Misteri Hantu Diana Populer

Ilustrasi by Liputan6.com

Malam itu adalah malam ketiga Bas berada di rumah Gubernur Dewo. Ia memperhatikan Gubernur Dewo yang tengah membaca koran di sofa seusai menggelar pengajian. Wajah itu basah lagi. Bas kembali menghela napas, ia hafal betul air mata itu. Meski ia tak bisa membaca, berita di TV itu sudah melekat dalam koridor ingatannya. Tiga hari ia memperhatikan berita di koran dan TV. Berita yang membuat Gubernur Dewo menangis hampir tak terhitung jumlah air mataya. Diana-- anaknya, sudah dua hari menghilang secara misterius, istrinya terkena serangan jantung lalu meninggal hari itu juga. Sudahlah jatuh tertimpa tangga.

Berita hilangnya Diana santer dibicarakan. Pasalnya selama ini Diana menjadi populer karena kebaikannya. Ia anak orang kaya tetapi sopan, ramah dan suka membantu siapa saja. Semua akun media sosialnya diikuti banyak penggemar. Setiap hari ia membagikan nasi kotak pada anak jalanan. Di akhir pekan, ia mengajar di rumah singgah. Setiap bulan, ia mengunjungi panti asuhan dan panti jompo. Ia pun hanya berpakaian sederhana setiap harinya.

Di sekolah, ia juga berprestasi. Ia tak segan membagi ilmunya jika ada teman yang kesulitan memahami pelajaran. Ia menghormati semua guru, tukang kebun, ibu kantin dan satpam. Semua orang menyukai kepribadiannya.

Namun Diana menghilang entah ke mana saat ditinggal Gubernur Dewo dan istrinya menghadiri undangan pernikahan saudaranya di luar kota. Diana yang saat itu ada janji dengan anak-anak di panti asuhan, memilih untuk tidak ikut. Siapa sangka hari itu adalah perjumpaan terakhir Gubernur Dewo dengan anaknya.

Meski hanya memandang saja, bagai merambat, Bas bisa ikut merasakan kesedihan itu. Terlebih sejak Bas kali pertama bermalam di rumah itu, ia sering ditemui dan mendengar hal-hal aneh.

Hari pertama, saat hendak memejamkan matanya, Bas mendengar suara seorang gadis sedang bernyanyi. Ia hilir mudik mencari sumber suara. Suara itu merdu sekali, tetapi perlahan berubah menjadi sesak napas dan menghilang begitu saja.

Hari kedua, Bas mendengar suara sepatu melangkah di lantai atas. Saat ia menghela napas lega karena mengira suara itu sudah hilang, sekelebat hitam melintas di hadapannya. Ia terbelalak memundurkan wajahnya dan malah terjatuh.

Setiap kantuknya tiba, ia selalu didatangi sekelebat hitam itu. Pernah satu malam, sekelebat hitam itu memanggil namanya lalu terkikik. Bas terpejam kuat menutupi wajah dengan tangannya.

Kini ia tinggal seorang diri, Gubernur Dewo sudah ke kamar. Bas mulai was-was, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Berharap sekelebat itu tidak muncul lagi. Ia merentangkan tangannya meregangkan otot-otot sambil menguap. 

"Halo, Bas."

Huaa!!! Bas melorot seketika. Sekelebat itu menampakkan wujudnya. Seorang gadis bergaun hitam, rambutnya dikucir kuda, berlari kecil sambil bernyanyi dan menebar aroma busuk. Cekikikan, sesak napas, lalu menangis sejadi-jadinya.

Apakah dia Diana populer itu? Pikir Bas. Wajahnya mirip seperti yang ia lihat di TV. Ada suara orang berlari di samping rumah. Bas beralih memperhatikan orang itu. Orang itu sering mengendap-endap setiap malam, entah mencari apa. Ia kembali menoleh ke arah gadis itu. Tak ada apa-apa. Ia beringsut memojokkan diri, menutup wajah dengan tangannya, berharap pagi segera tiba.

Sepi. Bas mengelus dada merasa aman, ia kembali bersiap memejamkan mata. Ia menikmati setiap kantuk yang hadir, matanya sudah terpejam. Samar terdengar suara orang sesak napas disusul suara air berkecipak bercampur tangis dan bau busuk. Bas bergidik sendiri.

***

"Pak, tadi malam Diana populer mengajak saya bermain di taman. Dia menangis, lehernya melesak ke dalam."

Gubernur Dewo menangis lalu menyuruh orang itu pergi. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu setiap para penggemar Diana datang ke rumah.

Ada yang mengatakan Diana populer sering bernyanyi di jalan lalu hilang. Ada yang mengatakan Diana menangis berjongkok dengan wajah pucatnya. Ada pula yang mengatakan pernah melihat hantu Diana bermain dengan kucing di halaman rumah.

Gubernur Dewo sudah bosan mendengar semua itu. Ia tak kuat mendengar anaknya disebut hantu oleh para penggemarnya. Sebenarnya ia tahu bahwa Diana sudah tiada, hanya saja ia tak tahu di mana keberadaanya. Hanya Ikuk--tukang kebunnya yang mengetahui. Tetapi Ikuk memilih bungkam setiap ditanya perihal Diana.

Gubernur Dewo masuk menemui Bas. Ia mencurahkan isi hatinya pada Bas. Seketika Gubernur Dewo tercengang mendengar perkataan Bas.

"Katakan, Kuk. Aku sudah lelah." Gubernur Dewo memulai pembicaraan.

Ikuk malah tertawa. Gubernur Dewo mulai geram.

"Apa maumu, Kuk? Katakan!!"

"Sudah terlambat!!"

Gubernur Dewo mencengkeram kaus Ikuk. "Benar, kan, Diana sudah mati? Kamu pasti tahu di mana jasadnya. Ayo katakan!!"

"Dia sudah tenang. Tidak perlu dibahas lagi. Atau kau mau kedokmu terbongkar? Jangan macam-macam, Dewo." Ikuk berujar pelan tetapi penuh penekanan sebelum mengeluarkan sebilah pisau.

"Silakan lakukan apa pun asal beritahu aku di mana jasad Diana."

"Diana sudah mati! Dan aku yang memintanya!" Ikuk tertawa penuh kebanggaan.

"Kurangajar!!!" Gubernur Dewo meninju wajah Ikuk.

Ikuk tertawa puas, lalu bangkit dan mengarahkan wajahnya di hadapan wajah Gubernur Dewo, berjarak satu jengkal saja.

"Diana anakku! Aku bebas menyuruhnya apa saja! Termasuk memintanya mati karena ia tak mau menganggapku sebagai ayah kandungnya!"

Gubernur Dewo kembali menyerang Ikuk. Ditengah pertarungan sengit itu, Ikuk sempat berujar bahwa ia puas melihat Diana telah mati. Saat itu Ikuk memberitahu bahwa ia adalah ayah kandung Diana. Tetapi Diana seakan tidak percaya. Ikuk terus memaksa dan Diana berontak. Karena sakit hati, Ikuk tak ingin melihat Diana lagi. Ia meminta Diana menceburkan diri ke dalam tampungan air di lantai atas. Di rumah tak ada siapa-siapa, istri Ikuk ke pasar, Diana tak bisa memilih. Diana membenamkan diri tetapi dadanya sesak, ia menyembul ke permukaan, tetapi dibentak oleh Ikuk.

Bertahun-tahun Ikuk mengabdi menjadi tukang kebun di rumah Gubernur Dewo. Bukan saja mengabdi, tetapi Ikuk juga menyelamatkan nama baik Gubernur Dewo. Bayi yang lima belas tahun lalu meninggal adalah bayi Gubernur Dewo. Bayi milik Ikuk menjadi penyelamatnya. Bayi itu diangkat menjadi anak Gubernur Dewo. Selama itu ia tak pernah naik jabatan. Sakit hatinya berlipat-lipat.

Dari dapur, seorang wanita bergetar mendengar kenyataan getir. Setelah mengetahui Diana menghilang, istri Ikuk sering sakit-sakitan.

"Ikuk!!!" Gubernur Dewo berteriak.

***

Rumah Gubernur Dewo dipenuhi wartawan. Dua ambulans terparkir di halaman rumah.

Jasad Diana ditemukan di dalam tampungan air dengan kondisi mengenaskan. Gubernur Dewo dan istri Ikuk menangis tersedu di dekat jasad Ikuk. Sebilah pisau itu memakan tuannya sendiri.

"Diana mati karena kuminta. Diana mati karena kuminta." Bas menirukan perkataan Ikuk malam itu.

Sragen, 2 Juli 2021

(Aptstn)

#ceritamisteris
#setahunrimis