam, memancarkan kreativitas.

Baru saja Nada menutup keran air, samar-samar terdengarlah suara yang merintih. Dari arahnya, dia yakin kalau suara itu berasal dari bilik toilet paling ujung. Awalnya Nada tak peduli, tapi rintihan itu semakin jelas dia dengar di setiap langkah kakinya. Rasa penasaran pun menyelinap masuk ke otaknya. Setelah memastikan tak ada seorang pun di sini; tak ada yang tahu alasannya begitu, Nada bergerak pelan ke arah sumber suara.

Sekelabat tubuhnya menegang. Nada teramat kaget lantaran pundak kanannya disentuh. Dia berpaling cepat. Tampak olehnya gadis bermata bulat yang menyengir riang. Itu Wina, teman dekatnya di SMP. Sampai sekarang pun Nada tak percaya kalau gadis ceria tapi menyebalkan itu juga bersekolah di sini. Nada menghela napas kesal, sebelum akhirnya tersenyum kecil. Sementara Wina tak dapat menahan gelaknya.

“Lo imut juga, ya, pas lagi kaget,” goda Wina.

“Sialan lo.” Nada mendorong kecil bahu temannya itu. “Eh, lo kok bisa tahu gue di sini?”

“Bukan Nada namanya kalau enggak ke toilet sebelum kelas mulai.” Dia merangkul pundak Nada. “Yuk, masuk. Bentar lagi bel bunyi, nih.”

Sekitar satu menit setelah Nada dan Wina meninggalkan toilet, pintu bilik paling ujung perlahan terbuka, memunculkan gadis dengan kondisi yang menyedihkan. Tampangnya terlihat kacau, ada bekas lebam kemerahan di pipinya. Sudut kanan-bawah bibirnya juga tampak lebam, samar-samar menutupi tahi lalatnya. Rambut hitamnya berantakan, kusut dan basah. Bekas-bekas air juga menyelimuti sebagian kemejanya. Dia menatap dalam-dalam cermin di depan, sambil sebelah tangannya tak berhenti mengepal erat. Lihat aja, batinnya, gue akan buat kalian menyesal!

Nada bukan hanya tak menyangka kalau akan satu sekolah lagi dengan sahabatnya, melainkan juga kalau akan kembali sekelas untuk yang kesekian kalinya. Tentu saja, setidaknya hal macam itu dapat sedikit mengurangi rasa kesalnya karena harus bersekolah di sini.

Namun yang membuatnya curiga dengan “kebetulan” itu adalah tatkala ia bertanya alasan Wina memilih sekolah yang sama dengannya. Dengan wajah sok polosnya, Wina menjawab kalau memang itulah yang dia inginkan. Padahal, yang memberi tahu Nada tentang menakutkannya SMA Pelita ini tak lain adalah Wina sendiri. Kebetulan yang tak masuk akal, bukan?

Sudah pukul tiga lewat sekarang, dan sepertinya langit sedang tak bersahabat. Awan gelap sudah mulai menjalar di atas area sekolah. Sambil mengemasi buku-bukunya, dengan acuh tak acuh Nada mendengar ocehan ini-itu Wina yang berlangsung sejak bel pulang berbunyi.

Setelah memasukkan buku terakhir ke dalam ransel, Nada berucap, “Lo pulang duluan aja, ya, Win. Gue mau lihat-lihat ekskul dulu.”

“Yah… padahal gue mau traktir lo makan bakso.”

“Lain kali aja, ya.” Nada tersenyum kecil sebelum berdiri.

“Mau masuk ekskul lukis lagi? Percuma deh, Nad. Di sini itu, setahu gue, enggak ada yang mau masuk ke sana. Mending lo ikut gue daftar ekskul basket. Besok udah dibuka.”

Nada memutar bola matanya. “Wina, lo tahu, kan, kalo gue enggak ada bakat olah raga? Jangan mengada-ada, deh.” Dia menyandang ranselnya. “Udah, ya. Gue cabut dulu.”

“Tapi, Nad! Kata nyokap lo—”

Nada berbalik badan. “Lo dijanjikan apa sama nyokap gue?”

Wina menyengir. “I-itu…” Ditatapnya lantai kelas yang sedikit berdebu. Begitulah kebiasaan Wina kalau sedang menyembunyikan sesuatu, dan Nada tahu itu.

“Dah, ya. Bye!”

“Eh, Nad. Nada!” Gadis itu sudah menghilang di balik pintu kelas. “Maafin Wina, ya, Tante.” Dia bergumam pasrah sambil menatap langit-langit.

Dari denah yang ada di buku saku sekolah, ruang seni rupa berada di gedung B, bersama dengan sebagian besar ruang ekskul lainnya. FYI, gedung A merupakan area utama sekolah. Isinya mulai dari ruang kepala sekolah, ruang guru, administrasi, dan ruang-ruang kelas. Sedangkan di gedung B, selain ruang ekskul ada juga ruang praktek; seperti lab biologi, kimia, dan komputer.

Lokasi gedung yang Nada tuju itu tidaklah jauh, hanya di seberang gedung utama. Dia hanya perlu menyeberangi lapangan upacara yang letaknya di tengah-tengah area sekolah. Nada melihat lagi denah di buku sakunya. Ruang ekskul seni rupa ada di lantai dua paling ujung, jauh dari tangga.

Sampai Nada di depan pintu ruangan tujuannya. Dari yang terlihat di tempatnya bergeming, tidak ada tanda-tanda keberadaan anggota. Tapi dia tak peduli. Dibukanya pintu itu setelah mengucap, “permisi,” dengan suara yang hampir tak terdengar, bahkan olehnya.

Semangat Nada seakan runtuh ketika melihat hal yang tak dapat dia percayai. Ruangan yang dia harap akan memberi semacam motivasi untuk dapat bertahan di sekolah ini, justru membuatnya demotivasi. Berantakan. Ruangannya memang penuh dengan bermacam alat-alat lukis. Tetapi alat-alat itu seperti tak terusus dalam waktu yang lama.

Dia memang kecewa. Dia juga merasa dibohongi papanya sendiri. Namun emosi macam itu bukanlah hal yang tak bisa dia lawan. Kecintaan Nada akan melukis sudah mendarah daging. Dan karenanya, selama dia punya tempat untuk berkarya, bagaimana pun kondisinya takkan jadi masalah.

Nada masuk, lalu terkejut bahagia karena tahu kalau ekskul lukis tak sepenuhnya kosong. Ada satu orang di situ, perempuan, dia sedang melukis di sudut ruangan. Wajahnya asing bagi Nada, mungkin bukan satu angkatan. Air muka murungnya yang menatap kanvas diartikan oleh nada sebagai satu bentuk konsentrasi. Nada yakin sekali kalau gadis itu sedang mencurahkan semua emosinya ke dalam karya yang dia buat.

Nada hendak mendekat saat seseorang memanggil namanya. Sebelum dia menoleh ke arah suara itu, sekilas dilihatnya si gadis yang tak teralihkan dari lukisannya.

“Kamu pasti Nada.” Seorang lelaki, berkisar usia awal empat puluhan, menutup pintu sebelum beranjak ke arah Nada. Belum sempat kata-kata Nada keluar, dia berkata lagi, “Mata kamu mirip banget dengan Juna.”

Enggak salah lagi, batin Nada. Dia pasti temannya papa, yang katanya pelukis hebat itu. “Pak Ahmad, bukan?”

“Benar sekali.” Ahmad melihat sekeliling dengan canggung. Air mukanya seperti menahan malu. “Maaf. Ruangannya pasti enggak sesuai dengan ekspektasi kamu.”

Nada tak bisa protes. Dilihatnya lagi si gadis yang masih saja asyik dengan dunianya sendiri.

“Oh, itu Yana. Satu-satunya anggota ekskul ini.” Senyuman Ahmad makin berkesan canggung.

“Oh…” Suara Nada pelan, tapi raut wajahnya tampak mengerti.

“Jadi, kamu masih mau gabung, kan?”

“Iya,” jawab Nada cepat, tanpa ragu-ragu.

“Bagus. Kamu boleh mulai sekarang kalau mau. Pakai aja alat-alat di sini, bebas mau yang mana. Saya harus pergi karena masih ada keperluan.”

Nada mengangguk, diikuti Ahmad yang bergegas dengan langkah cepat. Setelah membuka pintu, Ahmad berhenti karena mengingat sesuatu. “Oh ya, kalau mau pulang, tutup aja pintunya. Kunci cadangan ada sama Yana.”

Bersamaan dengan pintu yang ditutup, Nada memandang lagi gadis itu. Kini jaraknya lebih dekat, dan karenanya, lebih jelas terlihat bentuk wajah si gadis. Matanya memang terhilat sayu dan tak bersemangat, namun Nada bisa merasakan keteguhan dari sana. Bawah bibirnya—sebelah kanan—dihiasi tahi lalat, memberikan kesan manis di balik ekspresinya yang murung. Postur tubuhnya yang sedang duduk terlihat ramping dan kecil. Nada bisa tahu dari jemarinya yang panjang.

Tetapi, setelah mengamati dengan sedikit lebih detail, ada yang terlihat janggal dan memprihatinkan dari si gadis. Itu adalah rambut hitamnya yang kusut. Entah dia malas merawat diri, atau mungkin karena kejadian tak disengaja, yang jelas pemandangan itu bukanlah hal yang bagus. Apalagi di sekolah yang sangat mengedepankan disiplin ini.

Nada tergugah untuk menegurnya. “Mbak?” Setengah menit berlalu tanpa jawaban. Meski begitu, Nada tak berniat diam saja. “Saya Nada, kelas 10-1. Anggota ekskul yang baru.”

Setengah menit kembali habis tanpa jawaban. Akhirnya Nada menyerah. Dia pun kehilangan semangat, tak ingin melukis apa-apa sekarang, dia hanya ingin pulang. Namun mendadak timbul penasaran di hatinya. Penasaran akan lukisan yang membuat gadis bernama Yana itu tak melepas pandangannya barang satu detik pun sejak tadi.

Nada bergerak hingga pandangannya dapat melihat jelas lukisan Yana. Sebuah potret seorang gadis. Bukan wajah Yana, bukan juga wajah selebriti terkenal. Lagi-lagi wajah yang tampak asing bagi Nada. Lukisan itu entah mengapa membuat jantungnya berdetak kencang. Dia bisa merasakan ketakutan dan kegundahan tatkala memperhatikannya dengan cermat.

Dia tak begitu tahu alasannya. Tetapi kalau disuruh menjawab, dia pasti akan bilang kalau penyebabnya adalah pemilihan warna yang didominasi warna-warna gelap. Efeknya, lukisan itu jadi terlihat suram, tanpa punya unsur kehidupan. Jika ada seniman yang bilang kalau lukisannya adalah kehidupan, maka bisa dibilang kalau lukisan Yana adalah kematian. Nada pun semakin bergidik, hingga dengan cepat meninggalkan Yana bersama “lukisan kematian”-nya.

Pertemuan Nada dengan Yana seperti membekas dalam benaknya. Tak kunjung hilang, hingga terbawa ke alam mimpi. Nada bisa ingat dengan jelas mimpi mengerikan itu. Dia tak tahu awal mimpinya, ketika sekelabat dia berada di ruang ekskul sendirian. Nada berputar, melihat sekeliling. Tempat itu terlihat lebih berantakan dari yang dia tahu, bahkan lebih parah dari itu.

Alat-alat lukis yang tadinya hanya berserakan di mana-mana kini hancur lebur. Kuas-kuas patah, kanvas-kanvas koyak, hingga cat-cat minyak mengering di hampir seluruh dinding dan lantai. Bukan itu saja, di sudut yang sama dengan tempat Yana tadi melukis, tergeletak tiga lukisan dari tiga wajah berbeda. Jika perlu dicari kesamaannya, itu hanya ada pada kesuraman dan ketidakadaan unsur kehidupan.

Nada mengambil salah satu lukisan, menatapnya lekat-lekat. Terciumlah olehnya bau anyir layaknya darah dari lukisan yang didominasi warna merah gelap itu. Tanpa sadar Nada menjatuhkannya. Namun, lututnya terasa begitu lemas ketika mata dalam potret itu tiba-tiba seperti menangis. Tapi bukan air mata yang keluar, melainkan darah! Nada jatuh, tak dapat lagi menahan bobot tubuhnya yang gemetar. Bersamaan dengan dia yang terjatuh lemas, sekelilingnya berubah hitam. Nada pun terjaga dengan keringat yang membasahi hampir seluruh tubuh.

Di sekolah, saat jam istirahat, dia mendadak lemas lagi lantaran mendengar pengumunan kalau ada kakak kelasnya yang meninggal dunia. Sekelabat terbesit olehnya rentetan kejadian mimpi semalam. Dia pun teringat akan wajah pada lukisan yang dibuat Yana kemarin.

“Win, lo tahu siapa yang meninggal?” Nada bertanya tiba-tiba, membuat Wina hampir menelan bulat-bulat bakso yang disuapnya. Nada gelagapan. “Eh, pelan-pelan, dong. Minum dulu, minum.”

Setelah merasa lebih baik, Wina menjawab, “Tahu, kok. Dia teman kakak gue.”

“Serius?” Keterkejutan Nada membuat Wina heran. “Lo ada fotonya? Gue pengin tahu mukanya.”

“Ada. Tapi buat apaan? Aneh deh, lo.”

“Buru, cepatan.”

“Iya, iya. Bawel.” Wina mengeluarkan ponsel pintarnya, mengutak-atik sebentar, lalu memberinya pada Nada.

Mata Nada terbelalak melihatnya. Panik bukan main. “Enggak, enggak mungkin. Ini bohong, kan?”

“Hah?” Wina semakin heran. “Bohong apaan? Lo kenapa, sih, Nad?”

Nada berdiri kemudian berkata, “Gue duluan,” sebelum dengan tergesa berlari.

“Eh, Nad. Mau ke mana?!” Wina mendesah kesal. “Kenapa lagi sih tuh anak?” gumamnya sebelum menyuap lagi sesendok bakso.

Seperti yang Nada duga, Yana sekarang ada di ruang ekskul. Ekspresi Yana tampak sama murungnya dengan yang kemarin. Dia masih duduk tenang di sudut ruangan. Masih juga sedang melukis.

“Mbak Yana. Ada yang mau aku tanyakan.” Nada sudah berdiri di dekat Yana, di belakang kanvasnya berdiri. Lelah menunggu jawaban yang dia yakin tak akan ada, langsung saja Nada menyampaikan maksudnya. “Mbak tahu, kan, kalau cewek yang Mbak lukis semalam itu meninggal?”

Sesuai perkiraan, pertanyaan Nada kali ini mendapat sedikit respons dari Yana. Dia melirik Nada sekilas sebelum kembali lagi menatap kanvas. “Sudah selayaknya dia mati.”

“Layak kata Mbak?” Nada sedikit kesal dengan jawaban acuh tak acuh itu. “Memangnya apa yang sudah dia lakukan ke Mbak sampai harus dibilang kayak gitu?”

Tak terdengar lagi jawaban.

“Bukannya dia itu teman Mbak, ya?”

Yana naik pitam. Matanya melotot menatap Nada. Namun dua detik kemudian, dia dapat menahan emosinya. “Bukan urusan lo.” Intonasi kalimat itu berkesan tak peduli.

“Kalau bukan teman, mengapa Mbak sampai melukis muka dia?”

“Lo enggak tahu apa-apa.”

Kesabaran Nada sudah habis. Karenanya, dia tak lagi punya niat bertanya. Namun dalam hatinya masih terbesit rasa penasaran. Untuk itu, dilihatnya apa yang Yana lukis kali ini. Lagi-lagi potret seorang gadis. Tapi kali ini wajahnya berbeda, dan dia tetap tak mengenalnya. Merasa kehadirannya tak dipedulikan, akhirnya Nada pergi meninggalkan Yana tepat setelah bel masuk berbunyi.

Malam ini Nada tak lagi bermimpi. Tetapi hal itu bukanlah perkara baik karena, esoknya, peristiwa serupa kembali terjadi. Seorang siswi juga diumumkan meninggal dunia. Ironisnya, setelah bertanya lagi pada Wina, korban kedua juga merupakan teman dekat kakak Wina. Nada tahu kalau peristiwa itu bukanlah sebuah kebetulan. Ada sesuatu yang ganjal di balik meninggalnya dua gadis itu. Dan hanya satu orang yang Nada yakini bisa menjawabnya.

“Mbak Yana!”

“Mau apa lagi lo?” Yana menjawab tanpa menoleh, tetap menatap dalam kanvas di depannya.

Nada agak mendekat agar dapat melihat siapa yang Yana lukis kali ini. Namun, sekelabat Nada termundur satu langkah. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajah itu, Nada tahu siapa dia. Agak lama Nada memantapkan hatinya agar lebih tenang, lalu memebranikan diri berkata, “Dua cewek yang pernah Mbak lukis, semuanya meninggal. Aku yakin kalau semuanya bukan kebetulan. Aku juga yakin kalau Mbak tahu yang sebenarnya.” 

Kali ini, tak dapat lagi Yana menahan amarahnya. Dia berdiri. Matanya melotot sangar, wajah murungnya berubah jadi kejam. “Gue, kan, sudah bilang kalau ini bukan urusan lo!” Didekatinya Nada yang perlahan sedikit bergerak menjauh. “Pergi lo dari sini!” Yana berteriak. “Cepat pergi!”

Nada yang takut pun menuruti perintah Yana. Tapi sekelabat, saat sudah berjalan beberapa langkah menjauh, terpikirkan olehnya sesuatu. Pelan-pelan dia mengintip Yana yang sekarang sudah kembali asyik dengan karyanya. Nada meringankan langkahnya hingga tak terdengar, sambil tangannya merogoh saku rok.

Ketika ponsel pintarnya berada di genggaman, diangkatnya benda itu sedikit, mengarahkannya pada Yana. Dia menyalakan mode kamera, setelah itu diketuknya tombol bulat di layar ponselnya beberapa kali sebelum benar-benar pergi.

Kakak Wina. Dialah yang saat ini ada di pikiran Nada. Nada yakin, benar-benar yakin, kalau kakak Wina sedang berada dalam bahaya. Untuk memastikan, diteleponnya dahulu Wina.

“Halo, Wina. Kakak lo ada di mana?”

“Yaampun, Nada! Lo ke mana aja sih dari jam terakhir tadi? Pak Ahmad cari-cari lo, tuh. Ke toilet kok enggak balik-balik.”

“Duh, Win. Itu enggak penting sekarang. Kakak lo ada di mana? Buru, jawab,” desak Nada.

“Ada nih, di rumah. Emang kenapa, sih? Tumben banget cari kakak gue.”

“Oke. Gue ke rumah lo sekarang.” Panggilan dimatikan.

Di sana, Nada menjelaskan sedikit pada Wina sebelum bertemu kakaknya. Wina mengetuk kamar si kakak. Tak lama terdengar jawaban, “Bentar,” sebelum beberapa detik setelahnya, pintu pun setengah dibuka.

“Iya, kenapa Win?”

Kakaknya Wina tampak sedang tidak baik. Bisa dilihat dari matanya yang sembab dan sedikit membengkak.

“Ini si Nada, Kak. Dia pengin ketemu kakak. Kangen katanya.”

Ingin rasanya Nada menepuk jidat temannya itu, namun dia mengurungkannya lantaran ada hal penting yang sedang mendesak. “Kak Eca, aku boleh masuk?”

“Boleh. Sini masuk.” Eca membuka penuh pintunya.

Nada dan, tak ketinggalan, Wina pun masuk. Wina mengambil tempat di kursi meja belajar kakaknya, sedangkan Nada dipersilakan Eca tuk duduk di atas kasur, di sebelahnya.

Belum sampai lima detik setelah duduk, Nada langsung berucap, “Ini penting, Kak. Aku langsung ke intinya aja.” Dia mengeluarkan ponsel pintarnya. “Kakak kenal dia, kan?” Dia menunjukkan foto Yana pada Eca.

Tak terduga oleh Nada, tiba-tiba Eca malah mengeluarkan air mata. Menangis sejadi-jadinya. Itu menimbulkan tanda tanya baru bagi Nada. Namun sedikit bisa menjawab pemikiran dia sebelumnya. Belum sempat Nada melontarnya pertanyaan, Eca yang terlebih dahulu bersuara.

“Kami menyesal banget,” katanya. “Enggak seharusnya kami berbuat itu ke Yana.” Sedu sedan Eca semakin terdengar menyesakkan.

“Berbuat itu?” sanggah Nada. “Maksud Kakak apa?”

 ***

“Sudah gue bilang dari dulu, jadi cewek itu jangan sok cantik! Berani-berainya menggoda cowok orang.” maki Eca. Di depannya, Yana bersimpuh di sebelah kloset.

Wajah Yana bersimbah air, begitu juga di sebagaian kemejanya. Walau hal buruk itu terjadi di hari pertamanya kelas sebelas, dia tidak menangis. Dia sudah kebal. Tak terhitung sudah berapa kali dia diperlakukan seperti itu oleh Eca dan dua temannya. Tidak juga dia menatap lawan bicaranya. Yang ada dalam hatinya hanyalah: balas dendam.

Semua bermula saat Rudi—pacar Eca; teman sekelas Yana—mendapatkan tugas satu kelompok dengan Yana, tepat sebelum ujian kenaikan kelas. Waktu tugas yang mencapai dua minggu itu membuat keduanya semakin dekat. Namun, Yana yang polos menganggap kata manis Rudi adalah sebuah kebenaran, tanpa tahu akan sosok aslinya.

Kehidupan SMA sejak dulu tak pernah berubah. Perkataan siswa yang populer dan punya nama itu ibaratkan titah yang akan selalu dipercaya, bahkan oleh seluruh siswa. Rudi itu ketua tim basket, bisa dibilang dialah siswa lelaki terpopuler seantero SMA Pelita. Sedangkan Yana, dia hanyalah seniman yang dicap “gagal” karena jadi satu-satunya anggota ekskul seni lukis.

Nahas bagi Yana, semua pun berjalan seperti keinginan Rudi. Setelah Eca tahu kalau Rudi pernah menyatakan cinta palsunya pada Yana, lelaki itu berdalih kalau Yana-lah yang selalu menggodanya. Dan benar saja, hampir semua siswa, termasuk Eca, percaya dengan omongan Rudi. Dari situlah Yana mulai jadi incaran Eca dan dua temannya.

Yana menyeringai puas sesaat setelah lamunannya terhenti. Rampung jugalah “lukisan kematian”-nya yang terakhir. Lukisan berwajah Eca.

“Kelihatannya lebih bagus dari yang kemarin.” Seseorang berkata dari balik bayangan sudut ruang ekskul.

“Memang. Untuk dia harus yang spesial.”

“Bisa dimulai malam ini, kan? Aku sudah enggak sabar. Kira-kira, jeritan putus asanya bakal secantik apa, ya?”

“Dasar guru seni gila! Pantas aja cuma aku yang tersisa di ekskul ini.” Yana tergelak. “Terserah aja maunya kapan. Asal semua aman, aku enggak masalah.”

Lelaki itu menuju lukisan Yana. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mencium aroma cat pada kanvas. Agak lama dia begitu, sebelum wajahnya beralih mendekati telinga Yana dan berbisik, “Baik-baik, ya, sama Nada. Karena, jeritan cewek yang suka seni itu… lebih terdengar nikmat.”[]

#ceritamisteri #setahunrimis