Andrea

https://says.com/my/seismik/jangan-ikut-tabiat-buruk-ayah-ini-antara-kisah-sedih-banduan-akhir-tunggu-tali-gantung

 

Saya selalu bertanya mengapa orang sangat ingin mengetahui yang terjadi di balik kenyataan. Sesuatu yang gaib. Mengapa mereka tidak menerima saja apa yang berlangsung di sekitar mereka? Mengapa mereka tidak menerima jika mereka tidak mampu melihat yang kasatmata? Jika mereka dapat melihat yang gaib, apakah mereka sanggup melihat dan tidak lari tunggang langgang?

Adanya film horor dan buku-buku yang memuat kisah horor sebenarnya ditujukan kepada mereka yang tidak dapat menyaksikan kegaiban. Bagi yang mampu, hal-hal seperti itu tidaklah menarik minat. Mereka menyaksikan kegaiban, seperti kita menyaksikan segala sesuatu di alam nyata.

Lagi pula, apa yang disajikan dalam film atau buku kerap bersumber dari imajinasi pembuatnya: sutradara, penulis naskah skenario, atau penulis buku. Belum tentu juga mereka pernah melihat yang gaib. Andai pernah sekalipun, mungkin hanya sekali atau dua, dan kemudian dituangkan ke dalam media yang menjadi keahlian mereka. Voila, film dan buku horor.

“Setan perempuan tidak selalu berpakaian gaun putih,” kata Andrea. “Terkadang, mereka begitu cantik, tidak berbeda dengan kita. Bedanya hanya saya bisa melihat dan yang lain tidak.”

Andrea, perempuan kecil berumur sepuluh tahun, melihat yang gaib seperti yang nyata. Ada masanya ia sulit membedakan apa yang nyata dan yang sebaliknya. Sang ayah, Andre atau mamanya, Ria, terkadang ditanya Andrea:”Apakah lihat ada perempuan berpakaian T-shirt merah dan bercelana jeans abu-abu berdiri di tengah jalan itu?”

Para penikmat film dan buku misteri menyeramkan biasanya merasa ketagihan dan menonton film dan membaca buku lagi dan lagi, mengkonsumsinya terus menerus. Ini bukan hanya mereka adalah konsumen (dan mungkin korban?) pasar film dan buku horor. Tentu itu juga benar. Tetapi, mereka melakukannya karena mereka punya keinginan yang tidak terpenuhi di alam bawah sadar mereka: mereka merindukan kegaiban.

Mereka yang mampu menjadi saksi atas kegaiban, merasa sebaliknya. “Andai aku bisa berhenti menyaksikan kegaiban walau sekejap,” keluh Andrea.”Itu suatu liburan yang tak pernah kumiliki.”

Sialnya, kemampuan Andrea untuk menyaksikan itu berkembang. Andrea tidak hanya bisa melihat kegaiban. Ia juga mampu menyimak; ia mendengarkan suara dan perbincangan gaib. Ia mampu berkomunikasi; ia mampu bercakap-cakap dengan yang gaib.

Kemampuan yang meningkat ini membuka pintu lain yang membuat “liburan yang tak pernah dimiliki” itu menjadi khayalan belaka. Benak Andrea bisa memproyeksi masa lalu yang dengannya berkomunikasi; proyeksi atau visi itu berikut latarnya, seperti rumah, pohon, bangku, meja, rumput, kontur tanah, dan seterusnya.

“Itu bagai mimpi, tapi bukan mimpi,”Andrea menjelaskan kepada Andre dan Ria. “Bagai khayalan untuk membuat buku atau mungkin film, tapi itu nyata dan mengalir begitu saja.”

Pintu yang terbuka itu diketahui setelah Andre dan keluarga kecilnya pindah ke rumah baru. Di tempat tinggal baru mereka, Andrea melihat seorang lelaki tergantung di ruang makan. Lelaki itu kira-kira berusia 40 tahunan. “Seusia Papa, kurang lebih.” Jelas Andrea. Lelaki itu berpakaian kaus putih dan celana hitam kusam yang mencapai lututnya. “Ia sepertinya petani,” ujar Andrea.

“Dari mana Andrea tahu ia petani?” tanya Mama.

“Ada topi caping tergantung di depan rumahnya,” kata Andrea.

“Memang Andrea melihat rumahnya?” kali ini Andre bertanya. Andre adalah tipe ayah yang cukup memerhatikan perkembangan anaknya; apakah itu mentalnya, kejiwaan, intelektual maupun kemampuan Andrea yang bagi banyak orang ganjil.

Saking ganjilnya, Andre dan Rea membuat kesepakatan dengan Andrea untuk tidak berbicara banyak tentang kemampuan Andrea kepada siapapun, termasuk kedua orang tua Andre dan Rea. “Papa khawatir mereka tidak siap memiliki cucu yang memiliki kemampuan engkau, Andrea.” Andre memberikan penjelasan. 

“Rumahnya yang dulu terletak di sekitar ruang makan dan dapur kita,” Andrea menggambarkan apa yang ia lihat dalam visinya. “Rumah itu kecil tetapi sedikit memanjang. Dindingnya terbuat dari anyaman. Di dalamnya ada alat-alat untuk bekerja di sawah.”

Andre dan Ria hanya menatap ruang makan mereka yang menyatu dengan dapur. Tentu yang mereka lihat berbeda dengan apa yang disaksikan Andrea. Andre dan Ria hanya melihat lemari gantung, tempat cuci piring, kompor gas dua tungku berwarna putih, meja makan kayu putih pucat, dan barang-barang lainnya, yang orang lain juga lihat. Mereka hanya menatap dan membayangkan tepat di dapur mereka, pernah ada rumah, seperti yang dilukiskan Andrea.

“Si Bapak Petani itu bilang ia hidup sebelum tahun 1900an,” kata Andrea.

“Tapi apakah ia akan mengganggu kau, Andrea?” Tanya Ria.

Andrea terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Lalu, Andrea membuka mulutnya,”Andrea tidak tahu, Ma.”

≈≈≈≈≈

 “Ma. Andrea takut.”

“Ada apa, Andrea?”

“Ada anak kecil bertelungkup di atas kasur Andrea.”

“Tidak bisakah ia diminta pergi?

“Ia tidak mau. Lagi pula, didekatnya energi Andrea terasa seperti disirep.”

Sembari mendekap Andrea, Ria berjalan menuju kamar Andrea. Ia mengambil kasur lipat berwarna merah itu dan membuka lipatannya. Andrea kemudian mengambil bantal dan gulingnya, sementara Ria menutupi kasur itu dengan seprai. Setelahnya, mereka berdua meletakkan tubuh mereka di atas kasur.

“Pergilah! Jangan ganggu anakku!” Pinta Ria lirih sambil menutup matanya dan kembali meneruskan tidurnya yang terputus.

≈≈≈≈≈

“Hei! Ripto! Kapan kau lunasi hutangmu yang sudah menumpuk ini?”

“Dengan apa saya bayar?”

“Dengan bacotmu!”

Satu pukulan melayang ke perut Suripto. Rasanya begitu menyakitkan. Ngilu di perut dan ulu hati. Begitu sakit hingga Suripto harus menelungkupkan diri dan memegang perut. Ia tidak ingin berdiri. Berdiri ia dipukuli lagi oleh Wono dan anak buahnya.

Wono adalah tukang tagih hutang dan tukang pukul Priyono yang kaya raya. Priyono tempat petani dan peladang yang butuh uang meminjam uang untuk kebutuhan sawah dan ladang serta makan sehari-hari sambil menunggu datang panen.

Suripto harus meminjam uang kepada Wono. Perniagaan untuk panen sebelumnya kurang menguntungkan sedangkan ia butuh uang untuk sawahnya. Untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk makan. Untuk Titin.

“Saya akan bayar setelah panen tiba,” janji Suripto.

Dua pukulan tetap melayang. Satu ke pipi kanan, satu lagi ke pipi kiri.

“Itu oleh-oleh untuk kau agar tidak lupa janji kau,” ujar Wono.

Wono dan anak buahnya pergi. Semakin menjauh Wono dan dua anak buahnya pergi, semakin nyeri di badan Suripto terasa. Tapi, Suripto harus bangkit dan berjalan ke tumpukan kayu di depan rumahnya. Di tumpukan itu, Suripto melihat Titin bertelungkup. Suripto mengangkat anak perempuannya yang berumur sekitar sembilan tahun dan memeluk erat si gadis kecil berpakaian terusan berwarna abu-abu yang sedang ketakutan itu.

“Semua sudah berlalu anakku,” berkata Suripto sambil membelai rambut anaknya. “Sudah berlalu.”

≈≈≈≈≈

Titin berlari begitu kencang. Menerobos reranting pohon yang mengenai kulitnya dan membesetnya. Ia tidak peduli. Ia lari dan lari. “Si Ripto ketakutan hingga terkencing-kencing.” Kalimat itu terngiang di benak Titin yang mencuri dengar ucapan salah satu anak buah yang gempal, pendek, dan berwajah buruk, yang disertai tawa yang membahana dengan suara buruk. Pantaslah burung-burung terbang menjauh saat tahu ada suara yang mengganggu ketenangan sungai di mana Titin sedang mengambil air.  

“Ampun! Ampun!” Benak Titin kembali memutar ingatannya yang menyimpan ejekan anak buah Wono yang lain untuk wajah Suripto yang ketakutan. Titin terus berlari pulang. Ia ingin tahu keadaan ayahnya.

“Ayah!” Teriak Titin mencari ayahnya. Ayah?”

Lalu, terdengar teriakan yang memilukan hati. Satu teriakan mengandung pertanyaan yang tak bisa ditanyakan. Teriakan keluar dari mulut si gadis kecil setelah melihat satu sosok yang sedang tergantung dengan tali terikat di dahan kokoh sebesar paha manusia.

“Ayaahh!!”

“Ayaahh!!”

“Ayaahh!!”

≈≈≈≈≈

“Bangun, Andrea!” Ria mengguncang-guncangi tubuh Andrea. “Bangun!”

Andrea terbangun. Udara dingin dari mesin pendingin masih bertiup, tetapi keringat Andrea membasahi pakaian tidurnya. Andrea memeluk Ria.

“Ada apa Andrea?” tanya Ria.“Andrea menyebut-nyebut ‘Ayah’ dengan keras saat tidur.”

Andrea tidak menjawab. Ria tidak memaksanya untuk bicara. Ria hanya mengelus pundak Andrea. Setelah cukup lama, Andrea berbicara: “Ma, bisa tidak kita pindah rumah?”

Sekarang, Rialah yang terdiam. Ia butuh waktu untuk menjawab. Ia diam sampai ia tahu bagaimana menjawabnya. Dan itu belum tahu kapan.[]

 

#ceritamisteri #setahunrimis

Sumber gambar:

https://says.com/my/seismik/jangan-ikut-tabiat-buruk-ayah-ini-antara-kisah-sedih-banduan-akhir-tunggu-tali-gantung