03.00 AM

03.00 AM

Aaaaa!

 

Seluruh anggota tim cheerleader berteriak histeris, begitu pula sebagian penonton di tribun. Tak disangka, kepala kapten tim cheerleader mendarat di lantai lapangan basket. Tubuhnya tengkurap, wajahnya menghadap ke kiri. Peristiwa nahas itu terjadi saat Risha melakukan gerakan cupie –flyer diangkat oleh seorang base, bertahan berdiri beberapa detik di udara–.

 

Sesaat setelah jatuh, mata Risha masih bisa melihat kaki teman-temannya yang berlari menghampiri. Telinganya juga masih bisa mendengar riuh kepanikan. Dalam hitungan detik semuanya menjadi gelap. Risha kehilangan kesadaran.

 

Pertandingan basket antar SMA tertunda beberapa saat, hingga Risha dibawa ke Rumah Sakit. Guru BK (Bimbingan dan Konseling) bersama Mery, Gia, Dina, dan Lisa segera mengantar Risha ke Rumah Sakit.

 

Dalam perjalanan, Lisa tak henti menangis sembari memangku kepala sahabatnya. Persahabatan mereka sudah terjalin hampir tiga tahun. Kain putih yang ditekan pelan untuk menahan aliran darah dari pelipis Risha, berubah berwarna merah. 

 

Sebagai flyer cheerleader, jatuh saat latihan sebenarnya bukan sekali atau dua kali dialami Risha. Namun, kali ini ia kehilangan keseimbangan, saat tampil sebelum dimulainya pertandingan basket antar SMA. Ketika jatuh pun, Risha tak mampu melindungi kepalanya.

 

***

 

"Sha, akhirnya kamu sadar." Mata Lisa berkaca-kaca.

 

Guru BK dan empat sahabatnya merasa lega, setelah empat jam Risha tak sadarkan diri. Guru BK telah menghubungi ayah Risha, tetapi beliau sedang bertugas ke luar kota. Ayah Risha baru bisa ke Rumah Sakit, besok sore.

 

Pelipis Risha mendapat sembilan jahitan, agar luka di pelipisnya tak menganga. Sikut kirinya mengalami luka ringan. Pergelangan kaki kanannya mengalami cedera, yang diprediksi akan pulih sekitar satu semester ke depan.

 

— Jam 18.51 — setelah memastikan Risha menghabiskan makan malamnya, guru BK dan empat sahabatnya berpamitan. Empat sahabatnya berjanji akan menjenguk lagi keesokan hari, sepulang sekolah. Malam itu tak ada keluarga yang menemaninya di Rumah Sakit. Hanya ayah satu-satunya keluarganya. Risha adalah anak semata wayang. Sedangkan ibunya sudah meninggal, setahun lalu.

 

Risha menempati kamar yang diisi lima ranjang pasien. Namun, tiga di antaranya, kosong. Tirai hijau menjadi sekat pemisah antara satu pasien dengan pasien lain. Di kamar itu, hanya ada satu pasien lain di sebelah kanan Risha. Namun, pasien itu juga seorang diri, tidak ada keluarga yang menemaninya.

 

Suasana kamar sangat hening, diselimuti hawa dingin AC. Pasien di sebelah kanan pun, tak bersuara. Mungkin dia sedang tidur, pikir Risha. Setelah sepuluh menit berbincang dengan ayahnya melalui video call, Risha tertidur.

 

— Jam 22.33 — Risha terbangun karena dua perawat masuk ke kamar. Mereka terburu-buru mengecek kondisi pasien sebelah.

 

"Gimana nih! Cairan infus masih nggak bisa ngalir ke tubuh ibu ini. Padahal sudah berulang kali kita coba. Bahkan kita sudah coba cari pembuluh darah di kaki," keluh salah satu perawat.

 

Telinga Risha bisa mendengar percakapan dua perawat itu. Mereka menyerah, lalu keluar dari kamar untuk melaporkan keadaan pasien sebelah, kepada dokter jaga.

 

Kamar kembali hening, Risha memejamkan mata. Ia mencoba melanjutkan tidurnya. Namun, mengetahui keanehan itu, rasa penasaran Risha terusik. Ia ingin melihat pasien di sebelahnya.

 

Tangan kanan Risha mencoba meraih tirai penyekat. Baru sedikit ia menggeser perlahan, Risha terkaget karena tirai hijau itu bergeser dengan kasar. Posisi tirai itu kembali seperti semula, seolah pasien di sebelah yang menutupnya diiringi amarah. Takut pasien sebelah merasa terganggu, gadis remaja itu segera memejamkan mata dan berusaha tidur.

 

— Jam 00.01 — Risha bermimpi buruk. Teriakannya terdengar sampai keluar kamar, lalu seorang perawat datang untuk melihat apa yang terjadi. Perawat melihat mata Risha masih terpejam, tetapi ia justru mencekik lehernya sendiri. Perawat berusaha menyadarkan. Setelah sadar, Risha menangis karena takut.

 

"Suster, pasien itu membuatku takut!" rengek Risha, tangannya menunjuk ke sebelah kanan.

 

"Bagaimana bisa? Pasien itu belum sadar sejak kemarin, Risha. Dia koma." Perawat mengelus-elus lengan kiri Risha.

 

Gadis remaja itu semakin merasa ada yang ganjil setelah mendengar ucapan perawat. Jika pasien sebelah dalam kondisi koma, lalu siapa yang tadi mencegah Risha menggeser tirai untuk mengintip?

 

"Aku mau pindah kamar, Suster! Aku mohon," pinta Risha, memelas.

 

"Tidak bisa pindah kamar, saat tengah malam seperti ini. Lagi pula, kamar lain sudah penuh, Risha."

 

Perawat terus berusaha menenangkan gadis manis, berkulit kuning itu. Perawat meyakinkan bahwa semua baik-baik saja, yang dialami Risha hanyalah mimpi buruk.

 

Setelah tenang, perawat keluar dari kamar. Namun, Risha kesulitan melanjutkan tidurnya. Sesekali matanya melirik ke tirai di sebelah kanan. Jantung Risha berdegup kencang, rasa takut menyelimutinya. 

 

Sepuluh menit kemudian, lampu kamar tetiba berulang kali padam nyala. Tirai penyekat di sebelah kiri –ranjang kosong– tetiba juga bergeser-geser dengan sendirinya.

 

"Tolooong!" histeris Risha berkali-kali, sembari menekan tombol pemanggil perawat. Namun, seorang pun tak kunjung datang.

 

Risha berusaha turun dari ranjang. Sayangnya, ia kesulitan karena pergelangan kaki kanannya cedera. Sembari menangis ketakutan, ia terduduk di lantai. Risha berusaha mencapai pintu kamar dengan cara mengesot. Ia terus berteriak histeris, meminta tolong. Belum sampai di pintu kamar, dua perawat perempuan dan seorang perawat lelaki, datang.

 

"Pasien histeris! Ambilkan obat penenang!" perintah salah satu perawat.

 

Para perawat mengangkat tubuh Risha dan membaringkannya kembali ke ranjangnya. Gadis remaja itu berusaha memberontak. Segera salah seorang perawat menyuntikkan obat bius di lipatan tangan kiri Risha. Perlahan Risha lebih tenang, kemudian ia terlelap dalam pengaruh obat bius.

 

— Jam 03.00 — kelopak mata Risha tetiba terbuka. Dadanya sesak karena himpitan. Mulutnya menganga, tetapi lisannya tercekat. Ia tak mampu mengeluarkan suara, meskipun ingin sekali berteriak sekuat tenaga.

 

Mata Risha nanar melihat seorang nenek menindih tubuhnya. Wajah tua itu berhadapan dengan wajah Risha, teramat dekat! Risha bisa melihat dengan jelas, kornea mata nenek itu berurat merah. Tak berselang lama, mulut nenek itu memuncratkan banyak darah berwarna kehitaman.

 

— Jam 14.26 — empat sahabat Risha menjenguk.

 

"Sejak kita berempat datang, kamu diem aja, Sha! Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Lisa dengan ekspresi heran.

 

Risha hanya mengangguk sekali.

 

"Pasien di sebelah kok gak ada? Udah pulang ya, Sha?" tanya Dina.

 

"Sudah mati!" jawab Risha, ketus.

 

"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un." spontan empat sahabat Risha mengucapkan bersamaan.

 

"Kapan meninggalnya, Sha?" tanya Gia dengan suara rendah sembari berpindah posisi, berdiri menjauhi ranjang pasien sebelah.

 

"Jam tiga, sebelum ayam berkokok. Ah, Sudahlah! Pergi kalian dari sini!"

 

Mendengar ucapan kasar Risha, empat sahabatnya kecewa dan pergi meninggalkannya. Ketika sendirian di kamar rawat inap, Risha menyentuh pipi dan kulit lehernya yang halus. Sudut bibir kiri Risha sedikit terangkat, menyeringai bangga.



 

Batavia, 28 Juni 2021