Mati Suri

Ilustrasi Bayi dalam Kandungan (Liputan 6)

Siang yang terik membuat Alia tak dapat tidur tenang dengan usia kandungan masuk bulan ke-7. Meski telah mencoba mencari kesejukan dengan cuci muka dan mengguyur kakinya tetap saja masih kepanasan. Siang yang panas membuat kepala Alia pusing hingga di telinganya terdengar bunyi dengingan. Beberapa kali Alia memukul-mukul ringan kepalanya, bertujuan meredakan pusing di kepala. Akhirnya ia memutuskan untuk menyalakan kompor dan mendidihkan air dalam ceret. Setelah beberapa saat ia tuangkan ke cangkir berisi teh, berharap setelah menyesap teh dapat merasakan sedikit reda sakit kepalanya. 

Pusing yang teramat membuat seluruh tubuh Alia mengeluarkan keringat besar-besar, di wajah, di leher bahkan seluruh dasternya basah oleh keringat. Tanpa pikir panjang Alia beranjak ke warung terdekat dengan rumah kontrakannya. Ia membeli obat pereda sakit kepala yang di jual bebas, lantas segera menenggaknya dan mencoba istirahat tidur siang.

Rupanya obat yang dikonsumsi tidak jua memberikan hasil, sehingga Alia memutuskan untuk tidur siang. Sebelum benar-benar terlelap ia pastikan keadaan bayi dalam kandungannya. 

Kok gak gerak, Dek, lirihnya sendiri berusaha komunikasi dengan bayi yang ia kandung.

Sampai saat sore hari dan terbangun dari tidurnya kembali Alia mengelus lembut perutnya. Akan tetapi, tetap tak dirasakan pergerakan bayinya. Beberapa kali ia coba berbicara sendiri dengan buah hatinya tetap tak ada pergerakan. Kepanikan mulai menyergap, dingin menguasai diri. Pucat, hingga kedua kaki dan tangannya tak dapat ia rasakan. Dalam kepanikan ia mencoba menggeserkan tubuhnya dan berharap dapat mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang. Beberapa kali berusaha akhirnya dapat juga mengambil ponsel yang berada di atas bufet, lantas segera mengabari suaminya atas kondisi tubuhnya saat ini.

Raka, suami Alia sampai rumah menjelang Magrib. Setelah salat Magrib, Raka mengantar istrinya ke rumah sakit. Dokter kandungan yang biasa memeriksa mendengar kronologi yang disampaikan Alia. Sesegera mungkin di USG dan cek denyut jantung.

"Sejak kapan gak gerak gini, Bu?"

"Dari siang, setelah saya minum obat sakit kepala, lantas tidur siang. Sampai bangun sepertinya tetap belum bergerak," jelas Alia kepada dokter kandungan.

"Ini sudah di USG bisa dilihat di layar, Bu, Pak, maaf dengan berat hati saya sampaikan bahwa denyut jantung bayi sudah tidak ada. Innalilahi wa Innailaihi Rojiunnn. Yang sabar, ya, Bu."

Bagaikan petir tanpa hujan, menyambar hati Alia dan Raka. Bayi yang dinantikan lebih dari 14 bulan harus berpisah sebelum dilahirkan. Alia tak kuasa menangis dan Raka mencoba menenangkannya.

"Besuk siapkan untuk kuret, yah, Bu," ujar dokter sebelum pasangan suami istri ini pamit.

***

Mendung merundung dalam keluarga Alia, tak ada senyuman, tak ada lagi obrolan kecil di atas perut seperti malam-malam biasanya. Alia pamit tidur terlebih dahulu, karena dia sendiri tak bisa menguasai dirinya.

Raka terhanyut dalam salat Isya lanjut berwirid hingga salat Tahajud, sajadahnya basah oleh air mata. Kepasrahan begitu dalam sebuah keikhlasan. Sebelum benar-benar mengempis perut Alia, ia ingin kembali berbicara dengan calon anaknya. Diraba perlahan perut Alia dan mencoba berbicara lagi seperti hari sebelumnya.

"Dek, jika memang kamu bukanlah rejeki kami maka pergilah dengan mudah, bantu Mama untuk melahirkan. Dan jika kamu masih rejeki kami tolonglah bergerak." Air mata Raka tak kuasa hingga tetesannya mengenai perut Alia. Gemuruh angin seperti menyapa semesta mengamini doa-doa kepasrahan.

"Allah ...." Alia berteriak karena terkejut dengan gerakan perutnya.

"Mas ... tadi perutku bergetar hebat, sampai terbangun. Coba raba lagi, Mas!" pinta wanita berambut bergelombang kepada lelaki berwajah oriental tersebut.

"Dek, coba gerak lagi, Ayah ingin ngerasain." Raka berkomunikasi kepada bayi yang dikandung istrinya.

Tendangan bayi dalam perut Alia seperti menunjukkan bahwa ia masih hidup. Untuk meyakinkan dirinya lagi, Raka meraba di bagian lain. Ke atas, ke bawah dan benar saja sang bayi merespon terus di mana rabaan tangan Raka berada.

"Allah ... Allah ... Kautunjukkan kuasamu."

Raka dan Alia berpelukan haru, bayi yang pagi nanti harus dikeluarkan mendadak bergerak kembali. Untuk meyakinkan kondisi bayinya mereka mendatangi praktik dokter kandungan di rumah sakit berbeda karena jadwalnya juga berbeda.

Setelah beberapa saat mengantre giliran Alia dipanggil untuk diperiksa.

"Lho? Bu Alia jadwal kuret kan sore nanti?"

"Maaf, Dok. Tolong di USG lagi dan dilihat detak jantungnya. Bayi dalam kandungan saya bergerak-gerak kembali."

Sembari Raka diminta menceritakan kronologi kejadian juga dokter menyiapkan alat USG.

Gel bening telah dibalurkan ke permukaan perut Alia dan dokter mulai USG. Benar saja, di layar tampak bayi dalam kandungan Alia bergerak beberapa saat. Denyut jantungnya pun kembali normal.

"Saya hanya berkomunikasi dengan bayi saya saja, Dok, selanjutnya saya pasrah kepada Allah," terang Raka pada dokter, yang juga terkejut dengan keadaan ini.

"Ya sudah, Bu, apa yang menjadi kehendak Allah kita hanya bisa menjalani. Dijaga baik-baik kandungannya, ini saya kasih vitamin. Jika nanti sakit apa pun jangan sembarangan minum obat di luaran. Karena kondisi ibu hamil sangatlah berbeda."

Alia manggut-manggut, setelah Raka membayar biaya administrasi dan mereka pulang.

Keajaiban kehidupan kembali bayi Alia menjadi anugerah yang tak dapat tergantikan oleh apa pun. Alia lebih mawas diri untuk menjaga kandungannya. Lantas, Raka lebih giat dalam pekerjaannya, jika dibutuhkan untuk kerja lembur akan ia jalani. Sebab hitungan bulan anaknya akan lahir dan pastinya kebutuhan semakin banyak.

Di sela terik yang menjangkit, Alia teringat untuk menyampaikan pesan dari suaminya--yang menelepon untuk meminjam uang persiapan kelahiran bayi, guna membayar tagihan kontrakan--yang rencananya akan segera Raka ganti setelah mendapatkan pinjaman. Perlahan Alia mendatangi pemilik kontrakan tempat mereka menetap.

"Eh, Ibu, kebetulan saya mau bayar untuk bulan ini, Bu," sapa Alia di depan pintu rumah pemilik kontrakan.

"Lho, bukannya sudah dibayar kok, Mbak Alia," ungkap pemilik kontrakan lagi.

"Siapa, Bu, soalnya saya datang untuk menyampaikan amanat suami saya buat bayar yang bulan ini."

"Yang datang juga Mas Raka, kok, tadi itu."

Setelahnya Alia pamit, dengan pertanyaan yang mengancala dalam kecambuk pikirannya sendiri.

 

#setahunrismis

#ceritamisteri

#kikimd